Aku Memilih Mu

Aku Memilih Mu
Kebenaran yang Mengejutkan.


__ADS_3

"Allahuakbar".


Lirih Suna setelah meneguk segelas air Putih, ketika kembali saat setelah mendirikan Shalat Subuh.


"What happened?"


Lirih Arif yang juga Baru kembali.


"Hhh ada anak kesurupan, kaya cicak nempel di tembok, tapi Alhamdulillah bisa sembuh".


"Eng?"


"Mantep eh".


"Iya Aku siram sama se ember besar air".


"Di bacain mantra enggak?"


"Eng?".(Suna Bingung)


"Jangan ganggu setan.... !!! jangan ganggu!!!".


melantunkan lagu dengan tingkah aneh.


"Hhhh nggak tuh".


"Hehe mantep Kang ...".


"Lagian kok bisa-bisanya kesurupan bangun tidur".


"Iya, kok bisa sih, Aku tadinya sempet gugup sih".


"Tapi semuanya baik-baik aja kan?".


"Mmm iya semuanya baik abis itu auto amnesia anaknya".


"Bagus lah".(Mengganti baju bersiap untuk olahraga).


"Eh... mau ke mana dengan pakaian seperti itu?".


"Olahraga Kang".


"Lari muter masjid".


"Ooo".


Pagi itu suasana Pondok Sudah kondusif seperti biasanya, meski insiden anak kesurupan sudah menjadi buah bibir di hampir semua pertemuan dan perbincangan.


Suna pagi ini berencana mengecek keadaan kandang, dan ingin bersih-bersih, namun tanpa di sadari di sana sudah berada Salman yang hampir memulai pekerjaan bersama Fattah.


...


"Assalamualaikum?"


"Waalaikumussalam...".


"Bi... maaf tadi malam Ummi ketiduran..".


"Mmm kenapa tidur kok minta maaf Ummi?".(Tersenyum)


"Sudah Siap-siap buat periksa?".


"Mmm Abi..., udah, udah, Ummi Dah siap kok".

__ADS_1


"Kuenya?"


"Eng? kenapa kuenya mau beli lagi?"


"Eh.. enggak-enggak, nggak bi, Kita makan sama-sama".


"Oo.. hhh".(merangkul)


...


"Wah... ini sih Enak kelihatanya".


"Coba Sum coba".(menyodorkan sendok)


"Emm enak sih, tapi sedikit kurang asin".


"Iya?"(Nggak yakin)


"Ini udah pas Bu".


Lirih Bibi setelah mencicipi karena di pinta merasakan oleh Tante Suna.


"Ah masa sih?" (Sumi ragu)


"cukup deh keknya".


lirih Kakak Sumi seraya mengangkat kedua bahu dan memilih lebih percaya kepada asisten ketimbang Sumi.


...


"Ukhti..., Kalau Aku ada salah maafin yah".


"Ukhti Maaf kalau selama Ukhti di sini nggak kerasan gara-gara Aku".


"Emm Kami khawatir dengan Ukhti yang Akhir-akhir ini selalu diam".


"Dan banyak Bercerita dengan Ustadzah".


"Hey.. enggak enggak bukan.., bukan maksud Aku begitu".


"Mmm Saya hanya sedang sedih".


"Itu aja".


(Semua orang terdiam).


"Dan... dan ini semua bukan berarti kalian melakukan kesalahan".


"Hemmm iya, Maafkan kekhawatiran Kami Ukhti, Kami khawatir karena setiap bertemu ustadzah selalu di tanya seperti di interogasi karena sikap Ukhti selalu menyendiri".


"Untuk itulah Kami berinisiatif untuk mengadakan pertemuan ini".


"Demi Allah, ini semua bukan salah kalian, ini semua karena musibah yang belum lama ini menimpaku, itu saja".(Tersenyum dengan air mata haru)


"Ya udah lah kalau gitu alangkah sebaiknya Kita ke dapur karena sepertinya kita sudah terlambat".


"Untuk kali ini, Saya mau kita mempererat ukhuwah antara kita, jadi.. saya sudah siapkan hidangan yang di bawakan orang tua kemari".(Mengeluarkan nasi dan segala lauk pauk)


"Eh... boleh kita makan di sini?"


Lirih Salwa yang takut karena setahu dirinya di Pondok Ihya' maupun di pondok Tahfiz tidak di benarkan.


"Emmm Saya sudah berbicara dengan Ustadzah, dan kata beliau boleh, asalkan tidak berantakan dan yang pasti tidak untuk seterusnya".

__ADS_1


"Beliau juga sama seperti Ustadzah-Ustadzah lain juga menyempatkan bertanya perihal Uti Salwa". Ujar Sulis si Ketua Kamar


"Wah.. Uti Salwa sepertinya masyhur di kalangan Ustadzah".


"Hush.. pssst".


"Uti.. Kalau membutuhkan Apapun jangan sungkan untuk meminta tolong yah".


"InsyaAllah, kalau bisa ya Saya bantu, kalau nggak ya Kita cari jalan keluar sama-sama".


"Iya lis".(Tersenyum)


...


"Wuh... Kakak nggak bilang-bilang kalau Kita mau jalan".


"Yah... ini kan juga nggak sengaja Sum...".


"Kaya yang seketika pengen aja gituh".


"Yah.. gimana lagih".


Lirih Sumi yang sedikit bermasalah dengan kendaraan dengan posisi perut kenyang, apalagi cara mengendara Kakaknya yang sedikit ugal-ugalan makin membuat makanan di perut tidak karuan.


...


"Yah begitulah...".(Fattah)


"Kalau Aku baru kali ini sih mendapati hal semacam itu".


Lirih Suna yang menyikapi cerita panjang Lebar si Fattah tentang pengalamanya di BAKAM yang juga tak jarang mendapati hal-hal serupa dengan yang sudah di alami Suna.


"Kalau Aku belum pernah sih di sini".


"Bagus".(Suna)


"Hhhh iya selain diisengin Sama situ tuh, nggak ada hal-hal aneh yang pernah Saya alami".


"Bicara apa sih Man?"(Suna bingung).


Setelah Suna Dan Salman saling bersikukuh dengan pendapat masing-masing, Salman yang menganggap Suna yang Dahulu pernah menjahilinya di Padang ilalang, sedangkan Suna terus menegaskan bahwa dirinya datang setelah mendapati Salman tidak berada di kamar dan tidak tahu-menahu perihal yang sedang di bicarakan Salman.


"Sebenarnya Saya juga berada di sana saat itu"(Tersenyum)


"Eh...".(Salman)


"..."(Mengerutkan dahi)


"Iya... Saat Akang-akang semua di gelandang dengan cara jalan jongkok oleh Kang luqman kan?"


"Eh.. jangan bilang Akang Fattah lah yang sudah menjahili saya".(Salman mengira-ngira)


"Kalau Saya menemukan antum-antum sekalian di sana buat apa menjahili?" "Dan untuk berdiam di dalam semak belukar serta Padang ilalang?"


"Lebih baik menunggu di jalan Raya, toh nantinya Lewat jalan itu juga kan?".


(Tersenyum).


"..."(Salman terdiam)


...


"Yah sendiri di Rumah ini lagih".

__ADS_1


Lirih Asisten Rumah Sumi yang berkeluh kesah bahkan di kali pertamanya di tinggal sendiri di Rumah mewah, dan teringat kejadian tadi pagi saat terbangun dari tidur dan mendapati Seseorang mirip pak Maulana Ayah Suna.


__ADS_2