Aku Memilih Mu

Aku Memilih Mu
Rintihan Rindu


__ADS_3

"Bila sudah saatnya Aku pergi ya Allah".


"Tolong biarkan Aku ikhlas tolong buatlah Aku ikhlas meninggalkan dunia ini".


"Mamah..".


"Jaga Mamah ya Allah".


"Huft".


"Aku sudah tidak tahan lagi".


Perlahan Suna yang bergelantungan di akar tumbuhan di mulut jurang tidak dapat lagi menggenggam dan sedikit demi sedikit turun sebelum akhirnya meluncur menuju tebing curam di bawahnya.


"Allah..".


"Allahu Akbar".


"Hosh".


"Astaghfirullah".


"Ya Allah".


"Suna".(Lirih).


Salwa yang kembali tersadar dari tidurnya karena terbayang keadaan Suna di suatu tempat, kini dirundung kecemasan.


Meski perkiraannya begitu kuat,


kalau dirinya hanya mengalami mimpi buruk karena mungkin lupa berdoa sebelum tidur, tapi mimpi itu terasa begitu nyata.


Sementara itu di kediaman Suna, Ibundanya belum bisa tertidur setelah dilanda kecemasan akan keadaan anak semata wayangnya tersebut.


"Bu?".


"Sudah larut".


"Iya Bi' ".


"Saya mau istirahat".(Bibi)


"Emmm, Bi' ".


"Iya Bu' ?".


"Bibi bisa temani Saya kali ini?".


"Soalnya Saya sedikit khawatir dengan keadaan Suna".


"Mau ngeteh Bu'? ".


"Boleh".


"Saya juga penasaran sama keluarga Bibi".


"Kita kan cuma berdua".


"Besok pagi sedikit terlambat sarapan juga gak apa".


"...".(fokus membuat teh).


Akhirnya Ibunda Suna dan Asistennya terjaga sepanjang malam, membicarakan masa kecil Suna hingga Anak-anak Asisten nya tersebut.

__ADS_1


Beberapa detik Suna dapat merasakan tubuhnya melayang setelah melepaskan genggamannya yang tak lagi bertenaga.


Di iringi hujan yang mengguyur serta kilapan gemuruh Guntur yang menyambar, terbayang sosok-sosok manusia yang sangat membekas di hidupnya selama ini.


"Mamah".


Sang ayah yang berdiri di hadapannya dengan sebuah senyuman, hingga air mata mengalir di pipi yang kusam dimakan waktu.


"Aku terlambat menyadarinya".


"Duniaku hanya tentang Aku".


BRAKK SRRRKKK...


Sementara di tenda semuanya berjalan seperti sedia kala, seperti tidak terjadi hal apapun semenjak tadi malam, hingga diantara ketujuh orang tersebut seperti tidak merasakan kejanggalan dengan keberadaan Suna.


"Huft..".


"Kapan Hujannya Reda".


"Yah".


"Aku sudah terserang kantuk kembali".(Sofi).


"Kenapa sepertinya ada yang sangat mendesak diriKu untuk melakukan sesuatu yah".(Lirih).


"Uti, Mending Uti nyemil aja cemilan Ku masih Buanyak, dari pada Uti bingung seperti itu".


"...".(Putri).


Setelah Beberapa menit Hujan yang mengguyur sedari Malam reda dengan di Susul suasana lembab hingga tanah yang lengket.


"Baiklah".


"Mumpung masih pagi".


"Siap".(Arif).


"Semuanya Bersihkan Tenda masing-masing".


"Dan pastikan Semua barang pribadi tidak tertinggal".


Semuanya berjalan tanpa menyadari keberadaan Suna yang Ghoib bahkan semuanya terlihat begitu Senangnya.


Menyambut Pagi dengan perlengkapan tambahan yaitu jaket plastik agar tidak kembali di guyur hujan yang sewaktu-waktu akan kembali turun karena langit belum menunjukan tanda akan kembali cerah.


Mereka kini kembali berjalan beriringan, menapaki jalan licin hingga medan terjal.


"Hey, Tunggu".


"Sepertinya Kalian terlalu cepat!!".(Salman).


"Ayo Man".(Fattah).


"Kang Salman semangat!!".(Sofi).


"Sof!"


Putri yang berjalan di belakang Sofi memperingatkan sahabatnya tersebut agar tidak berlebihan.


"Fattah".


"Minum?".

__ADS_1


"Emm, Makasih".(Tersenyum).


"Ayo.. ayo".


"Kita perlu bergegas!".(Zahira).


"Heh".


"Uti BAKAM yang terhormat".


"Aku nggak tau apa yang sudah membuat berat langkahKu".


"Yang jelas kalau terus mendaki hanya karena cemburu itu tidak baik".(Salman kelelahan).


"Heum".


"Kamu hanya takut mengakui kelemahan Kamu saja kan".


"...".(Salaman ngos-ngosan)


"Sombongnya..".


"Dah gitu laganya mau nge gendong ".


"Baru segini aja istirahat lagi".


"Terserah Uti ajalah".


"Hey yang di depan!!".


"Ini Uti Zahira mau ke depan katanya!!".


"Eh enggak".


"Kaya gini aja".(Mengecek tongkat).


"Ayo-ayo".


"Bergegas!".(Fattah).


...


"Ya Allah".


"Aku tau engkaulah yang maha tau".


"Di tanganmu lah segala kemungkinan".


"Ku serahkan semuanya ya Allah".


"Aku tidak akan mendahului ketentuan-ketentuan mu".


"Ya Allah bila yang aku rasakan tadi adalah benar adanya".


"...".


"Berilah kesempatan".


"Berilah kesempatan".


"Berilah dirinya kesempatan ya Allah".


"Jika perkiraan Ku ini salah, tuntun lah Ia di jalan Mu".

__ADS_1


"AAmmiin".


"Fyuh..".


__ADS_2