
"Mah.., aku sudah memutuskan" (menutup telephone)
"Putri alangkah baiknya jikalau kamu mendapatkan restu ibumu sebelum menentukan semuanya, pergi ke sana(pondok)bukan hal sepele bukan sebulan dua bulan Put..!".
lirih Paman putri menasehatinya dengan semua pertimbangan dari semua pencapaian yang telah ia peroleh, dari butik, sarjana, serta umur yang seharusnya sudah memikirkan pasangan hidup.
"Om.., aku sudah pikirkan semuanya jaaauh dari sebelum om berbicara seperti ini, aku punya impian om ada sisi lain yang kosong dari semua hal yang ku peroleh selama ini".
"Lalu?".
"Ya aku ingin mencarinya..,".
Putri menegaskan kata-katanya yang ingin meyakinkan om maupun dirinya untuk kesekian kalinya bahwa ia benar-benar harus tabah mengambil rencana perjalanan jauh hingga kini ia di bantu mengenakan hijab oleh tantenya.
"Put .., apa mesti masuk ke sana untuk kamu mengisi sisi kosong yang ada pada diri kamu?".
"Ia tan.. aku mendapati ketenangan yang terpancar dari setiap orang yang menimba Ilmu di sana".
"Tapi... ada banyak hal yang hari ini yang perlu kamu pikirkan matang-matang...,".
"Sudah Tante sudah... aku sudah memikirkannya sudah..".(merapihkan lipatan-lipatan hijab yang ia kenakan)
"Bukankah... menikah dengan seseorang yang alumni dari Pondok juga bisa jadi alternative Put?".
(....)
Putri terdiam dan meletakkan kedua tangannya yang sedari tadi sibuk di atas meja rias,, kini ia benar-benar terdiam karena ia kini merasa berangkat dari rumah menuju Pondok sangat sulit.
"Umm ummi'..,(menitihkan air mata)
"Jaga diri Salwa ya nak, untuk saat ini kamu fokuskan saja untuk menghafal di sini ummi akan menjenguk satu bulan sekali bersama abi".
"Ummi' Salwa kangen sama kak khumai"..
"Mmm ia nanti kalau kak khumai punya waktu ummi mintakan kakakmu menengok kamu di sini ya nak ya...".
"Salwa.., abi ingin kamu benar-benar mempelajari Al-Qur'an selain itu kamu akan memperoleh banyak ketenangan-ketenangan bersamanya.(mengelus hijab Salwa)
jaga dirimu ya nak"..
"Ustadzah... kami menitipkan anak kami selama di sini mohon bantuannya ujar Ibu Salwa menyerahkan anaknya untuk yang terakhir kali, kala dirinya dan Kiayi Nuruddin sudah harus kembali bertolak menuju Pondok Ihya".
"Uti... kenapa murung seperti ini? tidak biasanya, kita main Badminton yuk!" (menarik tangan)
"Ng... uti .. aku sedang tidak ingin melakukan banyak hal.., aku sedang ingin sendiri". (menarik tangan an kembali memeluk bantal kesayangan)
Hati Sofi masih tergoncang ketika dirinya merasakan kesepian seperti saat pertama kali menginjakkan kakinya di Pondok ini, kini ia teringat beberapa momen kala dirinya bersama Salwa.
"Mmm.. afwan(maaf). uti .. rotinya boleh nggak untuk kami dua, kami sedang tidak ingin makan di Dapur".
"Maaf banget uti... aku beli ini semua juga buat temenku juga, ia lagi di luar nunggu, maaf banget ya.. dia suka banget roti ini".(ujar Salwa mempertahankan roti terakhir yang sudah ia peroleh)
.....
"Nih... Sof aku dah beliin, kamu nggak kepengen gitu coba nasi pondok , sampai setiap hari kita selalu beli roti ginian".
"Hehe aku di rumah juga jarang makan nasi Uti ..,".
"Jarang bukan berarti nggak pernah kan...
__ADS_1
pokoknya suatu saat kita harus coba makan di dapur,
kasihan orang tua kamu menambah uang pengeluaran untuk roti-roti ini setiap hari".
"Dulu di sekolahku sebelumnya aku sering mentraktir geng uti, kalau untuk sekedar roti ini nggak apa-apa deh
hehe toh aku nggak kurus. dan sehat".
"Ng.. kamu mentraktir suka rela(kunyahan Sofi melambat)
kamu bergantian mentraktir geng kamu, (Sofi menggeleng)
kamu selalu bersama mereka?".
"Ia uti.., kita selalu ngelakuin banyak hal... main.., jalan-jalan, nonton film...di bioskop.".
"Pakai uang kamu?".(Sofi mengangguk)
"Tapi nggak selalu..,".
"Mmmm Sof.. ada baiknya kamu memanfaatkan masa-masa mudah mu, masa masa kepunyaan kamu, karna masa-masa sulit kadang datang tidak beri aba-aba, terlebih untuk berteman sepertinya uang bukan hal baik untuk menjadi alasan pertemanan".
"Ia Uti"(menggigit roti)
....
