Aku Memilih Mu

Aku Memilih Mu
Delima Cinta


__ADS_3

"Kalau ini memang tentang diriku yang harus menunjukan rasa, bukankah setidaknya aku harus mengenalinya terlebih dahulu, atau setidaknya berbicara empat mata,


"Bahkan aku mengetahui namanya saja dengan satu hal yang begitu di luar duga'an ku,


"Salwa.., sebenarnya ada apa dengan mu? aku hanya tak habis fikir kamu menghindariku seperti ini.


"Apa tak sulit?"


Suna menghela nafas panjang di atas ranjangnya, tak henti-hentinya memikirkan sosok yang baru belakangan ini di ketahui namanya.


Ping...!


(.....)(meraba handphone yang berada di sekitar)


"[Sibuk?]"(putri)


[Nggak, kenapa?]


"[Sebenernya ada yang ingin aku bicarain]"


(.....) (terkadang makhluk yang bernama wanita itu membingungkan).


"[Bisa-bisanya kamu benar-benar sedingin ini?]"


”[Suna...,]"


"[Suna?]


"[Ia? kamu mau apa?]"


"[Kita ketemu sekarang]"


(......)


"[Ok bentar aku ke sana]"


"[Thanks]"


Suna pun bangkit dari ranjangnya dan meraih hoodie hitam dan kunci motor di depan meja kerjanya, sempat tersungging senyuman di bibir Suna sesa'at sebelum membuka pintu kamar.


"Eh eh eh , Suna mau kemana? keluar?"


"Em ia mah, kenapa?"


"Mampir ke toko buah yah, beli'in mama buah Delima".


"Jangan malam-malam, kalau sudah tidak ada hal yang penting-penting banget langsung pulang".


"Ia mah, eh apa ini, pakek uang Suna aja, ada".


ujar suna menolak uang yang di sodorkan ibunya yang sangat ia sayangi.


Di lain sisi Salwa masih memikirkan kata-kata kakaknya Khumairah bahwa dirinya diminta meningkatkan diri, karena bisa jadi apa yang ia inginkan adalah sesuatu yang di inginkan orang lain juga.


"Hem..., sebenarnya kakak juga suka dengan pemuda itu, aku tahu, kakak hanya tidak ingin mengatakan hal itu secara langsung".


"Tapi apa gunanya memintaku untuk meningkatkan diri kalau aku lah yang menjadi saingan dirinya?, bahkan ia tidak perlu membuat perubahan sedikitpun jika ingin memiliki laki-laki tersebut".


"Huft.., aku tidak menyangka kalau mengagumi itu sesulit ini".(menutupkan selimut sampai ke kepala)


Hampir di setiap malam Salwa yang sudah hampir tiga tahun lamanya setelah pertemuan pertama, saat dimana pertama kalinya ia melihat pemilik kafe, yang kini telah menunjukan sebuah perasaan dan signal positive untuknya. Salwa selalu terbayang oleh pesona ketampanan yang di miliki Suna.


Hari itu kala Pondok sedang libur semester pertama kala Salwa masih duduk di sma kelas dua, awalnya ia hanya penasaran karena ketidak pernahan dirinya keluar membuka pintu pondok di hari-hari sibuk, karena semua keperluan sehari-hari ada di dalam Pondok.


"Uti..., uti udah di larang buat keluar loh sama Kiayi"

__ADS_1


"Hem...!!"(mengerakkan sapu yang sudah menjadi alasan)


"Ia nanti kena masalah loh.., yuk masuk"


ujar Zahira meraih tangan Salwa yang memandangi 'Kafe Kita' yang pemiliknya sudah membuat dirinya membuka gerbang untuk kesekian kalinya.


....


"Lah kita ke..(sin)


"Ia kita ke sini , angkringan" (ujar Suna seraya memposisikan motor di pinggir jalan)


"Oh hhhh, ia angkringan hh(risih)"


"Kenapa? kan kamu tadi mau ngomong kalau kita pergi dulu dari rumah, di tanya tempatnya mana terserah kamu jawabnya".


"Wah... mas suna...,!!!, balik lagi? monggo mas monggo masih hangat semuanya, atau minum suje(susu jahe) ntar tak bikinin?"


"Ah..,ia mas, balik lagi. tolong ya susu jahe dua buat kita".(langsung memasuki kedai kecil khas angkringan menyisakan Putri yang masih terlihat manyun)


"Wm.., kamu nggak mau makan? nih, ini jeroan enak banget.., sate usus, atau sate telor puyuh?"


"Dah lah kamu aja".


"Huem..., rugi.., kamu nggak nyoba, o ia bay the way kamu mau ngomong apa?".


"Ah sudahlah, kamu aja asik dengan makanan kamu?"


"Hem, aku bisa dengerin kamu".(mengunyah sate hati)


"Is..."(manyun)


(.....) (mengunyah)


...


