
"Uti..., itu loh... Akang yang kemarin di tangkep kok ... Hansem Cool gitu loh..."
"Oh .. ia uti.. apalagi liat dia dengan ekspresinya yang gagah, MasyaAllah".
"Heh ... ini pada ngomongin apa toh.... ,di jalan ginih ngalang-ngalangin orang mau lewat aja .,
hem.., soal akang Santri nih kedengarannya".
"Eh.., nggak, enggak kok Uti.., nggak ada.., bukan-bukan, maaf..(bergegas dengan gugup karena khawatir akan di laporkan ke anggota bakam)
"Eh ., enggak kalo bener, kan aku jadi nggak perlu
jadi jassoos (mata-mata) pelanggar peraturan Pondok. lirih Sofi melihat kedua temanya tersebut ketakutan bila saja mereka di laporkan pada bagian keamanan.
Setelah kejadian tersebut Sofi duduk dan membuka buku hafalan miliknya dan memulakan untuk menghafal beberapa kalimat dari buku yang ia pegang,
Namun beberapa menit kemudian ia teringat kembali perihal yang di bicarakan kedua temanya tadi, dan secara tiba-tiba juga mengingatkannya pada Salwa yang membawa tas kemarin siang .
"Ssss.., sebenarnya apa yang sedang terjadi".
(apa mungkin uti salwa ada kaitannya dengan pemuda misterius ini..., ssss eh tunggu, kaitan itu terlalu jauh, apa mungkin owner cafe? hemmm ini... adalah hal rumit, serumit amsilath tasrifi... ).
"Uti, yang uti rasain sekarang apa?"
"Ng? apa Salwa? kenapa?
"Enggak, Uti, Salwa itu.. adik yang baik, salwa khawatir dengan Uti, Salwa nggak pengin uti di sakiti oleh orang yang gak di kenal".
ujar Salwa yang kini sedang berbaring dengan kakaknya Khumairah.
"Emmm, Salwa Khawatir kakak di sakitin siapa ?"
"Ya..., sama.. orang Uti..".
"Salwa., kakak berterima kasih banget sama kamu karna sudah khawatirin keadaan kakak".
"hehe".
"Salwa, gimana keadaan kamu?"
"Ng?".
(kini keadaan berbalik Khumairah menanyai salwa).
"Aku baik kak, baik... banget, sehat, lucu cantik hhh".
"Hemm Alhamdulillah Salwa, kakak juga bahagia kalau gituh".
"Kamu juga harus jaga diri ok".
(salwa mengangguk)
__ADS_1
"Uti..., perihal Owner Kafe sebrang jalan, kalau bisa Uti jangan terlalu dekat, karena dia itu Playboy Uti, ana nggak mau Uti nanti kenapa-napa".
"Eh kok gituh?"
"Udah uti ikut aja apa kata ku soalnya aku punya temen-temen yang tau Informasi tentang Pemilik Kafe itu..."ujar salwa yang meyakinkan kakaknya di malam itu,.
Sementara itu kehidupan Pondok yang terus berjalan dari awal mula Mengaji dan istirahat malam sampai kembali Adzan subuh menggantikan malam, seluruh Santri Pondok selain mendapatkan pendidikan keagamaan mereka berkecimpung secara aktif di berbagai unit Usaha-Usaha Pondok, contohnya Peternakan Ayam, lele serta Sapi yang juga menghasilkan Olahan Susu yang di olah oleh Santri dengan pengawasan para Asatidz(guru-guru)
"Kang..., hari ini saya mungkin tidak bisa mencari pakan untuk sapi-sapi Pondok karena hari ini aku punya jam kelas tambahan".
"Ah ia, InsyaAllah aku bisa pagi ini. santai saja Fattah". ujar Suna setelah shalat subuh berjama'ah.
"Alangkah baiknya akang ajak seorang teman biar nggak bingung". ujar Fattah.
"Ah... ia nanti aku pikirkan mungkin Ikhsannuddin atau Asyifa bisa menemani".
"Ah itu lebih baik". singkat Fattah
Sedang di sisi lain Salman sedang fokus berjalan menuju halaman Masjid setelah shalat subuh untuk kembali menghabisi hukuman berdiri selama seminggu .
"Untungnya aku tidak kehabisan hal untuk di lakukan dengan berdiri" lirih Salman seraya memulakan hapalan Al-Qur'anya dan mulai berdiri di depan Masjid.
"Bismillah"
Ya ayyuhannasu ittaqullaha alladzi khalaqokum minnafsin wahidatin wa khalaqa minha zaujaha....
"Glekk!!"
Suara pintu rumah Kiayi Nuruddin berbunyi karena Ustadzah Khumai membersihkan lantai menjalani rutinitas selagi pagi itu tak seorang pun yang
"Assalamualaikum.."
"Wa' waalaikumussalam" ujar salman mendapati kiayi nuruddin berdiri di hadapanya.
