
Sejak Subuh Suna Sudah siap dengan semua persiapan dan tidak lupa juga mengecek Mobil yang akan di bawa hingga bandara, karena nantinya akan di tinggal menuju Jogja.
Berharap sang Ibu bisa untuk sekedar melupakan kesedihan yang sudah membuat hitam kantong matanya, bahkan kini terlihat Kurus.
"Emmm kita kemana toh pagi-pagi banget ini berangkatnya?".
lirih Sumi penasaran.
"Emmm mamah ikut aja".
Dengan sedikit terkejut ternyata Suna membawa dirinya ke Bandara dengan penerbangan menuju Jogja, bahkan Bibi tidak membawa banyak pakaian karena pada akhirnya Suna sudah menyiapkan segala hal hingga penginapan dan list tempat yang ingin di kunjungi saat berada di jogja.
Sumi sedikit tersentuh dengan inisiatif Suna meski sebenarnya Jogja adalah tempat yang sebelumnya juga pernah di kunjungi dirinya bersama sang Suami, bahkan bukan tidak mungkin kenangan itu akan menjadi bayang-bayang di sana.
"Jogja?"
"Bibi nggak tau kalau kita bakalan Sampai seminggu lebih di sana".
"Udah, bibi jangan khawatirkan pakaian, nanti kita cari di sana".
"...".(Sumi)
"Emm biarpun nggak terlalu perfek pokonya Liburan kita harus Sukses".(Suna bersemangat membara)
"Yah bibi, kita ikuti saja maunya Si Bandel ini".
Akhirnya dengan menempuh penerbangan empat puluh lima menit sampailah mereka di bandar udara adisucipto Jogja bahkan kini sedang menuju ke penginapan dengan menumpang taksi.
"Alhamdulillah".
"Nyampe".
Dengan bersemangat Suna menuju tempat loket penginapan yang sudah di pesan melalui smartphone jauh-jauh hari untuk satu minggu bersama ibu dan bibinya.
"Dua kamar atas nama Suna Abdul Malik".
"kamarnya di lantai dua 207-208".
"Dari sini ke kiri naik tangga".
"Terima kasih".
"Makasih Mba".
"O iya Masjid?".
"Masjid di depan, menyebrang jalan kearah kanan ada gang, di sana masjid terdekat Mas".
__ADS_1
"O iya, Terima Kasih".
"Dua ... kosong Tujuh".
"Dua kosong delapan".
Lirih Suna menunjukkan kamar yang kini sudah ada di hadapannya.
"Maaf ngerepotin, sepertinya Saya perlu sedikit beristirahat".
Lirih seseorang yang melintas sesaat setelah Suna maupun sang Ibu bersama Asisten mereka memasuki kamar masing-masing.
"Kedengarannya kaya Dokter".
"Haih, mikir apa Aku Dokter kok di sini".
"Na na na ".(membongkar barang bawaan".
Sehari sepeninggal Kiayi Nuruddin, keheningan kini menyelimuti kediaman keluarga beliau, selain Do'a-Do'a yang masih di panjatkan kala Malam menjelang.
Salwa kini banyak mengurung diri di kamarnya, dirinya benar-benar kehilangan sosok yang begitu berarti di dalam hidupnya, seseorang yang selalu menjadi pendengar terbaik dari keluh kesahnya selama ini.
"Salwa?"
"De?"
"Makan, yuk, sini Kaka suapi".
"Biar Salwa sendiri saja Kak".
"Do'akan Saja Abi, di sana mendapat tempat terbaik di sisi Allah Subhanahu wata'ala".
"Kak, Aku janji akan segera menyelesaikan hafalanku, lalu Kakak Ajari aku segalanya untuk pergi ke timur tengah".
"..."(Khumairah)
"Khu khu khu, Abi baru saja berniat menjenguk khu khu".(memeluk)
"Iya, nggak apa-apa, Yang terpenting sekarang, Salwa harus jadi lebih baik, dan harus bisa buat Abi bangga".
"Kasihan.. Ummi kalau Salwa cengeng, Ummi pasti akan Susah".
"Khu khu khu.."(menahan kuat-kuat suara tangisan)
"Ya Allah, Uti Salwa, U.. Ukhti Salwa pasti sedih banget".
"Hemmm, Ra... ".
__ADS_1
Lirih Ukhti lailah yang mendapati Sofi kembali terisak kala mengingat Salwa yang di tinggal Kiayi, bahkan di antara mereka yang dekat dengan Salwa, Sofi lah yang begitu merasakan kesedihan yang menimpa Salwa.
"Dah, dah dah, kasihan Uti Salwa kalau tau Kamu kaya gini juga".
"Uti salwa pasti kuat kok".lirih zahira menenangkan Sofi yang juga sempat menitihkan air mata.
"Aku tidak akan menulis lagi".
"Aku tidak akan mencarinya lagi".
"Aku akan menempuh perjalanan jauh untuk hidupku".
"Akh.. aku Akan melupakan Kamu".
Lirih Salwa yang kini bertekad kuat untuk menempuh perjalanan jauh, meninggalkan jauh kisah cintanya, dan berniat melupakan Suna yang sudah menjadi kumbang di taman hatinya.
...
"Salwa".
"Hmmm, bila saja ada waktu itu, kita berlibur bersama".
"Astaghfirullah".
"Astaghfirullah".
"Ya Allah titip semuanya".
"Aku nggak tau yang terbaik untukku ataupun Untuknya".
"Yang pasti Anta A'lamu min ma lam na'lam".
"Parang Tritis Im coming..!"
Suna pun beranjak dari tempat tidurnya setelah beberapa saat beristirahat, bahkan Sholat Dzuhur, kini dirinya pun sudah bersiap mencari makan siang bersama ibunya.
"Ok, sekarang kita... ke..".
"Tempat gudeg Na.. Mamah tau salah satu tempat Gudeg enak di sekitar sini".
"Mmm?"
"Ayo..".(merangkul sang ibu)
"Ayo Bi.. jangan terlalu lambat, tar ketinggalan".
"Iya den".
__ADS_1
Akhirnya tanpa banyak barang bawaan, hanya tas kecil Suna Dan sang ibu berjalan menikmati Suasana Jogja yang sedikit terik bahkan Suna menyempatkan untuk membelikan dua Payung untuk mereka berjalan di bawah sinaran mentari.
Berdua di bawah Payung kehadiran mereka menarik fotografer yang menjadikan mereka objek potret, dan Bibi pun tak luput menjadi model pemotretan.