
"Luqman, sini nak, ini bukan keinginan Ayah untuk berpisah dari mamah".
"(...)".(Luqman)
Kedua bola mata yang mungil itu kini masih menatap dalam sosok seorang Ayah yang kini menjadi penyebab retaknya keluarga kecil yang sebelumnya sangat di syukuri, berkecukupan, Ayah gagah,serta ibu sosok sempurna yang selalu menjaga.
Namun dalam diam benaknya di buat menyimpan begitu banyak tanya oleh kedua sosok yang dianggap paling sempurna olehnya, dikala sang ibu pun mengatakan tiada niat untuk menyudahi semua ikatan di antara mereka.
Pertanyaan tentang siapa dalang pemecah layar penggerak kapal keluarganya tinggallah jadi kenangan tanpa jawab, Luqman pun tumbuh dalam kapal besar kosong yang terombang-ambing dan terdidik oleh keadaan.
Luka bermain, hingga perasaan perih mendalam karena keinginannya untuk hidup bersama-sama lagi hanya tenggelam dalam hati yang terpaksa harus lapang. menyembunyikan segala hal dan segala keinginannya hingga, pendiam menjadi predikat yang di sandang setelah semua hal yang bermula dari peristiwa tersebut.
"Luqman ayo ikut ayah, kita ke rumah yang baru".
"Untuk apa jika di sana aku kehilangan sosok ibu".
"Nanti ayah belikan apapun yang luqman ingin".
"Ayah lihat? kita sudah selengkap ini untuk memulai haluan hidup yang baru".
"Apakah memang harus seperti ini?"
Luqman sangat berharap suara yang iya punya dapat keluar dengan lantangnya kala ayahnya mengajak dirinya ke rumah yang baru, namun karena pahitnya suasana yang timbul di saat kehadiran ayahnya yang hanya sesekali datang setelah perpisahan itu terjadi, mampu menyumbat kerongkongan dan mematikan pita suara yang ia punya, meski berkali-kali mencoba hanya sesak yang terasa makin lara.
"Sayang sekali melihat pertarungan yang sebenarnya di dominasi olehmu tapi di menangkan BAKAM masjid yang satu itu(Salman)".
"(...)"(Fattah)
"Tapi lihat esok hari Akan ku tumbangkan satu persatu".
"(...)".
tak ingin meladeni Luqman fattah hanya berlalu dan ingin mengunjungi masjid untuk mengistirahatkan tubuh serta pikirannya.
DI MASJID.
"Sebenarnya apa yang sedang terjadi di balik tenda itu?". (Arif)
"Apapun itu, sangat mencurigakan".(Salman).
"Em sepertinya ada sebuah pertunjukan".(Suna).
"Ya .. Ashabal Masjid, lebih baik mengawal kan tidur segera, semua santri sudah di minta untuk tidur lebih awal".
"Ng.. Aku baru mengetahuinya". lirih Salman.
"Apa ini? baru jam delapan lewat sepuluh".(Suna melihat jam tangan)
"Kang...!! di sana itu acara apa!!!?"
ujar Arif dengan sedikit meninggikan suara.
"Saya tidak tau!!"(Anggota BAKAM)
...
__ADS_1
"Ini Punyaku Sal!"
"Astaghfirullah,".
Lirih Salwa yang sempat teringat dimana suna menyentuh tangannya di Kafe depan pondok, kala dirinya saat ini sedang menunggu sesi pembacaan do'a.
"Aku cinta kamu Sal".
"Aku tak perduli BAKAM atau siapa pun yang menghalangiKu, aku tetap mencintai diriMu".
"Telah lama Aku tunggu masa-masa ini, Aku dan dirimu saling bertatap muka , Aku tidak perduli dengan apa yang akan kamu katakan ataupun kamu kembali meninggalkan aku di sini".
"Agar semuanya jelas Aku katakan padamu semuanya sekarang, aku selalu mencari Mu setelah kejadian malam itu, bahkan dari sebelumnya".
"Astaghfirullah, Stop!!!". tersadar dan membuka mata.
"Ukhti? what happened?" lirih salah seorang yang sempat terkejut di sebelah Salwa, sedangkan Salwa hanya menggeleng menahan malu dan mencoba untuk terlelap kembali.
...
"Alhamdulillah, Semuanya berjalan dengan lancar...".(Zahira)
"Iya, apalagi Aku baru tau, kalau ukhti Putri juga pandai dalam bermusik".
"Mmm terima kasih banyak ya Sof.. atas jamuanya".(Ukhti Lailah)
"You're welcome".
