Aku Memilih Mu

Aku Memilih Mu
Cobaan itu iyalah.


__ADS_3

"Siapapun, yang masih menyimpan jimat dengan dalih apapun tolong di keluarkan".


Salman yang geram dengan kejadian Subuh yang selalu membuat dirinya berdebar-debar makin di buat memuncak emosinya.


Setelah salah satu dari dari santri yang kerap bermasalah di waktu Subuh kembali membuat masalah.


"Baik".


"Ingat, hal ini tidak akan mencelakai siapapun kecuali diri kita sendiri".


"Al-akh itu titipan dari kakek".


"Akhi..".(Saudaraku).


"Inilah yang membuat kita sulit, akan ada banyak mudhorot(bahaya) dengan terus memeliharanya".


"Tapi ini untuk keselamatan".(Takut).


"Kamu percaya Allah maha segalanya?".


"...".


"Tapi dengan ini sudah banyak membantu Saya Al-akh".(Memelas).


"Ok sebutkan".


"...".


"Al'akh".


Lirih Seorang pengurus membisikkan sesuatu kepada Salman.


"Astaghfirullah".(Lirih).


"Kalian ingin tau Hal yang terberat namun sangat mudah kita melakukanya?".


"...".


"Percaya dan yakin hal-hal seperti ini menjadi penolong selain Allah".(Membuka Ikatan pada Jimat).


"Al'akh".(Lirih Anak yang mempunyai jimat).


"Allah lah yang maha segalanya".


"Kepadanya lah kita menyembah dan memohon pertolongan".


"Dan percaya akan hal-hal seperti ini".


"Akan menjerumuskan Kita pada jurang kemusryikan".


"Lambat laun Kita akan lupa kepada siapa kita harus memohon dan berharap".


"Atau kepada siapa kita serahkan segala hal".


"Al'akh, Hati-hati".(Pemilik jimat).


"InsyaAllah".


"Apapun itu, Saya serahkan kepada Allah".


"Dan ingat kalau sekalipun Saya celaka setelah ini, itu semua tidak akan terjadi tanpa seizin Allah".


"Dan apabila hal itu terjadi".


"Itulah Cobaan yang paling nyata".


"Dimana adat, jimat, atau perdukunan yang menimbulkan efek seolah-olah memberikan Kita manfaat".


"Maka banyak-banyak beristighfar, dan perbaiki Shalat serta do'anya".(Merobek lembaran kertas usang di dalam jimat).


"Semoga tidak ada yang seperti ini lain kali".


Singkat Salman yang kala itu meminta waktu Khusus untuk berjamaah di kamar bersama, di saat yang lain menuju Masjid.


...

__ADS_1


("Al'akh, dia ini".


"Selalu berkelakuan aneh saat waktu Shalat menjelang".)


"Huft".


Salman yang menghela nafas setelah menjadi imam di salah satu kamar Asrama kembali menyusuri jalan menuju masjid tempat dirinya tinggal.


"Bismillahirrahmanirrahim".


"Allahumma bika Asbahna wabika amsaina wabika nahya wabika namuut wailaikannusyur".(Suna).


"Assalamualaikum".


"Waalaikumussalam".


"Eh, balik?".


"Iya".


"Sepertinya Kultum belum selesai".(Suna).


"Ah, iya hari ini ada kultum sama Ustadz Yusuf yah".


"ue'umm".(Mengangguk).


"Saya dari Asrama".


"Ada anak yang kembali kerasukan pagi ini".


"Yah, biasanya itu gara-gara males bangun Subuh jadi pura-pura kerasukan".(ujar Suna terkekeh).


"Dia masih membawa Jimat".


"Aaa jimat".


"Lalu Kamu apakan?".


"Musnahkan".(Salman).


"Ayo bersiap".


"Wah, nantangin, ok sebentar".


Lirih Salman yang mempunyai Hobi baru belum lama ini, yaitu lomba lari dengan Suna mengitari gedung kelas lalu menuju Asrama hingga berakhir di kandang Sapi.


Kebiasaan mereka ini akan di mulai dari Salam terakhir Kultum, dan berlari melewati Rumah Kiayi, menuju tembok pembatas dan halaman gedung Cordova hingga memasuki Halaman Gedung Asrama yang tak jarang para santri sudah mencapainya, dan menyebabkan kehebohan.


Rute di Akhiri dengan jalan lurus yang di apit oleh dua Kolam


ikan yang besar hingga akhirnya gedung pertanian dan peternakan menanti di ujung kolam.


"Yuuuuuhu!!!".


"Performa Anak muda tidak di ragukan!!".


"Hah".


"Beruntung".(Suna).


"Keberuntungan adalah milik mereka yang menang Kang!".


"Hhhh, startnya aja bareng ".(Salman terkekeh).


"Kalau saja Aku tidak tergelincir tadi, Aku sudah sampai lebih dulu".


"Alah, Alasan".(Singkat Salman).


Akhirnya Mereka memulai rutinitas membersihkan kotoran Sapi, hingga memberi pakan, tak jarang mereka juga memberi pakan ikan sementara menunggu matahari terbit.


"Aaa, benar juga".


"Akang nggak punya jimat atau titipan semacam itu kan?".


"Mmmm?".

__ADS_1


"Yah, kadang Saya penasaran, dari yang saya ketahui tak banyak orang yang selamat dari jurang gunung".


"Ah, masa lalu, masih aja.."(Suna).


"Saya nggak punya apa-apa seingat Saya".


"Kalau akang tahu".


"Di saat itu(Hari terjatuhnya Suna ke jurang), Ada banyak hal yang aneh terjadi kepada Kita".


"Malam setelah Akang hilang".


"Akang mendatangi pos dimana Sofi dan yang lainya tinggal".


"Iya?".(Suna kaget).


"Iya serius, Bahkan di saat Kami turun Kami di kejutkan oleh Babi liar yang kala itu seolah mengincar Ku".


"Darimana Kamu tahu?".(Suna).


"Yah, Saat itu dirinya hanya berminat kepada Pohon yang Aku tumpangi Hhhh".(Salman terkekeh).


"Ooo hhhh".


"Tapi Aku mengira jauh sebelum itu Man".


"Ng?".(Salman).


"Dari malam yang Kita di larang oleh Fattah untuk keluar apapun yang terjadi".


"Ooo iya benar!".


"Dari situ".


"Aku mendengar Suara wanita memanggil Namaku".


"Dan itulah yang menjadikan Akang berakhir di jurang".


"Yah, Hhhh mungkin Aku terkenal hingga alam Ghaib".


Suna yang terkekeh di susul tawa Salman yang kuasa mendengar pernyataan Sahabat karibnya tersebut.


...


"Cobaan itu adalah di saat Kita mencintai Seseorang namun di tinggalkan jauh ke luar negri".


Lirih Suna yang di tanya Salman perihal Cobaan.


"Yah, Aku sudah menduga".


"Meski tak se persis dugaan Ku".


"Memangnya Apa yang Situ pikirkan?".


"Yah, Cobaan bagi akang mah, Melihat Saya menikah dengan Salwa Hhhh".(Salman terkekeh).


"...".(Suna).


"Canda Kang".


"...".


"Lagian segitunya, Memang nggak ada wanita lain selain Salwa?".


"Ah, itu..".


"Aku hanya menginginkannya".(Suna).


"Nikahi lah".(Salman).


"Yaa kan dirinya ada jauh di mesir".(Suna).


"Bagai mana bila dirinya lupa dengan Akang?".(Salman).


"Mmmm".(Suna).

__ADS_1


"The Real Cobaan".(Singkat Salman).


__ADS_2