
Pagi ini suasana Kafe sedikit senggang, hanya terlihat beberapa orang saja yang menyambangi.
Willy serta mang tris masih hilir mudik membersihkan sisa-sisa makanan di atas meja.
"Wah, panas nya ..,"
"Tante, kita langsung masuk dengan mobil kali' ya tan?".
"Mmm .., mending parkir di depan Kafe aja put, soalnya takut nggak ada tempat parkir di dalam".
"ia Tante"
Di sisi lain Willy yang memperhatikan gerak-gerik Putri semenjak kemarin merasa bingung karena sebetulnya dirinya sudah lama putus dengan Suna, tapi malah sekarang akrab dengan ibunya.
"Mas'e ono opo to mas? ngelamuni opo?"
"Eh.., hhh nggak, itu kayaknya Putri sama ibu' mo nengokin Suna".
"Emm.., namanya yo usaha mas., hehe jodoh gak jodoh belakangan" celetuk mas Tris yang belakangan ini tahu perihal Suna dan Putri sebenarnya sudah putus.
willy pun sebenarnya tidak tahu pasti, hal itu bagus ataukah tidak, namun melihat ekspresi Tante Sumi seolah Putri memang sudah lama dekat dengannya.
"Assalamu'alaikum..,".
"bang ., kopi hitamnya satu sama Tela nya satu".
"Ok bang di tunggu".
ujar mas Tris pada seorang pemuda yang mengenakan jaket hitam serta kacamata hitam, terlihat sedikit mencurigakan, karena tak terlihat seperti orang sekitar, namun tak membawa kendaraan.
Di lain sisi, dengan pergerakan Pondok yang begitu dinamis, kali ini hanya terlihat beberapa orang yang masih terlihat santai di saat hilir mudiknya Santri yang akan memasuki kelas, serta tak jarang terlihat beberapa Santri senior yang juga akan bersiap untuk pergi ke Kampus untuk Kuliah. tak terkecuali KH. Nuruddin terlihat sedang akan memulai Inspeksi ke setiap sisi Pondok.
"Suna.., tolong kamu sirami bunga-bunga yang ada pagi ini hampir semua Santri sibuk dengan sekolah, termasuk anak-anak kuliahnya".
Suna yang tadinya duduk di tangga utama langsung menghampiri KH. Nuruddin dan menyanggupi permintaan sang kiayi, sedang KH. nuruddin melanjutkan langkahnya dengan tasbih di tangan, berlalu menuju ke arah peternakan sapi.
"Wah, aku lupa menanyakan harus mulai dari mana"
Setelah beberapa saat suna memutuskan untuk menyiram tanaman di mulai dari halaman rumah KH. Nuruddin.
"Assalamualaikum kang, kang suna lihat Kiayi?"
ujar Fattah setelah sedikit mengatur nafas karena berlari.
"Mmm, tadi sih di sini, terus beliau pergi ke arah Kandang".
"Gawat, aku terlambat".
(kebingungan dengan sesekali melihat jam)
"Memangnya ada apa Fattah?"
"Krek!!!!"
ustadzah Khumai secara tiba-tiba muncul dengan beberapa buah buku di tangan, lengkap dengan style mengajar dengan perpaduan hijab abu-abu dan gamis yang juga di dominasi oleh warna abu-abu dan warna cream.
Dengan kemunculannya, tak terkecuali fattah pun sempat merasakan takjub apalagi suna yang sejak tadi tak terasa memegang keran yang masih menyala, menyebabkan air meluap dari pot bunga yang sedang ia siram.
"Astaghfirullah".
hampir bersamaan Suna dan Fattah beristighfar yang membuat mereka saling melempar tatapan curiga.
"Ekhm.., ini semua nggak seperti pikiran akang".
"Ng, berarti kamu suka, tadinya aku cuma berfikir semua bakam taat aturan".
"Eh.., bukan buk kan ah, yah sudah, apa gunanya juga menjelaskan, dah lah saya pamit".
"Ya.., ".(Suna yang segera fokus untuk menyelesaikan tugas)
"Hmmm, kelihatanya pemilik Kafe itu beradaptasi dengan cepat ya, tak ku sangka ia akan menyiram tanaman, yang begitu banyak".
"Dah ah, lebih baik kita bergegas"
ujar Salwa menanggapi perkataan Zahira yang sempat melihat Suna dari kejauhan.
"Hehe Alhamdulillah, ternyata tak seperti bayanganku dia tak menitip-nitip salam atau apalah itu untuk Salwa".
"Biasanya Fattah bla-bla-bla... . kalau ingat kejadian itu(kala Suna bermimpi di masjid) memang dia adalah Santri terbucin yang baru akk(u temui)"
__ADS_1
Fattah terkejut setelah ia membicarakan Suna di depan depan gerbang masuk tiba-tiba gerbang yang baru akan ia raih malah terbuka lebih dahulu oleh orang dari luar.
