Aku Memilih Mu

Aku Memilih Mu
Mom


__ADS_3

Seperti biasa Putri selalu menyibukkan dirinya dengan buku cemilan di pagi hari, bahkan tak jarang membuat dirinya terlelap sendiri di taman, bahkan dirinya di sebut peri taman karena kebiasaanya itu.


Terlelap dengan tetap dalam posisi anggun bahkan mampu membuat beberapa santriwati berdecak kagum bahkan seolah tak percaya kecantikan Putri tak berkurang meski saat tidur.


Banyak yang tak sampai hati membangunkan karena tau betapa gigihnya Putri mengejar pelajaran, hanya beberapa teman seperti Zahira, Sofi, atau beberapa jajaran Bakam dan Mommy Pondok, yaitu mereka-mereka yang sudah mencapai Semester akhir perkuliahan, ataupun Ustadzah pengabdian yang belum bersuami.


"Put..?"


"Istaikidzii!"(Bangun)


"Eng?".


"...".(Bingung)


"Bangun-bangun, istirahat".


"Na'am Ustadzah".(mengucek mata)


"Dhuha, Allahuakbar".(merentangkan tangan)


Putri pun beranjak melangkahkan kaki menuju kamar dan hendak ingin mendirikan Shalat Dhuha.


Kali ini sedikit berbeda, tak dijumpainya Sofi yang biasanya sudah heboh mencari dirinya dari yang sekedar mengajak sarapan, atau menyantap cemilan atau membantu menjelaskan beberapa pelajaran yang dipahaminya.


Assalamualaikum warahmatullaah...


Assalamualaikum warahmatullaah...


"Ya Allah terima kasih untuk semuanya yang sudah engkau anugerah kan pada hamba".


"Jagalah keluarga hamba, sahabat-sahabat hamba, bantulah hamba menjadi lebih baik lagi".


Aamiin.


"Eng?"


"Sofi?"


Lirih Putri mendapati sahabatnya tersebut duduk sendiri di depan Masjid setelah dirinya mendirikan Shalat Dhuha.


"Hey?".


"Mmm?"(Sofi)


"Murung?"


"Hemm iya nih Uti, Aku ngerasa kasihan banget sama Uti salwa, Ustadzah Khumai, bahkan kali ini beliau tidak hadir mengajar".

__ADS_1


"Mmm , Karena itu".


"Iya".


"MenurutKu lebih baik kita mendoakan saja yang terbaik untuk mereka".


"Dan Perihal Khumai, sepertinya ia mungkin akan sering tidak hadir, tapi bukan karena sedang bersedih".


"Sedang berjuang lebih tepatnya".


"Eng?".(Bingung)


"Dengan kandungan yang ada di perutnya, Aku yakin selain akan sedikit menyulitkan melintasi tangga".


"Dirinya akan membutuhkan tenaga ekstra setiap ingin mengajar".


"Ooo".


"Iya juga sih".


"Kalau gitu, koperasi?".


"Emmm iya, yuk".


"Kali ini Aku yang traktir".


...


"Kang.. password nya?"


"Pagi cerah".(Willy)


"Kang triss, meja Delapan".


"Ok Mas"


"Mas, kira-kira Luqman mau ketemu dengan Aku?"


"Mmm?"


"Permisi".


Lirih Kang Tris menghentikan percakapan Antara Suami istri dengan Anak kecil berusia Lima tahunan, kang Tris pun beranjak pergi setelah meletakkan pesanan keduanya.


"Kamu nggak usah khawatir, dirinya pasti sudah dewasa dan banyak belajar selama di Pondok ini".


"...".(Khawatir)

__ADS_1


Brummm Brumm!!


"Alhamdulillah".(Suna)


Suna yang ingin mengunjungi Kafe setelah sekian lama, kini sudah berada di tempat setelah berniat mengunjungi sebelum kembali menyibukkan diri di dalam Pondok.


"Ya Allah, innalillahi wainnailaihirajiun".


Suna yang mengetahui Kiayi meninggal merasakan kehilangan yang begitu menyesakkan dada, bahkan dirinya kembali tenggelam dalam kesedihan sama seperti saat Ayahnya meninggal.


Bahkan mengetahui pada hari meninggalnya Kiayi dirinya sedang merencanakan kepergian menuju Jogja.


"Allahummagfirralhu warhamhu waafihi wa'fu 'anhu".


Lirih Suna di sela-sela menyeka air mata.


Bahkan sejenak Suna terpikirkan keadaan Salwa yang sudah pasti sangat terpukul atas kepergian Kiayi Nuruddin.


...


Sementara itu Salwa yang Kini sudah bertekad kuat hampir menjadi pribadi yang pendiam dengan Sangat sempurna, lebih dingin dari sebelumnya, bahkan kini hanya selalu berbincang dengan Ustadzah Fitri ramadhani dan tidak lebih.


Bahkan dirinya selalu menambah Waktu menghafal Di awal Pagi, lebih cepat dari teman-teman sekamarnya dan mulai Menghafal setelah mendirikan Shalat tahajjud.


"Hemm Ana sedikit khawatir dengan keadaan Uti Salwa".


"Iya, setelah Ayahnya meninggal bahkan dirinya hanya menjawab semua pertanyaan terkait keadaanya dengan tersenyum".


"Semoga Uti Salwa di beri kekuatan, Selain itu Uti Salwa begitu dekat dengan Ustadzah Rini, Semoga saja beliau bisa memberi semangat kepada Uti Salwa".


"Aamiin".


Lirih Beberapa Pengurus Rayon Yang di tempati Salwa yang juga sedang menjalankan metode jalur Langit dengan memulai semua hal di awal Fajar, yang hampir di lakukan Semua pengurus karena dengan kesibukan mereka mengurus mereka di tuntut bisa mengatur segala hal termasuk Hafalan agar tidak tertinggal jauh.


...


"Eh, tadi pagi Mommy Tania ketemu Kang Salman".


"Ih iya?"


"Iya sepertinya Mommy Tania suka Kang Salman".


"Hemm siapa yang nggak suka, Hafidz kabarnya juga Seorang Bakam".


Lirih beberapa Santriwati yang sedang membicarakan Salman di saat memilih cemilan di dalam Koperasi, hingga Sofi dapat mendengar jelas tanpa harus sembunyi-sembunyi karena hanya berjarak tak lebih Dua meter mereka berdiri.


Sofi yang mendengar hal itu mengerutkan dahi, dan tidak tahu harus melakukan hal apa.

__ADS_1


__ADS_2