"Nah... ini dia, menu kita pagi ini nasi putih dengan sayur sop dan tempe plus dengan kerupuknya.".
ujar Salwa meletakkan dua buah piring dengan nasi serta lauk pauk di pagi hari sebelum memulai kegiatan.
"Uti... , ini tempenya sudah matang?"(Sofi dengan raut wajah yang ragu)
"Uti.. aku merasa ada banyak kemiripan dari Tempe ini dengan penghapus di Kelas kuh". ( membolak-balikkan potongan tempe miliknya yang masih utuh, sebesar penghapus kayu)
"Psst... !!! bersyukur... bersyukur ,.. di luar sana mungkin ada banyak orang yang bahkan tidak bisa menikmati makanan sepagi ini, ini...' ambil kerupuk ku..,!!".
"Eh... uti Salwa... wah... lama nggak keliatan di Dapur... ini aku punya Sambal Sachet yang ku beli dari koperasi tadi."..(memotong dan meletakkan di atas meja)
"Eh.. ?".
"Eggak apa uti...' santai... ".
"Wah makasih Dev...".
lirih Salwa berterimakasih atas pemberian teman yang bernama Devi dari kelas akhir SMA dalam(Pondok)
"Ng?? Uti... !! "
"Nggak apa... akan lebih enak loh, aku juga lupa bagian terpenting sebelum ke sini. aku terlalu bersemangat mengajakmu menginjakkan kaki di Dapur, jadi lupa membelinya.(menumpahkan Sambal Sachet pemberian teman pada piring Sofi)
....
"Ya allah, uti Salwa... aku mau makan di dapur lagi... khuk khuk hix hix... "lirih Sofi berderai air mata.
...
"Ooo gitu ya Ustadzah .."
"Ia lain kali jangan terlalu banyak mengonsumsi sambel jika belum terbiasa , nanti bisa seperti ini jadinya, tapi jangan khawatir Salwa, ini hanya bentuk adaptasi tubuh mereaksi pada makanan yang tidak pernah di konsumsi sebelumnya, nanti kalau sudah sering, akan terbiasa kok".
__ADS_1
"Hmmm ia, Ustadzah, ini pertama kalinya Sofi mencicipi hidangan Dapur jadi saya takut sekali".(menggigit bibir)
"Santai Uti... aku fine kok, cuma perutku saat di kelas tadi pagi rasanya tidak nyaman, jadi aku putuskan untuk menuju bagian kesehatan".
ujar Sofi yang merasa sudah sedikit baikan dengan sekaleng susu yang di belikan oleh Salwa.
....
.
"Uti... aku kangen hh'hix ukhuk ukhuk... ".
(lirih sofi makin memeluk erat bantal di depan lemarinya)
....
"Alhamdulillah, nak Putri sudah memantapkan pilihan, jadi ini... ayah..ib(U)?"
"Mmm saya paman nya putri dan ini istri saya, ibu.
kami mewakili orang tua Putri untuk mengantarkannya ke sini, karena orang tuanya yang jauh di Ibu Kota.".
"Aaa... begini...(Kiayi nuruddin)
"Ia kami sangat mengapresiasi keputusan nak Putri, jadi karena orang tua yang jauh di wakil kan oleh Paman dan Bibi untuk memulai langkah menimba ilmu di sini".
(lirih ibu Nuruddin mendahului kata-kata suaminya)
"Aaa ia , Ibu.. saya ingin sekali menimba ilmu di sini...,". ujar Putri yang sejak pertama bertemu dengan ibu kiayi merasakan sejuknya pribadi beliau yang menganggap dirinya layaknya seorang anak.
"Alhamdulillah, kalau begitu... kami pamit Pak Kiayi , kami memasrahkan Putri pada kiayi dan jajaran guru, di Pondok
kami pamit undur diri".
"Ia, hati-hati di jalan.".
"Wah... Santriwati baru santriwati baru...".
lirih beberapa santri SMA yang kebetulan melintas di sekitar masjid tak jauh dari rumah Kiayi, memandangi Santriwati yang secantik Ustadzah Khumai.
"Hemmm zina mata..!".. (Ustadz Ridwan bagian penegak disiplin)
"Astaghfirullah!!"...(santri SMA yang mendengar suara tegas Ustadz Ridwan)
"Push-up Push-up kalian ini malah memanfaatkan kesempatan untuk hal-hal yang buruk. satu turun dua naik satu...!".
"Hehe lucu ya.. kalau melihat mereka-mereka yang masih sma tapi bisa sangat nurut seperti itu..,".
ujar salman yang masih dengan tangan yang berbalut perban.
"By The Way, mereka melihat apa ya , sampai di Push-up seperti itu?". ujar suna dengan melangkahkan kaki sedikit lebih cepat menuju tangga utama masjid dari serambi kanan.
"MasyaAllah, hhh
pantas saja."..
lirih Salman setelah mengetahui sesosok Santriwati yang masih membawa tas ransel berada di rumah Kiayi Nuruddin.
"sepertinya mirip Putri".(lirih Suna)
__ADS_1
"ia Putri.." (Salman tersenyum)