Kali ini ia beriringan dengan mobil merah mungil yang hampir tak memberi dirinya kesempatan untuk menyalip, karena menghindari lubang jalanan.


Suna yang sebenarnya sedang buru-buru beberapa kali memompa gas motornya. hingga, terlihat sopir lambaikan tangan dari jendela kemudi memberi tanda agar segera menyalip dengan melambatnya laju mobil.


Ia pun melebar ke arah kanan untuk segera memacu motornya, dengan sekali tarikan gas Suna melaju dengan cepat hingga ia hanya menyadari sekilas


bahwa sopir mobil tersebut adalah seorang perempuan.


"Hem, cewek ternyata, pantas lelet".


.....


"Mas tolong cappucinonya satu sama banana cheese nya satu". ujar seorang wanita memesan pada Willy yang sedang membawa nampan seusai mengantarkan pesanan, ia pun di layani dengan layaknya pelanggan di Kafe tersebut.


"Cappucino banana cheese satu" singkat Willy pada suna yang kebetulan berada di loket sekaligus tempat pembuatan Kopi.


"Ok!!".


"Istirahat Will, lu dah mondar-mandir capek kan".


"Ya..., anterin ke meja dua belas"(duduk dan meraih sebuah buku novel yang sedari tadi ia baca dan tertunda karena pesanan.


"Ok meja dua belas"


Lirih Suna seraya mempersiapkan pesanan tersebut, ia pun sempat mendengar seseorang memanggil Willy dengan sebutan kakak untuk membuatkan cappucino di pagi menjelang siang tersebut.


"Permisi ini pesanannya"


(meletakkan secangkir cappucino dan banana cheese di atas meja)

__ADS_1


"Eh tunggu...,"


ujar wanita tersebut setelah di suguhi pesanan yang ia pesan tepat di hadapannya bahkan dirinya sudah sempat mengabadikan beberapa foto dengan dua buah pesanan tersebut.


Dengan perasaan aneh dan bertanya-tanya suna membalik arah kembali menghadap ke arah wanita yang baru saja ia layani,


(mungkinkah ada yang salah dari cappucino atau banana cheese yang ku buat?"


"Ini"(memasukkan selembar kertas berisikan nomor handphone kedalam saku yang tepat berada di bagian depan seragam yang di kenakan Suna)


(Oalah dia ingin aku menghubunginya,)


Suna yang sempat terkejut tanpa mengucapkan sepatah kata apapun lalu kembali ke kasir dengan memperhatikan selembar kertas bertuliskan nomor handphone dan "call me"


Kala itulah untuk pertama kalinya Suna berkenalan dengan putri hingga berlanjut pada hubungan asmara yang menurut mereka kala itu adalah hal yang sangat tidak biasa karena dalam waktu yang singkat suna menyatakan cintanya dan putri pun tidak menolak sedikit pun.


"Em..., Suna maafin semua kata-kataku waktu itu, aku sadar terlampau jauh mengusik kesibukan kamu"


"Ya"(mengunyah)


"Aku nggak pernah menyangka aku berbuat seperti itu dan akhirnya aku merasa sangat menyesal sekarang"


(.....)


"Aku tahu kamu sedang memperjuangkan segalanya kala itu"


"Ya"(mengunyah dan mengunyah)


"Aku mau kita kaya biasanya aja yah".


(.......)


"Ya"(tempo kunyahan mendadak melambat)


"Suna"


"Em?"


"Kita mulai lagi dari awal ..


"PLAK!!!!!! PYAR!!!!!!" (piring pecah)


"Wah... inih nggak bisa di pakai lagih,"


lirih pemilik angkringan yang kala itu membersihkan beberapa lembar piring kecil.


"Em, put.., kayanya aku nggak bisa lama-lama deh, soalnya kali ini mamah nunggu buah delima yang bakal aku beliin".


"oh, tante mau beli buah delima, kalau gitu aku sekalian ikut, biar aku bantu milih yang bagus buat tante"


"Em..., ok, "


lirih Suna sesa'at sebelum menyelesaikan suapan terakhir dari nasi bakar dan membayar.


"Apa yang membuat aku tak bisa menolak dengan tegas ajakan itu?"


lirih Suna yang kembali mengingat kata-kata putri di kedai angkringan, dan sikap ramah mamahnya kepada putri, bahkan mamahnya begitu bahagia tiap kali putri hadir di kediamannya di tambah lagi panggilan mantu untuk putri kala Suna memberi tahu Putri lah yang memilihkan buah delima untuk ibunya.


"Hem dah lah, pusing"(merebahkan tubuh kembali ke ranjang)


.....


"Hemm...., kenapa aku susah tidur kalau sudah ingat dirinya ..., huft"


Lirih Salwa seraya menggigit bibir bagian bawah karena perasaan yang tak menentu akan seseorang yang ingin ia miliki.

__ADS_1


Dirinya pun terjaga hingga larut sampai dirinya terlelap tanpa sadar seperti malam-malam yang telah lalu.


__ADS_2