
"Hey, Ustadz!".
"Mmm?".
"Man, man, Ustadz-Ustadz, kan situ yang sebenarnya Ustadz?".
"Sedang apa?".
"Ayo, cek Cika di kandang?".
"Yah, hanya duduk-duduk saja".
"Hallah, paling juga menunggu si Salwa nyebrang kan?".
DEG
"Ngawur".
Singkat Suna yang memang sudah sejak lama selalu terlihat duduk di tepi tangga Utama Masjid, memandangi tembok yang membagi Pondok menjadi dua belahan yang terpisah namun berjalan beriringan.
Tak lama berselang lonceng tanda masuk sekolah bagi SMA Dalam(Pondok) pun berbunyi, di susul Sosok Ustadzah Salwa yang muncul dengan busana khas seorang Pengajar lengkap dengan berbagai perlengkapan di tangannya.
Hijab Putih membalut bagian kepala hingga menjulur panjang menutup lekuk tubuhnya.
"MasyaAllah".(Salman).
"Hush".(Suna).
"Maa Ajmala hadza Shobah".(Alangkah indahnya pagi ini).
"...".
"Sudah?".
"Apa?".(Suna).
"Sudah kan?".
"Sepertinya tidak ada lagi keramaian yang bisa di saksikan".
"Ayo, Kita membersihkan Kandang".
Kedua pemuda tersebut kini sudah bersiap menuju Kandang kembali menunaikan kewajiban Mereka membersihkan Kandang serta memberi Makan para ternak.
"Ustadzah".
"Hey...".
"MasyaAllah".
"Ustadzah kok di sini?".
"Hemm, Aku pindah tahun lalu Sal".(Tersenyum).
"Ih, nanti pokoknya Kita harus bicara banyak".
"Sekarang Aku ada jam mengajar".
"Iyaa Ustadzah, Saya juga mau belajar dan mengulang di taman".
"Uemm, Nanti Aku ke sana".
Fitri melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda karena bertemu Salwa, Dirinya masih tekun mengulang hafalan selama mengabdikan diri mengajarkan Al-Qur'an.
Bahkan Sofi yang saat ini tengah sibuk dengan perkuliahan yang sedang di gelutinya kini mulai belajar menghafal di bimbing oleh Fitri.
"Kang, sebenarnya Saya ingin kembali ke Pondok Saya".
DEG
"Seriusan Man?".
"Dah Mau Boyong".
"Yah, tapi masih rencana saja".
"O, rencana".
"Meskipun Saya saangat suka dengan suasana yang ada di sini Saya harus kembali ke Pondok Abi, untuk mengajarkan ilmu yang sudah Saya dapat".
"Apa bedanya di sini".
"Kamu juga melakukan hal yang sama kan?".
"Toh di sini Kamu lebih di butuhkan Man".
"Yah, Saya ingin menerapkan sistem Pondok Ihya' Di sana Kang".
"Hemm".
__ADS_1
"Ok, kalau itu perlu".
"Akang juga haru seperti itu".
"Maksudnya?".
"Harus ada Rencana".
"Akang di sini dengan segudang rencana kan tentunya?".
"Emm".
"Entahlah".
"Aku hanya berencana mempelajari Ilmu agama".
"Hemmm, itu hanya salah satunya kan?".
"Emmm, sepertinya satu-satunya".
"What!?".(Salman).
"Okhe... Sofi.., Bismillah kali ini adalah waktunya Kamu mengajukan judul".
"Assalamualaikum?".
Sofi yang hendak menemui Dosen pembimbing dalam membuat skripsi harus rela menunggu sampai besok, karena dari Seminggu yang lalu Dosen tersebut tidak hadir dengan sebuah alasan.
"Allah".
"Aku ingin sejenak beristirahat".
"Uti, kenapa?".
"Seperti itu Dev".
Lirih Sofi lesu menceritakan dirinya yang selama seminggu tidak dapat berkonsultasi dengan Dosen pembimbingnya.
