Aku Memilih Mu

Aku Memilih Mu
Bila


__ADS_3

"Aku tidak punya pilihan selain menunggu suatu kepastian bahkan bila ku mencoba begitu kerasnya dengan usahaku menyudutkan semua perasaan yang ku miliki...,


"aku ingin mekar dengan sinaran sang mentari tapi dengan caraku yang mendominasi bukan hal sehat untuk ku ingat di dalam hati, untuk mu pujangga Ku, Ku tunggu keberanian niatmu menggapai pintu hati ini.


Ek'Hem... ternyata kamu punya bakat bikin puisi yah Sal.., coba ku lihat lirih fitri.


Mmm... maaf Ukhti ini sc..(ret..


"ah Salwa hehe canda , canda, aku juga faham itu sesuatu yang banyak hal-hal sensitif. o ya nih...(menyodorkan minuman ringan)"


"Aku juga pernah banyak bercerita pada sesuatu hal seperti itu".(duduk dan memegangi Al-Qur'an)


"O Ukhti pernah menulis-menulis juga"(menutup buku)


"Emm ya "sekali"


("Maafkan aku sepertinya tidak bisa melihat kamu di wisuda karena besok aku akan di pindah oleh abi".


DEG...


"Semoga semua yang sudah kita lalui tidak menjadi sesuatu yang menjadikan kita menyalahkan diri sendiri".


"Emm iya kang, maaf sudah terlalu jauh melibatkan akang hingga menyulitkan". (tertunduk dan menahan isak tangis))


"Wah ternyata kita punya banyak kesamaan, selain punya sahabat dekat, juga suka menulis (tersenyum)


"Yah.., ada baiknya kamu teruskan menulis dengan caramu Salwa, karna kamu bisa melenyapkannya sewaktu-waktu jika mau"(tersenyum dan beranjak untuk pergi)


"Eh wait-wait... Ukhti... Ukhti memangnya apa yang terjadi dengan tulisan Ukhti .. Ukhti RINI!!(Fitri Ramadhani)


"Aku mau melanjutkan hafalan di taman".ujar Fitri yang sudah berada di luar kamar saat pagi yang cerah kala semua orang sedang mempersiapkan diri dengan berbagai macam hal , sarapan,mengantri mandi, dan bersiap menghafal.


....


"Huft aku tidak percaya kita berdua kembali beraktifitas setelah kepala kita benar-benar tak mempunyai sehelai rambut".


"Dah.., ada baiknya kamu simpan semua keluhan dan periksa apakah mobil masih kenyang atau kelaparan".


"Si Ifrit masih kenyang".singkat Salman seraya tersenyum.


"Ok... (bergegas memasuki mobil dengan Topi yang selalu Suna kenakan jika mencari rumput)


"Ya allah... Huft...".(tak yakin)


"Man... apalagi yang kamu tunggu?".(menarik tuas rem tangan)


"Ia ia bentar aku sedang bersiap dengan semua ini....".


(gugup)

__ADS_1


"Kang... akang pernah mengalami ini sebelumnya?"


tanya Salman saat mobil melaju lambat melintasi halaman Masjid yang juga berdekatan dengan rumah KH. Nuruddin


bahkan sekilas Ustadzah Khumai sempat terlihat membersihkan teras rumah.


"Belum , kamu bercanda? aku kan tidak pernah menempuh pendidikan di pondok sebelumnya".(fokus menyetir)


"Hemmm.. Ustadzah Khumai" lirih Salman seraya menutupi sebagian mukanya dengan tangan kanan , bahkan ia kini memiliki topi setelah rambutnya di potong gundul.


"Hhh percayalah... Ustadzah Khumai tidak pernah berlama-lama di luar rumah ia pasti segera masuk dan tidak akan memandangi kita apalagi setelah gundul".ujar Suna terkekeh.


"Yah... benar juga , sudah lama juga aku tidak merasakan hal seperti itu, (merasa malu di depan seseorang)


"Ustadzah Khumai juga tidak akan berminat dengan situ"


singkat Suna membuat Salman mengalihkan pandanganya pada Suna.


"Hmmm ya... memang aku bukanlah orang yang begitu sepadan dengan dirinya".(tersenyum dan menghela nafas panjang)


"Eng? Aneh, biasanya Situ begitu sensitif bila membahas anak Kiayi".(Suna memutar kemudi manufer ke arah kanan)


....


"Ish... Akang-akang sebelah kalau bawa mobil ugal ugalan ih".


terkejut setelah mendapati Mobil melaju sedikit kencang dari arah belakang.


"Kamu bisa sof... kamu bisa beradaptasi dan membuat kejutan untuk Ukhti Salwa..., huemmm Uti aku kangen kapan Uti ke sini Ujar Sofi meyakinkan dirinya untuk bisa memberi kejutan pada Salwa.


....


"Sudahlah... anggap saja aku menghormati akang karna akang lebih tua, aku pun berniat akan memulai belajar untuk mengikuti dinamika pondok ihya' ini".


