Aku Memilih Mu

Aku Memilih Mu
Nilai Sebuah Kepercayaan


__ADS_3

"Bismillah"(menyalakan mobil)


"Nak suna..., bantu saudara Fattah mencari rumput untuk pakan sapi-sapi di kandang dampingi Fattah dia ini masih muda semangatnya masih menggebu-gebu di jalan jadi tolong di ingatkan"


Pagi itu Suna dan Fattah menuju keluar Pondok dengan bertujuan mencari rumput pakan sapi di Pondok, setelah rutinitas pak kiayi mengecek segala sarana dan prasarana yang berkaitan dengan pondok termasuk sampai mobil yang akan mereka gunakan. sekilas suna dan fatih melintasi cafe milik suna dengan beberapa pelanggan yang sebagian besar adalah santri maupun santriwati,


"Dia sudah pergi jam segini"


"Dia siapa maksud kamu ttah?


tanya suna setelah mendengar kata-kata fatih setelah melakukan manufer membelokkan mobil tepat di depan cafe.


"bukankah sudah jelas salwa lah yang akang cari? seseorang yang membuat akang bisa mengambil keputusan memasuki pondok ini?".


Suna hanya diam dengan mengangkat kedua alisnya, ia hanya berfikir tidak ingin terlalu terbuka saat berada di dekat fattahh. bahkan ia merasa bahwa ia sedang berhadapan dengan Kh. nuruddin.


"Sebenarnya agak membingungkan, kenapa akang malah memilih memasuki pondok jika ingin mendapatkan salwa," celetuk fattah kembali mengajak suna berbicara.


"Memangnya seperti apa seharusnya mendapatkan salwa itu?"(timpal suna dengan sebuah pertanyaan)


"Ya datangi kiayi dan peroleh restunya".


singkat fattah.


"Mm?".(suna terdiam)


entah mengapa ada satu hal yang membuatku tak bisa secara langsung melakukan hal itu, apalagi kh nuruddin memintaku menghampiri pondok ini, bukan dengan hal yang spontan seperti itu.


"Akang ingin memacarinya dari dalam?"


tanya fattah seolah mengejar suatu informasi.


(....)


Suna masih mengira-ngira dirinya memang sedang di awasi oleh bakam yang sekaligus menjadi rekan menjalani tugas kali ini.


"Akang yakin akang bisa mendapatkan salwa bila memasuki wilayah pondok?"


"Mm... memangnya kenapa ttah? kalau misalnya saya ingin memperoleh salwa dari dalam, dari lingkungan pondok?"


(ujar suna dengan nada datar)


"Hhh, tidak aku hanya bertanya-tanya apa ia dengan memasuki pondok berniat mendapatkan seorang putri dari kiayi bisa di jadikan pondasi menuntut ilmu di sini".


"O tentu nggak, susah pastinya untuk saya memperoleh ilmu ataupun salwa jika dari dalam seperti ini".


"Ooo jadi akang memang benar-benar sudah berubah".


"Ia.., memang benar saya sudah berubah fattah, apalagi konon primadona Pondok adalah Princess nya ya kan?". ujar Suna yang berniat mempermainkan Fattah.


Akhirnya percakapan mereka di awal keberangkatan mengambil rumput yang biasanya di beli dari pengepul langganan Pondok pun berakhir begitu singkat dan berlanjut dengan keheningan di arah kembali hingga mereka memasuki Pondok.


Suna pun kembali menuju masjid setelah menurunkan muatan dari mobil elf yang bermuatan begitu banyak rumput pakan untuk sapi. dengan mengibaskan topi miliknya ia pun menaiki tangga utama masjid yang terhalang bayang-bayang atap masjid.


"Hmm.. ternyata menuntut ilmu di sini tak seperti yang aku bayangkan".


lirih Suna. di iringi dengan suara bel istirahat untuk sma yang ada di dalam lingkungan Pondok.


Suna pun mendapati pemandangan yang begitu menarik kala santri dan Santriwati seolah tidak pernah mengenal satu sama lain bahkan di dalam lingkup dan kegiatan Pondok yang sama, dan tidak begitu berjauhan, hanya terpisahkan oleh lapangan hijau dan tembok setinggi dagu orang dewasa.


Tiba-tiba di riuhnya anak-anak SMA yang berkeliaran menikmati waktu istirahat sebuah mobil mewah memasuki pondok dan merapat di teras rumah KH. Nuruddin.


Seseorang yang beberapa waktu lalu menyinggahi Kafenya dari penampilannya jelas adalah seorang yang juga pemimpin Pondok karena terlihat begitu akrab serta beberapa orang yang terlihat mendampingi saat ini maupun kala mereka di Kafe waktu itu.