"Assalammualaikum.., eh. kamu.., Sunanya ada?"
(putri yang memakai pakaian yang sedikit terbuka karena rok pendeknya, sedikit bersemangat setelah berpapasan dengan Fattah.
"Astaghfirullah, eh ia anu... , kang Sunna bersama Sal.. eh maksud saya sedang menyiram bunga".
ujar Fattah yang merasakan gugup seketika dengan dandanan putri yang tidak sepatutnya untuk mengunjungi tempat kehidupan Santri Putra.
"Hmm..., kamu kayanya salah kostum put". sampai-sampai pemuda itu terkejut. (khawatir)
"Tante, kan Putri dah bilang Putri harus cantik hari ini, kan mau ketemu Suna".
"Ehh, ia, ya udah kita masuk aja".(Tante sumi)
"What dia dateng ke Pesantren dengan gaya seperti itu?"
"Lihatlah dan bukalah mata hatimu.., sesosok makhluk alam baka yang berbuat dosa!!". (Zahira menyanyikan beberapa patah lirik soundtrack orang pinggiran)
"Eh.., ra.., ini bukk bukkan seperti yang kamu pikirkan".
"Yang ada di pikiranku adalah seorang BAKAM yang selalu menaati kata-kata Kiayi".(Zahira)
"Eh ., ra...!!
(mengejar)
"Em.., ra' kopi. (Salwa)
"Mengangguk"(zahira)
"Ra..,. swear.., itu tadi nggak seperti yang kamu pikirkan".(Fattah menghampiri Zahira dan salwa yang berdiri di dekat loket Kafe Kita)
"Wah, ini sepertinya ada yang sedang ingin memesan sesuatu!?" ujar ang Tris yang sedikit merasa terganggu karena suara Fattah.
"Mmm..,, kak will..?!(Zahira)
"Hey-hey hey.., kedengarannya ada yang mencari ku!?"(membawa nampan)
sedang Fattah yang mendengar Zahira mencari willy hanya membuka laptop dengan raut wajah kesal.
(Willy melirik salwa)
"Ng? ak... akku? ken kenapa?
(Salwa bingung)
....
Sementara itu di dalam Pondok , Suna yang mengetahui kehadiran ibunya sangat bahagia, dan menghampiri Sumi.
"Loh..., mamah kok? kek kesini?".
"Ih ia donk, mama kan kangen, kebetulan putri juga gitu, jadi mama putuskan njengukin kamu sama-sama Putri, ya kan Putt?..".
Putri hanya tersenyum.
"Ng.. , ya udah, kan udah ketemu mah, mamah pulang aja lagih, Suna baik aja kok di sini".
"Eh..., eh eh, kok gituh?
"Mah.., Suna di sini mau belajar, lagian belum lama juga suna masuk,".
"Hem.., tapi kamu sehat kan.., kamu makan teratur?".
"Mmm.., mamah, aku dah bukan anak kecil lagih, dah lulus Kuliah malu ih....".
"Uluh uluh.., anak mamah dah dewasa yah...".
"Aebenarnya mamah, itu ke sini juga ingin nemuin kamu sama putri.., Putri kasihan loh.., kangen ba..nget sama kamu".(Putri tersipu malu)".
"Kang sun....!!! kang Suna, ituh .., ituh, di cariin Ustadzah Khumai..." (Arif berlarian terburu-buru)
"Kenapa? kenapa sama Ustadzah Khumai?"
"Itu.., air.., air.., keran air di depan rumah Kiayi nggak nggak bisa di matiin, aku.. hhh aku mau masuk kelas dulu soalnya aku tadi izin ke belakang trus di panggil Ustadzah Khumai...,".
Arif langsung berlari meninggalkan Suna berserta ibunya dan Putri, yang di susul Suna dan di iringi kedua wanita yang sekarang beraut wajah penasaran akan sosok yang memanggil Suna.
__ADS_1
"Akang.., itu.., airnya kenapa bisa begitu.., nanti di marah abi, mubadzir air..," ujar Ustadzah Khumai dengan suara lembutnya lalu dengan cepat memasuki rumah setelah mengucapkan beberapa patah kata saja, sedangkan Suna bergegas mengatasi keran yang copot karena terseret olehnya sebelumnya.
....
"Apa?? dia masih berhubungan dengan cewe ituh?".
ujar Salwa kelepasan, stelah mendengar penjelasan Willy.
"Ups".
"iya, sepertinya putri juga masih ada hati dengan Suna jadi, ia bisa menjenguknya ke sana(Pondok)".
