Aku Memilih Mu

Aku Memilih Mu
Complicated


__ADS_3

(...).


"Huft... jujur saja Aku sedang tidak berminat terlibat masalah".


Lirih Suna yang kala itu di minta Putri untuk berbincang sebentar bersama Ustadzah Ramadhani di pagi menjelang Dzuhur.


Kedua Sosok Laki-laki yang sangat berkesan di hati Putri maupun Ustadzah Fitri Ramadhani berekspresi seolah dalam bahaya jika berlama-lama berada di satu meja bersama mereka.


"Emm Permisi Kakak-kakak mau pesan apa?".


"Emmm, yang dingin-dingin aja Mba, eh Mba ini...?".(Putri).


"Ah, Saya... Membantu Mas Willy".(Senyum).


"Eh".


Lirih Suna yang bereaksi setelah mendengar pengakuan Indri.


"Suka Relawan Naa!!".(Willy).


Ujar Willy yang khawatir bila saja Suna mengkhawatirkan perihal upah, dan mengira dirinya memperkerjakan seseorang secara paksa dengan upah yang tidak layak.


"Ooo, Saya takut Willy memaksa Kamu".


"Saya Kopi pahit".(Senyum).


"O.., Anda Owner Kafe sama Motor Gede itu.".Lirih Indri Menunjuk motor yang semalam menjadi saksi bisu kebersamaan Dirinya bersama Willy.


"Iya, Motornya Saya Jual".


"Sayang banget sebenarnya".


"Tapi perlu ada yang di rubah".


"Ooo".


Singkat Indri.


"Saya nggak mau pesan apa-apa".(Salman).


"Emm bilang apa aja orang di atas?".(Willy).


"Ng?".


"Nggak, cuma bilang sayang ma Motor".


"Hmmm, Motor itu dah banyak nemenin si Suna".


"Apalagi lecet Di body nya".


"Mmm?".


"Motor itu dulu sempat terjatuh ketika Suna mengejar seorang Wanita".


"Kriminal?".


"Eh, bukan atuh, itu Wanita yang mencintainya dari dalam sana(menunjuk Pondok)".


"Tapi kenapa mesti di kejar?".


"Yah Rumit, Kapan-kapan Aku ceritakan".


"Ini, biar Aku yang antar, Kamu... mau membicarakan perihal motor bersama Mereka?.


"Mmm?".


"Ah, Lain kali saja sepertinya mereka Double date deh?".


"Takut ganggu".


"Mana ada, mereka bukan pacaran".


"Ya sudah, kalau begitu istirahat saja dulu".


"Iya Mba, Istirahat dulu saja".


Sahut Mang Tris yang baru kembali setelah merapihkan meja dengan membawa peralatan kotor.


...


"Ya sudah, kalau Akang Sudah benar-benar yakin".


"Saya hanya berpesan, jangan sampai hal ini merubah cara pandang dan niat akang di dalam Pondok".


"Karena..., intinya kita belajar, dan mengajukan hal ini bukan berarti Akang akan segera menikah".


"Emmm Iya".


"Akang akan tetap harus menunggu".


"Sampai?".


"Sampai waktunya tepat".

__ADS_1


Hasan tersenyum dengan jawaban polos Suna yang menunjukan bahwa dirinya tidak tahu persis perihal perihal Ta'arufan di Pondok.


"Iya".(Suna).


"Sampai Kita menemukan sosok Ustadzah yang ingin mengajukan Diri maka Akang harus bersiap".


"...".


...


"Salman".


"Kenalkan ini Ustadzah Fitri Ramadhani".


"Mmmm".(Senyum).


"Put.. kita sedang tidak ingin menambah beban hidup, segera katakan yang ingin Kamu katakan, sebelum Ustadz Yusuf ataupun Ustadz Sofwan mendapati Kita bersama seperti ini.


"Sabar Suna, ini perihal pertemanan, selain itu ada yang ingin Ku sampaikan ke Kamu".


"...".(Suna).


"Kenapa sampai ke sini?".


Celetuk Salman seolah tidak menghiraukan Ustadzah Fitri sebagai salah satu pengajar.


"Al'akh, Ana... di pinta Abi belajar di sini".


"Selain itu... ".(Ustadzah Fitri).


...


[Salwa]


^^^[Iya Uti, Kangen Yaa]^^^


[Iya, Kamu sekolah yang benar, Hafalannya jangan sampai hilang]


^^^[Siap Bos!!]^^^


[Kamu nggak sedang dekat dengan seseorang kan di sana?]


^^^[Mmm]^^^


...DEG...


