
"Jadi .. keperluan saudari ke sini untuk menuntut Ilmu , meski sudah bersekolah jauh dan mempunyai berbagai macam Usaha?".
"Ia Kiayi".
"Lalu... dimana kedua orang tua saudari ?'.
"Mmm..".(terdiam)
"Apakah ...( Kiayi Nuruddin yang hendak bertanya)
"Sebenarnya saya di sini hidup sendiri, ayah dan ibu saya berada di Jakarta , kebetulan di sini adalah kampung halaman mereka jadi saya mempunyai banyak kerabat".
"Emmmm, ndu..' apakah nda ada wali yang bisa kamu bawa setidaknya Paman atau Bibi , karena seorang anak perempuan adalah tanggung jawab penuh orang tua hingga ia Menikah".
lirih Ibu Nuruddin menasehati putri yang kala itu entah mengapa merasakan lagi suasana yang telah lama hilang dari relung hatinya.
("Wait... aku sudah sejauh ini kenapa rasanya tak mengenali suasana haru di pagi hening seperti saat ini"). gumam Putri seakan ingin mengistirahatkan dirinya yang selama ini berusaha terlihat tegar dan mandiri setelah berpisah dari orang tuanya.
Melihat putri yang menangis tersedu tanpa suara hanya menyisakan tubuh yang gemetar karena menahan tangis, ibu Nuruddin meng iakan keinginan anak tersebut memasuki Pondok.
"hemmmm ia ndu'... (beranjak mendampingi putri yang tak bisa bersuara selain menangis) ia ia, kamu boleh masuk pondok ini , kami menerima mu bahkan sebagai anak kami".
lirih ibu Nuruddin yang membuat suaminya sedikit tersenyum dan beranjak meninggalkan mereka berdua.
....
"Wah selamat ya kang.. akang berhasil melumpuhkan salah satu jajaran BAKAM sebuah pencapaian yang begitu diluar perkiraan".
lirih Hasanuddin memuji Salman yang kala itu duduk bersama Suna.
"Ya ... apalagi dengan sikap yang menahan diri begitu lama menurutku adalah salah satu strategi yang tidak begitu buruk".
lirih Suna membuat hasanuddin sedikit mengerutkan dahi karena pernyataannya sedikit tidak sesuai dengan Suna yang lebih paham persilatan.
"O ia sore ini Arif akan melakoni partai perdananya". ujar Hasanuddin memecah suasana kaku di antara Suna dan Salman.
"Anak itu tidak akan mencapai seperempat pertandingan, karena akhirnya dia akan gugur sore ini". lirih Salman yang mempunyai sedikit rasa kesal pada Arif.
"menurutku persentase kemenangan Arif sedikit lebih besar , karena dia bahkan tidak pernah menunjukan kemampuan sebenarnya di hadapan jajaran anggota BAKAM dan yang pasti ia tidak akan menahan diri untuk menang". lirih Suna membuat Hasanuddin sedikit girang.
"Hehe anak bandel itu rupanya mempunyai sedikit kemampuan, dan akan menjadi orang yang pertama menyatukan Talenta Silat dan Qira'ath" . lirih Hasanuddin.
....
"Suna... , Salman , pakan para ternak sapi sudah di cek ? lirih Kiayi Nuruddin setelah keluar dari rumahnya".
"Emmm maaf Kiayi, kami berdua belum sempat mengecek". ujar Suna setelah mencium tangan Kiayi Nuruddin bergantian dengan Salman.
"Coba di cek sekalian ajak Hasanuddin ujar Kiayi Nuruddin tersenyum melihat anak kesayangannya itu turun dari tangga Masjid.
"Shabahul khair Kiayi".(seraya meraih dan mencium tangan kanan Kiayi Nuruddin)
"Shabahu Nur.. , Hasanuddin ikut mereka mengecek para ternak ".
"Njiih Kiayi".
ujar Hasanuddin setelah kiayi Nuruddin melangkahkan kaki untuk inspeksi ke lingkup asrama Pondok.
....
"Tumben pagi ini sepertinya selaras dengan keadaan kalian , sejuk damai dan... menenangkan". celetuk Salwa ketika Fattah maupun Zahira sibuk dengan aktifitas masing-masing.
"sss(iapa yang)"
Fattah tertunda menyelesaikan perkataanya karena mendapati reaksi Zahira seakan ingin juga mengungkapkan sesuatu .
