
"Uh ternyata Akang yang kmaren ada di kamar kita dirinya pindah dengan sendirinya".
"Iya kalau banyak, rombongan namanya".
"Nggak, nggak".
"Ini bener, Aku denger-denger dari Mommy-mommy kuliahan kabar itu juga sampai ke Universitas".
"Kok bisa?".
"Katanya sih Ada Akang-akang yang kebetulan harus presentasi hari itu, tapi terlambat dan menjadikan kejadian Aneh itu sebagai alasan".
"Memangnya tadinya Dia tidur di mana?"
"Kok bisa-bisanya pindah ke Kamar kita".
"Untung Kita duluan yang Sadar, jadi dirinya nggak menyaksikan kita".
"Iya, tapi melihat tingkahnya yang sangat ketakutan, Aku pikir itu sangat Alami".
"Alami maksudnya?".
"Ya kalau dia memang berniat jelek harusnya...emm".
"Em?".
"Ya mungkin dirinya sudah melakukan hal-hal yang tidak senonoh, lagian kan lucu kalau dirinya berniat jelek tapi malah ketiduran".
"Iya juga, Anak-anak juga nggak ngerasa di apa-apakan, tapi tetep aja Aku sih sebel banget sama hal itu".
"Mmm, iya, apalagi katanya dirinya berdalih kalau Ia tadinya tidur di tempat Imam Shalat".
"Ooo,".
"Psst... apa mungkin dia melihat aja eh.. Emm Kamu tau kan maksudKu?".
"Emmm Iya sebenarnya Aku juga berfikir seperti itu, ah jadi gimana yah".
"Sebel deh".
"Aku pengennya sih dia di tindak tegas".
"Iya".
"Setuju banget".
Hari-hari makin kelabu bagi Arif yang kini terlihat sangat stres dengan semua hal yang sudah terjadi, bahkan dirinya kini mengalami rasa malu dan trauma yang menjadi campur aduk, hingga menghabiskan Waktu dengan berdiam di kamar.
"Rif..".
"Makan?".
"..."(Arif).
"Wallahi ya Ustadz, Saya tidak pernah bermaksud untuk menyeberangi pembatas".
"Saya juga tidak tahu kalau Saya akan terbangun di sana".
"Ustadz, demi Allah Saya tidur di tempat Imam tadi malam".
"Ss... Saya tidak berniat seperti itu Ustadz....".
Arif yang Saat itu di interogasi secara tertutup bersikukuh mengatakan bahwa dirinya tidur di Masjid dan terbangun di Asrama Putri tanpa tau penyebabnya.
Hingga mengucapkan Sumpah dengan nama Allah, Arif merelakan apapun hal yang Akan terjadi hingga siap di keluarkan jika sampai terbukti merencanakan kejadian yang melibatkan dirinya.
Sementara itu
"Rif... jika kamu seperti ini, malah akan membuat semua orang berfikir kamulah yang merencanakan semuanya".
"...".
"Rif...".
"Saya perlu waktu sendiri Kang".
"Kamu sudah dua hari ini belum makan".
"...".
Arif yang kini masih memikirkan Efek yang terjadi setelah dirinya di kenal banyak orang dengan kesaksian yang terdengar Aneh bahkan terdengar memalukan kala terbangun di kamar Santriwati, kini menghabiskan waktu dengan Shalat Taubat dan terjaga semalaman.
__ADS_1
Di atas sajadah membelakangi Suna yang tidak enak melahap makan Siang karena dirinya, Arif terbayang Sosok Ibu yang menaruh harapan besar padanya untuk mendalami Ilmu Agama.
"Rif.. mungkin Aku tidak Sebaik Hasanuddin ataupun sepintar Salman".
"Tapi ada satu hal yang perlu kamu tau, Ada kedua orang tuamu yang mendoakan dan berharap Kamu kuat di sini".
"Saya mengecewakan mereka Kang".
"O enggak Rif ...!".(Suna)
"Saya Malu, bahkan Akang Hasan juga tidak mempercayaiku".
"Apalagi sekelas teman-teman yang tidak mengenalKu".
"Aku percaya Kok, tapi Ada hal yang lebih penting dari itu Rif".
"Orang Tuamu, Apa yang akan di katakan mereka jika melihat anaknya tidak mampu membuktikan Kamu adalah orang yang benar".
"Gimana caranya Kang Saya juga tidak tau cara untuk membuktikannya".
"Bahkan Saya sudah bersumpah dengan nama Allah".Lirih Arif.
Suna yang mengerti keadaanya sangat kacau, ketika semuanya seolah tidak bisa di buktikan secara gamblang tentang kebenaran Arif yang berpindah secara Ghaib dan semuanya hanya terpaku pada pernyataan satu orang yaitu Arif yang bukan tidak mungkin di kira berbohong.
...
"Eh, Sum mau kemana pagi-pagi?".
"Emmm ini kak, Mau Medical Check Up sama Vitamin yang di berikan Dokter kemarin dah habis".
"Ikut-ikut.. Kaka akhir-akhir ini sering sembelit juga sering kecapean".
"Em... ayo".
"...".(Anita tersenyum)
"Eh Aku yang nyetir, Kaka bakal bikin perutku nggak karuan kalo caranya masih kaya kemaren".
"Hihi Ok, Pokonya mah ikut deh".
"Dah siap?".
"Eh belom donk!!"
"Lalu kita pergi bareng".
...
