Aku Memilih Mu

Aku Memilih Mu
Ayah


__ADS_3

Suna tidak terkejut bila akhirnya sang Ibu mengundang dirinya untuk menjenguk sang Ayah, karena dirinya memang sudah mengetahui bahwa sang Ayah terbaring koma, meski begitu, matanya tidak bisa membohongi sesaknya rongga dada melihat Sosok sang Ayah yang sejak kecil sudah berjuang mencukupi kebutuhan dirinya kini terbaring tanpa kesadaran di hadapannya.


SEBELUMNYA.


"Rif ... Ayo rif .. Kamu bisa mengalahkannya".(Suna berharap Arif memenangkan pertandingan)


Meski pada akhirnya Arif harus puas karena perolehan poin yang jauh tertinggal jauh oleh Asyifa karena Arif cenderung mengejar poin besar di kepala lawan, namun karenanya pula lah Asyifa dapat mendapatkan Celah melimpah dan mendaratkan pukulan demi pukulan dengan tepat sasaran.


"Baik, bersiap, Fight!!!"


Kini giliran Suna yang mendapatkan lawan yang sangat menyusahkan karena luthfi sudah bersusah payah menempa diri mempersiapkan pertemuan kali ini jauh-jauh hari".


"Ciyat....!!!".


serangan cepat di lancarkan Luthfi mengawali jalanya pertandingan meski begitu Suna hampir menghindarinya secara sempurna.


"Hosh, Hosh".


(Polanya masih sama, tapi Aku tidak akan menyianyiakan latihan ku selama ini)


"Hep..".


"Duk!!"


Dengan tidak terduga Suna melayangkan kaki kanan nya mengarah kepala Luthfi bahkan Luthfi sempat kaget meski dapat menangkis dengan tangan kiri.


Kali ini Luthfi maupun Suna sudah melancarkan serangan-serangan membuat para penonton begitu serius menyaksikan pertandingan bukan tanpa sebab kedua orang tersebut termasuk yang paling menonjol dalam kemampuan menggunakan serangan-serangan mematikan.


"Hosh, Hosh, Hosh".


(Baik bagaimana dengan ini)


Gumam Suna merencanakan tendangan tipuan sama seperti saat dirinya memenangkan pertandingan dengan KO tanpa ronde tambahan.


SYUT...


kaki kanan Suna melayang jauh di atas kepala Luthfi membuat Luthfi sempat terkejut karena keberanian Suna mencoba mengelabuinya di Awal-awal Ronde.


"Dapat".(Luthfi)


Namun karena Luthfi sempat mengingat jelas dimana Suna menggunakan Trik yang sama sebelumnya, Luthfi pun sudah bersiap dengan ayunan kaki yang ke dua.


BOK!!!


Benar saja gerakan cepat yang di lancarkan Suna dapat di hindari oleh Luthfi dan di balas dengan tendangan kaki kiri menusuk tepat di ulu hati Suna, meski tidak begitu membuat Suna kesulitan menjalani pertandingan, akan tetapi kini keadaan makin membuat Suna bersemangat.


"Berhenti".(Ustadz Oki)


...


"Ya Allah abi ... kenapa batuknya semakin parah?"(memeriksa)

__ADS_1


"Ummi, sebaiknya segera minta Hasan untuk menggantikan Abi mengecek Pondok".


"Iya, iya, nanti Ummi bilang pada Hassan, Abi istirahat dulu..".


...


"Kena".


Lirih luthfi melancarkan kembali pukulan tepat di pelindung tubuh Suna.


("Sial, sepertinya pertarungan ini sedikit menyulitkan".)


"Bagus.. melihat pertandingan ini sepertinya Luthfi dapat mengungguli Suna yang sudah kehilangan banyak poin".


"Kang, pertandingan belum usai, bisa jadi Kang Suna keluar sebagai pemenang kali ini".


"BOK!!!


("Di banding memukul telak dengan KO , sebaiknya Aku harus segera mengejar nilai".) Ujar Suna bergumam setelah dengan cepat menusukkan Kakinya dengan teknik tendangan dasar, bahkan Luthfi tidak menduga tendangan Suna begitu cepat mengenainya.


