Aku Memilih Mu

Aku Memilih Mu
Thank You


__ADS_3

"Huft ... sial, begini lagi akhir perjuanganku, dari berusaha menjaga teman, hingga menunjukan Cinta pada Salwa semuanya berakhir tragis".(murung)


"Lagian Salwa seperti memungkiri semuanya, bahwa dirinya pun bertanya-tanya tentang diriku kala Aku tidak ada".


"namun setelah bertatap muka".


"ada kesempatan".


"malah dirinya seolah tidak ingin Aku ada".


Huft..!".


lirih Suna setelah memotong habis semua rambutnya dan duduk di depan pintu lemari.


Sedangkan Arif yang tidak tahu perihal apa yang sudah terjadi pada Suna mendekati sahabat sekamarnya tersebut, karena setelah Hasan menikah dengan Ustadzah Khumai, Suna di minta oleh Hasan menggantikan dirinya mengawasi Arif namun belum lama pindah malah Suna kini kehilangan rambut di kepalanya.


"Kang?"(menyodorkan minuman ringan)


"minum Rif".(menolak)


"Kenapa lagi toh Kang?"(duduk)


"Aku terlambat ikut kajian Rif".(tersenyum)


"Hallah, hanya karena terlambat kajian aja, hehe kirain masalah besar"(meminum minuman ringan)


"Kang kalau cuma itu semua orang juga pernah mengalami, masalah sepele, sandal yughsob(di pinjam tak di kembalikan), mutaa'akhir inda duhulil fasl(terlambat masuk kelas) naum(tidur) hhh biasa-biasa kang.. jangan terlalu di fikirkan".


"Hehe entahlah Rif semuanya campur aduk hhh"


"Oo, cerita lah, ya mungkin Aku Nggak sepintar Al'akh Hasan atau Salman buat cari jalan keluar, tapi setidaknya Aku bisa menjadi pendengar yang baik".


"EyA.. Eya hehe"(meringis menyenggol pundak Suna)


"Hhhaa thank You lah, pan kapan aja, semuanya bisa ku atasi, cuman di botak aja, sebulan juga tumbuh lagi ni rambut".(mengarahkan cermin kepada rambut plontos)


...


"Emm.. jadi begitu, untunglah hanya sekedar di tangguhkan, Akang bisa beristirahat dan fokus belajar seperti layaknya Santri biasa".


"Yah, terserah itu mah, hhh Aku pun tidak ambil pusing, malah sepertinya akan sedikit santai, meski istilah di tangguhkan dari amanat yang sudah di limpahkan padaku sedikit mengganggu".


"Iya?"(Fattah)


"Rasanya memakan gaji buta bila sudah diamanatkan menjadi BAKAM malah berleha-leha"(tersenyum lesu)


"Yah, apapun itu mungkin ada point besar yang di harap Kiayi untuk Akang dari penangguhan tugas".


"Toh kita juga nggak di gaji Kang hhhh"


"Ya, memang tidak di gaji tapi fasilitas yang di sediakan untuk kita sedikit lebih bagus di banding Santri biasa".

__ADS_1


"Sepeda, senter besar, kebolehan mencukur rambut santri pelanggar".


"Mmm"(Fattah mengangguk)


"Yah, apa boleh buat".


"Sabar aja Kang!,Akang bisa kok ngelewatin masa-masa ini".


...


Di Kediaman Kiayi Nuruddin


"Kenapa tiba-tiba seperti ini nak Fattah?".


"Eng?"


"Sepertinya Kiayi sedang ada urusan dengan Fattah, lebih baik aku menunggu mereka selesai".


lirih Suna yang selepas Isya sempat melakukan I'tikaf mengoreksi perbuatan-perbuatan yang sudah sempat iya kerjakan seharian ini, termasuk perihal hilangnya rambut di kepalanya.


Sedangkan di dalam rumah, Kiayi Nuruddin mau tidak mau mengiyakan permohonan pengunduran diri Fattah dari jajaran BAKAM dengan alasan ingin fokus menekuni Kuliah yang sekarang sudah menginjak semester empat.


"Mmm mau lapor ya, kang?"(tersenyum)


"Ya Tah Kiayi ada?"


"O, iya ada di dalam Kang, di ketok aja pintunya"(menanggalkan jaz Bakam)


"Emm kenapa jaz nya nggak di pakai Tah?"


