
"Rif... tolong ambilkan minum dari dapur, persediaan minum Kita sudah habis".
Lirih Salman.
"Rif... Bersihkan Masjid, Untuk persiapan mengaji sore ini".
"Rif... Saya mau menyediakan Pakan untuk para sapi, Kamu pastikan Keran di tandon penyimpanan air tidak membeludak".
"Rif... Rif ... Rif...".
"Huft... Hari hariku sangat tidak pernah terbayangkan, sepeninggal Kang Hasan beberapa waktu belakangan, kini di susul Kang Suna juga pulang dan belum kembali".
"Memangnya Kang Suna pulang kenapa Rif, Sepertinya begitu sore memenangkan pertandingan, Subuh jadi malaikat, malah besoknya pulang, meloloskan kang Luqman bertemu dengan Salman dengan mudah".
Lirih teman Arif yang kala itu mengikuti jalanya pertandingan yang pada akhirnya di menangkan oleh Salman setelah memenangkan pertandingan berturut-turut mengalahkan Asyifa dan Luqman.
"Ayah beliau meninggal".
"Innalillahi wainnailaihirajiun".
"Dan beliau belum kembali, membuat Saya sekamar dengan Kang Salman yang tadinya sempat menjadi BAKAM".(Arif)
"Iya, Saya juga tau".
"Dia juga gak jauh beda dengan Kang Suna, Jika Masjid melantunkan Surah Arrahman beliau lah si Poseidon subuh".
"Tapi tetap lebih mengerikan bila Lantunan Surat Al-waqiah yang di lantunkan beliau".
"Bahkan Kang Suna baru menginjakkan kaki di teras Asrama Semua anak akan dengan sendirinya berdiri tanpa di komando".
"Sepertinya hidup di Asrama sangat mengasyikan".lirih Arif yang sedikit tersenyum.
"Huft... memang, tapi tidak untuk para mereka yang belum bisa menyesuaikan, bahkan Sekelas Kang Lukman sempat merasakan sentuhan Romantis Rotan Kang Suna".
"Really?"(Arif terkejut)
"Ya... Bahkan Aku sangat tidak tega mengingat-ingat hal itu, tapi gimana sih, Kang Luqman memang sangat tidak bersahabat sepertinya dengan Anak-anak Masjid".
"Melihat beliau kebingungan, dengan menahan kaki yang ngilu, membuat Aku sangat ingin tertawa, bahkan mungkin beliau belum sempat merasakan dengan betul Tubuhnya hingga persis seperti orang linglung".
"His... Sangat tidak patut di contoh, Sepertinya bila di kamar malah Saya sangat berhati-hati dengan keberadaan Kang Salman, yah meskipun beliau BAKAM non aktif tapi Subuh memang Saya rasakan sama persis seperti yang kalian Rasakan".(Arif)
"Hummm, yah entah ada masalah apa Kang Luqman, tapi Saya pun menyadari Kang Fattah pun tidak seperti itu, dalam artian ketika Subuh menjelang Kami malah tidak pernah mendapatinya sedang di bangunkan atau masih tidur".
"Ya jelas, beliau tidak pernah putus tahajjud di masjid".(Arif)
"Ngomong-ngomong memangnya seperti apa kang Salman membangunkan kamu?"
"Ya dengan Air dari Dispenser bahkan berkali-kali aku harus mengisi ulang galon gara-gara kebiasaan beliau".(Arif)
"Hemmm itu tidak seberapa, di asrama beliau jelas lebih persis dengan dewa Air, bila dalam beberapa waktu hitungan beliau tidak ada yang bangun, dari situlah di mana Air mengalir sampai sarung".
Mendengar kata-kata teman sekelasnya itu Arif hanya tertawa dan sempat meragukan pernyataan tersebut, tapi dengan pengakuan dari hampir seluruh teman sekelasnya akhirnya ia pun percaya.
Entah mengapa pagi itu air mata Salwa seakan tak terbendung, mendengar keadaan Ayahnya yang sedang tidak sehat, kini dirinya duduk sendiri di bawah pilar besar di saat teman-temannya belum menuju masjid, bahkan dirinya sudah mendirikan Shalat dhuha seperti biasanya.
"Alhamdulillah, setelah Ustadzah mengecek hasil Ujian tengah semester, sepertinya tidak ada yang perlu di khawatirkan, semuanya memperoleh hasil yang memuaskan".
__ADS_1
"Alhamdulillah".(murid)
di pertahankan Saya mau kalian tidak lupa dengan tujuan pertama di sini yaitu belajar, meski ada yang mempunyai kesibukan di beberapa bagian jangan sampai melupakan buku dan pelajaran.
"Na'am Ustadzah".(murid).
Setelah jam pelajaran Khumairah berakhir, dirinya meminta Sofi untuk menemaninya dan membawakan beberapa barang bawaan, sementara yang lain beristirahat.
"Ustadzah, emm ustadzah hamil ya..".
"Emm? hehe alhamdulillah Sofi Allah sudah menitipkan janin pada Ustadzah".
"MasyaAllah, halo, dede kecil".
"Hhhhh, minta Do'anya yah, untuk dede kecil supaya sehat sampai lahir".
"Siap Ustadzah, Sofi akan do'ain semuanya lancar, ustadzah juga sehat Aamiin".
"Aamiin ya rabbal ngalamin".
Pagi itu Khumairah mengunjungi Rumah Kiai Nuruddin ayahnya, karena Hasan kini lebih sering menyinggahi Rumah Kiayi, selain kesehatan beliau yang menurun, untuk mempermudah melaksanakan tugas dan menanyakan banyak hal pada Kiayi dirinya mampu hilir mudik dari rumah menuju Rumah Kiayi yang lumayan berjauhan.