"yah... kalau begitu aku pun akan mulai belajar lebih giat untuk membina diri di sini".(Suna)


"Yah ... aku pikir ada baiknya kita bersahabat mulai saat ini".(lirih Salman)


" Ok. memang ini yang aku ingin sejak lama, selain itu kita bisa berbagi ilmu yang sudah kita miliki".


"Ya... sudah sepatutnya".(Salman menghela nafas)


ya Allah setelah Ku pikir-pikir Aku lah yang terlalu angkuh memaksakan keadaan, kehendak dan semua hal yang tidak perlu... Setelah ini... aku serahkan semuanya bila pun nanti aku tak berjodoh dengan Rini dan terjebak di sini.


"Rin.. aku takut , takut ini hanya jadi bunga tidur keangkuhan diriku sebagai seorang anak kiayi".


"Aku hanya seseorang yang selalu menunggu dan berharap kalau kita nantinya mendapatkan semua hal terbaik"(tersenyum)


"Aku ingin mengenalmu lebih dari sekedar sahabat Rin".

__ADS_1


"Salman aku hanya wanita semua hal yang ada padaku saat ini hanyalah ribuan do'a, selebihnya adalah ada pada niatmu dan takdirnya".


sebuah tulisan tangan yang menyadarkan Salman kala mental dan keberaniannya seperti di pertaruhkan secara tidak langsung oleh seseorang pujaan hatinya yang berada di balik tembok pemisah.


....


"Putri... masyaAllah nak.. gimana kabar kamu..? sehat nak? uemmm?".


"Alhamdulillah Tante Putri sehat ternyata menimba ilmu di sini nggak terlalu sesusah yang aku bayangkan"(tersenyum)


"Put.. Tante tuh sempet mengkhawatirkan kamu loh.., apalagi sebelum kamu masuk sini kamu nggak bisa di hubungi".ujar Sumi seraya mengelus punggung Putri di sebuah gazebo.


"Mmmm ia Tante, soalnya beberapa waktu yang lalu aku butuh waktu sendiri untuk ambil keputusan"(tersenyum)


Sumi pun mencurahkan rasa rindunya pada Putri yang kini menimba ilmu di pondok ihya' dan memberitahu keadaan Suna yang baik-baik saja kala dirinya mengunjungi anak sematawayangnya tersebut, sedang Putri yang mengetahui bahwa Suna sudah melakukan pelanggaran yang membuat dirinya harus di kenai hukuman lalu menyembunyikan kejadian tersebut. dan kini ia sedang menikmati hidangan yang telah di siapkan oleh Sumi sedari rumah.


"O ia, kamu sudah punya teman donk di sini ya kan .?"


"Ia tante aku punya banyak teman hemm awalnya aku sedikit nggak percaya bisa bertahan di sini, tapi teman-teman. Aku di sini malah kebanyakan ank-anak SMA tante hhh Aku malah seneng mereka sangat hormat banget gitu loh Tan...".


"Mmmm masa sih, wah kayanya kamu juga punya geng-geng gitu yah ?".(ujar Sumi dengan tatapan curiga)


"O.. engga Tante, Mmm aku ngga punya geng, ya mungkin karena umurku yang terpaut 5-6 tahunan deh yang bikin mereka sangat hormat begitu".


"Mmm ini enak banget lo Tante,"


"Ia, makan yang banyak put... sepertinya kamu masih belum bisa beradaptasi dengan masakan-masakan di sini yah".


ujar Sumi tersenyum.


(....)(Putri tersenyum)


"Hemmm Aku harus bisa kuat tanpa Ukhti Salwa bersamaku, karena ia pasti juga sedang berjuang habis-habisan di sana, jadi sudah Ku putuskan Aku akan berubah"lirih Sofi dengan beberapa barang serta kertas Karton dan buku harian


Sofi berjalan sedikit terburu-buru karena ingin memulai awal semester baru dengan visi dan misi yang juga baru


."Hokeh kita segera sampai..". (memutar setir)


"Eh... Na... bentar-bentar....!"(segera membuka pintu)


"Ngapain si Salman?"(memandangi dari dalam mobil)


ujar Suna melihat sahabatnya tersebut terburu-buru menghampiri seseorang yang sedang terduduk di pinggir jalan.


"Huft... jeli sekali dia kalau masalah perempuan, salman-salman...".(tersenyum)


"Apakah mungkin KH. Nuruddin menginginkan dia untuk menjadi pendamping bagi Salwa? (menyandarkan diri lesu)


"Aku ...huft (lemas)

__ADS_1


Suna benar-benar merasakan sesak di dadanya akhir-akhir ini karena mengetahui keadaan seperti tidak menguntungkan bagi dirinya dengan keberadaan Salman yang ayahnya bersahabat dekat dengan KH. Nuruddin bukan tidak mungkin dirinya ingin mempererat jalinan persahabatan antara mereka dengan menjodohkan Salman dengan Salwa.


__ADS_2