Aku Memilih Mu

Aku Memilih Mu
Masih


__ADS_3

Pagi itu kehidupan di dalam Pondok semakin di buat begitu tenangnya dengan guyuran hujan yang semakin deras, bahkan beberapa kelas yang mempunyai guru pengajar yang berada di luar Pondok masih dalam keadaan kosong hampir satu jam.


"Ummi' pagi ini Khumairah tidak enak badan, dan wajahnya pucat lalu minta di buat kan Sup oleh ummi".


"Lalu di mana Khumai sekarang Hasan?".


"Sedang beristirahat Ummi' ".


"Baiklah, Kamu dampingi saja dulu Istrimu, sepertinya dirinya sedang mengandung?".


DEG..


"Sudah di cek?".


"Ng belum Ummi".


Akhirnya dengan sedikit terburu-buru Hassan menerjang hujan bahkan membuat dirinya begitu terlihat jelas oleh Suna dan Salman yang kala itu masih duduk di lantai dua Masjid.


"Dok Suami saya dok?".


"Ibu, alhamdulillah untuk saat ini beliau masih di beri kekuatan dan dapat melewati masa kritisnya".


"Lalu ia akan baik-baik saja kan dok!?"


"(...)".


"Dok ia akan baik saja kan dok?".


"Kami tidak bisa memprediksi beliau akan selalu baik, namun kami akan berusaha semampu kami ibu' ".


"Kami mohon diri".


lirih dokter yang menangani Suami Sumi seraya melangkahkan kaki setelah hampir satu jam lebih mengerahkan seluruh tenaga di dalam Ruangan dengan pasien yang hanya tinggal menunggu ketetapan Tuhan.


Sementara itu kini Hujan deras yang sempat menerpa beberapa waktu lalu menyisakan genangan-genangan air di beberapa sisi jalan, serta suasana sejuk di sepanjang jalan menuju kampus maupun di dalam Pondok.


"tidak bagus jika pada hari pelaksanaan hujan mengguyur, bisa-bisa acara akan di batalkan".(menghela nafas panjang)


"Ya allah, engkau tau niat baik setiap hamba, semoga semuanya lancar".

__ADS_1


lirih Putri yang sedang mengecek sebuah gaun yang sedang ia siapkan dengan buku hafalan yang belum sempat di baca semenjak hujan mengguyur.


"Ukhti?".


"Ng? Ustadzah?".


"Iya, Ustadzah, Saya sedang mengerjakan ini"(mengecek hasil pengerjaan)


Sedikit ada rasa takut saat dirinya di pergoki Ustadzah Munirah di dalam Aula dengan berbagai macam kerajinan yang sudah di kumpulkan menjadi satu.


"Saya dengar Besok sudah akan di pentaskan yah?"


"Emm iya Ustadzah".


"Bagaimana dengan belajarnya?"


"Ada baiknya di waktu pagi seperti ini di manfaatkan untuk memperbanyak membaca buku".(tersenyum)


"Ng, Na'am Ustadzah, saya akan segera membaca buku".(Gugup)


"Iya, biarkan mereka di sini".(menyentuh pundak)


...


"Ya,".(Salman)


DI KANDANG.


"Welcome!!"(Salman)


"Ng .. sepertinya selain pakan, kotoran mereka juga menumpuk".


"Seperti nggak biasa aja, ayo lekas bersihkan Aku sudah tidak sabar berlatih karena besok sudah akan di laksanakan match pertama untuk turnamen beladiri".


"Ng ... , iya, Aku pun berfikir begitu".(mempercepat gerakan)


"Sepertinya sudah ada dua orang yang bertugas di sana"


lirih salman saat dirinya menemani Suna mencari pakan untuk para sapi kala melintas di depan Kafe kita.

__ADS_1


"Mungkin Willy sudah kembali".


"Syukurlah".(Suna)


...


"Emm mas Willy, apakah mas punya hubungan khusus dengan Zahira?"


DEG


"(...)"(Fattah)


"NG?"


"Sepertinya selain pelanggan dan penjual tidak ada, kenapa?".


"A.. enggak, sepertinya dirinya selalu menyempatkan diri untuk menyambangi Kafe ini setiap hari".


"(...)".(Apakah Ukhti lailah bermaksud ingin melaporkan Zahira?)(Fattah)


"Emmm, memangnya mas Willy se serius itu?"


DEG


"Hmm... seserius itu?"


"Wait-wait, Ukhti ini.. sepertinya tidak pernah seramah ini sebelumnya?"


(Menghampiri Lailah)


"Emmm ternyata Uti, cantik juga, untuk bersikap ramah".


"Lupakan saja jika Kamu hanya ingin mengganggunya".(meninggalkan Lailah)


"Aku hanya ingin sedikit memberi jarak antara mereka berdua".


"(...)".(Fattah)


"Akang suka dengan Zahira kan, sebaiknya Akang pun harus lebih serius untuk menyukai sahabatku".

__ADS_1


"Atau tetaplah diam seperti akhir-akhir ini".


Lirih Zahira yang kali ini berjalan di belakang Fattah di kala menuju Kampus.


__ADS_2