^^^[Uti, sebenarnya ada salah satu mahasiswa yang akhir-akhir ini sedikit mengganggu]^^^


^^^[Dirinya selalu mengungkapkan isi hatinya, sampai meminta alamat]^^^


[Bagaimana Orangnya?]


^^^[Baik, Namanya termasuk yang paling menonjol di Kampus]^^^


^^^[Tapi Aku lebih tertarik untuk segera pulang bertemu Uti, Hhhh]^^^


[Kamu nggak suka Dia?]


^^^(Mengetik)^^^


...


"Huft".(Suna)


"Huft".(Salman).


Kedua Pemuda tersebut kini menghela nafas penat dengan suasana hati yang campur campur aduk, setelah mendengar pernyataan Putri Maupun Ustadzah Fitri Ramadhani.


"Al'Akh , Ustadzah panggil Al'akh?".


"Jangan bilang Salman".


"Beliau, lebih dulu mengkhatamkan Al-qur'an daripada Saya".(Ustadzah Fitri).


"...".(Tersenyum).


"Bukankah tadinya Antum di minta menjadi Salah satu pengajar di sini?".(Ustadzah Fitri).


DEG.


"Uh Aku jadi bingung dengan suasananya".(Putri).


"Ustadz".


"Bisa jelaskan semua perbuatan Ustadz selama ini?".


"Antum tahrubuun(Kabur)".(Suna cekikikan).


"Bukan apa-apa, Aku pun masih terlampau muda".(Salman).


"Saya sedang di minta belajar di sini karena permintaan pengabdian seumur hidup yang Saya ajukan".(Fitri).


"Ng?".

__ADS_1


"Ta'arufan?".(Putri).


"..."


Fitri mengangguk seraya tersenyum.


Sontak Suna dan Salman terdiam ketika mendengar Fitri maupun Putri memberitahu mereka perihal Ta'arufan yang mereka jalani, bahkan Putri sudah di perbolehkan melangsungkan pernikahan di luar Pondok di tempat Ibunya berada karena sudah sekian lama tidak bersama.


"Selamat".(Salman).


"...".


Ustadzah Fitri Ramadhani seolah mengerti bahwa rasa itu sudah berubah semenjak sosok di hadapannya meninggalkan dirinya dari tempat yang mempertemukan Mereka.


...


"Sebenarnya Aku sudah mengajukan BiodataKu pada Hasan".(Suna).


"Hmm, buat Ta'arufan juga".


"...".


"Gimana kalau Salwa masih menunggu Akang?".


"Hemmm, semuanya akan membaik pada akhirnya kan".(Lirih).


"Tapi tidak dengan kenangannya".(Salman).


"Aku pernah kenal Seseorang yang kini ku dengar kabar bahwa dirinya sudah ingin menikah".


"Kenangannya masih di sini".


"...".


"Kalau masih ada kesempatan kenapa harus menyerah?".(Salman).


"Sulit sih, tapi kesempatan selalu ada dan luas, hanya saja merelakan yang sudah berlalu sebagai akhirnya".


"Tapi bagaimana jika Akhir menimbulkan Awal yang baru?".(Salman).


"Dah ah, ngobrol sama Situ makin membuat Saya menyesali sebuah pertemuan".(Suna).


"Yah, benar juga".


"Kita harus bersyukur pernah di pertemukan dengan orang baik, tapi Kita nggak tau persis yang di rasakan Wanita yang benar-benar menginginkan Kita tapi berakhir menjadi masa lalu".


...DEG...


"Makasih Banyak".


"Aku ngerepotin Kamu lagi deh jadinya".


"Ng?".


"Apalagih, nggak gratis tau".


"Masuk dulu".(Indri tersenyum).


"Mmm".(Mengangguk).


"Nanti Aku anter sama Ini".(Menyentuh Mobil mungil miliknya).


"Ibu Ayah?".


"Wah, sepertinya Kita perlu banyak bertemu biar Kamu nggak menanyakan pertanyaan yang sama".


"Ayah, Mamah udah istirahat di Makam".


...DEG...


"Ups Sorry".


"Why?".


"Papah, Mamah orang baik, Aku yakin mereka ada di tempat yang nyaman sekarang esok dan nanti".(Menaiki tangga).


"Kamu sama siapa di sini?".(Willy).


"Di sini?".


"Sama Kamu".


Singkat Indri.


"...".(Willy).


"Kenapa?".


"Kamu nggak akan langsung pergi kan?".


"Setidaknya Aku harus menjamu Kamu yang Udah ngebantu Aku".


"...".(Senyum).

__ADS_1


__ADS_2