Aku Memilih Mu

Aku Memilih Mu
Aku melupakanMu karena Cinta


__ADS_3

"Pada Akhirnya hidupKu terlalu singkat untuk Mengabadikan cintaKu padaMu".


"Dan menggenggam keduanya adalah hal yang membingungkan".


"Akan Ku relakan salah satunya".


"Suna".


"Lu yakin".


"Iya Will".


"Tolong share".


"Tapi Harganya jangan terlalu rendah".


"Sesuai kualitas".(Senyum).


"Ok, Ok".


"Gimana kabar?".


"Lu baik aja kan?".


"Lu gimana?".


"Zahira dah nikah Will".


"...".(Willy)


"Ok lah Aku tahu kok".


"Tahu apa Hey".


"Kita masih terlalu muda untuk itu".


"Yah masih perlu banyak belajar".


Ujar Suna seraya terkekeh.


"Aku baru tau kalau Lu pernah dekat dengan Ustadzah Khumai".


"Ah... ituh".


"Cerita dari kapan tau".


"Lembaran baru lembaran baru".(Willy)


"Lu sendiri?".


"Masih dengan Orang yang sama kan?".


Ujar Willy seraya mengecek kelengkapan Motor gede milik Suna.


"Mmmm".


"Ah ngapain repot-repot".


"Nanti kalau sudah Ku undang maka Lu bakalan tau".(Suna)


"Ya ya ya".


"Terserah lu deh".


Lirih Willy melihat sahabatnya tersebut beranjak kembali menuju Pondok.


Kehidupan Pondok sama sekali tidak berubah meski orang-orangnya berganti, kini Salman menjadi santri senior, bahkan di juluki Ustadz tanpa jabatan tanpa kewajiban mengajar.


Sofi menjadi Ketua keamanan Santri Putri, yang kini menginjak semester Lima, dunia perkuliahan sangat membuat dirinya berubah menjadi seseorang yang jauh dari sebelumnya, dan tidak lagi merengek kepada Putri.


Putri yang yang terkenal Sebagai Mommy di Pondok sangat menikmati hari-harinya selama menuntut ilmu di Pondok Ihya' hingga dirinya dilanda dilema ketika Sahabatnya Khumairah menawarinya untuk mengikuti Program Pondok yaitu Ta'aruf.


"Mmm, Huft".


"Haruskah aku mengikuti saran Khumai?".


"Momm".


"Aku mau ikut kursus Mendisain Baju".


"O iya, Momm juga mengurus Perkebunan buah dan Sayur yah?".


"Emmm".


"Iya, Sini biar Saya memasukkan nama Kamu".


"Iya, Desi Momm".

__ADS_1


"Ok, Desi".


"Momm, Saya punya Abang".


"A' Abang?".(Putri).


...


"Sayang, Ayo".


"mmmm?".


"Pagi seperti ini akan sangat baik untuk tubuh berolahraga".


"Hummm".


"Iya iya".


"Bu' ".


"Sarapannya".


"Bi' Sarapannya seperti biasa ya".(Dokter Riyan).


"E' Iya Pak".


Kehadiran Dokter Riyan membuat Rumah Suna kembali terisi dengan hari-hari yang membahagiakan, senyuman yang telah lama hilang kembali tertoreh di wajah Sumi.


Namun karenanya pula lah Sumi sering berdebat perihal menu makan sehat yang di terapkan Dokter Riyan.


"Mas".


"Tungguin".


"Eh iya".


"Kita jalan aja".


"Larinya kenceng banget".


"Huft".


...


Di Pondok kabar Ta'aruf hanya di ketahui oleh Santri-santri senior dan para Ustadz Usatadz muda yang mengabdi di Sana.


"Ah, Antum hhhh".


"Ana masih banyak yang perlu di benahi".(Salman).


"Wah iya San".


"Syut.. Yang sopan Pak".


Ujar Salman menyenggol Suna.


"Mmm, Ya apa boleh buat".


"Saya hanya menawarkan".


"Kalau belum ada hajat itu(menikah), ya bagaimana lagi".


"Bukankah antum antum juga tau di sana nama antum(Kalian) Sudah sangat terkenal di kalangan Ustadzah".


"Eh".(Salman dan Suna takjub).


"Ya, Sampai waktunya tiba, segerakan".


"Na'am(Iya) San".(Suna).


"Iya Kiayi".(Salman).


...


"Huft".


"Apa benar Rumor itu".


"Apakah Kang Salman...".


"Hmmm dah lah".


"Ya Allah".