"Hep.. poin".


"BOK!!!


Suna yang benar-benar mengejar poin kali ini, hanya mengandalkan Serangan-serangan dasar hingga membuat perolehan nilai menjadi seimbang dengan segera.


Sedangkan Luthfi mulai kewalahan karena berubahnya Pola serang Suna yang lebih mengerikan di banding sebelumnya, karena kini dirinya di buat seolah menjadi samsak hidup yang dihujami serangan-serangan dasar cepat oleh Suna.


...


"Suna, maafkan Mamah".


(...) Suna


"Mamah nggak salah kok, Mamah jangan khawatir, Papah pasti kuat menghadapi ini semua".


Lirih Suna dengan tersengal menutupi kesedihannya.


"Pah, Suna sedang berusaha memperbaharui segalanya, jadi ... Papah harus kembali pulih, jangan tinggalkan Mamah di sini sendirian".(membisik di telinga Sang Ayah dengan menitihkan air mata)


"Pah..."(memeluk)


...


"Ya Allah, kenapa jadi seperti ini yah".(lirih)


"Ei ei ei, nggak istirahat lagih nih?".


"Iya nih dzah, Aku merasa tenang aja kalo berlama-lama di sini(Masjid)".


"Ooo..".

__ADS_1


"Ini..(Coklat)".


"Dah sarapan?".


"Dah"(Mengangguk seraya meraih coklat)


"Ustadzah, ".


"Ng?'(Ustadzah Fitri)


"Sepertinya Aku harus sesegera mungkin menghapus semua cerita yang sempat Ku tulis".


"Kok gitu?".(kaget)


"Iya, Semakin ke sini Aku merasa Sering Membahayakan diriku dan HafalanKu karenanya(Tulisan Diary)".


"Sebabnya?"


"Entahlah hhh ".


"Ya... Kalau di ingat-ingat ada Ayat yang bagus baru sahaja Aku baca".


"Surah An-naml Ayat empat dan lima".


اِنَّ الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِا لْاٰ خِرَةِ زَيَّـنَّا لَهُمْ اَعْمَا لَهُمْ فَهُمْ يَعْمَهُوْنَ ۗ 


innallaziina laa yu`minuuna bil-aakhiroti zayyannaa lahum a'maalahum fa hum ya'mahuun


"Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, Kami jadikan terasa indah bagi mereka perbuatan-perbuatan mereka (yang buruk), sehingga mereka bergelimang dalam kesesatan."


(QS. An-Naml 27: Ayat 4)


اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ لَهُمْ سُوْٓءُ الْعَذَا بِ وَهُمْ فِى الْاٰ خِرَةِ هُمُ الْاَ خْسَرُوْنَ


ulaaa`ikallaziina lahum suuu`ul-'azaabi wa hum fil-aakhiroti humul-akhsaruun


"Mereka itulah orang-orang yang akan mendapat siksaan buruk (di dunia) dan mereka di akhirat adalah orang-orang yang paling rugi."


(QS. An-Naml 27: Ayat 5)


"Jika menjauhi sesuatu karena takut hilangnya hafalan atau membahayakan diri sendiri, berarti Kamu sudah membuktikan diri kamu sebagai orang yang beriman".


"Maaf kalau salah".(Tersenyum)


"Hemm Salah di mana toh Dzah hhh, justru Aku berterima kasih, sejauh ini Aku dapat berubah, juga karena Ustadzah".(Tersenyum)


...


"Bismillahirrahmanirrahim".


"Alhamdulillahirabbil'alamin".

__ADS_1


Suna yang kali ini menemani ibunya berkesempatan menjadi imam saat Shalat Isya, sedang asisten keluarganya kembali bersama Tantenya ke rumahnya.


Dalam dekapan keluarga, Suna maupun Sumi masih belum banyak bercerita dan menjelaskan perihal yang sedang mereka alami, hanya sesak yang masih terasa di dada kedua insan tersebut, memandangi sesosok Ayah maupun Suami tergeletak lemas di ranjang pasien.


__ADS_2