
"Sudah lama sekali sejak hari itu".
"Kira-kira apa kabar Suna di rumah ya kang?".
"Hemm menurut saya mas, pasti beliau sangat terpukul dengan kepergian Ayahnya".
"Semoga Semuanya cepat membaik".
Lirih Willy di tengah-tengah kelengangan suasana Kafe Kita.
Sudah sebulan sejak meninggalnya Ayah Suna, bahkan rumahnya kini sudah sepi dari kehadiran sanak saudara yang sebelumnya sempat meramaikan rumah dan sempat memberi kekuatan dan hiburan kepada dirinya terutama kepada Sumi sang Ibu yang benar-benar terpukul oleh kepergian Maulana sang Ayah.
Dengan suasana Rumah yang banyak berubah, dari suasana makan malam kini hanya di hiasi raut wajah yang masih tidak menyangka kepergian sang suami yang begitu cepat, maupun Suna yang makin mengkhawatirkan banyak hal namun kesehatan sang ibu lebih dari apapun baginya.
Hingga sebulan masih menemani sang ibu membaca, menonton tv atau berjalan mengitari komplek, melupakan segala hal, Kafe belajar maupun kisah cintanya yang sudah mencapai titik berserah.
"Bismillah ya Allah, Ku serahkan semuanya pada Mu apapun akhir dari cerita ini, dan yang terpenting Aku akan memulai semuanya dengan semua hal terbaik insyaAllah".(membakar Tulisan-tulisan tangan yang sudah tertulis sejak lama)
"Ukhti... !! ukhti Salwa.. ada telfon dari Rumah!!".
"Ng?"(Salwa)
Sementara itu di Pondok sudah terjadi beberapa perubahan, seperti kepemimpinan sudah sedikit demi sedikit sudah di laksanakan tugas-tugasnya oleh Hasanuddin.
Di tengah hiruk-pikuk kesibukan Pondok, hanya beberapa santri sahaja yang merasakan pergeseran kepemimpinan, yang memang tidak di jadikan tradisi dengan sebuah acara dalam rangka pemindahan Kepemimpinan itu sendiri.
Bahkan dalam beberapa kesempatan para anggota Bakam yang mempunyai Agenda khusus yaitu Kumpul mingguan rutin bersama kiayi dalam membahas keamanan maupun tugas-tugas kepengurusan kini sudah di pimpin oleh Hasanuddin, di rumah Kiayi.
"Wallahi, bila saja kang Luqman masih menjadi Bakam, mungkin akan merasakan perasaan malu dengan kepemimpinan Kang Hasanuddin".
"Iya, Ana pun ngerasa ada hal yang sudah tak seharusnya ana lakuin waktu itu".(Teringat kala pencarian Salwa yang di culik).
"Huft".
"Hasanuddin, Abi minta tolong biasakan diri dengan kepemimpinan Pondok, jangan batasi keinginan kamu dalam memimpin".
"Abi?".
"Kalau ragu segera tanyakan".(menepuk pundak)
"...".(Hasan)
Kiayi Nuruddin tau betul keputusannya ini sangat mengganggu Hasan yang sebenarnya masih belum matang dalam menentukan keputusan, namun dirinya juga melihat kelengkapan Hasan yang bersanding dengan Khumairah untuk kelangsungan Pondok yang lebih baik, karena selain sebagai menantu maupun seorang anak, Khumairah maupun Hasanuddin sangatlah mempunyai kemampuan dalam ilmu agama.
Pagi ini Kiayi Nuruddin dan Ummi Zakiyath meninggalkan Kediaman bersama Ustadz Oky untuk memeriksakan kesehatan Kiayi yang belakangan ini sempat memburuk.
"Alhamdulillah, Pak Kiayi kemari di awal-awal gejala, ini hasil medical checkup nya, Kiayi hanya perlu mengonsumsi beberapa Obat untuk batuk serta beristirahat dan untuk mengurangi memikirkan hal-hal yang berat-berat, selebihnya fisik Pak Kiayi sangat Bugar".(Tersenyum)
"Alhamdulillah".
"Ini semua berkat Allah, dan keberadaan Istri saya dok, Hhh".