Bahkan beberapa waktu yang lalu, dirinya sempat terlibat dalam pembicaraan serius selepas shalat Subuh, Kiayi Nuruddin membicarakan keinginan dan harapan-harapan beliau untuk Pondok dan Salwa adik Hasan.
"Saya hanya ingin menjaga Pondok ini tetap pada rel-rel Agama yang sudah sekian puluh tahun tetap tenang tanpa terusik politik, ataupun hiruk pikuk dunia luar yang tak jarang Uang menjadi penentu segala hal".
"Ukhuk Ukhuk".
"Sepertinya pengabdian Saya pun masih tak sebanding dengan nikmat yang sudah di berikan Allah".
"Rasanya masih terlalu sedikit yang bisa saya lakukan".
"Iya kiayi".
"Di Umur mu yang masih muda, jangan takut untuk menentukan yang haq".
"Jangan jadikan Uang sebagai tolak ukur, berikan seribu manfaat kepada sesama dan jauhi perbuatan Yang Bathil".
"Iya Kiayi, insyaAllah".
"Selain itu, Salwa, Saya harap Kamu bisa menjaganya dan menjauhkan dirinya dari perbuatan-perbuatan yang bathil juga".
"Iya Kiayi".
"Adikmu itu Sangat pemberani dan sangat mudah tersentuh dengan kesenangan sesa'at".
"Tetapi saya juga menaruh Harapan besar pada pemuda itu, bila saja Ia dapat benar-benar merubah dirinya dan memperkaya ilmu-ilmu Agama".
"Allahumma qad istdauda'na ma 'allam allamtana farudhu ilaina 'inda hajatina wala tunsiina 'anhu ya Allah ya rabbal 'alamiin".
Beberapa Ayat sudah ku hafal, dan beberapa tasrif Amsilath juga, rasanya mataku sudah tidak kuat lagi". Lirih Putri merapihkan Buku dan membuang sisa cemilan yang sempat dirinya siapkan.
"Shalat dhuha shalat dhuha".
Lirih Putri dengan sesekali melirik jam tangan di tangan kirinya, bahkan dari kejauhan dirinya tampak lebih cocok di sebut Ustadzah karena cara berpakaian dan dengan tubuh semampai.
Tak jarang dirinya di tanyai tentang produk skincare oleh beberapa Santriwati yang sudah sedikit akrab dengan dirinya, meski begitu tak jarang mereka yang tidak percaya wajahnya yang mereka kagumi adalah hasil mendirikan shalat.
__ADS_1
Karena selama di Pondok, Putri bahkan tidak mempunyai waktu untuk memberi perawatan lebih dari sekedar masker, itupun hanya di kenakan saat tidur, karena di hari-hari sibuk semuanya seolah perlu kecepatan agar tidak tertinggal banyak hal, belajar, waktu makan, waktu shalat.
Kini Dirinya sudah menuju masjid setelah membawa Mukena dari Asrama, terlihat beberapa Santriwati juga sedang dan ada juga yang baru ingin mendirikan Shalat di Masjid.
Entah Sudah berapa lama dirinya melupakan segala hal selain belajar dan beribadah, termasuk Suna yang sempat menjadi pujaan hatinya.
"Psst.. Ukti...!".
"Ng?"(Putri)
"Hei... gimana belajarnya? Lancar?".
"Lancar Sof..., Alhamdulillah".
Sementara Di masjid Santri Putra para Santri SMA (dalam) Pondok juga banyak yang berbondong-bondong menuju masjid, meski tak jarang diantara mereka hanya mampir mencari udara segar dan menyantap beberapa cemilan.
"Assalamualaikum".
"Waalaikumussalam, Rif.. Air Galon tolong di isi, Saya akan menyapu Kamar".
"Huft.. ya..".
"Ok".
"Kang ... Kenapa di Akhir dulu Akang begitu ingin mempermalukan Kang Luqman?".
"Eng?".(Salman)
"Iya, sebenarnya setelah mengalahkan tidak perlu di beri gestur mengejek kan?".
"Ya, terkadang, tapi seketika ketika pertandingan Aku teringat semua hal yang pernah dilakukannya".
"Yah biarlah dia sedikit merasa bahwa dirinya bukan satu-satunya tapi salah satunya, Aku yakin kok, kedepanya beliau juga bakal jadi seseorang yang lebih baik".
JAUH SEBELUM PERTANDINGAN BERLANGSUNG.
"Sebenarnya Akang Luqman adalah orang yang baik".
"Eng?"
Salman yang mendengar kata-kata Fattah kaget di kala mereka membersihkan kandang bersama karena Suna mendadak Pulang tanpa banyak bicara penyebabnya.
"Iya, Ku dengar dirinya menjadi emosional seperti yang kita lihat, karena ada beberapa permasalahan keluarga yang menyebabkan dirinya lebih ingin menonjol dan mengutarakan segala hal yang ada di benaknya".
"Maksudnya?".
"Dirinya pernah mempunyai penyesalan karena tidak mampu berterus terang pada seseorang hingga seperti itu".
"Oo".(Salman)
"Yah, Saya berharap, kalaupun Antum maupun Luthfi memiliki perasaan dendam lebih baik merangkulnya sebagai teman".(Fattah)
"Haha , Saya ndak pernah mendendam, hanya sedikit mengingat saja".
"Yah, karena Mungkin beliau beruntung Lolos dan tidak berhadapan dengan Suna yang menurutku juga punya perasaan kesal tersendiri setelah menjadi Pemuda Masjid".
"Jadi kali ini mungkin Aku yang akan sedikit meruntuhkan sikap angkuhnya".
__ADS_1
"Hemm, jangan berlebihan".(Fattah)
"Siap, laksanakan".(Salman).