
Tiga Orang jajaran BAKAM memasuki kamar yang sebelumnya di tinggali Suna, Fattah berserta Luthfi dan Salman yang membantunya memindahkan barang dari Kamar BAKAM.
Sejenak ada rasa miris dan emosi yang meluap ketika ketiga orang tersebut mendapati Luqman duduk dengan tidak sopan serta makan di dalam kamar secara bersamaan yang jelas-jelas menyalahi aturan.
"psst!!"
Salah satu teman Luqman memberi kode pada temanya agar segera melarikan diri mendapati kesempatan dalam kecanggungan antara jajaran BAKAM di dalam kamar tersebut.
"Kang!! tidak perlu sampai begini, sebaiknya Akang pikirkan lagi".lirih Salman.
"Sudah, Kalian ke sini hanya untuk membantuKu, bukan kembali menceramahi ku kan".(menurunkan kardus dari pundak Luthfi)
"Kasihan"
"What?"(Luthfi membalik badan berhadapan dengan teman yang sempat sekamar dengan nya itu)
"Kasihan sekali setelah sangat lama menjadi seseorang yang penuh dengan karisma dan kepercayaan dari Kiayi malah hengkang kemari"Luqman terkekeh sembari menyantap nasi di hadapannya.
"Wah Antum sadar bicara begitu!?"(Mengepalkan tangan)
"Sudahlah Luthfi, BAKAM masih membutuhkan kamu"
Lirih Fattah memegangi lengan Besar Luthfi yang sudah terlanjur keras.
"Uh uh uh, Sebaiknya Kalian cepat pergi, tugas kalian banyak dan waktu kalian sedikit, mungkin besok atau lusa kalian juga akan berakhir di sini atau di kamar lain, hengkang dari jabatan BAKAM yang sangat wah ituh".
"Ente dah keterlaluan .. ! gak sepantasnya insan kayak Ente di dalam BAKAM dan Kiayi sangat tepat memberhentikan Ente dari sana! Camkan!!!".
"Hahaha memang, memang yang di lakukan Kiayi sangat-sangat benar Aku memang tidak lah pantas di dalam BAKAM, Dan juga dirinya lalu... di susul Ente , Ente juga Anak Kiayi Sok sok an !!"(mengacungkan jari telunjuk)
"Kalau saja dulu turnamen tidak Semudah mengalahkan Arif Dan sempat bertemu Kalian bertiga Aku sangat ingin memberi sedikit sentuhan di kepala-kepala ente semua!". Lirih Luqman yang menyombongkan diri karena memenangkan Turnamen dengan mudahnya, berhadapan dengan Arfi yang sudah sedikit cidera kala melawan Luthfi.
"Khinz(ir)"
"Luthfi!!! jangan kotori lisan, sudahlah ada baiknya kalian cepat bergegas!"
Fattah kini benar-benar memegangi kedua lengan sahabatnya tersebut, bahkan salman yang dalam diamnya tidak mengedipkan mata menatap keangkuhan Luqman.
"Istighfar, istighfar!"(menepuk punggung Fattah dan Salman)
"Cih... Lu masih bisa ya berlaga dewasa di depan mereka, emangnya Ane nggak tau kebucinan ente pada KETBAKAM santriwati itu".
"Lu.. benar-benar tidak punya malu hhh, tapi berakhir sama dengan diriku juga yang di drop hanya karena masalah sepele".
"(...)"
Fattah hanya terdiam mendengar sedikit kebenaran yang di katakan Luqman
setelah Salman dan Luthfi keluar dari kamar.
...
"Sum, kamu nggak mau ngabarin anakmu?"
"Jangan kak, biarkan ia tetap fokus menuntut ilmu".
"Tapi Sumi, anakmu juga tidak boleh di biarkan seperti itu, ia juga harus tau keadaan ayahnya yang mengalami musibah!"
"Tidak kak, tidak, ia tidak akan kenapa-napa ia akan segera pulih Aku percaya kok!".
"Dan Suna tidak perlu tau apa yang sudah terjadi".(Sumi terpaku melihat wajah suaminya yang tergeletak dengan kepala masih di balut perban)
"Lalu rumah, dan kamu hanya sendiri di sini Sumi, alangkah baiknya kamu jemput terlebih dahulu anakmu agar ia bisa sedikit menemanimu!".
"(...)"
...
"Alhamdulillah. nak Suna sudah melakukan hal yang benar, kadang kita selalu menganggap yang seolah paling penting adalah hal yang paling benar padahal hal tersebut bila mana tidak kita lakukan pun tidak akan membuat akhir dari dunia atau pun harta benda kita".
"Na'am Kiayi".