Sedangkan Devi adalah seseorang yang sangat beruntung dengan kemudahan yang di topang dengan keaktifan serta kecerdasan yang Ia miliki.
Bahkan niatnya menegur Sofi adalah agar Dirinya dapat bersama mengulang hafalan Al-qur'an bersama, karena Masalah skripsi sudah dapat dirinya atasi sebelumnya.
"Kembali ke Pondok?".
"Hemm, iya ayo Kita kembali".
"Gimana Kalau kita mampir sebentar ke Kafe depan".
"O iya, Kuliah?".
"Tiba-tiba DosenKu memiliki Kewajiban lain membuat jam Kuliah di batalkan dan di ganti sore nanti".
"Ooo".
"Nah, Seperti Itu Kang".
"Jadi setidaknya Akang ada target seperti Niat yang sedang Saya usahakan".
"Heumm".
"mengabdi, menikah mengurus Pondok".
"Seperti itu?".
"Ya, Seperti itu".
"Seperti yah nggak harus".
"Gimana yah Man".
"Kalau ada rencana lain selain menimba Ilmu Agama, Mungkin Salwa lah Rencana itu".
"Lalu?".
"Lalu?".
"Apa?, Anak E Kiayi Man, Aku masih merasa ndak pantas ".
"Ngurusi Cika aja belum becus".
"Apalagi mengurusi Anak Kiayi, Ustadzah, Ustadzah Man".
"Iya, Memang Sepertinya Jodoh Antum itu Cika ini kayaknya".
"Wah".(Suna).
"Damai".(Salman).
"...".(Suna).
__ADS_1
(Rencana yah).
"Alhamdulillah".
Lirih Salwa yang kini sudah melangkahkan Kaki keluar kelas dan ingin menghampiri Sahabat karibnya.
"Salwa...".
"MasyaAllah, Kamu makin cantik loh".
"Ummm, Antunn juga Utii".
"Gimana di sini?".
"Betah kan Uti?".
"...".(Mengangguk).
"Aku nggak nyangka deh, seneng banget, tau-tau Ukhti ada di sini".
"Uti, Uti, jadi Mommy sini aja yaa".
"Biar nggak kemana-mana lagi".
"Emmm, Salwa..".
"Iyaa..".
"Kamu ih, Dah mikirin Married aja".
"Eh, kan Uti loh yang Aku maksud".
"Hmmm".
"Sebenarnya Saya belum berpikir untuk melangkah ke sana".
"Kalau Kamu?".
"Emm, gitu, Sebenarnya Aku akan saangat bahagia kalau ada Uti di sini jadi Mommy hehe".
"Kalau Aku mmm Aku mau mengabdi dulu dua atau tiga tahun mungkin".
"Jangan lama-lama".
"Nanti makin banyak yang tahu Kamu, makin susah untuk Kamu memilih".
"Eh".(Salwa Tersenyum).
"...".(Fitri Tersenyum).
"Lalu.. bagaimana Sahabat Uti yang ada di sini?".
"Uti sudah ketemu?".
"Sudah".(Fitri).
"Oo".
"Yang terpenting saat ini bagaimana Kita mengabdi bukan?".
"Ngomong-ngomong masih sibuk?".
"Nggak, Sekarang sih udah free".
"Kita mengulang hafalan yuk?".
"Emmm, Ayo".
"Biasanya Aku mengulang sendiri".
"Iya?".
"Iya".
"Sebelum itu, Kita harus siapkan dulu cemilan supaya tidak jenuh beristirahat".
"Hemm Salwa".
"Masih sama yah".
"...".(Tersenyum).
"O iya, Besok atau lusa kabarnya Salah satu Sahabat Ana(Saya). akan ke sini".
"Iya?".(Fitri)
"Iyaa".
Kedua sahabat tersebut tidak berhenti bercerita seraya berjalan mencari cemilan untuk mereka mengulang hafalan.
__ADS_1
hingga membahas Niat Fitri yang tidak selaras dengan keinginan Salwa yang menginginkan dirinya mengabdi di Pondok Ihya.