"Sepertinya semuanya terlihat jelas dari atas sini"


tiba-tiba seseorang duduk di sebelah suna dengan sekotak cemilan.


"Ng? Astaghfirullah Rif...."


"ngagetin aja."


"MasyaAllah kang... hari ini itu hari yang sa...ngat cerah".


"Hh..., jangan buat apa yang kamu pelajari sia-sia"


celetuk Suna menanggapi kata-kata Arif, mengetahui bahwa dirinya bereaksi karena Ustadzah Khumai kembali dari jam mengajarnya dan kembali menuju rumah".

__ADS_1


"MasyaAllah akang....,".


(arif lesu)


"Perbuatan kamu ini sudah bisa membuat kamu di hukum jika bagian BAKAM tau".


ujar Suna menyandarkan tubuhnya ke anak tangga merenggangkan tulang belakangnya yang kaku.


"Cemilan kang...,"


(Arif)


"Eng? apa ini? sogokan?"


ujar Suna meledek Arif tanpa di sadari Hasanuddin memperhatikan mereka berdua dari lantai dua masjid.


"Nda la ... gratis tanpa di pungut apa pun".


lirih Arif seraya mendorong kotak yang berisi berbagai macam cemilan dengan sikutnya.


"Di mana Hasan?".


"Di mana lagi kang pasti lagi sibuk belajar dan berlatih dengan suara atuh".


"Ooo".(suna)


"Akang nggak belajar tah?".


"Ng?".


(Suna terkejut).


"Iya akang nggak belajar gituh belajar apa yang kayak akang Hasan tekunin?".


ujar arif dengan melahap sebungkus coklat.


"Mmm..., sepertinya aku bakal belajar itu kedepannya, yah.., untuk bekal bangun sebuah keluarga ya ... perlu lah, nanti aku akan minta langsung Hasan mengajariku". ujar Suna dengan nada meyakinkan.


"Oo, bagus kalau gitu, akang gantiin saya aja jadi kader, bisa tiap hari latihan dengan akang Hasan".


ujar Arif begitu bersemangat.


"Ya.., kan kalau bisa begitu saya nanti bakal belajar ilmu lain seperti silat semacamnya".


ujar Arif yang mulai merasa jenuh karena semua waktunya ter porsis di satu bidang yang sedang ia tekuni dan ia pelajari dari seniornya yaitu Hassan.


"Harusnya kamu banyak bersyukur lebih dekat dengan pusat Pondok ini. masalah beladiri saya mau bantu kamu kalau mau".


celetuk Suna dengan keahlian yang ia miliki dalam ilmu beladiri.


"Ok sepakat".(Arif)


"Betul kiayi.., seperti yang saya sudah katakan bahwa akang Suna berkata seperti itu, tapi saya juga sependapat dengan Kiayi bahwa beliau sudah sedikit-sedikit mengikuti peraturan yang ada dan tidak melewati batasan-batasan seorang Santri".


"Alhamdulillah , agaknya ia sedang mengusahakan satu hal dengan cara yang benar, ada baiknya kamu awasi dan bersikap biasa saja, dan untuk membuktikan perkataan nya yang satu itu benar atau tidak, kamu juga awasi".


"Karena bukan hal yang di benarkan jika ia benar mendekati seorang Ustadzah dengan cara seperti itu".


"Semua yang berada di sini harus taat dengan peraturan, dan juga konsekuensi yang harus di terima bila terbukti pun sama bagi pelakunya siapapun itu".


"Ia Kiayi".


jar Fattah sesaat sebelum meninggalkan kediaman kh. nuruddin selepas shalat isya.


"Terima kasih banyak nak Fattah, nak Fattah sudah banyak membantu saya menjaga salwa maupun Khumairah".


"Sudah sepatutnya saya seperti ini pak Kiayi, kalau begitu saya pamit, Assalamualaikum".


"Waalaikumussalam".


(Kh. Nuruddin)


Setelah melangkahkan kaki dari teras rumah kiayi nuruddin, fattah di kejutkan oleh salam yang di ucapkan suna di tangga masjid.


"Sibuk?" ujar suna menanyai.


"waalaikumussalam. ndak juga". ujar fattah tersenyum dan menghampiri suna.

__ADS_1


"kopi,". lirih suna menyodorkan secangkir kopi yang khas dari kedai kopi miliknya.


"Dari mana kamu peroleh kopi ini?".


"Ng? ya aku memintanya lah...,".


ujar Suna yang sedikit merasa aneh dengan pernyataan Fattah.


"Kamu nggak loncat pagar buat keluar kan?"


ujar Fattah seraya meraih cangkir kopi yang di sodorkan Suna untuknya.


