Aku Memilih Mu

Aku Memilih Mu
Kepincut


__ADS_3

"Emmm kok Kakak dari tadi kayanya gelisah gituh".


"Huuh... gimana enggak, Pusing Aroma obat ".


"Sabar, Nunggu giliran, Emang kayanya lagi agak Ramai".


"Mungkin ada promo, ya Allah kok lama banget".


"..."(Sumi)


Pagi menjelang Siang kala itu Sumi hanya tersenyum melihat tingkah Anita Kakaknya yang masih Alergi dengan aroma Rumah Sakit.


Selain itu, kini dirinya mampu menjaga diri dan sudah semakin membaik.


"Mmm Alhamdulillah, keadaan Ibu Sumiati sudah stabil".Lirih Dr. Riyan di susul Senyumnya yang membuat Anita tersipu.


"Kalau Ibu, Keluhannya Apa ya".


"Kakak nih kaya masih Lajang aja, Pake acara kesemsem".


Ujar Sumi saat keluar dari Rumah Sakit Bandar, dan sudah mengantongi obat vitamin yang di anjurkan oleh Dr. Riyan.


Sebenarnya ada hal yang baru saja dirinya sadari setelah pertemuan terakhir,


tapi masih begitu dini untuk di ungkapkan.


"Eh... Dokter Riyan itu Hansemm yah".


"Em em em, Inget anak Dua di rumah".


"Is... Kamu nih, kan Kaka cuma bilang beliau hansem aja toh".


"Hhhh, dah ah mau pulang".(Bergegas)


"Ih aneh, kan bisa saja Kakaknya ini ingin menjodohkan dirinya sama Itu dokter".


"Malah di kira Suka".


"Mau pulang nggak!!?".


"..."(manyun)


"Kakak seneng loh kalo punya adik ipar Dokter".


"..."(mengernyitkan dahi)


"Mmmm, Maaf".


Lirih Anita yang mendapati respon dingin dari Sumi yang sedang menyetir.


...


"Bismillahirrahmanirrahim".


تَبٰرَكَ الَّذِيْ بِيَدِهِ الْمُلْكُ ۖ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ ۙ 


tabaarokallazii biyadihil-mulku wa huwa 'alaa kulli syai`ing qodiir


"Maha Suci Allah yang menguasai (segala) kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu,"


٭لَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَا لْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا ۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُ ۙ 


allazii kholaqol-mauta wal-hayaata liyabluwakum ayyukum ahsanu 'amalaa, wa huwal-'aziizul-ghofuur


"yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun,"


الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ طِبَا قًا ۗ مَا تَرٰى فِيْ خَلْقِ الرَّحْمٰنِ مِنْ تَفٰوُتٍ ۗ فَا رْجِعِ الْبَصَرَ ۙ هَلْ تَرٰى مِنْ فُطُوْرٍ


allazii kholaqo sab'a samaawaating thibaaqoo, maa taroo fii kholqir-rohmaani ming tafaawut, farji'il-bashoro hal taroo ming futhuur


"yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat?"

__ADS_1


Sore ini Suna masih menjalani rutinitasnya bersandingan dengan Arif yang hari ini tidak masuk sekolah karena masih tidak merasa nyaman bila harus kembali bertemu dengan wajah-wajah polos dengan segudang tanya yang siap menginterogasinya.


"Rif, Makanlah ini".(Menyodorkan cemilan)


"Aku punya banyak".


"...".(Arif)


"Ini pun bukan semuanya".


"Kita makan bareng".


"Hhhh"


"...".(Arif)


"Huft...".


"Kamu dulu pernah bilang kalau setiap orang juga pernah melakukan kesalahan kan".(lesu)


Lirih Suna yang tak di tanggapi Oleh Arif yang masih belum mau bercerita atau hanya untuk sekedar menyantap makanan yang di bawakan Suna.


Krukkkk!!! Kriyuk!!!.