"Alhamdulillah"
"Nggak lama lagi akan ada wisuda gelombang pertama di tahun ini".
"Semoga Semuanya tepat waktu ya Uti Salwa".
"Iya Nisrina".
"Semoga semuanya tepat waktu, dan yang terpenting Berkah".
Lirih Salwa yang kali ini sudah membuka diri untuk berteman dengan lebih banyak orang.
Bahkan kini dirinya sudah begitu jarang terlihat berdua dengan Ustadzah fitri Ramadhani selain kesibukan Fitri sebagai Ustadzah, yang juga mengurusi beberapa bidang Administrasi di Pondok, Salwa pun tidak mempunyai hal-hal yang membutuhkan pendengar yang seperti Sahabatnya tersebut.
Semuanya mengalir begitu saja, bahkan tak ada yang paling penting saat ini kecuali memperkaya diri dengan Ilmu Agama dan Memperbagus Hafalan.
Bahkan jika suatu saat teringat Suna sekalipun, kini dirinya tidak mendramatisir dan Mencoba menolak serta melupakan.
Karena menurut Salwa saat ini, Semakin sesuatu hal yang keberadaanya selalu tidak di inginkan dan ingin terus-terusan di lupakan maka ingatan itu lah yang yang akan terus timbul.
Dan Salwa tidak ingin menguras tenaga untuk terus melupakan Seseorang seperti Suna.
"Hemm Mudahkanlah dia".
"Ok saatnya ke dapur".
"Uti, Nanti Sore Uti jangan Lupa, pokoknya Sore ini Aku akan mengalahkan Uti main badminton".
"Hehe iya Amrina".
"Yang terpenting Kita ke dapur dan segera beristirahat, Hafalan Pagi ini cukup menguras tenaga".
"Ok".
__ADS_1
...
"Emmm Fattah".
"K..kudengar Pelanggar itu Anak Ta'mir masjid yah".
"Iya, tapi bukan Suna".(Fokus ke laptop)
"Ooo".
"Ok thanks".
"...".(masih fokus)
"Emm Ibuku Sangat seneng Sama anak perempuan".
"Sedangkan kedua Anaknya Laki-laki semua".
"Eh? Kamu nih ngomong apa sih tah?".
"Ya... Aku dah kenal kamu lama, Kalau kamu nggak betah di Rumah, coba main ke Rumah ibuku".
"Kebetulan Kami punya Rumah dua, berdampingan kamu boleh ajak uti Lailah mungkin atau siapa".
"Karena Aku dan adikku sudah pasti menempati Rumah kosong".
"Tempatnya bagus, Dataran tinggi gitu".
"Hhh Becanda Kamu nih".
"Lalu mau Dikemanakan Ibuku di rumah".
"Mmm Aku nggak pernah bercanda Ra".
"Lagian...".
"Lagian apa?".
"Ah yah sudah, terserah Kamu yang pasti Aku sedari Awal tidak pernah berubah".
DEG
Zahira yang teringat Kisah di masa lalu antara dirinya dan Fattah merasakan debaran yang begitu kuat di dadanya, apalagi Fattah tau betul perihal keluarga Zahira karena keduanya sudah bersahabat sejak lama.
Keberadaan Fattah di Pondok Ihya' di Awal-awal ayahnya meniti Karir sebagai pengusaha sangat terekam jelas dalam ingatan Bagi Teman-teman yang sejak awal mengenal Fattah.
Dirinya Sempat di cap sebagai Anak Kiayi karena kenakalannya sejak SMP, karena Dirinya di Masukkan Pondok Sejak kelas Tiga, maka Dirinya di Asuh oleh Kiayi Nuruddin, dan menjadi teman Kecil Salwa yang usil.
Dari situlah, Si Fattah kecil mengenal Zahira dan sempat menyatakan Cintanya tepat di depan Salwa, yang kala itu juga masih kecil.
"MasyaAllah Hhhh, Fattah".
"Kamu ini bicara Apa nak, Memangnya Kamu mampu menafkahi Zahira dengan cinta?".
"Ng..., Zahira Cantik Kiayi".
"Ya Allah, dah, dah, dah, Selesaikan dulu Sekolahmu, tamat kan hingga Kuliah, di Pondok. masalah Jodoh nanti kalau sudah saatnya".
"Terima kasih banyak Al-akh, sudah melapor".
"Emm maafkan Saya karena lancang Kiayi".
"Ndak Papa, ndak Papa, Sudah menjadi tugas seorang keamanan untuk menghindari Perbuatan-perbuatan semacam itu".
"Bagus, Awasi Saja Gerak-geriknya, jangan Sampai melakukan hal-hal yang menyalahi Aturan Agama".
"Na'am Kiayi".
Lirih Salah seorang BAKAM yang kala itu mendapat laporan dari Jassoos(mata-mata) serta pengakuan dari beberapa Santri bahwa Fattah menyukai Seorang Santriwati dan selalu bermain bersama.
...
"Ya Ampun, hampir Satu jam Nungguin Kakak, cuma buat mandi".
"Hehe lagian Kamu nggak ngabarin kalau mau ke dokter".
"Iya, kan Kakak nggak pernah ada keluhan kecuali anak-anak Kakak yang bandel".
"Ya.., dah eh. ngomong terus".
"Iya... berangkat".
__ADS_1
"Bismillahirrahmanirrahim"(Sumi)
"Bismillahirrahmanirrahim"(Anita)