
"llham?"
"Hadir al'akh!"
"Wahyu?"
"Hadir al-akh!"
"Ayyuha.., kalian berlima kalau besok tidak hadir juga di masjid ketika subuh maka Rambut kalian saya gundul semua, bagaimana bisa kalian memanfaatkan kesempatan padahal al-akh Suna selalu membangunkan sebelum subuh.
ujar Salman yang kini menyandang amanat sebagai seorang BAKAM menggantikan Luqman yang sampai kini belum ia ketahui penyebab kenapa ia bisa menggantikannya.
"Terima kasih nak Hasan bersedia menerima permintaan saya untuk menjadi pendamping Khumairah, InshyaAllah secepatnya akan kita adakan pernikahan dan kamu segera pindahkan semua barang-barang di kamar Ta'mir".
ujar Kiayi Nuruddin di kala tengah mempertemukan anaknya Khumairah dan Hasan bersama Ustadz Oki yang di minta Hasan sebagai wali karena dirinya tidak mempunyai kerabat satu pun.
...
"Emm semoga dia mendapatkan jodoh yang terbaik, Aku tidak menyangka kalau selama ini akulah yang menjadi penghambat dirinya untuk bahagia".
"Mmm nggak kok Will Ia sudah memperhatikan kamu sejak lama, tapi ia memang tidak ingin mengecewakan orang tuanya".
"Hemm ia, Aku nggak pernah merasakan ini sebelumnya, aku sangat bahagia mendengar ia ingin menikah segera setelah bertemu dengan Ku, walau dengan orang lain. tapi.. katakan Aku mendoakan dirinya di beri kemudahan atas segalanya put, sakinah mawadah wa rahmah".
"Thanks Will kamu baik banget, akan Ku sampaikan pada Khumairah".(menyentuh lengan)
Putri kini menasehati Willy yang di tinggalkan oleh Khumairah setelah tak lama ia mencicipi kue dan meninggalkan Uang tanpa sempat menghabiskan pesanannya dengan air mata yang berderai.
"Emm mana aku tau kalau sebenarnya Abi dan Ummi ingin mengadakan pertemuan antara Uti dan Akang Hasan hari ini, wah tak Ku sangka kini Uti Khumai sudah akan menyusul Uti Munirah"
lirih Salwa yang duduk di ruang Keluarga mendengarkan nasihat-nasihat Abi nya kepada Hasan maupun Khumairah selagi mempersiapkan mental untuk Ijab Kabul yang akan di laksanakan besok pagi.
"Assalamualaikum".
"Ng?"
Uti zahira, k kenapa kok?
"Ia , ini Kue-kue dan hidangan-hidangan yang di pinta oleh Ummi Salwa, untuk acara yang katanya siang ini?"
"O.. ia ia, aku paham itu acaranya belum lama ini di mulai".(meraih beberapa barang bawaan yang ada pada tangan Zahira)
"Hemm senengnya liat kamu pulang!!" ujar Zahira seraya memeluk Salwa setelah menaruh barang-barang
"Ia Aku pulang, ternyata Uti mau menikah jadi yah... disini aku sekarang".
"Uti.. uti nggak kangen kah sama aku?".
(...?)(Salwa)
(...)(Zahira tersenyum)
__ADS_1
"Ya allah ini beneran kamu Sof... MasyaAllah.. kamu sudah banyak berubah yah, wah apa ini busana , wah wah wah .. kamu SPY(mata-mata) yah"
ujar Salwa yang terkaget karena seseorang yang tubuhnya kini sebelas dua belas seperti tubuh Salwa adalah Sofi yang sudah banyak mengalami perubahan.
"Iya Aku di rekomendasikan oleh ustadzah Khumai setelah Ia menjadi Wali kelasku tahun ini, karena aku memperoleh kemajuan pesat di akademis".
"Yah.. terlebih isu isunya ada motivasi istimewa hingga ia menjadi seperti ini"(Zahira tersenyum menekan baju Sofi membuat dirinya terlihat lebih ramping bahkan jauh lebih ramping dari Salwa)
"Wah memang yah, kamu punya ambisi yang saaangat kuat untuk bersaing sama aku"
"Ya kalau motivasinya itu mah bagus, tapi ada seseorang yang baru-baru ini di angkat di BAKAM alam BAKA sana yang jadi motivasi Sofi".(Zahira menyenggol lengan Sofi yang sudah mengecil sedari ukuran sebelumnya)
"Ih.. seriusan , wah Kamu mah gituh nggak heran.., padahal aku di sana kangen banget sama Kamu!!, apa ini.. mana squishi empuk di sini uemm kamu menjualnya yah!?"(mencubit pipi Sofi)
"Hemm Uti, kata-kata Uti Zahira tak perlu di percaya, aku selalu kangen sama Uti salwa , sampai kehilangan banyak ***** makan di sini, o ia, aku juga di support sama Uti Putri juga selagi Uti nggak ada di sini".
"Mmm bagus lah, kamu bisa menemukan teman baru setelah kepergian diriku".(memeluk)
"Ya Putri yang dulu pernah kita tolong dengan Ibu si Owner Kafe depan".(merapihkan hidangan)
"Putri..?"(terkejut)
...
