Aku Memilih Mu

Aku Memilih Mu
Beban


__ADS_3

"Kami sebenarnya habis keluar pondok Fat.".


"Eh... enggak Al'akh... akang Suna itu... berandai andai kalau ia bisa pergi ke luar Pondok dan membeli Nasi Iwak Kali di belakang Pondok".


"Kalian ini bicara apa, tidak pernah kami temukan Santri seberani Luthfi untuk mencapai tempat itu, kalau hanya bermodal nekat bisa-bisa hanya akan tersesat di padang ilalang..".ujar Fattah terkekeh lalu meletakkan senter dan duduk di dekat Suna dan Salman


"Itulah yang membuat aku tak percaya Al-akh...., kang Suna dan kang Salman hanya bergurau-bergurau dan bergurau kalau siang mungkin akan sedikit lebih mudah ya Al-akh .. ujar Arif mengoceh membuat Suna dan Salman sedikit menyimpan amarah padanya karena terkesan merendahkan.


"Yah... kami tidak ingin sombong sebenarnya saya dan kang Suna sudah melewati Makam Keramat yang bertembok putih setinggi dagu"., lirih Salman menyombongkan diri.


"Hehe akang tak usah bergurau, kalau benar sudah mencapai tahap itu seharusnya akang Salman sudah mengetahui dan mendapat apapun dari tempat itu".


"Besok-besok akan kembali ku coba bertandang kesana.


perkataan Salman makin membuat degup jantung Arif maupun Suna semakin kencang, pasalnya ia menyombongkan diri tepat di depan Ketua Penegak Kedisiplinan.


"Ya coba saja, karena seingetku bukan tidak mungkin kamu terperosok dalam sarang ular di semak ilalang , belum lagi kalau kamu kebetulan berpapasan dengan kami,(BAKAM)


sisi teraman adalah bersembunyi di dalam Makam Keramat.".


lirih Fattah menceritakan setengah perjalanan yang sangat mengejutkan Arif karena cerita Salman dan Suna sama persis dengan ceritanya.


"Baik, akan ku belikan sesuatu yang berasal dari tempat itu ..


ujar Salman.


"Hahaha... kamu masih sama seperti saat pertama , berambisi besar melakukan segala hal..., sebaiknya jangan memaksakan diri dan nikmatilah hari-hari akang-akang semuanya belajar, menghafal, dan tidak usah neko-neko.".


"Ia., memang sebaiknya seperti itu, selayaknya santri ya nggak perlu loncat pagar ato apalah itu... , toh di dalam sini tempat ternyaman dan jauh dari hiruk pikuk problematika dunia"..


"Yup..., ada baiknya kalian belajar dewasa dengan Al-akh Suna, ya... kan Kang Sun". (beranjak seraya menepuk pundak Suna)


"Aku.., serius kang.., nanti akan kuantar kan ke depan kamar Akang di Santiniketan segera setelah aku mendapatkan benda atau apapun dari tempat itu".


"O.. saya akan terkesan dengan usaha Akang Salman dan mungkin akan sangat terkejut bila bisa melihat barang atau apapun itu yang bisa Akang Salman bawakan, mungkin akang akan menjadi orang kedua setelah luthfi yang mencapai tempat itu".


....


"Jadi...?


"Ng?"(Sofi tak bersemangat)


"Kita berteman kan.?"


sebenarnya aku mau tahu, kegiatan-kegiatan kita selama sehari di sini".


"Pagi, jam tiga lebih seperempat kita di bangunkan untuk segera Shalat Tahajjud dan membaca Al-Qur'an, setelah itu kita Shalat, setelah shalat kita mengkaji kitab Kuning, setelah itu bersiap ke dapur dan masuk kelas bagi yang bersekolah, yang lainya bersih-bersih dan melanjutkan hafalan, setoran,


siang Shalat Dzuhur Take Lunch, istirahat, jam tiga persiapan Shalat Ashr lalu membaca Al-Quran dan dan... ya nanti Uti tau sendiri deh...". singkat Sofi seraya melipat sajadah dan menghampiri kembali lemari miliknya yang berada di pojok menjauhi keramaian bersanding dengan lemari salwa.

__ADS_1


"Ayo... ke Dapur., aku nggak tahu Dapurnya ada di mana kamu mau kan menemani aku.. aku nggak.... mmm belum mengetahui letak-letak gedung di sini".


"Mmm.. aku sedang tidak ingin makan, Ukhti, sebaiknya ajak yang lainya saja(mengeluarkan buku hapalan)


Umm(merapikan mukena dan sajadah)


....


"Kamu seriusan mau mengulangi lagi ke sana? dengan kemungkinan yang sangat kecil seperti itu memangnya apa yang mau kamu peroleh?".


"Emmm, aku ingin mengalahkan si BAKAM yang sok-sok an, ya selebihnya iseng hehe". singkat Salman seraya sedikit menghafal.


"Hallah... klasik ternyata." lirih Suna menanggapi pernyataan sepele Salman.


"Memangnya kalau aku bilang aku ingin keluar dari Pondok ini akang akan percaya?".


(...)