"Heleh-heleh Kamu gimana toh pak Ketua!"(menggeleng)


"Hehe dah ah, selesaikan aja masalah Akang hhh, saya mau balik ke kamar".


...


"Apa? Kang Akang serius mau tinggal di kamar tempat Akang Suna sebelumnya?"


ujar Salman yang di awal juga ingin pindah dari Kamar BAKAM bahkan sudah berbincang dengan Luthfi perihal keinginannya untuk pindah ke kamar pengurus masjid bersama Suna dan Arif.


"Kang... akang nggak serius kan, Akang nggak melakukan kesalahan apapun kang!"(menghentikan gerakan Fattah yang memasukkan barang-barang miliknya ke dalam koper).


"Tidak Aku memang tidak melakukan kesalahan luthfi, namun akan jauh lebih sakit saja rasanya jika harus menunggu aku terbukti melakukan kesalahan".


"Kang.. Akang dipercaya oleh Kiayi.. tidak mungkin akan secepat ini akang di berhentikan, kang.. pasti ada cara lain kang.. k(ang)


"Sudah luthfi Sudah, Aku sudah di perbolehkan beristirahat, dan menanggalkan segala kewajiban yang Aku miliki di dalam organisasi BAKAM".


...


"Alhamdulillah, untuk selanjutnya kamu hanya perlu istiqomah di masjid dan jangan mengurus hal apapun Suna".

__ADS_1


"Baik Kiayi".(tertunduk dengan melepas kopiah)


"Salwa".


"Ng? Emm Ummi?".


Lirih Salwa yang dari ruang keluarga mencuri-curi kesempatan untuk mendengarkan pembicaraan Ayahnya dengan Suna yang membuat dirinya kaget karena Suna di cukur gundul.


"Siapa?"


"Ummi, sepertinya Abi menghukum salah seorang santri".(menghela nafas panjang)


"Sudah, jangan ganggu Ayahmu, alangkah baiknya Kamu menyiapkan segala macam hal untuk kembali ke Pondok Salwa".


"Eumm Salwa akan menyiapkannya besok Ummi, karena Salwa masih kangen dengan teman-teman Salwa".(memeluk)


"Emm janji ya, lusa Kamu harus segera kembali dan menyelesaikan hafalan di Pondok?".(membalas pelukan anak bungsu yang sudah sedikit lebih tinggi)


"Iya Ummi akan Aku selesaikan semuanya".


(apa yang harus Aku lakukan, haruskah Aku mengabaikan dirinya yang sepertinya banyak masalah?)


...


"Emmm Ini sepertinya ada yang sengaja membawa nasi dari dapur untuk makan tajamuk(makan bareng)".


Lirih Sofi yang sedang menyusuri kamar untuk menjaga ketertiban termasuk masalah bersantap yang tidak boleh di lakukan di dalam kamar apalagi dilakukan secara bersama.


"E'Khem"(membuka pintu kamar yang semula sedikit tertutup)


"Eh, Uti Sofi, ini sintia sedang tidak enak badan jadi terpaksa aku mengambilkan untuknya makan dari Dapur".(gugup)


"Uti Devi sudah melaporkan ke ustadzah? alangkah lebih baik Uti sofia segera ke bagian Kesehatan agar cepat di tangani".


"Iya Uti"(tersenyum).


...


"Iyaa inilah yang paling enak, pakai sambal sachet nasi berserta sayur kering tempe, paling enak di campur dengan Sambal!"(mencampur dengan tangan nasi berserta lauk yang di peroleh secara sembunyi-sembunyi).


"Kang, Apa nggak apa-apa kita makan bareng kaya gini?, bukanya makan secara bersama seperti ini , apalagi di dalam kamar adalah pelanggaran bisa di tindak".(gugup)


"Eh, sudah selesaikan cepat agar tidak ada BAKAM yang berpatroli kemari!"(menyuapkan nasi yang sudah tercampur rata di atas kertas minyak)


"Emm Akang luqman kan juga BAKAM"(lirih salah satu teman Luqman yang sudah tidak betah berada di dalam acara makan bersama tersebut)


"Sudah lah kalau tidak berani silahkan kamu makan di dapur!"


(Luqman)


"Toh sebagian besar BAKAM adalah teman-temanku!"(menyuap kan nasi)

__ADS_1


"Assalamualaikum!?"


"DEG!!!"


__ADS_2