Aku Memilih Mu

Aku Memilih Mu
Hai Masa Lalu


__ADS_3

"E' Ustadzah?".


"Sayang".


Lirih Indri menyadarkan Willy yang sempat terpanah dengan pesona Seseorang yang sempat menjadi dambaan di hatinya.


"Mas, Kang Suna ada?".


"Suna sedang mem..


"Ustadzah?".


"Ada yang bisa Kami bantu?".


Suna langsung menyapa Ustadzah Khumairah saat menuruni anak tangga setelah membersihkan lantai atas.


"Ini".


"Anggap ini kesempatan kedua".


"Al'akh pikirkan sekali lagi untuk semua ini".


Suara lembut Khumairah sedikit gugup menahan rasa sesak yang seketika menyerang dadanya.


"Na?".


"Huft, kenapa jadi begini?".


"Sebenarnya Lebih baik Lu perjuangin perasaan Lu Na".


"Gimana Will".


"Hhhhh, Salwa.. sudah di hampiri Sahabatnya dari Mesir, bahkan Dirinya sudah di lamar".


"Na.., Lu gak bisa gini".


"Setidaknya Lu tunjukin ke Salwa Cinta Lu ke Dia, Dia yang selama ini sudah menahan rasa di balik tembok itu Na..".


"...".(Suna).


Kini keadaan Kafe sedikit menjadi hening setelah Khumairah membawakan selembar kertas yang pernah di serahkan Suna kepada Hasan.


Seperti terkahir Kali dirinya berada di kafe bersama Putri, Khumairah meninggalkan semua orang tanpa berpamitan, dengan menyisakan tatapan dalam, dan bahagia seolah sudah berdamai dengan apa yang tampak sesaat sebelum bertemu dengan Suna.


"Aku, akan tetap percaya sama Kamu".


"Kita udah mengikat janji di sini".


"Kamu bicara apa?".

__ADS_1


"Wanita tadi pasti berbeda dengan yang sudah-sudah".


"Aku merasa... ada kisah pilu di balik tatapan hangatnya".


"Maafkan Aku Sayang".


"Mmm, nggak perlu, Aku anggap ini semua impas, kisah Cintaku juga sempat membuat Kamu kesusahan kan?".


"...".(Willy).


"Kamu sudah menjadi duniaKu, sejak pertama kita bertemu".


"Aku percaya Kok".(Merangkul).


"Maaf".


"Nggak perlu".


"Kamu nggak perlu minta maaf Sayang".


"Dah, cup cup cup".


Willy dan Indri untuk kesekian kalinya saling menguatkan satu sama lain, dengan kembalinya masa lalu Willy bersama selembar kertas.


"Abi, maafkan Ummi".


"Ummi nggak bisa mengendalikan diri".


"Maafin Ummi Bi".


"Mmmm?".


"Ummi kenapa?".


"Suratnya".


"Suratnya?".


"Ummi sudah kembalikan kepada yang punya kan?".


"Abi tau kok".


"Maafin Ummi".


"Emm, sini Cubit".


"Jangan di ulangin ya Mi' ".


"Kalau saja hal itu bukanlah hal yang ingin Abi lakukan juga Abi sudah sangat marah".

__ADS_1


"Sini".


"Pasti Ummi capek banget kan".(Mendekap).


Hasan yang mengerti Keberanian yang timbul pada diri Istrinya yang selalu menutup diri dari dunia luar di sebabkan oleh Salwa.


Rasa sayang Khumairah kepada Salwa begitu tulus untuk adik bungsunya tersebut, bahkan Hasan bisa merasakan ketakutan Khumairah yang begitu takut jika dirinya di hukum oleh Suaminya tersebut.


Hingga rasa itu berkolaborasi dengan beberapa bagian dari kenangan yang sempat ingin kembali bersemi, namun Khumairah berhasil membuang jauh perasannya dengan meyakinkan dirinya bahwa Willy sudah Bahagia di seberang sana.


"Herlambang".


"Sudah mengerti perasaan Salwa Mi".


"Iya Bi?".


"Iya, Sahabat Salwa tempo hari yang datang kemari?".


"Ummi ingat?".


"Iya".


"Seharusnya dirinya sudah kembali menyambangi Pondok ini segera".


"Memang sudah sepertinya Bi".


"Surat itu sudah di simpan Salwa".


"Salwa sudah jelas menunjukkan perasaanya".


"Tumben dah jam segini belum ada yang baca Qur'an, pasti bakal di cukur habis sama Kiayi Hasan deh".


"Huh, ya Allah, perutKu".(Salwa).


"Kenapa Uti?".


"Enggak Sof".


"Sedikit sakit".


"Tapi dah gak apa-apa kok".(Senyum).


"Kirain apa, Uti kayanya nggak lancar buang airnya yah".


"Emm, mungkin, atau kebanyakan makan-makanan cepat saji deh".


"Eh, Hhh, maaf Uti".


"Santai..".

__ADS_1


"Dah nggak apa-apa Sof".


__ADS_2