"Aku tidak habis pikir semua anak angkatan memilihku mengenakan dress daun itu".
"Tapi setelah kemenangan itu sepertinya tidak ada hal yang perlu di sesali".
"Tapi dress yang di buat Ukhti Putri tidak di tunjukkan".
"Selain itu, Ustadzah Khumai pun tidak menghadiri Acara".
Lirih Sofi yang menanggapi jalanya Acara yang di hadiri langsung oleh ummi Zakiyath dan ustadzah munirah sebagai juri, namun Ustadzah Khumai sebagai pembimbing malah tidak hadir.
"Apa mungkin terjadi sesuatu pada Khumai?" lirih Putri yang kini sudah terbaring dalam posisi siap untuk tidur.
"Hemm mikir apa Aku, dia kan sudah bersama dengan Hasan".
"(...)".(terdiam sejenak)
"Atau..".(tersenyum)
...
"Ng ... Papah?"
"(...)".
"Papah, Mamah... mamah, Kangen"(memeluk)
"(...)".
__ADS_1
"Papah kenapa..?".
Lirih Sumi yang merasakan Bulir-bulir air mata Suaminya membasahi sebagian rambut dan keningnya.
"Sumi, Kakak paham keinginan Kamu untuk menyembunyikan semuanya demi Suna, tapi coba lihat Suna saat ini, Kakak sangat senang j... jika Suna benar-benar bertemu Ayahnya kala Suamimu siuman(menahan sesaknya rongga dada) ta..tapi...".
"Sumi... Kakak yakin akan ada keajaiban atau semacamnya jika Suna ada di sini".
"Sumi...!!"(histeris)
Lirih Kakak Sumi tersebut memohon untuk segera mengabari Suna agar berada di Rumah Sakit, bahkan bersedia menggantikan dirinya untuk menjemput keponakan yang sangat dirinya sayangi sejak kecil.
"Ukhuk.. ukhuk.. ".
"Abi... !?".
"Abi.. kenapa?".
"Allah..., sepertinya Abi butuh sedikit istirahat Ummi".(menolak tuntunan sang istri)
"Allah, bila di ingat-ingat hanya sebentar saja waktu yang sudah Abi luangkan di Pondok ini, jalanya masih rentan tergelincir dari rel-rel yang sudah di tentukan".
"Ya allah, Ampuni hamba ampuni santri-santri Pondok,"
"Astaghfirullah, Astaghfirullah".lirih Kiayi Nuruddin yang dalam ucapan Do'a masih memutar tasbih yang selalu dirinya bawa, sedang sang istri hanya diam mendampingi bahkan sempat air mata terjatuh namun cepat-cepat di seka.
"Ummi', saya ingin memberikan ini sebagai hadiah untuk Ustadzah Khumai, entah kenapa sepertinya ada yang hilang setelah sekian lama saya berteman dengan beliau, belum lama ini sangat jarang bertemu karena sudah pindah di komplek Para Guru".(tersenyum)
"Mmm, MasyaAllah putri, maafkan Khumai yah karena selain kesibukannya ada seorang Imam yang perlu dirinya dampingi, Ummi pun mendoakan Kamu supaya cepat-cepat menyusul Khumairah".
"Emm Ummi..(malu) setidaknya Aku harus menyelesaikan menuntut ilmu di sini".
"Mmm Iya, semoga Allah mempermudah segalanya".
Lirih Ummi zakiyyath Kala di pagi hari menjelang.
...
"Hiyat ..!! Plak..!! "
"Sore ini pertemuan Suna dengan Luthfi dan akan bertemu Luqman lusa".
"Lalu, aku akan bertemu dengan Asyifa sore ini".
"Yah apapun itu, Sebenarnya Aku tidak terlalu berambisi untuk menang, hanya saja ada sedikit keinginan untuk bertemu Luqman bila berkesempatan".
"(...)".(Arif)
"Apa yang sebenarnya Suna pikirkan, kali ini dirinya masih berada di masjid dan hanya mengandalkan latihan sehari untuk menghadapi luthfi? sedang Aku menunggu hasil pertandingan dirimu".
"Huft"
Lirih Salman sedikit menyayangkan posisinya.
"Eh .. Kang.. jangan terlalu meremehkan yah, Akang Suna maupun Saya sekalipun, punya kelebihan masing-masing".
__ADS_1
"Iya, iya, Aku di sini bukan meremehkan kalian, hanya sedikit ingin bertemu dengan Luthfi itu saja".
lirih Salman tersenyum sesaat sebelum kembali melayangkan kakinya menerjang sasaran tendang.