Aku Memilih Mu

Aku Memilih Mu
Jual Mahal


__ADS_3

"Aku nggak suka Laki-laki plin-plan".


"Bagaimana bisa Aku bersandar dengan seseorang yang seperti itu?".


"Emm, satu lagi, bila kesempatan kedua itu ada maka Aku lebih baik diam karena Dunia terlalu luas untuk menerima seseorang yang jelas-jelas tidak bersungguh-sungguh".


"Aku sekarang terlihat seperti itu".


"Huft".(Lesu).


Lirih Suna yang sempat terbayang kata-kata Salwa di telinganya.


Drut... drut... drut ..


"Halo..?".


"Naa".


"Ada acara?".


"Nggak enak nih ma Mang Triss, Dia menyiapkan semuanya dari awal".


"Emm, iyaa".


"Gw meluncur sekarang".


Di Kafe


"Gimana Sayang?".


"Dia sedang ke sini".(Tersenyum).


Semuanya berjalan normal seperti sebelumnya, Mang Triss dan Sepasang Suami Istri menyiapkan Kafe untuk berbagi Takjil, maupun mempersiapkan segala hal selayaknya Kedai Kopi.


"Em, memangnya si Boss itu kenapa sih sampai segitunya mengajukan surat Taa taruf?".


"Ta'aruf Sayang".(Senyum).


"Emm, beda dikit aja".


"Aku juga bisa mengucapkannya kalau sejak lahir di Pondok, seperti Ustadzah kemarin".


DEG


"Eh".


Willy kini di bayang-bayangi rasa bersalah setiap kali dirinya mulai berdialog dengan Istrinya.


"Memangnya siapa wanita yang menyebabkan Ia seperti itu?".


"Emmm, itu cewek kemarin yang bersama Sofi Sayang".


"Ooo".


"Iya, jadi dirinya meninggalkan Suna kuliah di timur tengah".


"lalu?".


"Emm, lalu ...".


"SetauKu hanya seperti itu, Salwa pergi selama empat tahun lebih, dan Suna menunggu selama itu".


"Oooo".


"Itu rekor terlama dirinya menjomblo".


"Hihi".


"Memangnya Siapa sih Si Salwa itu".


"Bisa-bisanya bikin si Boss gak jelas".


"Sssfff.., Tapi kalau Ku ingat-ingat dirinya Cantik juga sih".


"Iya,".(Willy).


"Eh, Sayang kalau di bandingkan Cantikan Salwa atau Ustadzah kemarin?".


"Emm".


"Cantikan Salwa kan yah?".


"Emmm ituh Hhhh".


"Iya".


"Uemmm, TerLuvv deh, Aku juga ngira gitu loh Sayang".


"Sayangnya Aku lebih berumur dari Salwa deh kayanya".


"Jadi menurutKu dia cantik, fresh".


"Kamu tetep Nomer satu kok Sayang".


"Trust Me".


"Uemmm".


"Peluk??".(menghampiri).


"Kerja".


"Nanti Aku batal Sayang".


"Peluk aja".


"Dah?".


"Ok".


"Terima Kasih".


"Iyaa".(Willy).

__ADS_1


Kehangatan di Kafe Kita semakin terasa dengan hadirnya Indri, sementara Itu mang Triss menghela nafas menyadari mereka adalah pasangan yang saling melengkapi.


Meski sebelumnya sempat membuat Mang Triss khawatir perbuatan mereka melewati batas, namun kini dirinya bisa bernafas lega mereka berdua bukan orang lain lagi, melainkan sepasang Suami Istri.


"Kalau ada yang lebih rekat melebihi prangko".


"Mungkin itu adalah Mba Indri dan Mas Willy".


"Eh, Iya Mang".(Willy).


Indri hanya tersipu malu, mengetahui dirinya seperti sudah di perhatikan sejak lama.


"Santai Saja, Saya juga pernah muda, memang masa paling indah, dimana bisa bersama-sama dengan pasangan kan?".


"Kalau saja Istri di rumah tidak sibuk, saya mau membawa dirinya ke sini hehe".


"Hehe".(Willy).


"Assalamualaikum".


"Waalaikumussalam".


"Nah ini calon adik Ustadzah sudah datang".


DEG


"Eh, sepertinya sedang membicarakan hal serius ini".


"Kasih tau donk?".


Ujar Suna mendapati ketiga karyawannya sedang berkumpul.


"Adik Ustadzah?".


"Iya, Ustadzah itu loh, yang kemarin datang ke sini".


"Ooo, Jadi Salwa itu adik Ustadzah itu yah hhhh".(Tidak percaya).


DEG


"Iya".(Mang Triss).


Willy yang mengerti Sang Istri merasakan shock mencoba menghampirinya, setelah Ia sedikit menarik Diri dari perbincangan tersebut.


"Sayang?".


"...".


"Kok Aku jadi malu yah hhh".


"Buat apa?".


"...".


"Nggak perlu malu toh,kan gak penting juga".


"Mmm".(Indri).


"Wah Mang, Bentar lagi dah mau buka".


"Santai Kang".


"Duduk saja sambil menunggu adzan".


