
Pagi ini di Pondok Tahfidz Al-qur'an, semua berjalan seperti pagi-pagi sedia kala, semuanya masih hilir mudik mempersiapkan diri sebelum waktu hafalan tiba, bahkan ada yang sedang hanya sekedar kembali mengulang hafalan yang sudah pernah di lewati.
"Ya Allah, Astaghfirullah, Astaghfirullah".(Panik)
salwa bergegas menuju masjid dengan membawa Al-Qur'an yang senantiasa menyertainya kemanapun dirinya pergi.
"Ya Allah, jangan tinggalkan aku dengan kekosongan ini, Allahhumma Dzakkirni, Allahumma Dzakkirni minma hafadztuhu.".
"A'udzubillahiminasyaitonirrajiim".(membuka lembar pertama Al-Qur'an)
...
NGIK !!!! (Pintu kaca besar bergeser)
"Wecome Home!"
"Emmm paginya mendung dengan sedikit musik sepertinya akan lebih bagus".(Memutar musik)
"Matamu melemahkan Ku... ".
"Saat pertama Ku melihatmu ".
Suara Nyanyian Willy mengiringi Lagu yang tengah di putar pagi itu, debu demi debu yang tengah dirinya bersihkan melahirkan wajah-wajah baru di dalam Kafe, karena beberapa peralatan di rubah Posisinya.
"Ku tak pernah merasa ... ku tak pernah merasa begini...".
"Oh inikah cinta pada pandangan pertama... nanana".(mengelap meja kasir)
"Assalamualaikum!"...
"Wah.. ternyata Mas Willy sudah sampai".(menanggalkan jas hujan)
"Hujan Kang?"
"Iya, Gerimis tapi Lumayan kalau untuk pejalan Kaki".
"Ini posisinya seperti ini Mas?".tanya Kang Triss melihat beberapa Tempat duduk tidak dalam tempat biasanya.
"Iya Kang, suasana baru, By The Way, ni Motor ngapain di taruh di sini?"
"Nggak tau itu mas, tadinya sama Mas Suna malah di minta untuk Saya yang membawa".
"Tapi saya mah kurang suka model motor seperti ini".ujar Kang Triss terkekeh.
...
"Wah... Hujan, sepertinya pagi ini akan sedikit lebih santai dari biasanya".(Sofi)
"Hemmm Gimana ini musimnya sudah berganti harus sedia Payung setiap saat".(keluar kamar dengan membawa payung)
"Uti Zahira،
سأضرب في طول البلاد و عرضها انال مرادى ام اموت غريبا
فان تلفت نفسي فلله درها وان سلمت كان الرجوع قريبا
Saadribu fii tuulil balaadi wa 'Arduha, anaalu muraadhii am amuutu ghariiban
fain talifats nafsii fa lillahi darruha wa in salimats kaana arruju'u qariiban.
akan ku arungi luasnya negri hingga ku capai tujuanku ataupun aku meninggal terasing.
jika jiwa ragaku mati padatuhanku sebaiik-baiknya tempat kembali.
dan apabila bagiku kesempatan hidup maka pulang Ku sebentar lagi.".
"wah.. MasyaAllah, akhirnya Aku dapat menghafalnya".
"Alhamdulillah, hafalan kamu bagus Sof".
"Maka Ukhti, Aku mau ukhti Semangat ya.. tunggu saja Aku lulus dari SMA maka... akan ku temani menembus hujan dan rintangan Hihihi".
"Iya, iya, Aku bakal semangat kok inshaAllah".
"Kamu juga donk".
"Bentar lagi kan mau ujian pertengahan semester".
"Emm alhamdulillah Aku pun sudah siap untuk itu".(tersenyum)
"hemmm ngomong-ngomong tentang hujan dan belajar tuh, ada kaitan yang erat di antara keduanya menurutku".
"Apa itu Uti?"
"Entah lah, Aku rasa kaitan antara keduanya tidak dapat di ungkapkan dengan makna dari sebuah kata".
"Ng Ng.. sepertinya ini belajar yang lain ya...".(Sofi curiga)
"Khe khe may be".(tersenyum)
"dengan derasnya pengetahuan seseorang menenangkan jalan hidupnya".
__ADS_1
"Huemm terkadang aku berharap tidak ada kiasan di dunia ini simplenya aja Ukhti.."
"plis...".(tersenyum)
E'khem, Bismillah.
"لولا العلم لكان الناس كالبهائم"
Laula al'ilmu lakaanannaasu kal bahaaim
"Kalau bukan karena ilmu yang di kandung niscaya manusia layaknya hewan".
"Wah itu sih singkat jelas padat". Ujar Sofi menanggapi Hikmah yang di Ucapan Zahira.
"Jadi semakin berilmu maka semakin manusia seseorang itu".
"Itu singkatnya hehe".
"Emm sepertinya hujan memang nggak akan reda cepat deh".(Membuka payung)
"Aku duluan Sof"
ujar Zahira meninggalkan Sofi di kursi teras kamar BAKAM.
...
"Wah... kalau hujan seperti ini rotasi pergerakan di dalam Pondok menjadi Santai".(Duduk dengan membawa berbagai macam buku)
"Hemm kalau dulu di Rumah suka banget hujan-hujanan hehe".ujar Salman menambahkan.
"Hemm kalau udah Hujan seperti ini jadi ingat orang tua".
"Uh... "(Salman dan arif takjub dengan kata-kata Suna)
"ku kira akan ingat seseorang hehe".(Arif)
"Iya, tak ku sangka ingat Orang tua juga Si Bucin yang satu ini".
