
"Alhamdulillah, Kiayi".
"Emm, sebenarnya panggil saja saya "Mas" karena umur kita tidak begitu jauh, dan Kamu juga teman dari Adik Saya".
"Oohhh hh, Saya datang ke sini selain untuk bersilaturahmi, saya juga hendak menyampaikan niat lain Saya".
"Salwa".
"Saya ingin bersedekah".
"Mmm bagus".
"Kami harus kembali".
"Bentar-bentar, Aku mau bersedekah ma Kalian".
"Kalian belum makan kan?".
"Eh?".
(Sofi).
"Salwa, Kenapa?".
"Makanannya nggak enak yah?".
"Eh, enggak, enggak, enak kok".(Senyum).
"Emm, Kang memangnya Akang tau dari mana kalau Uti Salwa berada di Bazar?".
"Oh, itu".
"Kebetulan".
"Oooo".
"Eh, Sofi, tambah lagih, Minumnya kemana punya Kamu?".
"Eh, hhh iya nih menguap".
"Boleh Kang?".
"Boleh donk".
"Permisi!!!".
"Kang, Sebenarnya Ana(Saya), mau minta maaf, karena dulu sempat membuat Akang terjatuh".(Sofi).
"Eh, yang mana?".
"Ketika Kamu mengejar Ku".(Salwa).
"Oh, Itu, nggak apa-apa, Aku udah lupa lagian".(Suna).
"Sebenarnya, Saya malah bersyukur semenjak saat itu, Saya menjadi sadar, ada hal lain yang lebih penting dari sekedar mengetahui Salwa adalah pelanggan Misterius di Kafe Saya".
"Mmmm?".
"Hal lain yang lebih penting selain mengetahui Uti pelanggan di Kafe Akang?".
"Misterius?".
"Menarik".
"Apasih Sofi".(Salwa).
Ujar Salwa seraya mencubit lengan Sofi yang sedang begitu lahap melahap nasi ayam bakar malam itu.
("Kalau begitu, Saya pamit".
"Eh, nggak sekalian berbuka di sini?".
"Ah jangan Mas, Saya juga harus mampir ke suatu tempat di daerah sini".
"Ooo".
"Iya, ada kerabat dekat Saya di dekat sini".)
"Salwa".
"Ternyata Dia sainganKu".
"Hhhh".
"Emm Anda ini...".
"Saya Sahabat Salwa selama di Mesir".
"Kenalkan Saya Herlambang".
"Sofi".
__ADS_1
"Kalo anda?".
"Oh, Saya Suna, Suna Abdul Malik".
"Herlambang, Herlambang Ibnu Abdullah".
"Kalau di lihat-lihat, Kalian Sangat dekat ya".
"I'(Ya banget)".(Sofi).
"Kami baru kenal, karena sore tadi menjadi relawan di Bazar di Pasar deket sini".
"Kebetulan lapar, jadi mampir ke sini deh".
Ujar Suna memotong perkataan Sofi.
"Ooo".
"Gimana di Mesir?".
"Pastinya banyak banget tempat bersejarah yang sangat luar biasa ya".
"Iya, piramida, pemakaman Mummi".
"Kalau Saya lebih suka Suasana Kampus, karena di sana ada Salwa".
DEG
"Ooo".(Suna).
"Herlam".
"Apa sih Wawa".
"Aku kan sering ketemu Kamu kan, Kamu juga tau itu".
"Eh, Aku baru tau lo Kamu panggilannya Wawa, PonakanMu juga sangat lucu loh".
"Seberapa sering nih, Uti Ku ketemu anda ini?".
"Kamu, ini, Adiknya Salwa yah?".
"SetahuKu...?".
"Dia Adik kelas Ku semasa di Pondok".
"Ooo".
"Hhh".
"Kenapa?".(Sofi).
"Nggak Mirip yah?".
"Eh nggak Kok".
"Kamu juga seCantik Salwa".
"Eh, sebentar Aku harus ke Kamar kecil".
"Kalian terus aja" (Suna).
"Iya, Mas Udah di bayar semua sama temen Mas".
"Eh yang bener Mba, Temen Saya nggak ada yang beranjak dari tempat dari tadi loh?".
