
"Ei, Ku dengar Kamu akan Wisuda sebelum Ramadhan?".
"Ng?".
"Wih, waktunya Balek Kampung".
"Selamat-selamat".
"Hehe Iya, Makasih Banyak".
"Huemmm".
Salwa hanya beberapa saat saja merasakan Uforia kelulusan, pasalnya dengan Satu dan lain hal Keluarganya tidak dapat hadir di Upacara kelulusan.
Dan kali ini secara kebetulan dirinya harus duduk bersebelahan dengan Rudi.
"Rilex".
"Ini pasti Kamu yang sabotase kan".
"Wah, Aku pasti seseorang yang mempunyai kuasa lebih untuk menyabotase ini semua".
"Selain itu, kan nggak baik jika berjalan sendiri tanpa seseorang yang mampu ngelindungin kan".
"Hey, Kamu mah berpikirnya Semua Orang jahat selain Dirimu".
"Hhhhhh, Salwa semua orang itu baik bagiKu di beberapa kesempatan".
"Au' ".
"Jadi apa rencana Kamu setelah ini?".
"Emmm".
"Tentu Kamu akan mengajar ya di Pondok AyahMu".
"Hhaa, Sayang sekali".
"Ih, kenapa?".
"Yah, Sayang sekali rasanya jika hanya selesai seperti ini".
"....?".
"Salwa...".
"Mungkin nggak sih seseorang yang Awam menikahi Anak Kiayi seperti Kamu?".
DEG
...
Assalamualaikum warahmatullah...
Assawalualaikum warahmatullah...
Suna Kini melaksanakan shalat Ashr di sebuah Masjid di saat kembali menuju Rumah.
Kini dirinya Pun sudah berada di dalam mobil setelah memanjatkan Do'a yang selalu Dirinya Ulang di kala setelah Shalat.
"Selamat sore sahabat pendengar dimana pun anda berada, langit Jawa Tengah sedikit selaras dengan Hati Saya ini, haduh, mendung-mendung dingin tanpa hadirnya,
Cie-cie
(...)(Musik).
Cocok belum ini kalau posisinya pernah punya seseorang yang begitu ter ter ter deh di hati".
(...)(Musik).
"Eya, seseorang yang paling begitu pokokny, dia aja... gituh, mau risol apa ager-ager pilihnya dia gituh".
"Mau apapun pilihnya Dia aja Kaya Sosro. meski kadang-kadang kita nggak bisa memaksa, misalnya Sosro jari sosro gula batu gitu kan".
(...).(Musik).
__ADS_1
"Itu teh Sisri".
"Intinya Kita tidak bisa memaksa Dirinya untuk menetap, meski dirinya begitu berarti bagi Kita, Kita sudah berangan-angan jauh bersama".
(...)(Musik).
"Namun harus terpisah gitu kan".
"Misalnya".
"Tenang-tenang, Masih misalnya".
"Semangat untuk Kita yang masih mencari akhir dari sebuah penantian, Hubungan".
"Yang masih menggantung, mengambang entah kemana, sampai kemana-mana gituh, misalnya,
"jangan lama-lama".
(...)(Musik).
"Jangan lama-lama, Tuntaskan selesaikan nikahi aku sekarang atau lepaskan".
"Karena Kami yang masih sendiri gitu, menunggu kalian, Kalian itu kapan selesainya, gituh eya".
"Hehe, terlalu berlebihan ya, soalnya Saya pribadi juga ingin segera gitu tapi melihat dirinya masih bersama dengan yang lain jadi masih sendiri aja lah hhhh".
"Jadi Punya keyakinan masih pacaran, belom kahwinan, masih bisa, masih bisa".
"Hhhhh".
"Memprihatinkan yah".
"Jadi Bisa nggak Kita selesaikan segera hhhh".
(...)(Musik).
"Untuk semuanya aja lah yah, Semoga tidak sampai salah menitipkan cinta Kita".
"Yang Punya pasangan sekarang jiret(Ikat) Ko due ne Aku Mas, ndang Rabi rausah ngenteni opo-opo".(Kamu milikKu, ayo Nikah gak Usah nungguin apa-apa)
"Untuk Kita semua, Dudy Oris Laksana SurgaKu".
"Gak kelar kalau ceritanya suka sama yang udah punya mah".
Hari ini kau pergi
Meninggalkan diriku
Semua begitu saja
Terjadi dan takkan kembali
Sungguh 'ku tak berdaya
Jika harus tanpamu
Menghabiskan waktuku
Jelajahi dunia
Dirimu laksana surgaku
Tempat 'ku mencurahkan
Segala rasa cinta suci
Yang tulus di dalam batinku
Tiada yang mampu gantikan
Titahmu di hatiku
Menyejukkan seluruh jiwa
Melebur ke dasar sukmaku
__ADS_1
Haruskah kuberpasrah
Hadapi semua ini?
Mencoba memulainya
Kembali dengan harap pasti
Namun kadang raguku
Mengusik damai hati
Membawa kebimbangan
Dengan arah tak pasti
Dirimu laksana surgaku
Tempat 'ku mencurahkan
Segala rasa cinta suci
Yang tulus di dalam batinku
Tiada yang mampu gantikan
Titahmu di hatiku
Menyejukkan seluruh jiwa
Melebur ke dasar sukmaku
Adakah di benakmu
Seberkas celah rasa?
Meskipun semu semata
Ringankan kesedihan
Dirimu laksana surgaku
Tempat 'ku mencurahkan
Segala rasa cinta suci
Yang tulus di dalam batinku
Tiada yang mampu gantikan
Titahmu di hatiku
Menyejukkan seluruh jiwa
Melebur ke dasar sukmaku
Dirimu laksana surgaku
Tempat 'ku mencurahkan
Menyejukkan seluruh jiwa
Melebur ke dasar sukmaku
"Wah, wah, sangat-sangat mengena dan enak di dengar ya tapi tidak untuk di rasa".
"Sulit".
"Ok, Lagu selanjutnya".
"Mungkin ini Obat ya, dari tragedi yang pernah menimpa Kita ya, Geisha".
"Lumpuhkan IngatanKu".
"Huft...".
__ADS_1
Suna yang sempat menirukan Lantunan lagu pertama menghela nafas Panjang setelah lampu merah di depan berubah menjadi hijau, di perempatan terakhir menuju Rumahnya.