"A' aku nggak pernah mencoba damai... dengan makhluk astral satu ini". ujar Zahira yang masih sedikit terdengar latah karena mengetahui Fattah pun ingin mengucapkan sesuatu bersamaan.
__ADS_1
"Dah ah ... terserah kalian".
ujar salwa meraih kedua cup cappucino yang sudah sejak tadi di pegang oleh Kang Tris.
dan meninggalkan mereka setelah menyodorkan sejumlah uang.
Sore menjelang, sebuah partai pertandingan sudah di menangkan oleh Arif dengan kemampuan tak terduga bahkan dirinya menjadi kebanggan di kalangan teman sekelasnya saat ini.
Sedangkan Suna tengah bersiap melawan Ni'am yang kemampuan silatnya juga tidak kalah mumpuni.
Bersiap... mulai..,
Keduanya kini benar-benar mengalami jual beli serangan, bahkan suna sedikit kewalahan menandingi cepatnya serangan-serangan yang di lancarkan oleh Ni'am.
"Brak....!!!!".
sedikit serangan mendarat di helm pengaman Suna membuat semangat suna berkobar.
(10 point... aku sudah kehilangan sepuluh point.)
Setelah beberapa kali Suna di serang dan akhirnya mengetahui pola-pola serangan yang dilancarkan Ni'am, Suna kembali mengambil alih jalanya pertarungan, bahkan dengan sedikit kesempatan Suna bisa melayangkan tendangan-tendangan tinggi ke arah kepala ni'am, hingga akhirnya ni'am pun tumbang ketika serangan umpan di kepala dapat di hindari, kaki yang lain dari Suna meluncur seperti peluru menusuk ke arah uluhati Ni'am hingga terlempar ke luar arena.
"Pemenangnya adalah sudut biru.. Suna..... Abdul Malik..."
Sedangkan Luthfi yang berdiri di sudut merah menghela nafas menyaksikan realita yang sepenuhnya berjalan sesuai Ekspektasinya.
"Wah sore ini kang Suna akan bertanding menurut mu siapa yang akan menang?". ujar Salman seraya melayangkan serangan-serangan pada sasaran tendang yang di pegang oleh Luthfi.
"Menurutku... akang Suna akan menghadapi sedikit kesulitan karena kami sudah sedikit memiliki perkembangan-perkembangan yang signifikan,
" terlebih Ni'am sudah lama berlatih dan kang Suna sudah jarang menghadiri sesi latihan, otomatis ia akan belajar langsung di lapangan".
"Belajar langsung di lapangan?"
"Ya polanya masih sama ia akan melihat kemampuan lawannya di awal hingga ia mendapati satu saja titik yang akan mengantarkannya menang atau ...
"Atau membuat lawannya tidak mampu meladeninya di ronde selanjutnya,". lirih Luthfi yang berhasil membuat Salman berhenti dan menghela nafar.
Bahkan ini menjadi rekor kesekian kalinya yang di pecahkan oleh Suna , hanya tak kurang dari tiga menit di awal ronde Ni'am tidak bisa melanjutkan pertandingan dan tetap berguling-guling kesakitan hingga para petinggi perguruan mengobatinya.
Salman yang melihat pertandingan tersebut kini berencana menambah porsi latihan.
Setelah itu Luthfi pun mendapatkan kemenangan yang begitu mengejutkan karena ia pun menang dengan telak dan beberapa santri menjulukinya titisan Suna.
...
Sementara itu Zahira tengah kebingungan di jalan pulang menuju pondok setelah mendapati Salwa tidak masuk Kuliah
"Aneh .. seingat ku tadi pagi Salwa tidak begitu jauh meninggalkan diriku. namun kini malah ia tidak terlihat pulang dan di kelas pun tidak hadir".
("Gawat apakah salwa dalam masalah?".) gumam Zahira seraya melangkahkan kakinya.
"Fattah !!".. ujar Zahira setelah sedikit berlari mengejar karena Fattah pun menyadari ada yang aneh hari itu namun Fattah hanya tidak mengerti dan sedang mencari tahu keberadaan Zahira dan Salwa kala itu.
"Eh, kamu, aku kirain dimana , semua baik aja kan, Salwa mana?"
"salwa..., salwa tidak ada di kelas".
"apa?"
"ia, teman sekelasnya mengabari ku".