"Qumm tsumma staqim.. berdiri tegap... jangan toleh-toleh.., fokus sama tujuan kamu".
"Emmm ia Kiayi".
"Alhamdulillah".(menepuk pundak Salman dan hendak menuju rumah)
"Kiayi, bolehkah saya pulang dari sini? saya tidak kerasan".
"Mmm.., boleh-boleh saja, kenapa tidak.., kalau tidak kerasan pintu gerbang Pondok terbuka lebar".
"Kita adalah pemimpin, minimal pemimpin diri sendiri pikirkan arahmu tsummastaqim , jangan berharap untuk mengatakan itu ayah saya ini ayah saya".
Sontak kata-kata Kiayi tersebut mengingatkan Salman akan satu hal yang membuat ia ingin sekali keluar dari pondok ini.
Pagi ini sangat cerah bahkan cahaya matahari bersinar begitu terangnya dengan sedikit awan-awan halus begitu suara langkah-langkah sepatu beriringan dengan suara kicauan burung, terlihat Suna melangkah menuju rumah Kiayi untuk melakukan penyiraman bunga-bunga Pondok, karena semalaman ia teringat pekerjaan yang apabila ia tinggalkan entah siapa yang akan menggantikannya.
"Sobahul khair Kang".
__ADS_1
"Ia.." ujar suna yang masih belum begitu paham bahasa arab dan hanya menjawab sebisanya saat berpapasan dengan salah satu santri atau guru
"Bismillah".
Suna menyalakan selang meski ia sempat mendengar pintu yang bergeser namun tidak seorang pun yang muncul.
"Kang...!!! jangan lupa pakan-pakan!! Ujar Fattah seraya melambaikan tangan dengan tas berisikan laptop dan perlengkapan kuliah sedang suna mengacungkan jempol tanda mengerti.
"Assalamualaikum... masyaAllah nak suna terima kasih sini biar saya yang lakukan" ujar kiayi nuruddin setelah melakukan berkeliling subuh dan memintanya mengambil pakan seperti yang seharusnya di lakukan.
"Baik kita mulai dari sini, pertama kita cek mobil dan pastikan kandang terkunci".
lirih Suna seraya mengecek mobil.
"Sudah, kandang sudah terkunci". tiba-tiba Salman menaiki Mobil dan di susul Suna.
"Kang.., kenapa akang nggak sudahi saja usaha abang ini di Pondok dan meneruskan bisnis yang sudah lama di geluti?".
"Ng?? sejak kapan kamu berubah seperti ini? sopan sekali yah hhh ,".
"Ya.. hanya ingin tahu saja ku pikir itu tidak buruk secara... umur abang ternyata sudah cukup untuk menikah".
"Ok, ok karena mungkin hari ini sedikit cerah saya akan bercerita sedikit, sejujurnya saya agak terganggu dengan pertanyaan menikah".
"Oh.. karena itulah abang suka meninggalkan pacar-pacar Akang selama ini?".
"Ooo... wait-wait... sepertinya ada yang tidak benar dari berita yang kamu terima".
ujar Suna setelah melewati gerbang dan bersiap untuk melakukan manufer memutar ke arah kanan, sejenak dalam penantian kendaraan yang masih melaju terlihat di sudut kafe Salwa dan Zahira sedang membeli kopi.
"Sepertinya ia memang telah lama menjadi pelanggan ku". lirih Suna
"Bang sepertinya tadi malam anak kiayi sempat ingin mengatakan beberapa hal ke abang".
"Eng? siapa Ustadzah Khumai? sepertinya kamu pun harus tahu yang selalu di cari adalah aRif...,
hhhh mana mungkin ia mencari ku... ".
"Ia nyatanya memang bukan seorang Ustadzah".
"Apa?".
"Ia, yang mencari mu adalah anak bungsunya, Salwa".
"Wait... kamu tahu Salwa?".
ujar Suna yang sedikit merasa tidak percaya dan merasa mempunyai saingan seorang anak Kiayi.
"Ia, beberapa waktu lalu ia sempat menjadi korban pencopetan, dan mungkin akan ada rencana susulan untuk kembali mencelakai dirinya".
"Tunggu-tunggu, aku makin nggak ngerti?".
__ADS_1
Salman pun menceritakan perihal dirinya yang sempat kabur beberapa waktu yang lalu dan melakukan perjalanan yang awalnya hanya untuk sekedar mengetahui daerah terdekat namun menemukan Salwa dalam masalah, karena yang ia tahu bahwa sahabat Salwa menggagalkan rencana pencopetan yang juga melibatkan ibu pemilik Kafe yaitu ibu Suna.
Kini Suna mulai memikirkan akan keadaan ibunya yang kala terakhir bertemu tidak sempat berbincang banyak karena saat itu ia merasa masih belum begitu lama berada di Pondok sampai tidak mengetahui hal tersebut.