
Kembali Salwa tenggelam dalam kenangan-kenangan kala ia mengamati Suna sedari kejauhan, ada sebuah perasaan yang dari hari ke hari semakin tumbuh dan berbunga hingga rimbunnya.
"Mungkin hanya aku yang pernah merasakannya kala mengagumimu dari tempat ku yang jauh berdiri, mendoakan mu menemui jalan padaku, meski aku tak berdaya mengutarakan rasa walau kau di depan mata".
"Lain kali hati-hati berjalan di Jalan Raya, banyak kendaraan yang melintas"., (mengecek sebuah buku harian sesaat setelah menolong anak sekolah yang kala itu masih sangat belia dan membawa beberapa peralatan yang banyak di tangannya)
....
"Oi... kang Suna.... apa perlu kita membawa mereka ini ke pondok? aku sudah tak tahan... kalian begitu berat !!!"
ujar Salman merengek kehabisan tenaga.
"Mmm aku ingin membawa mereka pada Kiayi untuk menebus perbuatan mereka!!!".
suna menimpali Salman yang mendorong mobil tua Pondok berisikan tiga orang terlungkup, terikat dengan di tutupi terpal sedangkan Salwa di letakan Suna di atas mereka, setelah berdebat sengit dengan Salman.
....
"Ok... kamu urus si badan besar, ikat!!' dan aku akan mengurus dua ikan terinya". ,lirih Salman setelah hampir semua tubuhnya mengalami berbagai macam luka meski akhirnya dapat mempertahankan diri menghadapi kedua preman berbadan kerempeng tersebut.
Suna yang juga mengalami luka parah di perutnya serta bibir yang pecah terkena pukulan-pukulan si badan besar pun akhirnya memenangkan pertarungan sengit yang beberapa saat yang lalu terjadi.
"Suna....!!! gak usah kelamaan belajar, habisi saja duluan!!".
ujar salman yang sudah melumpuhkan salah satu preman,
"Cih!! sial.. aku tidak sedang belajar, kalau aku mampu melumpuhkannya lebih awal, pasti sudah ku lakukan".
lirih Suna yang beberapa detik yang lalu di hempas pada sebuah meja hingga menimbulkan sesak di dadanya.
Hingga pada satu kesempatan si penculik berbadan besar tersebut membuat kesalahan dengan memalingkan pandang dari Suna, dan dengan meluncurkan pukulan tepat pada pipi kiri si penculik, hingga tiga kali berturut-turut sampai akhirnya penculik tersebut tumbang.
"Hosh!! hosh!! hosh...".(meninggalkan si badan besar dan menghampiri Salwa yang masih tak sadarkan diri dengan rona lebam di pipi seolah telah di pukul dengan kasarnya)
tanpa ia sadari si badan besar mulai bangkit dan berniat menghantam kepala suna dengan sebuah kayu besar.
"HuaAAA!!!!.... BRUK!!! klutak..."
Secara tiba-tiba Salman melumpuhkan si badan besar dengan terbang seraya melancarkan pukulan tepat pada pangkal rahang si badan besar hingga benar-benar tersungkur dan mengeluarkan suara aneh.tubuh yang sudah terhantam kayu oleh si besar bahkan tangan yang sedikit merasakan nyeri karena menghantam rahang keras si preman besar, pada akhirnya kini salman terduduk lesu.
"Huah .... brugh..."
"la..lain kali hhhh jangan beri kesempatan apapun untuk musuh.., hosh!!! hosh!!!".
Suna yang tak bisa berkata apa-apa karena bibir yang sudah pecah hanya menggerakkan tubuhnya dengan sisa tenaga yang ada untuk melepas ikatan mulut Salwa dan menggendongnya setelah melepaskan ikatan pada tangan dan kakinya.
"Ok... jadi... Salwa di dalam bersamamu? sedangkan aku di belakang?".(ujar Salman bertanya dengan nada sedikit aneh dengan terus memegangi lengan kirinya)
"Mmm... ia, memangnya kenapa?" tanya Suna dengan sedikit menahan gerak rahangnya.
