Aku Memilih Mu

Aku Memilih Mu
Titik terang


__ADS_3

Setahun telah berlalu semenjak kepergian Salwa dari pondok Ihya' semua santri maupun Santriwati selalu berusaha meningkatkan ketakwaan serta kemampuan-kemampuan diri di setiap harinya, tak terkecuali Suna yang kini sudah menguasai beberapa macam alunan Qira'ath , alunan jiharkah adalah alunan yang pertama ia bisa, bahkan setiap sebelum subuh ia melantunkan bacaan Alqur'an dengan alunan jiharkah, Begitu juga dengan salman ia kali ini di berikan amanat untuk menjadi salah satu dari jajaran BAKAM.


"Assalamualaikum anak muda... , tumben kali ini aku mendapatimu keluar dari Pondok, setelah sekian lama hanya mendengar suara mobil yang keluar masuk dengan Rumput".


(Willy mengelap meja kasir)


"Waalaikumussalam..


Aku ingin menengok keadaan Kafe Will, yah setidak nya sesekali aku harus mengecek, apakah ada perubahan dari Kafe kita ini".


"Tenang mas, semua hal.. selalu terkendali. karna ada mas Willy dan juga saya.., ". ujar kang Tris seraya membawa nampan dengan piring serta gelas di tangannya.


"Oh.. ia kang Tris matursuwun banget dah betah di sini"


ujar Suna mendengar keterangan Kang Tris.


"By the way ada info apalagi selain itu, maaf aku sudah terlalu lama di dalam, jadi terlalu penasaran dengan keadaan di luar Pondok".


"Emm Tidak banyak yang berubah, seperti biasa Fattah dan zahira dan beberapa BAKAM selalu mampir lalu pergi setiap pagi".(tersenyum mengelap gelas)


"O.."


"Entah ini perasaan Ku saja atau memang ada yang berubah ..".


"apa Will?"


"Kedekatan Fattah dan Zahira, Sepertinya ada suatu hal yang sudah terjadi di antara mereka, tapi Aku tidak tahu pasti, karena semenjak Salwa di pindahkan Fattah dan Zahira seperti selalu menjaga jarak bahkan seolah tidak pernah kenal sebelum ini".


"Ummm, baguslah itu kesempatan Mu Will.."


(menyeruput kopi)


"Dah lah Na.. Aku tidak mau terburu-buru, mungkin memang ada satu perasaan di balik perubahan sikap mereka yang mencolok".


"Ya... ya ya.. di umur Ku yang sekarang ini selalu merasa terlalu cepat kalau berbicara jodoh di depanMu Will".


ujar Suna yang sudah menginjak hampir 29 tahun.


"Haha santai .. santai .. pada waktunya semua akan menjadi indah. mungkin tiga empat tahun lagi akan ku dengar kabar baik dari pernikahan Mu Suna lalu....


"Lalu apa?"(Suna)


"Akan ada perayaan besar-besaran.."


"Wha... Bau-baunya ada yang membicarakan T H R nih...".


ujar Kang Tris yang belum selesai hilir mudik mengantar pesanan ataupun mengambil gelas dan piring.


"Apa lagih, kang Tris mah, ini belon Hari Raya nanti kalau sudah waktunya hhh" Ujar Suna terkekeh.


"Ok... sekarang apa ceritamu setelah setahun ini di dalam sana ?".ujar Willy menghentikan gelak tawa di antara mereka.


"Ah.. iya... aku ingin bercerita banyak hal will.."


ujar Suna memutar-mutar gelas kopi miliknya.


....


"Kamu ngga apa-apa? tanya Salman setelah menghampiri seseorang Santriwati dengan beberapa benda yang ada dalam genggaman tangannya".


DEG


(...) (dia kan.. akang yang selama ini jadi pembicaraan Santriwati)


"Bisa berdiri?"


ujar Salman dengan meraih pergelangan tangan kiri Sofi dengan membantu mengambil barang-barang yang berceceran di jalan.


Sofi yang merasakan hatinya berdegup kencang tidak dapat menyembunyikan rasa gugup kala tangannya di genggam oleh Salman, mendapati hal yang berlangsung tidak di betulkan oleh Pondok, ia pun sesegera mungkin kembali mengumpulkan barang-barang miliknya dan melepaskan tangannya dari genggaman Salman,


"Em... Maaf".

__ADS_1


"Eng .. nnda apa-apa kang".


ujar Sofi yang merasa gugup setelah di tolong oleh Salman.


"Sssaya harus pergi...,"(Sofi)


(....)(Salman Bingung)


"Akang sebaiknya segera kembali sebelum BAKAM mengetahui kita seperti ini".


"kkkita kan ccum..


"Saya pamit Kang assalamualaikum"


(Bergegas)


w waalaikumussalam..


"Eh... wait... nama kamu siapa!"


ujar Salman sedikit mengangkat suara mendapati Sofi begitu terburu-buru.


(Gawwat... aku kan mau jadi BAKAM huft... kenapa seperti ini)


"Ini... barangnya ada yang ketinggalan!"


ujar Salman seraya mengacungkan sebuah pensil pada Sofi.


dengan sedikit terburu-buru mengejar Sofi.


"Ng?"


(berbalik)


"Ini... Pen(sil) astaghfirullah".