"Udah mas, udah di bayar".
"Yang bayar siapa donk?".
"Em, tadi seingat Saya seorang laki-laki Mas".
"Laki-laki?".
"Iya, itu yang duduk di sana Mas".(Menunjuk Herlambang).
"Ooo".
"O iya, jadi mau kemana setelah ini?".
"Biar Aku yang memberikan tumpangan".
"Eh, Kami sebenarnya sudah berencana menumpang dengan Akang Suna".
"Ya kan Uti, Uti udah sepakat kan sama Aku?".
Ujar Sofi sedikit memaksakan untuk menolak ajakan Herlambang.
"....".(Salwa).
"Emmm, Aku nggak yakin Salwa sudah memutuskan, lagian Hasan juga menginginkan Kita makan bersama di Pondok".
__ADS_1
"Apa?".(Suna).
"Iya, Saya sudah membicarakan beberapa hal kepada Beliau mengenai Niat baik Saya".
"Eh, eh, Uti ini Pacar Ana(Saya) selagi liburan, Dia baru pulang dan menginap di Rumah Ana(Saya), Kamu baru datang mau asal jemput aja".
"Ups Pacar?".(Herlambang terkejut).
"Nggak boleh, Kamu maupun Suna nggak boleh asal jemput".
"Ayo Uti, Kita pergi aja".(Menggandeng tangan).
Sofi tidak memperdulikan berpasang-pasang mata memperhatikannya setelah menegaskan Salwa sebagai Pacarnya.
"Uwhhh kok rasanya Aneh yah".(Sofi).
"Sofi... Kamu nih".
"Aku tau Uti juga bingung kan terjebak di antara Akang-akang hansem itu".
"Uti, ingat kata-kata Ku, setelah mengenal Akang Suna , Akang Salman dan yang lainnya, hampir semua orang hansem itu bermasalah".
"Trust Me".
"I'iya sih".
"Pokoknya Kita Pulang aja sendiri tanpa Mereka".
"Jalan?".
"Eh, ya, cari Angkutan Umum aja Uti".
"Jadi".
"Seberapa jauh kedekatan Kamu dengannya?".
"Aku yakin Kamu adalah seseorang yang sangat membekas di diri Salwa".
"Maksudnya?".
"Saya berusaha keras untuk mendekati Salwa, setiap bertemu selalu menyapa untuk sekedar bertukar Kabar".
"Tapi sikap dinginnya selalu sama".
"Anda ini Siapanya?".
"Saya bukan Siapa siapa, bahkan untuk Salwa".
"Saya hanya seorang Santri yang kebetulan menuntut ilmu di Pondoknya".
"Ooo masih Santri, Saya kira Ustadz nya".
"Ya ya ya, bagus deh".
"Jadi nggak ada yang perlu di khawatirkan".
"Masuk akal jika Salwa bisa dengan lepas tersenyum dan tertawa bersama kalian".
"...".(Suna).
"Memangnya apa yang membuat Anda ini datang mencari Salwa dari jauh?".
"Oh enggak, nggak, nggak jauh, malaysia banyuwangi nggak akan terasa jauh buat Cinta yang Saya miliki".
DEG
"Oooo".
"Mau Ku beri tahu satu hal?".
"Oo tentu nggak, Saya sudah jelas ingin Menikahi Salwa, Saya juga sudah menemui Kakaknya karena baru Saya tau bahwa Salwa sudah tidak lagi memiliki Orang tua".
"Akan Saya pastikan tidak akan berAkhir seperti pemuda Yang Mas ceritakan".
"Selain itu, Salwa juga jelas mengetahui kebenaran Rasa yang Saya Miliki".
"Jadi Mas jangan Khawatir, dan Mas nggak akan menyesal mendukung Saya sebagai Kandidat pendamping Salwa".
"Hhhh".
"Baik lah".(Suna).
"Waduh, Uti... kok dari tadi nggak ada Angkutan Umum yang lewat".
"Hemmm".
"Mana Tarawih sebentar lagih".(Cemas).
"Apa sebaiknya Kita cari Masjid atau Musholah dulu Sof?".
"Emm iya Uti".
__ADS_1