(Salman)
"(...)".(Suna Tersenyum)
"Halo Assalamualaikum?"
"(cika jangan main jauh-jauh nak!), Iya Halo ini siapa?"
"Luqman pah Luqman"
"Gimana kabar kamu Luqman?"
"Baik, Pah, kirimkan uang untuk Ku".
"Ng? bukanya.. ya.. nanti Papah kirimkan segera, pakai dengan Bijak ya ...(ini kak Luqman)"
"Halo kak?"
"(...)".
"Halo?".
Glek(menutup telpon)
"Ibu?' Halo Assalamualaikum Ini Luqman Bu' ".
"Emm Luqman, Ibu.. tidak...".
"Ng.. Ibu tidak Usah memikirkan biaya Luqman, Ibu baik?".
"Khuk khuk (Terisak)".
"Bu'... Ibu jangan seperti ini.. Luqman sebentar lagi lulus, Luqman akan segera pulang ke Rumah Ibu'!".
"Khuhk Maafkan Ibu ya nak tidak bisa khukh.. mmm membiayai kamu".
"Sudahlah ibu, Ibu jaga kesehatan dan jangan khawatirkan apapun".
"Ya ibu!?".
"Iya nak".
"Emmm Luqman berangkat Kuliah dulu.. Assalamualaikum".
"(Waalaikumussalam)"
Glek
...
"Waminal..ehm ee".
"Waminal llaili ".(Ustadzah)
__ADS_1
"Emmm Aku cek lagi Dzah"(kembali ke urutan belakang)
"emmm ini tidak sampai pada perolehan ku sebelumnya"(gusar)
"Salwa, Apa yang kini sedang terjadi?"
lirih ustadzah Fitri mendapati Salwa di salah satu pilar besar Masjid yang ternyata sedang menangis di kala teman-teman sebayanya beristirahat dan meninggalkan Masjid.
"Aku tidak mencapai Had(batas) perolehan ku sebelumnya, bahkan hafalanku sedikit berbeda".lirih Salwa yang kini memeluk sahabat sekaligus Ustadzah pembimbingnya tersebut.
"MasyaAllah, nggak apa Salwa nggak apa, kamu masih punya banyak waktu untuk memperbagus hafalan".
"(...)" tenggelam dalam renungan.
"Semua orang di sini juga pernah merasakan itu, Kamu, kita semua masih dalam proses belajar jangan putus asa".
"Semangat ya Salwa bisa kok Aku yakin Kamu bisa melewati ujian ini".
Lirih Fitri menenangkan Salwa yang merasa kehilangan yang mendalam dari beberapa ayat dari hafalannya, bahkan setoran terakhir hafalan yang ia lantunkan seolah dirinya baru memulai hafalan.
"Dah, dah, sabar yah, sabar"...
...
"Aa.. Ng .. Aku pesan Satu cangkir kopi".(gugup)
"Ya... tunggu Sebentar".(beralih menuju alat peracik kopi)
"Kemana aja bb baru keliatan?"
"Aku di rumah Ra, Kamu gimana kabarnya?"
"E'Aku baik Ka' hanya saja sedikit ada yang berbeda jika Kakak nggak di sini".
"Ng?"(tertegun)
...
"psst kenapa kok kesini?"(lirih)
"Aku mau beli Kopi lah apalagih?" lirih Uti lailah yang kali ini memberanikan diri membarengi Zahira ketika singgah di Kedai Kopi Kita setelah sekian lama sebelumnya hanya mendahului atau menunggu Zahira maupun Fattah pergi dari Kafe Kita tersebut.
"Nah... ini, semoga Pagi ini banyak ilmu yang di dapat!"(menyerahkan dua cangkir kopi)
"Emmm Sepertinya hujan masih sedikit deras dan Aku lupa membawa Payung Jadi ..".
"Jadi??(Willy dan Zahira yang kini menatap Lailah)
"Aku Mau akses WiFi di sini untuk sementara".
"Ok.. Paswordnya Pagi yang cerah".
"Sebenarnya tidak selaras dengan Pagi ini".ujar Willy terkekeh dengan sedikit melempar senyum kepada Lailah.
"Terima kasih".(Membuka Laptop)
"(...)"(Zahira terdiam shock dengan perubahan drastis yang di tunjukan oleh Ukhti Lailah)
"Assalamualaikum!"
Tiba-tiba fattah memecah keheningan yang sempat terjadi beberapa saat di bawah guyuran hujan.
"Kalau begitu Aku pamit segera ke Kampus".(meraih kopi yang sudah di bayar)
"Kang.. kopinya Satu".
Glek (menggeser pintu kaca berwarna buram)
"Ng? Payung?"
Secara kebetulan Zahira mendapati Sebuah payung yang tidak Asing di ingatannya dengan Logo BAKAM serta nomer Urut BAKAM milik Ukhti Lailah.
...
"Hemm hujan sebaiknya tunggu sampai hujannya reda terlebih dahulu Mi ".
"Umm "(Raut wajah Pucat)
"Iya Bi.. Tapi mendadak Ummi kepengen mencicipi Sup buatan Ummi".
"Ng? Sup buatan Ummi?"
"Iya, Ummi Zakiyyath U' Up (menahan mual dengan menutup mulut)".
Dengan Segera Hasan menuntun Khumairah dalam dekapan menuju kamar mandi untuk mendampingi Istrinya tersebut.
"Sepertinya Aku sedang gak enak badan".
"Ya Udah, kita kembali ke ranjang aja, biar Aku yang pergi ke rumah Abi".
"(...)".(Khumairah mengangguk)
__ADS_1