Assalamualaikum.
Untuk Suna, Aku tidak yakin Surat ini akan sampai ke tanganmu, kalaupun ia Aku pun tak yakin akan segera kamu baca hari ini juga.
selain itu Aku sangat berterima kasih padamu karena sudah menyelamatkan Ku tadi malam, surat ini segera Ku buat karena Aku tak yakin dapat menemuiMu segera setelah semua hal yang kita lalui malam itu. Terima kasih banyak, Aku tidak tau harus berkata apa karena waktu Ku tidak banyak. semoga Allah memudahkan jalan mu untuk semua hal.
Dari ku , Salwa.
"Hhh Aku tidak percaya Kamu masih tidak melihat niatKu masuk ke sini Sal.., aku di sini ya untuk Mu, untuk melengkapi ImanKu, tapi semuanya seperti tidak mudah".lirih Suna kembali melipat Surat yang sudah setahun lalu di buat untuk Dirinya.
"Semua ini harus Ku lakukan, kalau saja kita bisa berbicara sebentar".
(menyandarkan tubuh pada pilar masjid)
"Heh.. Kang.. jam tiga lebih sepuluh nih, bukanya Qira'atul Qur'an nya dah hampir telat!!"
ujar Salman mengagetkan Suna yang masih sedikit terbawa suasana dengan sebuah surat dalam genggaman.
"Bismillahirrahmanirrahim
Arrahman... 'allamal Qur'an... Khalaqal insaan ...
"MasyaAllah, sejak kapan Suara qari'nya sebagus ini apa mungkin Arif sudah menguasai banyak alunan sepeninggalKu ke Pondok tahfidz?..
'allamahul bayan... assyamsyu wal qomaru bi husban...".
ujar Salwa takjub dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an kala dirinya masih melepas rindu dengan kedua sahabat yang masih berada di rumahnya tersebut, bahkan sempat melanjutkan beberapa potong ayat dari surah Ar-rahman.
__ADS_1
(...)(Sofi melirik Uti Zahira)
(...)(Zahira menggeleng pelan)
"Pokoknya kalian jangan pulang ke asrama dulu, kita shalat berjamaah di sini". (menggenggam tangan kedua sahabatnya)
"Salwa, hari ini Abi mau kita bersama hadir di Masjid, Abi ingin Kamu juga mendo'akan kakak Kamu yang segera menempuh kehidupan baru".
"Abi... aku ingin mereka juga ikut ya Bi.., Salwa kangen sama mereka Bi...".
Ujar Salwa mengagetkan kedua sahabatnya tersebut yang seumur mereka menimba ilmu di Pondok tidak pernah menjadi Makmum untuk seorang laki-laki karena Pondok Ihya' yang juga mempunyai dua Masjid untuk laki-laki dan perempuan secara terpisah.
"Aku tidak percaya Kamu meminta satu hal yang seperti ini, Aku tidak tahu harus berkata apa, wah... parah kamu Salwa".(Zahira mondar-mandir karena resah)
(...)(Sofi termenung menggigit bibir bawah)
"Dah, yang terpenting kan kita tahu waktu dan ingat kata-kata Abi barusan, tidak berlama-lama dan menempati sof di lantai bawah, nggak akan ada yang macem-macem kok, katanya sih kalo saf di lantai bawah itu untuk anak kuliah semester-semester akhir dan Jajaran BAKAM"(memilihkan mukena koleksi dirinya)
"DEG"
Mendengar kata-kata Salwa kedua sahabatnya itu semakin merasa degup jantung mereka sedikit menjadi kencang, gugup bila terjadi hal-hal yang tidak di inginkan atau berpapasan dengan seseorang yang mereka sukai hari ini.
...
"Semuanya udah ke masjid Man"
"Dah.., dari rayon palestine sampai pojok Indonesia hingga gedung Qordova sudah saya susuri semuanya sudah menuju masjid"(memutar keran)
"Good"(mengacungkan jempol)
"Astaghfirullah perutKu".lirih Fattah
"why Al-Akh?"
"Perutku mules Man, bisa tunggu sebentar?".(memasuki kamar kecil sedikit terburu-buru)
"(...)(Bingung)".
"(bentar aja Man... sepuluh menit)"ujar Fattah di dalam kamar kecil
"Saya bawa ke masjid kang .. di saf belakang!".(membawa sajadah milik Fattah)
"AllahuAkbar AllahuAkbar Ashadualla ilaha illallah.. Ashadu anna muhammadarrasulullah hayya 'ala shalah.. "
"Uti.. tunggu,".
"Ayo.. kamu kan udah nggak se berisi dulu Sofi dah iqamath..!" (menarik tangan Sofi)
"Hemm kalian memang belum berubah"(lirih Zahira)
...
__ADS_1
"Ng?" sejak kapan triplek pembatas ini di pakai? apa mungkin ada tamu?"(menyentuh permukaan triplek pembatas kala Salman sudah mendirikan shalat di rakaat ke dua)