Aku Memilih Mu

Aku Memilih Mu
Rasa Bersalah


__ADS_3

"Akang-akang ini mau kemana? mau membeli? atau lewat?"


DEG...


"Mampus ketangkep sekalian kan jadinya".


dalam benak Suna menjadi berkecamuk karena menemui hal yang tidak terduga setelah melewati berbagai macam rintangan untuk menuju tempat yang ingin ia singgahi.


(....)(Suna)


(....)(Salman)


"Pastinya sulit untuk menuju kesini melewati jalan semak belukar masuk air got padang ilalang , kali ini kita lewat jalan yang lurus saja"..


ujar Luqman memberi arahan pada Suna dan Salman yang masih tidak menyangka mereka telah tertipu dan tertangkap basah di rumah singgah bagi para bakam, bahkan di sana ada dua BAKAM yang sedang bertukar jam jaga.


"Ayo pulang Kang..".


(menaiki Sepeda Onthel serta membawa senter besar)


"Apakah ini sesuai dengan rencana Mu?"


"Diam...".


ujar Salman menjawab Suna saat mereka di giring bak pelaku kejahatan kriminal berjalan jongkok sedari Rumah singgah BAKAM yang di peruntukkan menjaga jika ada anak-anak yang dengan keberaniannya untuk kabur.


"Hosh!!! Hosh!!! Hosh!!!"...


Ok... saya tunggu di sini selepas subuh tepat...


ujar Luqman yang sudah memperbolehkan Suna dan Salman untuk kembali berjalan seperti biasa setelah memasuki kawasan pondok tepatnya di depan masjid.


Suna dan Salman pun bergegas karena waktu subuh sudah berlalu, dan kini para santri sedang melakukan kegiatan mengaji di asrama, dengan segera mereka mengganti pakaian yang sudah basah kuyup dengan pakaian yang suci serta mendirikan shalat.


"Wah sepertinya kita melewatkan sebuah informasi"


lirih Salman pada Suna.


"Kang... Ada apa kok Ramai begini?


ujar Suna bertanya pada salah satu santri mengabaikan kata-kata Salman.


"Entah Kang, tadi semuanya di minta menuju ke depan Masjid".


ujar Santri tersebut tak tau jelas kenapa di minta untuk menuju ke depan Masjid.


....


"Kami berjanji tidak akan mengulangi perbuatan kami".


Suna dan salman kali ini benar-benar merasa malu setelah mereka diberdirikan dan kepala mereka di botaki atas perintah Kiayi Nuruddin dan di minta berdiri selama seminggu di depan masjid dengan terus berjanji tidak mengulangi.


"Maaf Kang... nggak seharusnya saya melibatkan Akang seperti ini".(lirih salman dengan tubuh yang sudah banjir keringat).


"Yah apa boleh buat... semuanya sudah terjadi".


ujar Suna yang sudah sedikit berdamai dengan keadaan,


yang berdiri selepas shalat dzuhur melanjutkan hukuman mereka bahkan setelah mereka jadi tontonan bagi semua Santri sedari pagi.


"Kang... mana janjinya"


(seorang kader BAKAM yang masih SMA lewat di depan mereka)


"Kami berjanji tidak akan mengulangi perbuatan kami".


ujar Salman dan Suna setelah menatap sinis kader BAKAM tersebut.

__ADS_1


"jam berapa? Hosh!!! Hosh!!! Hosh!!!" (Suna)


"baru jam satu tiga jam lagi".(Salman)


....


"Kang sepertinya mereka tertangkap saat menuju Warung Iwak Kali tadi malam". ujar Arif dengan raut wajah bersalah.


"Menurutku mereka bukan tertangkap saat menuju, tapi sepertinya memang mereka sudah sampai di Warung itu".


lirih Hasan dengan sedikit tersenyum.


"Hmm entahlah... aku jadi merasa mereka seperti itu karena Ku".(lirih Arif pada Hasan di serambi kanan masjid)


"Mau ku saran kan sesuatu?"


(....)(Arif)


"Ukhti... Ukhti .. coba liat... di sana.."


"eh ia ia kok ramai ramai seperti itu ..".


Sofi yang penasaran karena banyak dari santri wati memperhatikan jauh keluar pagar dua Alam terlihat dua sosok yang sedang menaiki meja setelah di botakin dan Kiayi pun terlihat memberi nasihat pada santri.


"Wah bisa-bisanya mereka kabur bahkan di saat saat libur begini"


"Iya kenapa nggak pulang saja sekalian".


"Mungkin orang jauh".


"Dah lah, kita bersiap mandi saja".


Sofi yang penasaran pun mencoba melihat mereka dengan cara menuju kelas yang berada di lantai dua setelah meninggalkan para Santriwati yang berbincang penasaran.


