Aku Memilih Mu

Aku Memilih Mu
Istirahat


__ADS_3

"Mah, apa yang paling Mamah tunggu selama ini?".


"Mamah punya permintaan untuk Ku?".


"Mah, Mamah nggak pernah menuntut apa-apa padaKu?".


"Eh, Suna?".


"Mah, Mamah baik aja kan?".


"Mamah baik Suna".


"Kenapa?".


"Jika Mamah mau apapun, katakan pada Suna Segera".


"Suna akan menepatinya segera".


"Kamu kenapa Suna?".


"Kau... menyakiti AnakKu... anakKu harus mendekam di Penjara dengan kelumpuhan!!!!".


"Kamu tak akan Bahagia!!".


"Ingat itu... camkan!!!!".


"Ibu".


"Aaaaa aaahhh AnakKu... Anakku".


"Mamah... mamah".


"Mas, Tolong".


"I'iya".


"Maafkan Ibu Saya".(Segera memasuki Mobil).


(Aku hanya takut Mamah sedang menunggu Ku selama ini).


(Apakah perasaan Ibu itu Akan sangat persis seperti Mamah jika Aku membuatnya terlalu lama?).


(Huft).(Menaikkan Selimut menutup wajah).


...


"Alhamdulillah, tiga bulan lagih".


"Salwa?".(Herlambang).


"Emmm?".


"...".(Herlambang).


"Ish, Apalagih, lagi-lagi dia lakukan hal yang sama".


(Salwa, Aku percaya Air akan melubangi sebuah Batu, dan hatimu tidak sekeras itu).


(Tunggu saja, Aku akan berproses dengan sabar).


Salwa masih Optimis menjaga Diri untuk tidak jatuh pada siapapun yang hendak singgah di taman hatinya.


(Aku..., sudah menemukan jawaban dari do'a Ku di masa lalu".


"Aku, aku akan menyelesaikannya).


"Lam".


"Eh?".


"Kenapa?".


"Masih bertanya-tanya perasaanKu?".


"Ak..Ak".


"Jangan, jangan katakan itu jika hanya suatu hal menyakitkan".


DEG.


"Lakukan seperti selama ini aja Salwa".


"Kamu kan paling bisa menyimpan semua hal tentang diriMu".

__ADS_1


"Aku akan terus seperti ini".


"Dassar Kamuh".(Beranjak pergi).


"Salwa... !!".


"Aku tau Kamu juga punya rasa itu".


"Pliss jangan dekati Aku, Aku hanya tak ingin membuatMu terluka".


(Tapi Kamu melarang Ku mengatakannya)


(Aku akan berusaha Salwa, setidaknya sampai jelas siapa pendamping diriMu).


[Hari ini Willy Menikah]


"Aih, bahkan selama ini, Aku tak punya sesuatu untuk Ku tuliskan di Buku ini".


"Huft".


Tek tek tek (Pulpen).


"Salwa, Aku hanya menginginkan Kamu".


"Itu saja yang Aku tahu".


"Dan kali ini Aku benar-benar hampir menyerah".


...


"Mah, kunci Mobil?".


"Eh kemana?".


"Mmm, Suna mau nyari Suasana baru sedikit".


"O, iya kalau begitu Mamah nitip Buah Delima ya Naa".


"Mamah lupa membeli persediaan".


"Iya,".


Suna kini mengendarai Mobil Seorang diri menyusuri jalanan lengang, dengan tujuan yang belum pasti.


Karena Suna ingin beristirahat, menghentikan operasi Kafe dan memberi Waktu kepada Willy menikmati waktu bersama Indri, yang bahkan bukan tidak mungkin Willy akan menetap di rumah Indri dan menemaninnya dalam mengurus Usaha milik Indri.


Menyusuri jalan dengan payung dedaunan, dengan Sungai besar di tepi jalan, membuat Suna sedikit melupakan penatnya pikiran yang sedikit membebaninya.


"Telaga Sunyi?".


"Ibu".


"Permisi, benar ini arah menuju Telaga Sunyi?".


"Iya mas, masnya terus ikuti jalan ini".


"Nanti ada papan petunjuknya".


"O iya, Makasih Ibu".


"Yaa".


...


"Abi".


"Ana mau menikah segera".


"Mmm?".


"Lalu Mondok nya?".


"Emmm, Abi Saya Mau kembali ke Pondok Abi".


"Lalu..".


"Apakah Kamu sudah menentukan Siapa?".


"Sudah Bi".


("Salman".


"Kenalkan ini Ustadzah Fitri Ramadhani".

__ADS_1


"Mmmm".(Senyum).


"Put.. kita sedang tidak ingin menambah beban hidup, segera katakan yang ingin Kamu katakan, sebelum Ustadz Yusuf ataupun Ustadz Sofwan mendapati Kita bersama seperti ini.


"Sabar Suna, ini perihal pertemanan, selain itu ada yang ingin Ku sampaikan ke Kamu".


"...".(Suna).


"Kenapa sampai ke sini?".


Celetuk Salman seolah tidak menghiraukan Ustadzah Fitri sebagai salah satu pengajar.


"Al'akh, Ana... di pinta Abi belajar di sini".


"Selain itu... ".(Ustadzah Fitri).


"Saya juga sedang menjalani syarat untuk Ta'arufan, dengan mengabdi dan belajar mengajar di Pondok Ihya' ini".


"Ng?".


"Ta'arufan?".(Putri).


"..."


Fitri mengangguk seraya tersenyum.


"Selamat".(Salman).)


Salman kembali teringat dimana dirinya berlaga seperti tidak terjadi apa-apa di hadapan Ustadzah Fitri Ramadhani di kala dirinya mengabarkan ingin Menikah.


(Semoga Kamu bahagia)


"Bismillah Bi".


"Saya telah memiliki Calon pendamping diri Saya".


"Man.., Abi juga Sudah memilikinya".


"Calon untuk Kamu".


"Abi, Maafkan Saya jika saya lancang, tapi Abi, Salman juga menginginkan Dirinya, Bukan anak Kiayi Nuruddin".


"Abi, Saya berjanji tidak akan neko-neko, hanya dirinya yang Saya Mau".


"MasyaAllah, Ya sudah, Segera Kita lamar dirinya untuk Kamu".


"Maafkan Abi".


"A'abi nggak Salah, Keduanya sama-sama baik".


"Abi, Namanya...


"Salwa".


"Aku sudah mengajukan Diri untuk Ta'arufan".


"Di umurKu yang sudah begini".


"Banyak yang Aku khawatirkan, apalagi Mamah, Aku takut Mamah MenungguKu".


"Huft".


"Terkadang Aku hanya ingin beristirahat dari semua angan-angan tentang Kamu Sal".


"Tapi Aku juga belum siap melihatMu dengan yang lain".


"Makin Ku mengerti cara kerjanya, Aku bahkan tak pernah berani menghubungi diriMu, karena Aku mengerti dengan Jelas Kamu anak seorang Kiayi".


"Dan Aku hanya seseorang anak kemarin sore, yang berangan-angan mendapatkan diriMu".


"Karena Aku rasa Aku bukanlah Siapa-siapa di hadapan kalian, Hasan dan Pondok".


"Allah".


"Mimpi apa Aku, dengan lancang ingin mengajak Anak Kiayi menjalin Asmara".


"Huft".


"Kiayi, sekarang Aku tahu kenapa engkau inginkan Aku masuk Pondok".


"Agar Aku tahu kedudukan Ku ya kan!?".


"Aku sudah tau Kiayi".

__ADS_1


"Aku sudah tau".(Menitihkan air mata).


__ADS_2