"Wah..., bisa-bisanya dia memanfaatkan posisi itu, lalu mendekati kakakku?" Ujar Salwa yang menjadi naik pitam mendengar Suna mendekati kakaknya.
"Eh..., maksudnya mendekati kakakk ooo si princess Pondok yah.... wah.., suna parah. bisa-bisanya dia..".
"Hadeh... susah memang kalau orang udah kebiasaan pacaran, liat yang lebih cantik saja langsung kepincut".(apakah benar ia berusaha mendekati ustadzah khumai?)
Fattah kembali di buat pusing oleh perkara Suna yang kini seolah-olah menginginkan Ustadzah Khumai, padahal Salwa begitu menyukainya.
"Ada baiknya kamu pastikan apakah Suna benar-benar seperti itu, kalau menurutku keterangan dari dirinyalah yang paling bisa di pertanggung jawabkan hehe".
ujar Willy menyarankan Salwa.
"Bang.., ini uangnya., meja 8".(menyodorkan uang 50k)
seraya meninggalkan Kafe Kita)
"Eh.., ia nomer del.. 25 k eh..., malah pergi".
(kang Tris menjadi bingung karena sosok yang barusan ia temui begitu mencurigakan).
Kenapa bang?(fokus ke laptop)
"Itu.., orang belanja cuma setengah dari uang yang di kasih, eh malah pergi".
"Ng..,? aneh, hhh mungkin dah kebanyakan uang bang, besok juga balik lagi dan nanyain".
"(.......)"(kang Tris)
"Apa yang harus kita perbuat ra?"
"Ng? memangnya kenapa wa?".
"Ia si pemilik Kafe itu lo...h mengincar kakakku, padahal masih berhubungan dengan cewek sebelumnya".
"Jadi?"(Zahira)
"Ya kan itu pasti merugikan kakakku ra.., gimana sih kamu". ujar Salwa yang sebenarnya menginginkan Suna.
"Yah udah lah, biarin aja hhh kalau benar ia menginginkan kakakmu, aku pikir ia nggak bakalan lama di alam baka sana(asrama Putra)".
(...) Salwa membayangkan apabila Suna di keluarkan dari pondok, karena rumor yang belum bisa di pertanggung jawabkan ini.
apalagi Fattah pun mengetahui perbincangan mereka tentang Suna.
Di sisi lain kepala Fattah seolah ingin pecah kala mengetahui gerak-gerik Suna yang hampir melewati batas, di tambah lagi dengan anak baru yang kedapatan absen di daftar hadir, bahkan di awal-awal belajarnya di Pondok KH. Nuruddin, apalagi ia mengetahui anak itu adalah anak sahabat dekatnya KH.Nuruddin, yang konon Hafidz alqur'an.
"Tidak-tidak, aku harus nemuin dia terlebih dahulu untuk memastikannya".(tapi kalau sampai sore ia tidak di ketemukan juga oleh jajaran BAKAM yang sudah di tugaskan Fattah mencari maka ia berniat langsung melaporkanya pada KH. Nuruddin.
Hampir di sepanjang jalan Fattah tak henti memikirkan berbagai macam masalah yang berkaitan dengan Pondok, bahkan sahabat hingga Santri.
....
TAP!!! TAP!!! Salman melompat-lompat di tembok bagian belakang gedung santiniketan. ia harus sangat berhati-hati karena kini beberapa BAKAM terlihat berpatroli di sekitar gedung bahkan lapangan Silat serta di kamar kecil.
"Ok dua menit lagih ., dua menit lagih bell istirahat berbunyi, ujar Salman yang sudah tak tahan menunggu salah seorang bakam di bawah tembok yang ia hinggapi pergi".
"Yup, dia pergi , ok kali ini tinggal Finishing hanya dengan satu loncatan lagi saja aku bisa mengakhiri ini semua"(lirih Salman yang akan berencana meraih pagar pembatas lantai dua)".
GLUDAK!!!! tiba-tiba salman yang sebenarnya tidak lagi bersekolah di jenjang SMA muncul di balik kerumunan yang menuju tangga turun, dengan bersikap seolah tak terjadi apa-apa Salman pun berjalan di belakang kerumunan.
"Sepertinya aku harus sering-sering di sini nih untuk memantau situasi, setidaknya membantu anak-anak BAKAM".
Mendengar kata-kata tersebut Salman menghentikan langkahnya, yang masih menenteng jaket hitam, sebenarnya ia sudah melewati tahap finishing, dengan pakaian kaos putih dan celana abu-abu khas SMA.
"Lalu apa yang kamu mau?"(kalau memang hal ini yang akan membuatku di keluarkan, aku tak keberatan, sebelum aku terlalu lama di sini)
.....
__ADS_1