"Aku ingin kembali ke Pondok Ayahku, aku merasa sangat tenang bila di sana, dan tidak pernah merasa berbeda status seperti di sini, dan hidup nyaman dengan hapalan yang selalu terjaga.


"Hemm, sepertinya alasanmu tak seserius usahamu".


singkat Suna.


"Maksudnya?".


"Kalau memang kamu tidak kerasan di sini kenapa tidak bilang sekalian pada Kiayi Nuruddin, dan memilih cara-cara anak kecil dengan kabur-kabur seperti itu?".


"Hadeh ... sebenarnya aku sangat tidak suka berterus terang dengan orang lain tentang masalah pribadiku, tapi kali ini akan ku ceritakan, 'pertama' aku tidak pernah berniat untuk menyambangi pondok ini, 'kedua' aku di minta belajar kepemimpinan oleh Ayahku dan aku tidak bisa menolaknya, 'ketiga' aku bukan mencoba hal-hal yang di lakukan anak kecil hanya saja semua hal telah kulakukan termasuk berbicara langsung pada Kiayi Nuruddin, tidak membuahkan hasil...


"ini rentetan cara orang dewasa yang tidak mendapat jalan keluar dari masalahnya paham". ujar Salman mempertegas.


"Mmm, menurutku sebaiknya kamu tetap di sini aja Man".


"Tetap di sini dengan segala hal di dalamnya? ada satu hal yang sangat aku ingin kejar di Pondokku, lalu aku di sini?.


(menggeleng seraya mengangkat alis tebalnya)


"Memangnya apa yang ingin kamu kejar hingga sebegitu gencarnya seperti sekarang? emm atau ...


"Atau apa?"


"Kamu berminat dengan Salwa yang pindah ke Pondok mu? jadi kamu terus mencoba hal-hal nggak penting seperti ini".


lirih Suna di pagi menjelang siang di perjalanan pulang setelah memberi pakan ternak.


"Aku sangat benci orang-orang yang terlalu mencampuri kehidupan orang lain, memangnya akang siapa? atau akang sudah menjadi seperti mereka yang hanya karena di sanjung sebagai orang dewasa lalu seenaknya menuduh ku?".


....

__ADS_1


"Shabahul khair uti ..,


Shabahunnur..,


"Ada yang sedang berada di luar Pondok? emmm Uti Putri, sedang pergi ke Fotocopy katanya untuk membeli beberapa keperluan".(menunjukan catatan)


"Oo, Putri..?


"Putri Salsabila, anak baru yang kemarin baru datang dan di antar langsung oleh Ustadzah Khumai".


"Ooo kamarnya?"


"kamarnya.. di tempatkan di kamar Uti Salwa sebelumnya Uti..,"


"Ia, nanti saya cek.


ujar Zahira, menjalani rutinitas selain kuliah, ia belajar kitab-kitab, menghafal, dan mengecek segala keamanan penjuru Pondok dari Asrama serta kebersihan"..


Selain itu di Pondok Tahfidz Salwa benar-benar merubah segalanya, kini ia selalu berdiam dan memperbanyak hafalan dan selalu menuliskan segala hal di dalam buku Diary nya.


Sebenarnya ada seseorang yang selalu tertarik untuk berbincang dengan dirinya namun beberapa hari ini Salwa belum membuka diri untuk seorang teman setelah ia meninggalkan sofi, zahira , lailah ,dan segala hal yang biasa ia lakukan.


[Fitri Ramadhani , hemm maaf aku belum bisa berteman setidaknya untuk beberapa waktu ini.. aku minta maaf banget .. aku akan cerita semuanya suatu saat..


Salwa ]


....


"Uti... ini., "(menyodorkan sebungkus Roti)


"Ooo.. makasih banyak.., ya Allah kamu baik banget aku juga tadi dari Koperasi, aku kebetulan penasaran dengan susu produksi sendiri di Pondok ini, aku juga beli dua"..(memberikan salah satunya pada Sofi)


"Hemmm tadinya ini dua makanan yang selalu aku santap dengan uti Salwa".(menyeka air mata yan sedikit mengalir)


"Hmm begitu, uti Salwa pun sepertinya merasakan seperti yang kamu rasakan, ia pasti kangen sama kamu, tapi kalau tahu kamu seperti ini ia pun sepertinya akan sedih".(menempelkan kertas untuk menuliskan list-list yang ingin di capai, di antaranya adalah Hafal Al-Quran.


"Emmm Uti..,maaf sudah tidak begitu baik menyambut ukhti, kalau mau, kita bisa ke dapur pagi ini, aku ingin uti jadi sahabat aku, nanti akan ku kenalkan pada uti Zahira dan uti Lailah,".


"Wah..., bagus lah, kalau begitu jadi akan ada banyak teman aku nantinya, yang terpenting jangan terlalu lama terpuruk dalam kesedihan.


("hmmm benar , benar put itu juga berlaku untuk kamu" gumam Putri seraya tersenyum.)


....


"psssst ... le.. golek opo di sini?".


"Dah... coba sekali saja jangan mengganggu. saya nggak lagi main-main... kang Suna...!!!".


(...)

__ADS_1


"aku tau itu kamu... keluar!!".


(...)


__ADS_2