Salman yang tidak begitu sulit berbicara, berkata panjang lebar bahwa dirinya tidak ingin salah satu di antara mereka terlibat zina, meski dalam keadaan genting seperti yang mereka alami saat ini.
Akhirnya setelah penolakan yang di lakukan Suna terpatahkan lalu mereka berdua sepakat menaruh Salwa di belakang tepat di atas orang-orang yang teler tak sadarkan diri setelah di hajar Salman dan Suna habis-habisan.
Setelah beberapa saat mereka melaju mobil terasa seperti kembali kehabisan bahan bakar karena tak mempunyai bahan bakar yang banyak, di awal mendorong Salman sedikit memaksakan dirinya yang sebenarnya hanya sedikit lebih beruntung tidak memiliki luka di wajah, selebihnya sama dengan Suna seluruh tubuh sudah memiliki bekas lebam yang masih hangat baru menghinggapi tubuhnya.
"Ayo Man...!! sedikit lagi..,!! ujar Suna menoleh di jendela mendapati Salman tergeletak dengan lemahnya.
"Huft..., tubuhku sudah sampai pada batasnya..,(terlelap setelah memejamkan mata)
"Man... man... !! sadar man... !! ayo kita pulang man... man...
man., ujar suna menepuk pipi salman dengan nada sedikit takut dan khawatir melihat Halman bernafas namun mengalami Halusinasi , di tengah jalan sepi dan larut malam.
"Ya Allah.., bagaimana ini... , man.. sadar Man... bentar lagi kita pulang man... man... ya allah tolong hamba ya allah."
__ADS_1
(hamba tak ingin kehilangan teman hamba ya allah ya allah tolong ya allah tolong hamba mu ini ya allah)
"Ssunna.. sunna" lirih Salwa hingga tersadar dan membuatnya sempat bertanya tanya apa yang sudah terjadi mendapati dirinya di atas terpal yang baru ia ketahui bahwa di baliknya adalah orang-orang yang sudah menculik lalu menyekapnya sedari pagi. Suna yang menyadari bahwa Salwa tersadar dengan cepat menghampirinya.
"Sssal.. kkkamu nggak papa?". suna yang hendak memastikan keadaan Salwa dengan mendekatkan kedua tanyanya pada wajahnya namun karena Salwa menduduki seseorang yang secara tiba-tiba bergerak membuat Salwa sedikit terguncang dan menyadarkan Suna bahwa Salman masih tergeletak dan membutuhkan penanganan serius.
"Ok sal..., temenku tak sadarkan diri aku minta tolong agar kamu kemudikan mobil ini...".
"Gg gimana caranya aku ngga ngerti" ujar Salwa dengan terburu-buru dimasukkan Suna pada tempat kemudi setelah menggendongnya turun dari bak belakang.
Salwa yang. sedikit merasakan shock kini makin di buat campur aduk karena di gendong secara paksa oleh Suna meski awalnya sedikit ada rasa penolakan yang besar kini ia hanya tersipu dan merasakan debaran yang kuat di dadanya.
"Sal... jangan terlalu ke tengah...!!!"
Bahkan ia hanya diam membisu di waktu ia mempunyai alasan menanyai keadaan Suna dan kesempatan berbicara secara langsung dengan suna yang kini mendorong mobil yang salman berada di dalamnya bersama salwa.
"Ya allah... berilah kekuatan pada temanku Salman ya allah, berikanlah kekuatan sedikit lagi berilah ia kekuatan sedikit lagi ya allah . hosh.... hosh..". lirih Suna di saat ia tengah berjuang dalam penatnya mendorong mobil yang kini melaju sedikit kencang hingga dirinya tertinggal.
....
"Uti Salwa di mana sih, hemm nggak biasanya sedari pagi tak terlihat setelah pergi ke kampus,, aku seharian nggak ada temen, buat makan".
"huft... mana aku sudah membeli semuanya seperti biasa".
ujar Sofi berkeluh kesah dengan berbagai macam roti, snack dan dua minuman ringan yang biasa di beli bergantian antara dirinya dan Salwa.