"Alhamdulillah, Alhamdulillah".(Dokter)
"Memang jika menemukan Pasangan yang tepat kemungkinan panjang Umur dengan sehat sangat berpeluang besar".
"Alhamdulillah".
"Dokter pun sepertinya begitu".(Tersenyum)
"Oh, maaf saya masih lajang Kiayi".
"Oo lah, nunggu apa lagi? segerakan dokter, segerakan jika sudah punya kemampuan dan kemauan segerakan, jangan Ketinggian standarnya Dokter".
"Yang terpenting Agamanya".
__ADS_1
"InsyaAllah Kiayi, Kalau diumuran saya yang sudah menjelang empat puluh ini saya tidak banyak standar Kiayi, kalau bisa dengan do'a dari Kiayi pun saya mau".
"InsyaAllah, insyaAllah, yang terpenting punya ikhtiar usaha mencari pasti Allah memudahkan, malah biasanya dari hal yang tidak di duga-duga".
"Aamiin aamiin.. ".
Akhirnya dengan resep obat serta menyelesaikan Administrasi Kiayi nuruddin bertolak dari Rumah sakit menuju Pondok, dengan tasbih yang selalu menemaninya terselip do'a untuk sang dokter untuk segera menemukan pendamping hidup.
"MasyaAllah ya Bi.. pengabdian beliau sangat besar untuk sesama".
"Iya, Ummi".
"Tapi... kok sampai lupa dengan jodoh".
Lirih Ummi zakiyath yang sedikit menahan tawa menyimak percakapan antara Suaminya bersama sang dokter.
"Yah, kan Kisah setiap orang berbeda-beda Ummi, mungkin ada hal lain yang menyebabkan beliau seperti itu, Doakan saja beliau segera untuk menikah".
"Aamiin".(Ummi zakiyath)
"Halo? Ummi?".
"Salwa, gimana kabarnya? Sudah sampai juz berapa hafalannya?".
"Alhamdulillah Ummi".
"Ana bil khair...".
"Hafalan sudah Juz dua sembilan, Salwa masih perlu mengulang-ulang Ummi, Doakan Salwa segera selesai Ummi!".
"Alhamdulillah, iya, iya, Pasti Ummi do'akan insyaAllah, beberapa hari kedepan mungkin Ummi dan Abi akan menjenguk, jadi giat-giat di sana ya..".
"Wah... seriusan Ummi?!"
"Seperti mimpi Ummi sama Abi mau ke sini".
"Assalamualaikum.. Iya ini Abi Ukhuk ukhuk!".(Batuk)
"Abi?".
Lirih Salwa yang sempat ingin meragukan kedatangan Ayahnya karena kesibukan mengurus Pondok, tertegun sejenak setelah mendengar suara batuk sang ayah.
"Ya Halo, Salwa... fokus, selesaikan hafalannya, insyaAllah bila Allah mengizinkan Abi akan menjenguk ya nak, Ukhuk ukhuk".
"Abi... !, iya, Salwa akan selesaikan hafalan salwa khu khu khu".(menangis lirih)
"Dah, dah, jangan berfikiran yang tidak-tidak, ingat pesan Abi, selesaikan hafalannya, jaga kesehatan".
"..."(Salwa)
"Nah, tenangkan Anakmu".(Tersenyum)
"Salwa, Semuanya baik kok, Kamu di sana jaga diri sama tau diri ya nak, jangan ngelawan sama Ustadzahnya, ya... Ummi tutup dulu teleponnya ya, Assalamualaikum".
"Waalaikumussalam".(menyeka air mata)
Sementara itu, kekhawatiran Suna memuncak Pagi ini ketika melihat raut wajah sang Ibu makin hari makin Pucat dan memutuskan untuk memeriksakannya ke dokter.
Dengan membawa ikut serta Sang asisten rumah, dan beberapa perlengkapan Suna kini sudah Berada dalam perjalanan dengan Sang Ibu yang semenjak kepergian Ayahnya jarang sekali berbincang dengan dirinya.
"Mah, mamah ingin menjenguk Putri?"