"Hey , kamu lagi ngapain ? (penasaran)


"Kamu nggak bersiap mandi ato sarapan gitu?".


Ujar Putri mengimbangi laju lari Sofi yang begitu terburu-buru,


"Eng .. itu seperti ..(Putri)


"itu Akang Suna, dulu sempat mengejar Uti Salwa, mungkin ia habis kabur dengan anak itu.".


"anak itu?".


(Putri)


"Ia anak yang katanya ganteng itu..".


lirih Sofi seraya bersandar pada pagar pembatas..


(O.. Suna kesini karena Salwa bukan karena Ukhti Khumairah)Gumam Putri yang menemukan Salwa dan Suna memang saling mencari atau bahkan lebih dari itu.


"Hmmm memang Laki-laki ganteng itu selalu identik dengan masalah". lirih Sofi seraya memutar hendak menuju tangga meninggalkan Putri.


"Sebenarnya apa yang ingin kamu tunjukan dengan perbuatan Mu Suna Suna...". lirih Putri seraya bergegas mengejar Sofi.


"Hey... kamu nih bisa-bisanya ninggalin aku ..!!!".


"Hehe aku mau ke Dapur Ukhti... harus cepat nanti thabur nya(antrian) puanjang.. ".


"Oo... gitu, jadi... kita nggak mandi dulu?".


(...)(Sofi menggeleng)


"Mmm ok kita ke Dapur".

__ADS_1


....


"Huft... panas.... Hosh!!! Hosh!!!"


(Salman)


"Kami tidak akan mengulangi perbuatan ... (kam..)


mulai lagi nih ngeluh padahal kabur aja semangat.


"Panas kang .. panas nih nggak usah bikin...


"Hep... SOR..!!!! SPASH..,!!!!"(Air membasahi tubuh Suna dan Salman)


"Mau Ku saran kan sesuatu?"(Hasan)


(....)(Arif)


"Mending kamu tolong mereka meringankan hukuman".(Hasan)


"Caranya?".


"Hari ini panas banget .. dengan mereka di jemur bersama bukan tidak mungkin mereka bersitegang bahkan berantem, ada baiknya kamu mendinginkan suasana dengan menyiram mereka".lirih Hasan seraya tersenyum.


"Iya juga ya..,"(bergegas)


"Yah.. basah...".(Salman)


"Huft... ada-ada saja ketidakberuntungan hari ini sudah tidak tidur semalaman jalan jongkok di jemur seharian sekarang basah lah sudah baju dan celana" lirih Suna yang sedari tadi menyimpan keluh kesahnya kini serasa ingin menangis dengan kepala plontos bak telur.


"Wah... lagi-lagi... Rif... kamu bisa ambilkan lagi nggak?"


"ujar Salman yang merasa sedikit teringan kan dengan deburan air dingin yang menerpa dirinya.


"Ok kang... siap... ntar aku ambilin yang banyak moga aja rambutnya cepet tumbuh"(berlari menuju tempat wudhu)


"eh...hahaha anak itu .. akang denger gak anak itu bilang apa haha (Salman)".


(...)(Suna menahan tawa)


"Hhhh coba saja yang di katakan nya ada benarnya, sudah pasti rambut kita yang hilang akan segera tergantikan".


"Bodhoh hhhh"(Suna tertawa)


.Akhirnya Suna maupun Salman di sirami oleh Arif serta beberapa santri teman dekat Arif yang kebetulan membantu setelah melihat sahabatnya tersebut tergopoh-gopoh membawa seember air sendirian.


....


"Jadi inilah menu kita hari ini... ".


"Em... kenapa kita nggak beli roti aja tadi Sof... sebenarnya aku sedang...


"Ups... Ukhti harus coba ini... meski namanya Tahu berenang tapi kalo kita sedikit tambahkan sambal sachet ini kombinasinya uh.... juara Ukhti..".


lirih Sofi seraya menambahkan sambal sachet di atas piring Putri dengan lauk pindang tahu serta kerupuk yang selalu menjadi pendamping setiap makanya.


"Hemm haduh apa boleh buat padahal aku berniat untuk menjaga bentuk tubuhku".lirih Putri seraya menggigit bibirnya.


"Uti.. nggak boleh berkeluh kesah di depan makanan, ada banyak orang yang mungkin pagi ini belum bisa makan karena mencari uang".ujar Sofi dengan menyuapkan makanan dar sendok nya pada putri.


"uh.".(Putri)


"Gimana-gimana?? (Sofi)


"Mmm Not Bad, sepertinya lidahku tidak banyak menolak".


ujar putri dengan mengangkat kedua bahu, mengetahui masakan yang tak pernah ia makan sebelumnya bisa masuk melalui tenggorokan nya.

__ADS_1


__ADS_2