
"Rencana, rencana, rencana".
"Rencana, rencana, rencana".
"Akang Suna, psst...".
"Apa rif?".
"Jangan berkeliaran di Gedung kelas!".
"Nanti dapet masalah".
"Iyaa".
"Saya juga hendak turun".
"Ok".
Suna yang kali ini sedang memikirkan sebuah rencana besar untuk hidupnya masih belum menemukan keteguhan dalam mengambil suatu keputusan.
"Salwa, Salwa, Salwa".
"Kiayi?".
"Haduh, kenapa jadi begini".
Suna sangat berharap bisa mendengar nasihat Kiayi pada saat-saat kritis seperti ini, apalagi dirinya di Pondok atas dawuh beliau untuk menuntut Ilmu.
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ
Allahumma inni astakhiiruka bi 'ilmika wa astaqdiruka bi kudratika, wa as'aluka min fadhlikal Adziim,
اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ خَيْرٌ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى فَاقْدُرْهُ لِى وَيَسِّرْهُ لِى ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ
Allahumma inn kunta ta'lamu anna hadzal amra khairun lii fii diinii wa ma'aasyii wa'aaqibati amrii faqdurhu lii wayassirhu lii tsumma baarik lii fiihi,
وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى فَاصْرِفْهُ عَنِّى وَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِى الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِى
Wa inn kunta ta'lamu anna hadzal amra syarran lii fii diinii wa ma'aasyi wa 'aaqibati amrii fashrifhu 'anni washrifnii 'anhu, waqdur liil khaira haitsu kaana tsumma Ardhinii.
Suna sudah mendirikan Shalat istikharah malam ini, meski tidur hanya beberapa jam saja, setelah mendirikan shalat tahajjud dirinya kembali di bayang-bayangi oleh kata-kata Salman padanya.
Suna yang tidak bisa terlelap kembali kini berencana untuk sejenak berkeliling dengan membawa Al-qur'an kesayangannya.
malam begitu cerah dengan sinaran bulan yang begitu terangnya, begitu banyak bintang malam ini di langit Pondok Ihya' serta beberapa Harist lail(Penjaga malam) yang tertidur dengan Pulas nya.
Suna menuruni tangga yang penuh dengan kenangan itu seraya melantunkan hafalan-hafalan ayat pilihan yang dirinya punya.
"MasyaAllah Hhh".
Lirih Suna mendapati senter besar milik kader BAKAM menyala di kala mereka terlelap tidur dengan posisi duduk.
Suna pun sudah membawa Senter tersebut dan menyusuri gedung kelas dan hendak mengitari Pondok seperti yang selalu dilakukan para jajaran BAKAM maupun Kiayi.
GLUTAK...
Suara benturan meja dan Kursi terdengar di kelas lantai tiga, tepat di kelas paling pojok yang posisinya dekat dengan Masjid.
Suna melangkahkan kakinya tanpa menghiraukan rasa takut yang sempat hadir singgah di benaknya.
Langkah demi langkah semakin membuat kaki Suna berat kala harus melewati kelas-kelas yang gelap tanpa penerangan, jendela-jendela yang mengharuskan dirinya menatap lebih lama jika ingin mengetahui keadaan di dalam sempat membuat dada berdebar.
__ADS_1
Dengan Mengarahkan senter besar di tangan dirinya berdiri beberapa detik tepat di depan pintu kelas, memastikan kelas kosong.
TAP TAP TAP.. (Khssmsm)
Langkah demi langkah mengantarkan Suna mendekati kelas yang paling ujung, sejenak terdengar seperti seseorang yang sedang berbisik-bisik di balik Pintu yang hanya tinggal dua meter dari tempat dirinya berdiri.
Allahu laa ilaaha illa hua...
TAP TAP SREK... DuG...
"Al'Akh maafin Kami Al'Akh ..".
"Iyaa Al'akh".
Secara tiba-tiba munculah tiga Sosok manusia yang mengagetkan Suna di balik pancaran sinar senter yang terang, Suna sejenak terdiam tanpa mampu berkata-kata.
"Beneran Al'Akh, Saya Insomnia".