"Lakukan saja yang perlu Kamu lakukan dan tidak usah menghawatirkan dunia di luar sana , InshaAllah semua akan baik-baik saja".
"(...)".
"Allahumma Arinal Haqqa Haqqan warzuqna tiba'ah, Waarinal baatila baatilan warzuqna ijtinabah".
"Semoga Kamu benar-benar dapat melihat yang baik untuk dirimu nak Suna".
"(...)".
Suna kembali meniti jalan menuju masjid dengan kepala yang tanpa sehelai rambut di balik kopiahnya.
"Kang dah selesai?
(...)
Suna mengabaikan Arif yang menyapanya di lantai dua dan duduk di pertengahan tangga menghadap ke arah kilau cahaya di seberang tembok pembatas.
"Udah lah kang, masih ada hari esok yang terjadi sudah biarlah terjadi".
__ADS_1
(Menyodorkan beberapa cemilan dari koperasi)
"Thanks".(meraih cemilan yang di sodorkan Arif)
"You're welcome"(duduk)
"Entah kenapa sepertinya Aku ingin menengok Ibuku Rif".
"Emm bagus lah, tengok kang, izin ke Kiayi pasti boleh... jangan ke BAKAM pasti di buat susah, menurutku izin aja kang".(melahap sebuah roti)
"Yah, besok akan ku datangi kembali rumah Kiayi untuk meminta Izin".
...
"Sof ... boleh minta tolong?"(Lailah)
"Iya uti kenapa?"
"Malam ini Aku tidak bisa melaksanakan tugas giliran jaga malam bersama Uti Zahira karena kurang enak badan".
"Kalau boleh ka.(mu)".
"Oo.. menggantikan jaga malam Uti bersama Uti Zahira, wah itu mah boleh Uti, Aku nggak keberatan kok".
"Ng.. Alhamdulilah, Kalau begitu terima kasih banyak"(tersenyum)
"Iya Uti, Uti istirahat saja masalah Harist lail kali ini Aku yang mengurus".
"(...)"(Tersenyum)
"Kulluha kaamilah Uti?"
Tanya Sofi kepada pengurus kamar yang melaporkan kehadiran para anggota kamar di depan kamar BAKAM, sedang para jajaran BAKAM lainya mengontrol jalanya pembacaan do'a di setiap asrama.
Malam ini menjadi malam yang panjang bagi Sofi karena dirinya akan berjaga dengan Uti Zahira, dan dirinya pun menyempatkan diri untuk membeli beberapa cemilan di koperasi, dan berencana mengecek keadaan Asrama.
"Huemm Ummi' Aku sebenarnya belum bersiap jika harus berangkat besok, rasanya masih ingin berlama-lama dengan Zahira dan Sofi, serta Uti lailah".
"Salwa, jangan seperti ini donk, Kamu harus segera menyelesaikan hafalan kamu terlebih dahulu, lalu kembali bertemu mereka".
"(...)".
"Sudah, segera tidur agar besok tidak menyulitkan Kakakmu mengantar".
"Iya Ummi? Uti Khumai akan mengantarku?"
"Iya, nanti mungkin dengan Hasan atau Ustadz Oki".
"Baiklah, aku akan segera tidur kalau begitu".(melangkah menuju keran di belakang rumah untuk berwudhu)
...
BRAK!!!
"Astaghfirullah.."
"Dah,Dah, Fi.. tidak ada gunanya Kamu begitu marah seperti ini".
lirih Salman menasihati Sahabatnya seusai mengantar Fattah.
"Huft..".(Luthfi)
"Sementara Aku akan lebih sering di Masjid untuk sekarang".
"Iya kang, Nanti biar ikhsanuddin atau asyifa yang menggantikan tugas akang di sini".
"Ingat jangan melakukan hal ceroboh".
ujar Salman menasihati Luthfi yang di selimuti amarah kepada Luqman, dirinya hanya khawatir jika Luthfi kembali tersulut amarah dan bertindak di luar kendali, bahkan siapapun dapat terluka parah bila terkena pukulannya sama dengan lemari kosong yang barusan retak di sebabkan olehnya.
"Ayo, akang, do'a-do'a!"
"eh, Al'akh Fattah kok?"
"Ayo, do'a, jangan hiraukan keberadaan Saya di sini, lakukan saja seperti biasanya".
"Heh sudah waktunya do'a yah?!"(Luqman)
"E' Iya kang, ayo, bersiap"
Lirih Pengurus kamar yang sedang berusaha mengumpulkan anggota untuk segera duduk di depan kamar setelah berwudhu.
"Bagaimana rasanya jadi Santri biasa?"
"(...)".
