Aku Memilih Mu

Aku Memilih Mu
Malam Ilusi


__ADS_3

Perlahan matahari meredup di susul dengan kabut yang sudah sejak tadi menyelimuti pos lima ki jamuju tempat Suna dan teman-temannya mendirikan tenda.


"Sebaiknya kita buat sedikit perapian disini untuk menghangatkan udara sekitar".(Fattah).


"Ngomong-ngomong kita belum membagi dengan siapa kita tidur".(Suna).


DEG


"Eh, ini khusus untuk laki-laki aja, kalian jangan mikir yang enggak-enggak".


"...".(berbisik-bisik).


"Iya, sebaiknya kita tentukan, Kang Suna, Antum ma'i(Bersama saya)".


"Cih apa inih".


"Kiriain bakalan musyawarah".(Salman).


"Ya sudah sekarang mau gimana?".(Fattah).


"Aku sih ngikut".(Arif).


"Aku juga ngikut aja".


"Apa situ mau tidur dengan Saya Man?".


"Emm".


Akhirnya dengan sedikit perbincangan diantara para laki-laki akhirnya mereka kini sudah berada di tenda masing-masing.


"Kang".(Arif).


"Ng?".


"Ah, hhh nggak".


"Sebaiknya Kamu tidur dan menghimpun kembali tenagaMu".(Suna).


"Kang, Apa nggak sebaiknya kita adakan penjagaan?".(Salman).


"Saya sedikit merasakan khawatir".


"Bismillah Kang Salman".


"Nggak perlu ada yang di khawatirkan".


"Kan Saya sudah bilang di awal, Kita di sini jangan sampai berfikiran yang tidak-tidak, perbanyak dzikir dan jangan keluar apapun yang terjadi".


"Uti, Depan tenda kita tendanya Al'akh Salman dan Al'akh Fattah kan?".


"Iya Sof, dah jangan banyak bicara, segera buat diri Kamu nyaman dan segera tidur".(Putri).


"Mmm".

__ADS_1


"Ok, nggak nyangka bisa sampe sini".(Lirih).


"Huft, kenapa Kita harus satu tenda hhh".(Zahira)


"Ih, Kamu jahat".


"Aku seneng loh satu tenda sama Kamu".


"Hehe becanda, Ya Aku juga seneng kok".


"Sebelum akhirnya menyadari".


"Ternyata Uti tuh gemukan".


"Ih, Zahira...!".(Mencubit).


"Aw..".


Setelah mendirikan Shalat Isya secara terpisah di dalam tenda masing-masing, akhirnya satu persatu dari mereka tidur, di peluk oleh dinginnya suasana gunung dan suara-suara alam yang mengantar tidur.


"Suna".


"Suna".


"Suna".


"Allah!".(Terkaget).


"Akang denger?."


"Kita cek Rif".(Suna).


"Kang, lebih baik kita ikuti Instruksi Kang Fattah".


"Menurutku, dengan suara sebesar ini harusnya Kang Fattah juga mendengar".


Akhirnya Suna dan Arif terjaga sepanjang malam setelah mendengar dengan jelas seseorang memanggil-manggil Suna.


Selain itu.


"Sofi".


"Sofi".


"Sofi".


"Ngapain anak itu manggil-manggil Sofi, sudah ku duga mereka berniat jelek di acara mendaki seperti ini".


"Coba saja masuk sini, biar Aku hajar".


"Man, kenapa?".


"Huft, Aku mimpi buruk".

__ADS_1


"Kang, Pertimbangkan saran Ku".


"Sudah, Kamu yang tenang, Kamu ingin berjaga kan, ya sudah berjaga denganKu".


"Tapi tetap di dalam".


"..."(Salman).


Sementara itu, Tenda Zahira dan Uti Lailah juga tak luput dari kejanggalan, namun kali ini tenda mereka yang bersebelahan dengan tenda Sofi serta Salman di sisi kanannya bukan di ganggu oleh suara-suara aneh melainkan seolah pasak tenda mereka di tarik dan di kendurkan.


"Huff".


"Uti".


"Sabar..".


"Istighfar, Dzikir".(Lailah).


"Astaghfirullah".(Zahira).


...


"Hemm Alhamdulillah".


"Akhirnya Ujian tahap pertama Kelar".


"Selanjutnya ferivikasi data dan persiapan berangkat".(Tersenyum).


"O iya, seingatku Sofi dan temen-temen lagi mendaki yah".


"Gimana kabar mereka yah".


"Pasti mereka seneng banget".


"Rif, Sepertinya ada yang sengaja mempermainkan kita".


"Kang, Dah, inget kata-kata Kang Fattah".


"Jangan kegabah".


"Rif, maksudku, apa mungkin mereka sedang mempermainkan kita?".


"Siapa?".


"Ya, Fattah dan yang lainya?".ujar Suna yang menutupi rasa penasarannya dengan prasangka buruk.


"Bagus kalau benar merek Kang".


"Tapi..".(Arif).


"Tapi?".


"Kalau bukan gimana?".

__ADS_1


"...".(Suna)


"Dah, Kita ikuti instruksinya Kang Fattah, ngopi deh ngopi".Ujar Arif seraya mencari kopi di tasnya di tengah-tengah suasana yang makin mencekam dengan Suara seorang wanita memanggil-manggil Nama Suna di luar.


__ADS_2