Berbeda dengan suasana di luar pondok di dalam Pondok masih terasa tentram tak terjadi apa-apa hanya sebagian Santri saja yang merasakan beberapa kekosongan terjadi karena beberapa teman mereka tak berada di Pondok, khususnya bagi mereka yang mempunyai teman seorang BAKAM.sedang kini tugas-tugas yang seharusnya di lakukan BAKAM pondok di gantikan para kader yang berjumlah sama dengan BAKAM utama itu sendiri.
Terlihat beberapa Santri yang biasa berkumpul di tangga masjid hanya menyisakan hasanuddin dan Arif , karena Suna dan Salman masih melakukan pencarian salwa bahkan sampai lewat waktu shalat isya seperti saat ini.
"Akang Suna sama Akang Salman kira-kira selamat nggak yah",
"Kamu nih Rif... do'akan saja mereka yang baik-baik toh.. mereka hanya mengikuti arahan Kiayi untuk membeli ayam potong" , itu saja.".
"Talpp.."
ujar Kiayi Nuruddin yang sedikit menitihkan air mata di balik wajah tegas dan putaran tasbih di tangan kananya.
"Na'am.. Kiayi, segera akan kami jemput seperti perintah Kiayi".
ujar hasanuddin setelah mencium tangan kiayi nuruddin.
"Suna... jangan terlalu cepat... aku takut .. !!!" ujar Salwa seraya merengek karena sudah mengalami banyak hal sepanjang hari ini.
"Hhhh kalian harus sampai segera sal... ukhuk-ukhuk..". lirih Suna yang sudah tidak mempunyai tenaga terkapar di tengah-tengah jalan yang gelap tanpa penerangan.
"Suna... Suna...!!"
....
Kang..., mau kemana ? sudah larut begini?
"Mmmm menurutmu apa , para akang-akang BAKAM saja belum kembali.., kami ingin mencari kang suna dan kang salman, ini perintah Kiayi!!".
ujar arif yang membuat suasana keruh seketika karena membuat seorang kader bakam yang sedang bertugas menjaga gerbang hingga subuh menjelang itu, sedikit menguatkan tumpuan bersiap jika kedua orang di depan nya itu berontak dan membuat perlawanan.
"Mmmm kami benar di minta kiayi untuk mencari akang Suna dan akang Salman , tolong bukakan gerbangnya".
"Mmmm tapi kang.. kami pun sangat mengerti bahwa akang bertugas ketika sebelum subuh menjelang untuk membangunkan santri , dan Akang bersama kader akang pergi meninggalkan Pondok , apakah akang bisa menjamin pulang sebelum waktu itu?".
"Ng... ia.. begini saja , biarkan saya yang pergi mencari mereka dan kamu Arif... kamu tinggal di Pondok.".
ujar Hasan memberi arahan pada arif, arif yang awalnya mengira bila pergi bersama dapat meringankan pekerjaan, hanya menghela nafas setelah ia harus puas dan menuruti arahan akang hasan dan tinggal di Pondok.
"Akang .. !! akang mau ke mana malam-malam seperti ini?". ujar salah satu dari tiga orang BAKAM yang sedang berpatroli mencari keberadaan Salwa di jalan raya dekat pondok, bahkan salah satu dari mereka dengan santainya menikmati jajanan angkringan yang sedikit ia sembunyikan.
__ADS_1
"Akang.. saya sedang terburu-buru diamanati Kiayi menjemput seseorang.".
"Menjemput siapa kang!!! ujar Luqqman dengan nada yang tinggi tanpa rasa takut atau sedikit hormat pada hasanuddin".
"Ooo... akang-akang yang pergi bersama mobil Pondok yah... berarti benar , kalau seperti itu mereka merencanakan pelarian dan akang di tugasi menjemput mereka oleh Kiayi... di mana mereka kang... dimana biar kami sekalian beri pelajaran...!!!".
"Ng... sebenarnya bukan seperti itu...