"Heh kita sudah bukan di BAKAM, Kamu sudah di turunkan!"(mendorong tubuh Fattah)
"Kang.., bisa bersikap biasa saja?"
"Wuoh Saya sudah biasa Tah Saya memang seperti ini ,kenapa kamu terganggu?".
__ADS_1
"(...)".
"Lupakan posisi dimana kata-katamu selalu di dengar oleh siapapun Fattah terima kenyataanya Kamu sama seperti diriku dan selanjutnya mungkin kita akan makan bersama di dalam kamar ini".
"Maaf selama perbuatan yang tidak di perbolehkan entah dimana pun saya berada tidak akan saya lakukan".
"Kau tak usah berlagak ei Fattah!!"
"Aku tahu segala hal tentang dirimu!"
"Jangan seperti kau paling suci dan paling ta'at peraturan!"
"Lakukan hal yang ingin Akang lakukan selagi Akang tidak malu".
BAK!!!
"Baiklah kedepanya Aku tidak akan menahan diri Tah.. lih(at)"
"Berdo'a Mulai!"
Pengurus kamar memberi aba-aba di mulainya do'a Malam sebelum tidur, didalam diam Fattah menahan sakit yang bukan di sebabkan terjangan kaki Luqman yang hinggap di pahanya, namun kenyataan bahwa dirinya begitu banyak kesalahan yang teramati oleh Luqman yang kini seolah menunjukan sikap aslinya meski dahulu pernah bersama di Organisasi BAKAM.
...
"Fattah, katakan apa yang kamu ketahui dari Luqman yang selalu berjaga di perkampungan jauh di belakang Pondok"
"Iya Kiayi?"
"Saya tidak akan memaafkan jajaran BAKAM , Siapapun itu yang terlibat percintaan!"
"Segera selidiki kebenaranya!"
Setelah beberapa minggu Fattah menyelidiki perihal Luqman yang selalu keluar malam dengan alasan berjaga Fattah hampir menemukan bukti bahwa ada hal lain yang membuat dirinya selalu berjaga di sebuah warung jauh di belakang pondok.
"Syut... ingat kata-kataku jangan ceroboh dan segera kembali ke Pondok!"
"Suna?"
lirih Fattah yang mengira bahwa dirinya datang tidak sendiri dan bersembunyi di balik pohon.
"Iya Iya, dasar orang tua penakut".
"Setidaknya Aku tidak tersesat seperti dirimu wahai anak muda!"
"Iya Iya".
"Terima Kasih kembali".(Suna)
"Iya , terima kasih sekali sudah ikut dan menyulitkan ku!"
"E'khemm Cari apa kesini Kang?"
Luqman menyalakan Senter setelah menuntun sepeda beberapa meter dari warung makan Iwak kali yang buka dua puluh empat jam.
"(...)".Suna dan Salman hanya terdiam.
...
"Maaf bu' Apakah sebelum ini ada seseorang yang selalu datang pada larut malam?"
"Eng?? Mas ini temanya nak Luqman ya?"
"Eng iya ibu' Saya sedang mencari kalau ada Santri yang kabur".
Lirih Fattah setelah memesan beberapa gorengan.
"Emm sebenarnya saya masih berumur 25 tahun mas".
"Dan Luq(man)"
"Ndu!'... Barusan ada anak-anak di suruh jalan jongkok"
"Astaghfirullah"fattah terkejut mendapati seorang nenek dengan santainya berjalan bersama tongkat di jam yang sudah sangat larut bahkan dini hari.
"Ada juga sepeda di taruh di pinggir pagar itu punya siapa hadeh".(Nenek)
"Nenek Saya".
Akhirnya dari pertemuan itu Fattah mengetahui bahwa Luqman bermaksud lain mendatangi warung yang di jaga oleh seorang wanita muda,sedangkan warung yang bahkan buka dua puluh empat jam itu awalnya terpaksa karena tak jarang mendapati anak Pondok yang mengetuk warungnya dengan membeli banyak barang dagangan miliknya tersebut.
Sedangkan Nenek yang sudah sangat tua tersebut adalah nenek-nenek yang sudah tak lagi bahagia dengan hidupnya yang sudah menyentuh seratus lima tahun bahkan Suaminya sudah lama meninggal, dan kebiasaanya selalu mengunjungi makam bahkan sempat berharap bisa langsung di cabut oleh malaikat dengan selalu berkunjung ke makam tersebut.
"Huft kemana saja Aku selama ini bahkan Luqman yang seperti ini semenjak lama malah di ketahui terlebih dahulu oleh Kiayi".
lirih Fattah mengayuh sepeda miliknya setelah memperoleh banyak informasi.
...
Keesokan Harinya
"Ummi' Aku berangkat".
__ADS_1
"Iya salwa".