Sofi yang masih terfikir oleh Rumor yang akhir akhir ini merebak bahwa Santri-santri senior serta Ustadz dan Ustadz muda di tawari untuk ber ta'aruf, dan nama Salman juga termasuk.


"Hmmm Lebih baik Aku bergegas ke Kampus".

__ADS_1


(Merapihkan Buku dan lipatan Hijab).


Hampir sama dengan Sofi, Arif kini pun sudah berkuliah dan tak jarang berangkat bersama ketika pagi, bahkan dirinya kerap mendapat pesan oleh Salman.


"Lagi, lagi dan lagi".


"Orang itu sangat membuat diriKu terbebani".


SEBELUMNYA.


"Rif".


"Kuliah?".


"Yaa..,Ngapain lagih".


"Memangnya Ustadz?".


Ketus Arif yang menyindir Salman sebagai pembimbing Huffadz, Para penghafal di Pondok Ihya belum lama ini.


"Hemmm".


"Say Salam".


"Yup".(Arif).


Salman yang mendapatkan sebuah pelajaran dari Ustadz Yusuf di masa lalu, hingga melepaskan jabatannya Di BAKAM dan selalu melengkapi para Malaikat Subuh Pondok di masjid.


Ya Malaikat Subuh selalu di sematkan kepada Suna Salman dan Arif yang selalu membuat heboh setiap salah satu dari mereka menginjakkan kaki di Asrama.


Dari Suna yang hanya menghitung sampai sepuluh atau Air mengalir sampai jauh, membuat dirinya tidak pernah mengucapkan kata sepuluh, karena Di hitungan ke tujuh semuanya sudah lari dalam kepanikan, Takut bila saja air membasahi baju sarung ****** ***** yang mungkin pakaian yang terakhir pagi itu.


Sedangkan Salman selalu beraksi dengan Rotan yang di pinjamnya dari Suna, bahkan tak jarang satu langkahnya akan membuat para Santri terbangun tanpa aba-aba, karena para Pengurus menyerukan nama Salman.


Arif yang sekarang sudah dewasa tak jauh berbeda dengan keduanya, namun untuk masalah berangkat Kuliah dirinya selalu di buat kesal oleh Salman dengan titipan Salam untuk Sofi.


Meski mudah hanya untuk menyampaikannya, tapi pahitnya di samping itu dirinya masih menyimpan rasa kepada Sofi.


"Sof..".


"Al'akh Salman titip Salam".


"...".(Sofi).


"Cie yang di titipin salam Oleh Ustadz".


"Apa sih Uti Bella nih".(Senyum).


"Iya, Bilang Waaliakumussalam".(Bella).


"...".


Arif tersenyum menutupi rasa tertariknya kepada Sofi.


"O iya, Sudah Ada yang mengajukan Judul skripsi?".(Arif).


"Apa lagih, Kepikiran juga belum".(Sofi).


"Hemm semoga Pembimbing Ku Baik hati".(Bella).


"Aamiin".(Sofi).


Pagi itu Mereka Bertiga berjalan beriringan menuju Kampus, seperti yang sudah-sudah selama tiga tahun terakhir.


"Hemm Ta'aruf yah".(Suna).


"Kang".


"Ayo bergegas, Pakan Para Sapi hampir habis, Selain itu Masjid akan di pakai kajian jam sembilan".(Salman).


"Ya...".(Suna).


"Siapa yang mengisi?".


"Emm Ustadz Sofwan kabarnya".(Salman).


"Ok".


(Bergegas).


"Allahumma bika asbahna wabika amsaina wabika nahya wabika namuutu wailakannusyur".


Suna berhasil menjadi pribadi yang jauh lebih baik, bahkan dirinya mampu menepis semua rumor tentang dirinya di masa lalu bahwa kedatangannya di Pondok di dasari oleh anak Sang Kiayi.


Bahkan dirinya hampir tidak pernah terlibat masalah apapun sejauh ini, Salman mengira dirinya mendapat kesadaran penuh setelah tragedi jatuh ke jurang di masa lalu.


Salman sendiri pun menyadari sebuah fakta bahwa Arif yang sudah mendorong Suna kedalam jurang, meski dirinya maupun Suna tidak membesarkan masalah tersebut, karena semuanya menjadi baik dan tidak ada yang di rugikan.

__ADS_1


Salman juga sempat di datangi oleh Hasan untuk menjadi pendamping Salwa tanpa sepengetahuan Suna, meski itu hanya obrolan ringan saja, karena saat itu dirinya sedang merawat bunga-bunga Pondok.


__ADS_2