"Sudah lah kang , akang kasih tahu saja di mana keberadaan mereka akang memang lama di pondok tidak pernah mengenyam perkuliahan jadi kurang bisa mengenali mana orang picik sebenarnya".
ujar luqman sangat berbangga diri di antara ketiga BAKAM yang dua di antaranya adalah anak-anak SMA dalam(Pondok)
"Huft..,(menghela nafas) mereka berada di pemotongan ayam"..
lirih Hasanuddin seraya berjalan melewati tiga orang yang menghadangnya,
"Ok.. aku tahu tempat pemotongan ayam tersebut, keberadaanya agak jauh, di sebelah pasar, dan jalan di sana sepertinya sangat gelap karena kebanyakan rumah merupakan rumah-rumah tua".
ujar Luqman pada kedua adik-adik kelasnya, sebelum akhirnya mereka menghabiskan jajanan yang sudah mereka beli sebagai cemilan mencari anak Kiayi.
Sedang Hasanuddin yang sedikit tersudutkan oleh kata-kata Luqman tersebut hanya berbesar hati dan meninggalkan ketiga orang tersebut jauh di belakang, bahkan kini ia bertemu dengan Fattah yang baru keluar dari pasar yang sangat gelap malam itu , berharap menemukan Salwa di satu tempat di pasar yang sangat luas itu.
"Kang...!!! .. sepertinya di depan ada kendaraan yang melaju... awas..." (mengarahkan senter ke arah depan)
Benar saja mengetahui mobil tersebut adalah mobil pondok yang melaju dengan kecepatan rendah dengan seorang wanita yang mengemudikannya Hasanuddin dan Fattah menghampirinya.
"sssalwa!!!".
"Kang... hasan!!! kang... tolongin kita!! tttolong..."
"Ia ia akang di sini ingin menolong kalian,"
itu...(mendapati Salman tak sadarkan diri di kursi penumpang)
"D mana kang Suna?".
"Kang... kang Suna mendorong kami di belakang hingga kami sampai di sini.. ukhuk-ukhuk..".ujar Salwa yang sedari tadi tak berhenti menangis di kursi kemudi.
"Kang Suna?!".
.
Hasanuddin memanggil sahabatnya tersebut seraya menuju bak belakang (meraba bak belakang yang di tutupi terpal)
"Ini sepertinya orang yang membuat salman seperti itu kang(mengarahkan senter)".ujar Fattah,
"Lalu kenapa suna tidak berada di sini?" lirih Hasanuddin sedikit berbisik.
Setelah mereka di buat bingung dengan keberadaan Suna yang ghoib tak seperti yang di katakan salwa bahwa mereka di dorong Suna.
Akhirnya setelah mereka berdiskusi, Hasanuddin menetap di sekitar mobil dan menenangkan salwa, di kursi kemudi, dan Fattah melakukan pencarian jauh kebelakang di jalan gelap.
hingga ia menemukan tubuh suna yang sudah terlelap tak sadarkan diri di jarak dua ratus meter.
"Allah ... kang Suna...!! kang..,. sadar Kang..., Allahuakbar.. Kang... Kang sadar Kang... kita pulang Kang... kita pulang..
ayo Kang.".(menggendong Suna yang tak lagi mempunyai tenaga)
Akhirnya mereka di dorong oleh Hasanuddin dan fattah dengan suna di atas bak mobil tua tersebut, bahkan laju mobil tak lebih cepat dari kecepatan sebelumnya.
.....
"Salwa... kok bisa jadi begini.., kamu kenapa di apakan oleh orang-orang ini?".
"Kang... ak.. aku di sssekap ssaat aku ingin pergi ke Kampus tadi pagi.. dan ddi bawa dengan mmmobil akk akhh...". (terhenti karena dada yang sesak oleh tangisan)
__ADS_1
"Pssst ... Kang... ayoo!!" (tertatih menggendong Suna)
Allah.. ( menghampiri Fattah setelah memberi tahu Salwa agar tetap fokus memegang kendali mobil agar tidak mengetahui keadaan Suna)