
(Mah aku nggak apa-apa di sini, mamah jangan khawatir, aku bukan anak kecil lagi mah...)
"Hem... suna.., kamu begitu ceepat... dewasa, mamah bahkan masih ingin kamu jadi anak kecil mamah yang dulu... bahkan ketakutan jika mati lampu".
Lirih sumi di meja makan setelah rutinitas menyiapkan acara sarapan dengan ayah Suna, dan kembali dalam kesendiriannya di dalam Hunian Mewah.
"Kira-kira putri sedang apa ya..., hemm anak itu apa putri merasa kesepian juga dengan perginya suna, apalagi... kemarin suna begitu patuhnya pada perempuan itu".
"Dah lebih baik aku hubungin dia".(beranjak mencari Handphone miliknya)
.....
.....
"Hem.. nggak aktif".
....
Sementara itu.., Suna yang telah berubah menjadi seorang Santri sedikit demi sedikit makin mengikis beberapa perbedaan mendasar seseorang yang baru memasuki ranah Pendidikan Agama, salah satu contoh yang dahulunya Suna meminum segelas air hampir setiap hari dengan berdiri, beberapa waktu belakangan ia melakukanya dengan duduk, membumikan Salam, memakai sandal memulai dengan yang kanan dan mengakhiri dari yang kiri, bahkan ia menghafal beberapa ayat-ayat pilihan dari Al-Qur'an.
"Laqaad ja'akum,.(rasulullahi)"
"Eh akang Sun... mau sampai kapan saya kuda-kuda ginih... saya sudah nggak kuat.." ujar Arif yang kini menjalani pelatihan khusus dengan Suna, dan sebagai imbalannya Arif mengajari beberapa dasar Alunan Qira'ath.
"Ng?? kamu baru kuda-kuda sepuluh menit. bahkan dulu hasanuddin lebih lama dari ini".
ujar Suna yang berada di samping selatan masjid yang di saat bersamaan Salman menjalani hukuman berdiri selama seminggu di depan tangga utama .
"Kang.., kira-kira untuk strategi bertarung itu.. kuncinya apa? lirih Hasanuddin yang sejak tadi menyertai Suna dan Arif selepas ashr".
"wah itu susah-susah gampang Kang, kalau lawan kita itu amatir, kita lebih mudah melihat arah dan gerakannya".
(....)(hasan)
"Biasanya kalau kita dalam pertarungan itu fokus saja pada mata lawan, karena dari sana kita sudah tahu gerakan maupun arah serangan yang akan ia lancarkan".
"Mmm.. gitu, turunin lagih rif.. biar jadi pendekar sekalian". lirih Hasanuddin seraya tersenyum membenarkan lutut arif yang mulai bergetar dengan baju basah kuyup oleh keringat.
__ADS_1
....
"Assalamualaikum".
lirih Fattah menyapa salman sepulang dari kuliah.
"dah, kang untuk hari ini sampai disini aja, setelah ini Aktifitas seperti biasanya".
"terima kasih Kang". ujar Salman seraya meninggalkan halaman Masjid seraya melanjutkan hafalan yang masih belum selesai dari target yang ia inginkan, namun hari ini ia ingin mencoba berlatih di lapangan silat anak-anak BAKAM.
"Ok... Lets... Change Our Clothes".(mengambil celana olahraga dan mulai melakukan pemanasan)
Tampak di lapangan hampir semua anak-anak BAKAM sedang fokus berlatih dengan gigihnya, awalnya kedatangan Salman tak begitu di hiraukan, sampai Salman memberanikan diri untuk mengantri mengikuti tendangan dasar bergilir.
"Kang saya ikutan ya,".
ujar salman pada beberapa orang yang sempat mengamankannya kala dirinya kabur beberapa waktu yang lalu.
"Ia monggo-monggo, ujar salah satu dari mereka.
"Wah,.. lumayan juga akang, belajar di pondok akang sebelumnya ya".
Akhirnya Salman mempunyai beberapa teman baru di Pondok yang tadi ingin ia tinggalkan, dan berbicara banyak hal di sesi latihan tersebut Salman mengetahui beberapa hal termasuk salah satunya adalah Suna adalah seseorang yang paling mumpuni dalam teknik beladiri dan di dampingi oleh Fattah sebagai Ketua.
Meski sebelumnya Wakil Ketua yang tadinya berada di luar Pondok seperti Suna, namun kemampuan dan performanya tidak pernah berkurang, selalu hadir di sesi-sesi latihan.
....
"liat Kang suna Rif?"
"nda' tahu kang fattah, aku nda liat mungkin di dapur makan malem". ujar Arif yang seperti biasa duduk di tangga masjid dengan memijat paha dan betisnya karena mengikuti pelatihan silat oleh Suna.
"Oh, kalau nanti ketemu kasih tahu saya nyari Rif".
"Ia kang nanti saya kasih tahu".
Sementara itu di asrama Putri, sofi akhirnya menemui Salwa yang seharian tidak berada di asrama, ia pun menceritakan banyak hal, melakukan banyak hal dengan sendiri, makan, menghafal, dan ia pun tidak lupa menceritakan pemuda yang sempat menjadi bahan pembicaraan beberapa Santriwati.
__ADS_1
"Jadi.. ada Santri laki-laki yang kabur, dan hampir setiap pagi siang dan sore berdiri tepat di depan masjid sebagai hukuman".
"Lalu?"
"Ia katanya selain sudah dua kali kabur dia anak yang Cool dan seorang Hafidz Al-Qur'an, bahkan ayahnya adalah teman dekat pak Kiayi".
"Ouh.. begitu ...".
"Wait..., uti Salwa nggak penasaran ato apa o... atau uti dah pernah lihat orangnya?".
(hemm.., sejauh ini.. aku belum menemukan seseorang yang memukau diriku)
"Eh ... uti.. bengong? dah lah kita ke koperasi ajah cari roti".
"Ng.. ia". yuk... kita cari roti.
"Ia, sebenarnya nggak ada gunanya bicarain makhluk seberang, hafalanku masih menumpuk... aku gak mau mengecewakan Ustadzah Khumai". hihi.
"Ah ituh terserah hehe".
"Jangan marah beliau memang baik, uti juga tahu kan..".
"Ia.. ia Whatever".
"By The Way uti Zahira?"
"Ng.. dia mah Sibuk, ketua. kita memangnya siapa".
"Hehe ia juga"
Mereka berdua pun beranjak sedari Asrama menuju Koperasi seperti hari-hari sebelumnya dengan kebiasaan tersebut bahkan beberapa orang menganggap mereka kakak beradik, dan Sofi bahkan di gadang-gadang akan menjadi seorang bakam meski di ragukan masalah Akademik.
....
"Mungkin dengan mendekati ibunya bisa ku lakukan dengan segala cara, bahkan Suna , Suna sudah ku dekati dengan begitu banyak cara, tapi... untuk membuat dirinya mencintaiku kurasa tidak ada lagi jalan".
"Belum lagi... Wanita itu.., apa mungkin wanita itu yang membuat Suna begitu ingin memasuki Pondok".
__ADS_1
"Hemmm, bahkan aku tidak tahu harus melakukan apa seharian ini".
lirih Putri di dalam kamar , setelah seharian tanpa aktivitas yang biasanya rutin ia lakukan.