
[Kamu nggak suka Dia?]
^^^[Emmm biasa aja sih, Salwa nggak tertarik]^^^
"Lagi pula..".
"Sepertinya Penyiram bunga masih menungguKu".(Senyum).
(Kira-kira dirinya masih seperti yang dulu? atau sudah berubah? tenangkan dirimu Salwa)
(Fokus!!!).
Salwa yang tengah berjalan menuju Kampus, merasakan keharuan yang luar biasa di mana detik-detik kelulusan yang sudah mendebarkan hatinya.
...
"Jadi".
"Sudah dari kapan Kalian merintis bisnis Kafe?".
"Emmm sudah lumayan lama".
"Tempatnya begitu Strategis, juga menjanjikan".(Meminum Teh).
"...".(Willy).
Sejenak keheningan menerpa di antara kedua insan yang tak lagi mempunyai ambisi layaknya anak muda yang masih sangat mengejar Cinta pada seseorang yang begitu mereka inginkan.
Kini Indri seperti sudah tak berdaya di Padang pasir percintaan yang dirinya geluti, bahkan tanda-tanda akhir perjuangannya menunggu Rudi seperti mengharap hujan di musim panas, layaknya haus meski di terpa hujan lebat.
(Aku ingin Kamu Will... Kamu dengar?)(Senyum).
(Kenapa keadaanya di luar perkiraan Ku).
(Indri bisakah Kita?).
"Iya?".
"Emmm?".(Willy Kaget).
"Sini bicarain".
"Aku tahu Kamu ingin membicarakan suatu hal".
"Ya kan?".
"E'enggak". Lirih Willy seraya Meraih cangkir Teh.
"Hemmm".
"Aku yakin ada banyak orang yang menyesal karena menyimpan rapat isi hatinya seperti Kamu".
"Emm, memangnya Kamu tau apa?".(Willy terkekeh).
"Emmm, Aku sangat tau Willy".
"Aku sangat paham".
"Apalagi masalah hati, hati itu selalu berubah, tak jarang menimbulkan sesal karena menjadi tempat persinggahan segala hal, termasuk perasaan kepada seseorang".(Indri)
"Lalu?".
"Lalu akan ada penyesalan yang begitu kerasnya Kamu mencoba menjadikanya sebagai pelajaran hidup".
"Hhhhh".
"Lalu apakah dengan mengungkapkan segalanya menjadikan seseorang itu lebih baik?".
"Emmm, bagus nih".
"MenurutKu, akan ada sedikit perasaan bahagia dari situ".
"Setidaknya Kita nggak perlu kembali tenggelam dalam ingatan yang begitu pahit".
"...".(Willy).
"Sepahit menyimpan rasa".
"Emm Aku suka sama Kamu".
__ADS_1
...DEG...
"Enggak-enggak, misalnya, misalnya Aku suka sama Kamu".
"Kira-kira Kamu akan menanggapi apa?".
"...".
"Eh, bukan, misalnya Aku mengungkapkan isi hati Aku, Aku mencintai Kamu yang di sisi lain Kamu sudah mempunyai...".
(Sempat mengingat Khumairah).
"Mempunyai?".
"Suami".
"Eh enggak, Pacar".
"Aaa Pacar iya".
"Pacar Aku punya".
...DEG...
"Iya, ceritanya Aku punya pacar, tapi Kamu ngungkapin perasaan Kamu gituh kan?".
"...".(Mengangguk malu).
"Tergantung".
"Tergantung?".(Willy).
"Tergantung sejauh mana niat Kamu".
"Tapi memangnya ini perasaan yang selama ini Kamu simpan?".
"Eng?".(Gugup).
"Sayangnya Aku tidak begitu berminat jika hanya sekedar berdua".
"Emmm?".(Willy).
...
"Emmm, Ustadzah".
"Saya ingin ngobrol".(Putri).
"Mmmm, Sini eh".
"Ngomong, Aku pendengar yang baik insyaAllah".
"Emmm, Ustadzah beneran cuma setahun di sini?".
"...".(Senyum).
"Huft".
"Eh kenapa?".
"Entah, Rasanya ada banyak yang membuat Saya merasa sedih jika berbicara waktu di sini".
"Hmmm".
"Kenapa?? kok gitu?".
"Saya banyak bertemu dengan Sahabat di sini Ustadzah, Teman bicara, bahkan pelajaran banyak sekali yang terbantu karena keberadaan Mereka".
"Huemmm".
"Jadi keinget Sahabat-sahabat Saya dulu, Semasa Santriwati".
"Hemm, Ustadzah tau".
"Di sini dulu ada Ukhti lailah, Ukhti Zahira, Uti Zahrah banyak lagih".
"Kadang lucu aja gituh, di umur Saya yang segini, terkadang suka merasa nggak rela mereka pergi".
"Hemmm".
__ADS_1
"Tapi menahan mereka nggak akan membuat mereka bahagia, Saya yakin itu".(Senyum).
"Iya".(Putri).
"Kadang denger-denger kabar, eh dah sampe sini, dan di sini, udah punya anak dua".
"MasyaAllah kangen luar biasa jadinya".
"Hemmm".(Putri menghela nafas).
"Thanks Banget Dzah udah mau dengerin celotehan Aku".(Senyum).
"No Problem".
"Saya pun sangat bersyukur mengenal Kamu di sini".
"Saya tergolong orang yang sedikit susah beradaptasi dengan lingkungan baru".(Ustadzah Fitri).
"O iya, Kamu sudah siapkan semuanya kan?".
"Ng?".
"Menjadi Mommy Ma'had(Ibu Pondok)".
"...".(Senyum).
...
"Mmm".
"Sepertinya sudah larut malam".
"Saya pamit, Malah ngeganggu Kamu buat istirahat jadinya".(Willy).
"Emmm, Gak Apa-apa sih sebenarnya".
"Eh?".
"Emmm, Kamu juga kayanya nggak seburuk itu".(Tersenyum).
"Sebentar".
"Aku siapkan Mobil dulu".
"Eh, nggak apa-apa".
"Jam segini masih ada ojek, bahkan Angkutan umum".
"Sebaiknya Kamu Istirahat saja, untuk bekerja esok hari".
"MenurutMu Aku perlu Magang seterusnya apa nggak?".
"Mmm?".(Willy).
"Am em am em".
"Hati-hati di jalan".
"I'iya".
"Daa!!!(Melambai)".
"Besok Aku datang lagi ke Sana!!!".
Willy kini sudah berada di jalan raya berjalan menunggu bila saja ada kendaraan yang bisa dirinya tumpangi.
"Aku... ingin Kamu indri...!!".(Berteriak seraya berlari).
"Aku ingin Kamu!!!".
Sementara Indri yang begitu tertarik kepada sosok Willy pun memandanginya di pintu gerbang, bahkan dirinya dapat mendengar jelas kata-kata Willy kala itu.
"Dassar , bisa-bisanya Dia seperti ini".
"Memangnya apa yang begitu mengganggu hingga hanya berani berteriak di belakang".
"Padahal dia bisa mengatakan itu dengan jelas tadi".
lirih Indri menggigit bibir, seraya memasuki Hunian mewah yang dihuni dengan berteman sepi.
__ADS_1