Sontak keduanya kembali mengingat kejadian pagi ini , dan menyalahkan diri mereka masing masing, setelah melakukan hal-hal yang tidak perlu dan di luar instruksi Kiayi Nuruddin.
(kalau saja pagi tadi aku tidak tenggelam dalam keegoisanku ).(Fattah)
(Kalau saja aku sedingin biasanya. dan tidak kemayu... ya Allah)
__ADS_1
(Zahira)
Masa'ul khair al'ah Fattah.. (selamat sore kak Fattah)
Masa'ul khair uti Zahira... ( selamat sore kak Zahira)
Ujar kedua kader bakam yang sore itu menjaga gerbang di masing-masing jalan masuk kawasan pondok putra maupun putri, menyapa dan di hadapkan dengan diamnya kedua ketua BAKAM
"OK.. jangan panik.., kita saat ini pulang dan adakan utusan untuk mencari keberadaan Salwa di dalam Pondok , syukur kalau ia saat ini di temukan berada di Pondok atau di rumah Kiayi".
"Sore ini segera kita adakan pencarian. ok...!!!(Fattah)
"Ia, nanti akan ku kabari melalui kantor".
"Kang..., akang Fattah... ujar Arif yang saat itu berada di lantai dua Masjid setelah usai menyaksikan kemenangan demi kemenangan yang terjadi dan berniat menceritakan dua kemenangan telak yaitu kemenangan Suna dan Luthfi".
"Kang... kang ssunna...
"Dimana suna?".
"Kkang suna sedang mengecek pakan yang ada di kandang karena tadi beliau tak sempat mengecek sebelum pertandingan".
"Ok... kabarkan pada Suna.., mm ,
ah.. jangan , kabarkan pada Hasanuddin bahwa semua santri harus sudah berada di masjid pada jam lima, ujar Fattah mengganti Instruksi yang yang hampir ia berikan.
What itu.. sepuluh menit lagi.
Akhirnya sore itu kedua sisi Pondok Putra maupun Putri memulai ibadah sore sedikit lebih cepat dari biasanya tak butuh waktu lama 10 menit berselang semua Santri sudah berada di masjid dan waktu menunjukan jam lima pas.
"Sebenarnya apa yang sedang di pikirkan para jajaran BAKAM tidak seperti biasanya, "kini mereka membuat semuanya terburu-buru " ujar Salman seraya merapihkan sarung yang ia kenakan.
Lain dengan Suna karena sedikit menemui kesulitan di kandang , ia masih berjalan dengan santainya meski sudah melewati lima menit dari waktu yang sudah di tentukan hingga mendapati beberapa jajaran bakam mengenakan Seragam Silat dan juga sedang bersiap untuk berdo'a.
"Kemana semuanya? sepertinya para Santri maupun Partisipan Lomba sudah tidak ada yang berkeliaran?".
"Ini kang, kita kehilangan salah seorang Santri".
"Ooo... ada ada saja, tapi memangnya siapa Santrinya? kok bisa hilang?".
tanya suna pada Fattah.
"Mmmmmm..".
"Wah tinggal bilang saja,,,,
"aku juga tidak paham betul Nama dan Rupa seluruh Santri ,".
ujar Suna melihat raut wajah Fattah begitu datar dan sepertinya menyembunyikan sesuatu.
....
sebelumnya. di kafe kita pagi ini
"dah ah ... terserah kalian". ujar Salwa meraih kedua cup cappucino yang sudah sejak tadi di pegang oleh kang Tris.
dan meninggalkan mereka setelah menyodorkan sejumlah uang.
"Sebenarnya apakah nggak apa-apa kalau aku meninggalkan mereka , aku menjadi sedikit khawatir tapi kan kalau untuk terlambat ke Kampus masih terlampau pagi bahkan masih ada setengah jam sebelum masuk".
"Paling.. yang bahaya kalau mereka kepergok berdua oleh Ustadz-Ustadz Pondok, ok Salwa kamu harus janji tidak melibatkan Zahira dan Fattah pada situasi canggung seperti itu lagi". .
lirih Salwa yang menyesal meminta kedua sahabatnya tersebut berangkat sedikit lebih pagi.
"Hey cantik....!!!
seketika gumam Salwa teralih pada kata-kata genit yang membuat dirinya begitu terganggu.
__ADS_1
"Masih ingat kami??"