"Seingat Suna mamah pernah deket banget Sama Putri kan?"
"..."(menyentuh pundak suna yang sedang menyetir dan menggeleng tanda tidak perlu)
__ADS_1
"Mah, mamah jangan khawatirkan Papah, Papah orang baik, Ayah yang baik suami yang baik Allah pasti tau tempat yang terbaik untuk papah".
"Mamah harus sehat, Suna nggak mau Mamah terus-terusan gini, mah, apa perlu undang tante? Mamah juga pernah punya Hoby jalan-jalan sama tante kan? cari-cari jajanan kaki lima?" (menggenggam tangan sang ibu).
"Mamah, mamah kuat loh... aku percaya kok"(mencium tangan sang Ibu).
Setibanya di Rumah Sakit Suna pun segera di sambut oleh beberapa Suster, bahkan salah seorang diantara mereka adalah suster yang dahulu memergokinya di balik pintu saat menjenguk sang ayah tanpa sepengetahuan sang Ibu.
"Bagaimana keadaan Ibu saya dok?".
"Ibu Sumi, kurang mengkonsumsi buah-buahan".
"Ah, seriusan dok!! masa iya ibu saya sampai tidak mau berbincang dengan saya".
"Eh?"(Dokter)
"Hhh, nggak dok, saya percaya kok sama dokter".
"Lanjut dok".
"...".(Sumi)
Sumi yang di dalam diam hanya sempat tertunduk menahan tawa mendengar celotehan Suna kepada dokter karena meragukan diagnosa sang dokter.
"Selain itu, Ibu Sumi sepertinya perlu refreshing dan mengurangi memikirkan beberapa atau banyak hal, dan menjaga pola makan yang sehat".
"Wah sepertinya Saya harus sering-sering konsultasi masalah makanan sama dokter".
"Emm sepertinya di era sekarang sudah banyak blog-blog yang memuat artikel menyangkut pola makan sehat, nah, mas bisa ngecek di sana".
"Atau, untuk memudahkan masnya Nge save nomer WhatsApp Saya jadi bisa konsultasi secepatnya bila ada hal yang mendesak".
Akhirnya dengan memperoleh beberapa macam Vitamin dan nomer telepon sang Dokter Suna beserta ibu dan Asisten nya pun kembali bertolak menuju rumah.
"Bi' Bibi' mau beli apa?"
"Eng?".
"Iya den?"
"Iya bibi' mau beli apa?"
"Wah bibi mau beli Sawah den buat di garap di desa".
"Eh bukan bi' iya itu boleh, bukan itu tapi makanan buat di makan di rumah".
"...".(Sumi memejamkan mata)
"Oo.. ketoprak yo kenek, bakso ya kenek den, kirain mau beliin sawah hehe".
"Yah, Semoga bibi bisa deh beli sawah, Suna do'ain nih".
"Aamiin ya Allah".(Bibi)
"Mah, Mamah tadi denger kan kata dokternya, mamah itu perlu refreshing gimana kalau besok kita liburan?"
"..."(Sumi)
Dengan berbagai macam cara Suna mencairkan Suasana hati Sang ibu meski pada akhirnya di diamkan, kini mereka menyinggahi sebuah restoran yang menyajikan beberapa macam hidangan laut udang hingga cumi-cumi, bahkan membuat Bibi asistennya begitu bahagia hingga tidak terasa senyuman indah itu kembali di tunjukan oleh Sumi karena tingkah lucu Sang asisten yang baru pertama kali di ajak ke restoran khusus seafood dan menyantap hingga dua ronde porsi besar.
Tanpa di sadari Dokter yang sudah menangani Ayah Suna dari Awal hingga mengalami masa kritis, kini terbayang kata-kata dan pesan Kiayi yang juga menjadi pasiennya.
"InsyaAllah, insyaAllah, yang terpenting punya ikhtiar usaha mencari pasti Allah memudahkan, malah biasanya dari hal yang tidak di duga-duga".
"Hemm".(mencoret-coret sebuah kertas)
__ADS_1
"Cepat sekali Allah mengabulkan do'a beliau".
"Tapi apa mungkin?".