"Al'akh, Saya hanya di ajak".
"...".
Ketiga Anak tersebut kini berjalan jongkok di depan Suna dengan bungkus Rokok yang masih menyisakan beberapa batang serta sisa-sisa bekas pemakaian.
"Kalian bisa menjelaskannya kepada Al'akh BAKAM".
Lirih Suna seraya mengecek ulang tiap kelas dari kelas Pojok menuju tembok pemisah antara gedung kelas putra dan Putri yang sejajar dengan tembok di lapangan.
"Kalian hanya bertiga?".
"I'Iya Al'akh".
"...".
"Kalian tidak takut dengan kegelapan?".
Suna berusaha mengorek informasi secara perlahan sembari memastikan kelas kosong.
"Kami kesini bersama-sama jadi berani Al'akh".
"Oo".(Suna).
"NGIK!!!!".
"Al'Akh".
Lirih Dua diantara tiga Orang yang masih dalam keadaan Jongkok memanggil Suna yang masih mengecek kelas.
"Ada sesuatu di balik sana Al'akh".
Ujar salah satu dari mereka yang lain.
"Syutt Ente nih".
Lirih mereka.
"Ayo turun".(Suna).
Sejenak menuruni Lorong menuju lantai dua langkah mereka terdengar sangat jelas dan hampir dalam satu ketukan namun tiba-tiba tembok pemisah seperti di pukul-pukul oleh sesuatu dari arah Kelas untuk putri hingga suaranya terdengar ke telinga mereka.
Suara tegukan liur seolah-olah suara paling keras menyusul suara langkah kaki mereka.
__ADS_1
"Ok kalian tunggu di sini".
"Al'akh".
"Kami ikut".(Ketakutan).
Mereka bertiga tau jikalau Suna bukanlah seorang BAKAM dan tidak setegas saat dirinya bertugas di kala Subuh ataupun lima waktu shalat.
"Baiklah".
"kosong".(Suna).
TOK TOK TOK...
Kini bunyi-bunyi aneh makin terdengar di balik tembok pemisah di hadapan mereka berempat, Suara yang sedang mereka dengarkan sekarang seperti sebuah benda yang di benturkan kepada kayu bahkan kaca secara pelan.
"Ekhm, Mereka tertidur Kang".
(berusaha memecah keheningan).
"Yaa".
Singkat Suna.
"Lantai pertama lantai yang lorongnya tidak begitu tinggi untuk sekedar mengetahui sosok di seberang seharusnya Apapun itu Mereka akan terlihat Saat Kami turun".
Gumam Suna.
"Allah...!!!".
Seketika tiga Orang Santri terkejut setelah dikagetkan oleh
jajaran BAKAM Putri yang malam itu juga sedang berpatroli
Empat orang berbaju biasa dengan salah satu dari mereka berseragam silat.
"Syut.., Kalian ingin memakai khimar?".
Lirih Sofi yang mengancam setelah mereka bertiga mengagetkan para anak-anak seberang tembok.
Merekapun langsung berlalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun karena takut akan di paksa memakai Khimar khas dari Bagian Keamanan yang terbuat dari lima macam warna yang di satukan, dan biasanya di pakaikan jika seseorang melanggar peraturan.
"Huh, Mereka bisa-bisanya berlalu tanpa mengucapkan kata maaf".
"Kita bisa meninggal tadi loh".
"Sudah-Sudah Kita segera ke Kantor BAKAM".(Suna).
"Dasar Makhluk seberang".
"Iyaa awas saja mereka".
"Aku tadi sudah mengira mereka yang bukan-bukan".
"Memang mereka makhluk menyeramkan".
Suna yang mendengar percakapan-percskapan tiga orang adik kelas yang berjalan jongkok di hadapannya hanya sedikit tersenyum, karena nyatanya sedari kecil di antara anak-anak putra maupun putri tumbuh rasa gengsi dengan sendirinya sejak dini.
Meski pada kenyataanya tak jarang dari Mereka yang berjodoh.
Apalagi kisah yang termasyhur adalah ketika Ketua BAKAM Pondok berjodoh di luar sana, yang juga sahabat dari Suna.
__ADS_1