"Hhhh, nggak lah ngapain aku harus susah-susah, meskipun petugas BAKAM di gerbang agak menjengkelkan tapi dia bisa di ajak bicara".


"Ng?" fattah terkejut dengan kata-kata Suna.


"Ia, pada intinya kita tidak di benarkan meninggalkan Pondok pada malam hari kan?".


"Ia".(Fattah mengangguk)


"ya sudah, aku gantikan saja dirinya untuk menjaga gerbang dan dia aku minta untuk membawakan kopi lima cangkir" singkat Suna.


(....) Fattah hanya terdiam dan bingung.


"Besok situ kuliah?".


(...)


"Kalau ia pasti bertemu dengan Salwa kan.., aku mau minta tolong katakan bahwa dirinya sudah ku jadikan calon pendampingku".


"Ha? hhhh, bercanda kamuh. gimana mungkin aku menyampaikan hal tersebut".


ujar Fattah meletakkan secangkir kopi yang belum sempat ia minum di sebelahnya.


"Hahaha ia, satu lagi, katakan aku ... sudah lama mencarinya , sekali bertemu aku terjebak di sini"


ujar Suna dengan nada datar seperti seorang yang habis mengkonsumsi alkohol.


"Aku peringatkan yah sama kamu ada hal yang harus kamu pahami di sini, di Pondok ini tidak bisa kamu bertindak semau mu".


"Ok nggak boleh".(lirih Suna)


"Kamu di sini sama dengan yang lainya tak lebih rendah maupun lebih tinggi, jadi jangan pernah melibatkan siapapun untuk melakukan hal-hal yang tidak di benarkan, karena kamu tidak lebih tinggi dan tidak bisa melindungi mereka dari konsekuensi yang akan mereka terima".


"Ok, ini yang terakhir". lirih Suna setelah mengetahui


bahwa hal yang ia lakukan dapat membahayakan siapapun juga tanpa terkecuali".


"Ok kalau begitu aku pamit".


ujar Fattah setelah mengatakan hal tersebut dan meninggalkan kopi yang tadinya di berikan untuknya lalu menuju ke gedung santin tempat kamar khusus BAKAM berada.


"Wah.. , hebat akang bisa ngalahin BAKAM seperti itu, sepertinya akang Fattah nggak akan men SPY secara langsung deh mulai besok hhhh". ujar Arif menghampiri Suna dengan tiga cangkir kopi.


"Hhhh dah jangan berlebihan, nih kopi". ujar Suna menyodorkan dua cangkir kopi yang masih terbungkus plastik".


"Ng? ini... dua?".


"Ia ini untuk kamu dan Hassan". ujar Suna seraya meminum secangkir kopi yang ada di tangannya.


"O ia kang.., jangan ketiduran di sini , ntar akang juga yang malu kalau sampai subuh santri ke mesjid dan nemuin akang di tangga seperti kemarin".


"Hehe ia maaf".


"Ya... bilang maafnya ke akang hassan aja, beliau yang susah membangunkan akang kemarin".


"Ya sudah katakan saya minta maaf sekalian kasih in kopinya". ujar Suna terkekeh. sementara tanpa mereka ketahui Hassan pun mengamati mereka berdua yang sedang berbincang.


Pagi di pondok KH. Nuruddin di mulai dengan sangat dinamis semuanya bergerak dan terkontrol sejak dari jam tiga pagi. semua santri memulai hari dengan pembacaan al-qur'an, pembersihan area Pondok, serta memberi pakan sapi,semuanya di lakukan oleh Santri dan di awasi langsung oleh BAKAM.


"Nanti tolong di cek pakan sapinya kalau perlu di carikan lagi, panggil akang Suna untuk mendampingi seperti yang di perintahkan Kiayi".


ujar Fattah pada teman BAKAM yang akan menetap di pondok, sambil bersiap dengan rapih untuk pergi ke Kampus pagi itu.


Fattah pun terkejut setelah beberapa meter sebelum sampai di gerbang utama, ia mendapati Suna berbincang dengan kader penjaga gerbang, dengan mengingat latar tempat dan waktu kejadian Fattah pun melangkahkan kaki menuju gerbang.


"Astaghfirullah..., bisa-bisanya dia melakukan ini padaku, dasar Suna..,".

__ADS_1


ujar Fattah di depan gerbang, setelah untuk kesekian kalinya ia seolah di jadikan penyambung lidah antara Suna dan Salwa,


"Nah inilah yang terjadi kalau hidup di dalam alam baka terlalu lama permasalahan menumpuk jadi depresi hihihi". ujar Zahira cekikikan dengan salwa saat melintas di depan gerbang Pondok Putra.


__ADS_2