Aku Memilih Mu

Aku Memilih Mu
Hilang


__ADS_3

"Emmm makasih banyak".


"Buat apa?".


"Emm ini".(Menunjukan dua cangkir kopi).


"Wah bukan apa-apa, kalau mau sepuluh cangkir lagi juga gak apa Sal".


"Emm".(Salwa)


"Udah-udah, segera selesaikan dah malem".


"Iya Sof, Kamu tidur yang nyenyak yah".


"Heuh terserah akang Sun deh, udah-udah, Aku ambil alih Uti Ku inih".


"Sana hus.. kembali".(menutup gerbang).


"Daa...".(Suna)


"Uti, sebenarnya Akang Suna baik banget kan yah?".


"Mmm?".


"Iya, Beliau baik banget".


"Pengen deh punya Imam kaya beliau".


"Hus, masih kecil".


"Hhhh".


"Semester lima Ukhti".


"Bentar lagi skripsi dan lain lain selesai deh".


"Uemm uemm, mulai deh jangan ngegampangin gitu deh sof".


"Gak baik".


"Iya iya".(Merangkul).


"Aku merasa Kok Kamu Gendutan yah".


"Aku tersinggung loh".


"Body Swiping".


"Body shaming sayang".


"Iya sih, ini karena Uti Putri udah nggak pernah ngelatih Aku".


"dah mariage, dah ngga pernah ngingetin banyak hal Uti".


"Gimana kalau mulai besok Kita lari pagi mengitari taman?".


"Hemm, sebenarnya Aku nggak terlalu berminat, selagi Body Ku tetap shining Uti, hehe".


"Ngomong apa toh ih".(Salwa).


"Entahlah, ngantuk".


...


"Kang, Saya pamit dulu".


"O' Iya Mang Tris, makasih banyak udah dateng".


"Sama-sama Akang nggak ada rencana Buka kalau malam?".


"Wah Saya malah kepikiran Mang Triss barang kali mau beristirahat".


"Hallah, wong Saya yo' manut aja e Mas, malah buat pemasukan buat lebaran".


"O, kalau gitu mulai besok gimana?".


"Setuju Mas".


"Ya stand by nya setelah Ashr aja".


"woke".


"O iya, nih Mang, nggak seberapa sih, kebetulan tadi mampir toko Buah".

__ADS_1


"Delima".


"Iya, bagus buat kesehatan Mang".


"Makasih banyak Kang".


Mang Triss meninggalkan Kafe dengan pemiliknya seorang diri, sedikit larut karena mereka berempat banyak bercerita malam itu.


Mang Triss pun tidak ingin membuat suasana tidak terkendali seperti sebelumnya, hanya tidak enak saja jika kembali teringat masa-masa itu di Kafe milik Suna,


apalagi dirinya sudah menganggap Suna seperti anaknya sendiri.


"Huemmm, sesingkat itu rasanya jika mengagumi tanpa memiliki".


Lirih Suna yang kini berada di Kamar ganti Kafe, setelah memutuskan untuk bermalam di sana.


"Dan kini Aku benar-benar telah melihat Salwa, kecantikan dirinya tidak pernah berubah, tapi Aku juga yang membuat susana nya seperti ini, menunggu keputusan Hassan karena Surat yang Aku ajukan"


"Hufth....".


"Good night Salwa".


"Kamu pantas bahagia kok".


"Jangan khawatirkan Aku".


"Cih, memangnya siapa diriku".


"Auh".


Suna terlelap setelah beberapa saat merasakan nyeri dari hasil operasi yang dirinya jalani.


Sementara itu, waktu Sahur begitu cepat rasanya setelah perbincangan malam itu, membuat Sofi masih ingin terlelap di ranjang mungil milik Salwa.


"Sofi... ayo...".


"Nanti gak sempat sahur lo...".


"Huaauemm".


"Sahur ya Uti?".


"Iya, Ayo...".


"I'iya..".


...


Drut... Drut.... Druttt... dururut...


"Kemana Suna, udah waktunya Sahur tapi belum pulang".


"Yah, kesiangan".


Ujar Suna yang kini terbangun karena Suara adzan menggema memecah kesunyian Subuh.


"Kalau Aku pulang pasti nggak akan sempet".


(Bergegas menuju Pondok).


"Eh, Kang Sun, kang monggo njenengan imamin".


"Eh, kok?".


"Ayo Suna".(Hasan).


Akhirnya dengan di awali permintaan Salah seorang BALDIES Suna memimpin Sholat Subuh, untunglah dirinya masih meninggalkan beberapa kain Sarung miliknya di Kamar Ta'mir hingga tidak menjadikan dirinya merasa tidak pantas.


"Huaaah...".


(Merenggangkan tubuh).


Kali ini Suna tidak hanya menjadi seorang pemimpin Sholat karena dirinya pun di minta untuk mengumandangkan bacaan Qur'an sembari menunggu waktu Dhuha.


Bukan karena tidak ada orang yang bertugas, tapi karena Kebanyakan dari para santri sudah lama menyadari bahwa semua para penggawa masjid memiliki Suara yang khas nan merdu termasuk Suna.


"Pssset".


"Eng?".


"Sofi... Kamu ngapain kaya gitu...".


"Hehe maaf Uti".

__ADS_1


"Puasa!!".


"Iya".


"Hemmm Sepertinya Salwa dan Sofi?".


"Hhh".


Lirih Suna melangkah menuju Gerbang tanpa menghiraukan siapa yang seolah memanggil dirinya.


"Huemm, Uti, gimana kalau kita Joging nya di jalan Saja biasanya Banyak orang yang juga berolah raga".


"Emmm".


"Ayo...".(Sofi menarik pergelangan Tangan Salwa).


"Maa ajmala hadza Shobah".


"Heummm".


"Sofi, jangan terlalu menguras tenaga".


"Eumm iya Uti".


"Uti... jembatan!!!".


"Sof!!.. jangan cepet-cepet".


...


"Mamah?".


"Haloo, Suna..?".


"Kemana aja Nak?".


"Nggak pulang?".


"Emm, Suna nginep di Kafe Mah".


"Eumm, iya, cepet pulang kamu dah janji kan untuk ngebantu Mamah merapihkan taman".


"O iya, ok, Suna kembali sekarang".


"Hati-hati...".


"Iya Mah, Assalamualaikum..".


(Waalaikumussalam..)


...


"Huemm, Sepertinya ini nggak terlalu pagi untuk cari angkot, tapi kok sepi yah".


Ujar Suna yang kini sudah berada di Jalan Raya.


"Ummi...".


"Mii..?".


"Iya Bi?".


"Surat, Surat?".


"Surat yang ada di atas lemari di mana?".


"Emm, ada di atas lemari, Abi, Ummi kemarin juga lihat suratnya".


"Iya, Mau di kasihkan ke Ustadz Oki, kebetulan ada Ustadzah yang mengajukan diri".


"Huemm".


"Harusnya ada di sini".


Ujar Khumai mengecek seluruh laci dan lemari.


"Emm".


"Atau..".(Hassan).


"Salwa?".(Khumairah).


Seketika raut wajah keduanya berubah, khawatir jika saja Salwa mengetahui Surat itu adalah Surat pengajuan Ta'aruf milik Suna.

__ADS_1


__ADS_2