"Umm ini lumayan sih untuk mengganjal".Lirih Suna seraya membuat Sebuah cemilan Coklat di tanganya seolah sebuah emas berharga.


"Haih".


"Rugi kalau Kamu nggak nyobain ini".


"Kerena beberapa menit lagi bakal tinggal bungkusnya aja".


"Satu Kang".(Tersenyum Lesu)


"Nah... gitu donk!!".


"Dah kaya ngelakuin apa aja sampe murung gak jelas ginih".


"...".(Ngunyah)


"...".(Ngunyah)


"Kan Saat itu Aku membaca Al-Qur'an, dan seharusnya Kamu ke Asrama".


"Hem Maaf kang".


"Nih, masih banyak".


Menyodorkan Sekotak cemilan Pada Arif yang sudah di akhir kunyahan.


"Kan seharusnya waktu itu Kamu yang ada di Asrama kan".


"...".(Mengangguk+mengunyah)


"Tapi, si Salman bilang dirinya melihat Ku menyambanginya di kamar BAKAM, si anak-anak BAKAM yang pada usil ituh".


"...".(ngunyah)


"Tau gak di apain?"


"...".(menggeleng)


"Di setrum katanya".


"Kok bisa gituh?".(mengernyitkan dahi)


"Yah, nggak tau Aku bahkan itu bukan kata Salman aja, Al'akh Fattah pun bilang Aku juga menyambangi Asrama para Santri".


"Eh, kan Akang baca Al-Qur'an".


"Nah iya kan udah Aku bilang di awal".

__ADS_1


"Aku baca Al-qur'an".


"Hemmm, Jin mungkin kang".


DEG.


"Eh yang bener Kamu Rif".


"Aku kok jadi ngeri kalau mereka menyerupai Aku".


"Hemm".


"Mungkin Aku pun juga di pindahkan sama jin juga".


"Eh, Tapi kan Kamu di dalam Masjid".


"Ya, Aku juga tidur di tempat yang bukan seharusnya".


"Mungkin Aku ngeganggu mereka buat ibadah".


"Huft".


"Emmm".


"Astaghfirullah".


"Astaghfirullah".


"Eh kenapa?"


"Nih habiskan, habiskan sebenarnya Aku nggak terlalu suka Cemilan yang terlalu Manis".


"Makasih Kang".


"No problem, Kamu pucat banget dari kemaren".


...


"What...".(Luthfi)


"Ya kasus ini jarang terjadi, tapi sepertinya hal yang di timbulkan sama seperti yang selama ini Suna alami".(Salman)


"Hemmm".


"Dah ah, lagian ini hanya perkiraan ku saja".


"Sekalinya pacaran selalu putus meski pernah punya pasangan secantik Uti Putri".


"Tapi di Sukai sama Jin".


"Huft".


"Ya apalagi pengakuan beliau saat hilangnya si Arif".


"Beliau nggak ke Asrama, apalagi menyambangi kamar Kita".(Salman)


"Hem yang bener Kang, Saya pun ngeliat kok Si punggung lebar itu hendak Keluar setelah menyetrum Kita".


"Tapi, memangnya apa motif beliau menyetrum Kita menurut Kamu".


"Emm, Iseng mungkin karena kita memasang aliran listrik di gagang pintu".


"Tapi Pak tua itu terlalu tua untuk sekedar iseng".


"Hhhh".


"Entahlah, pusing Aku jika mengingat kejadian itu".


"...".


Lutfi yang mendengar kata-kata Salman hanya meneguk liur, karena dirinya pun sempat merasa aneh saat sosok yang dirinya lihat hendak pergi Suara lantunan bacaan Al-Qur'an juga terdengar seperti suara Suna,

__ADS_1


(Bahkan dalam keadaan tersetrum pun telingaku cukup jelas untuk mendengar suara Khas Beliau)(Luthfi)


__ADS_2