"Hhhh AllahuAkbar hufffs ss Tragedi apa ini kenapa bisa adegannya seromantis ini".


"Aaaaaaaa tidak..... !!!"...


....


"Really?? lantas apa yang terjadi selanjutnya? Wah sepertinya temanmu itu tidak akan bisa tidur nyenyak jika kembali teringat momen-momen itu Suna" ujar Willy yang kini begitu antusias mendengar cerita Suna.


"Yah.. benar saja, semua hal akan menjadi kacau jika ia teringat akan hal itu, apalagi jika di saat-saat serius dan aku ada di sampingnya tamatlah sudah hari bagi Salman".


"Ok... hupp buka muatan".


ujar Suna yang sudah memposisikan mobil di depan kandang sapi.


"Hua..... kenapa bisa begini!!!".


"Segera selesaikan pekerjaanMu wahai anak muda...!"


ujar suna seraya membuka pintu mobil, dengan menahan tawa, meninggalkan sahabat yang sudah tidak bertopi di dalam mobil.


....


*Kang Suna kok sendiri!!?"


"Salman sedang di Tempat Wudhu"


singkat Suna menanggapi Arif yang bertanya dari lantai dua Masjid.


"Kami tidak akan mengulangi perbuatan kami".(Suna)


"Kang !!! Ini tadi topinya ketinggalan di Gerbang depan yah, tadi Kang Tris memberikannya pada saya" ujar willy yang entah kenapa pagi menjelang siang kali ini kembali cepat dari kampusnya.


"Makasih banyak kang".(meraih lalu mengenakan dengan segera)


"O ia , kan Akang sedang menjalani hukuman kan, jadi harus di lepas topinya"

__ADS_1


"iya iya". , ketus Salman seraya meninggalkan Willy"


"Kamm huffpp hufpp..."


Suna yang tiba-tiba teringat kejadian di depan gerbang tak kuasa menahan tawa, sedang Salman yang terpancing hanya menggigit bibir bawah karena sebenarnya iapun tak kuasa menahan malu kala mengingat hal itu.


....


"Jadi... sejauh ini kamu bisa beradaptasi dengan baik ya Suna, tak ku sangka rambutmu itu pernah hilang, aku tidak bisa membayangkan apabila kepalamu itu terlihat oleh putri, salwa, ataupun princess entah apa yang di katakan mereka hhhhh" ujar willy terkekeh geli


"Hmmm Ustadzah Khumai hanya tersenyum Will mendapati kami selalu berada tepat di depan rumahnya bahkan ia selalu memulai hari pagi buta untuk menghindari berpapasan dengan kami".


....


"Man... firasat Ku berkata mungkin Ustadzah Khumai menahan tawa di balik jendela itu tiap kali ingin keluar".


"Atau melihat jenggot tipis akang yang terlihat lebat karena tak punya rambut".


ujar Salman yang terpancing untuk saling mengejek.


"SOR !!! Splashhhh!!!"


"Yah.... ".(Suna dan Salman secara bersamaan)


"Akang-akang saya di suruh Akang BAKAM".ujar Arif cengengesan menghadapi tatapan sinis dari Salman dan Suna.


"Assalmualaikum "


Ujar Zahira menghentikan cerita Suna dan Willy di Siang hari itu.


(....)


"Wah lama ya kamu nggak ngobrol di sini biasanya pesan bayar lantas pergi" ujar Willy pada Zahira yang sedang menunggu pesanannya.


"Mmm Cepet Ka' aku tidak punya banyak waktu".


"Susah yah jadi BAKAM tak pernah punya waktu senggang, kuliah, mengurus santri lain, belajar juga, ujar Suna sesaat sebelum menyeruput kopi miliknya.


"Kang... saya tidak punya waktu lebih senggang seperti saat ini karena sebelumnya harus menjaga Salwa dari Akang yang dulu".


"Mmm aku mengetahui kamulah yang menghalang-halangi Salwa untuk menampakan diri di sini kan, tidak mengagetkan sih".


"Kang.. bukan menghalang-halangi... melindungi lebih tepatnya".


"Eyo.... what'sup..." (Fattah)


(...)(Zahira menatap tajam Fattah)


"Heh... aku nggak ngikutin kamu ya... aku kebetulan ingin mengunjungi sahabatku di sini".(Fattah membuka laptop)


"Serah". lirih Zahira.


"Ini... es kopinya, semoga harinya menyenangkan!"


(Willy menyodorkan secangkir es kopi).


"Oh ia ini(Uang) sama ini juga saya ingin menyampaikan ini dari seseorang untuk Akang".(meletakkan buku agenda didepan Suna)


....


"Dari siapa ?".


"Entah lah, sepertinya orang rahasia, yang diam diam menyukaiku".


"Helleh sombong sekali, bila ada yang menyukai Akang mana mungkin bisa masuk pondok dan..."


"Jangan bilang ini dari Salwa!?"


ujar Fattah menduga-duga.


"Jangan kan Kamu, Saya yang menerima ini saja tidak tau"..

__ADS_1


"Iya... bisa saja kan ini dari teman dekatnya Zahira di Kampus ingin menghadiahi Suna, secara Suna sedikit famous lah di daerah sini". ujar Willy berusaha menolong keadaan Suna yang terpojok.


__ADS_2