Ujar Mang Triss menepuk pundak Suna.


"Kenapa itu si Owner?".


Ujar Sofi yang hari ini hanya di balas dengan senyuman sapa hangatnya oleh Suna.


"Ssst udah, mungkin jual mahal sedang marak, lagian kamu emangnya harus kesini mulu?".


Lirih Salwa yang kini sudah berada di depan pintu Kafe.


"Uti, karena tempat ini yang paling dekat dan ramah di kantong dengan menu sekelas Kafe".


"Selain itu..".


"Nothing sih".


THING!!


"Hai.. datang lagi..".


"Pasti menu yang sama".


"Iyaa, Ka indri".


"Sof.. kamu kok makin hari makin gemoy sii".


"Gumush deh".


"Eh hh, haduh emang perlu diet akuh, nggak enak di perhatiin gini jadinya".


"No nono, nggak perlu lah ...".


"Bagus gitu kok".


"....".(Senyum).


"Kalian kalau sehabis isya tarawih yah?".


"Emmm yah, sebenarnya gituh, cuma karena kami sedang halangan".


"Eh, bisa barengan?".


DEG


"Eh gimana-gimana?".


Salwa yang sempat hening memikirkan sesuatu kembali hadir di percakapan di antara mereka bertiga kala itu.


"Halangan Salwa".(Indri berbisik).

__ADS_1


"Hemmm, iya sedih sih, harusnya ada banyak hal yang bisa di lakukan".


Lirih Salwa dengan ekspresi datar.


"Hemm, sebenarnya Aku merasa bosan sendiri di sini".


"Eh?".


"Kamu nggak bilang gitu sebelumnya?".


Lirih Willy yang sedang mempersiapkan pesanan Sofi.


"Psst".


Indri mengisyaratkan kepada Willy untuk diam.


"Disini semuanya Bapak-bapak aneh kalian tau?".


"Kadang nggak ada bedanya kalau mereka ada sama nggak ada(Tarawih)".


"Emm, Kami bisa kok bantu kakak".(Sofi bersemangat).


DEG


"Sof..".(Salwa).


"Uti tenang aja".


"날 믿고 조용해".(Nal Midgo joyonghae)


Lirih Sofi menepuk pundak Salwa.


"Aaa.. Ne...(Iya) Si lent(Diam)".(Lirih indri yang baru menyadari Sofi juga suka dengan drama korea setelah mengucapkan beberapa kata).


"Eh, kakak juga suka drama korea gituh?".


"Emm, joekemmaniya".(Sedikit).


"Waaaa, Seneng banget".


"Kalau gitu aku ntar bawa laptop Aku aja ke sini ya kak?".


"Boleh-boleh, di sini sepi juga, nggak kayak biasanya".


"Di sini juga ada proyektor gitu loh".


"Wah bagus".


"Huft".


Lirih Salwa seraya meniup bagian atas hijabnya, mengetahui dirinya diapit oleh dua orang yang suka dengan Drama korea dan semacamnya.


"Thanks ya Kak".(Menutup pintu).


"Iyaa..,jangan lupa loh, ntar!!".


"Kamu seriusan mengajak mereka ke sini?".


"Emmm, Kamu nggak kasian kalau Aku sendiri terus di sini?".


DEG


"E', sedikit sih".


"Eh..".


"Bisa-bisanya yah..., Sini sini.. ".


"Aaaa! tolong".


"Bisa-bisanya Kamu bilang sedikit, Aku harus bikin perhitungan sama Kamu".


"Aaa tidak".(Di kelitiki).


"Hhhh, mereka mulai lagih".(Suna).


"Hehehe, sudah buka puasa kang?".(menyodorkan bubur kacang hijau).


"Eh, Mang, sudah, saya baru mengecek lantai atas".


"Buat apa di cek kan sudah di bersihkan".


"Ughkhuk".(Suna batuk).


"Santai saja, mereka juga nggak tau kok".


"Memang meski nggak terlalu berpengaruh, berpaling seolah-olah tidak perduli itu perlu".


"Ngomong apa sih Mang Hhhh".


"Ada yang bisa di perbaiki, tidak-tidak, semuanya bisa di perbaiki Kang, kalau akang menilai awal pertemuannya yang salah, akang perlu buat akhir dari pertemuan yang salah itu menjadi baik".


"...".(Suna).


"Toh, Kita semua ini orang-orang dengan hati yang berbolak-balik to?".


"Dan akhir yang baik itu jadi tujuan Kita".


"Dan.. dan... Sssttt, Lali e Aku".(Lupa aku eh)


"Hhhh, Mang Triss pasti sudah bersusah payah menyiapkannya yah hehe".


"Iyo e Mas, wes tak rangkum dek kene(Menunjuk kepala)sebelumnya".


"Yah, itu juga sedikit membantu kok Mang".


"Ya.., emm tapi ada yang kurang Mas".


"Yah, gak perlu di pikirkan, Berbuka aja dulu Mang Hhhh".


"Nah.. itu.. itu juga penting".(Mang triss).


...

__ADS_1


"Dan aksi pembuktian itu lebih penting Mas".[Bagian yang terlupa]


__ADS_2