
Rombongan yang di pimpin oleh Fattah terus menyusuri dalamnya hutan Gunung Cermai , beberapa kali mereka mendapati pendaki yang turun, maupun berjalan mendahului mereka.
Sempat terdengar samar pembicaraan dari beberapa pendaki, bahwa ada barang-barang yang tertinggal di pos sebelumnya.
karena terlalu fokus kepada diri masing-masing yang lelah, tidak ada satupun dari mereka yang menyadari bahwa barang-barang tersebut adalah milik teman mereka.
"Sepertinya akan lebih baik kalau Kita mempercepat langkah".
"Karena sebentar lagi sore kembali menjelang".
"Kita Berkemah di puncak akan lebih baik".
"Dari pada mendaki dini hari".
"Selain terjal melawan kantuk di ketinggian akan sedikit mengerikan".
"Karena kita baru pertama kali".
"Ya..".(Salman).
"...".
Mendengar arahan yang di berikan Fattah, makin membuat beberapa dari mereka bersemangat, untuk mencapai puncak, karena lingga buana di depan mata, pos Sembilan serta sepuluh, hingga akhirnya pos sebelas yang hampir menyentuh Puncak.
"Huft...". (Lailah).
"Lima menit!".(Fattah).
"...".(Zahira).
Mengetahui Lailah sedikit kelelahan, Fattah menghentikan langkah Rombongan, yang sebentar lagi berpapasan dengan Rombongan lain yang Turun gunung.
"Semangat Bang!".
"Wih, Bawa Cewe-cewe juga".
"Double beban".
"Makasih-makasih".
"Hati-hati".(Fattah).
"Tumben Ada pendaki yang jumlahnya Ganjil sampe atas".
Lirih salah seseorang yang berjalan di urutan belakang.
"Ok!"
"Lanjut".
"Ya".
"Ganjil".
"Sepertinya ada yang salah di sini".(Sofi).
"Sofi..".
"Perhatikan langkah Mu".
ujar Putri yang mendapati langkah Sofi sedikit melambat.
__ADS_1
"Iya Uti".(Sofi).
Seolah diliputi suatu hal yang membuat mereka mengingat ataupun menyadari ketiadaan salah satu rekan mereka, hingga gelap menjelang mereka masih terus memompa semangat menuju Puncak.
"Em, Kita lebih baik istirahat di sini".
"Eh, bener tuh".
"Tumben Akang Suna pinter".
"Oi...".
"Istirahat !!". (Arif).
"Kamu kenapa Rif?".
"Memang Kita bisa Shalat di jalan seperti ini?".
"Tunggu sampai Pos sepuluh".(Salman berbisik).
"Ng?".(Arif).
Akhirnya sampailah mereka di Pos sepuluh, keadaan tidak begitu buruk seperti halnya di pos lima.
terlihat bekas perapian serta pendirian tenda di sekitar Pos.
"Sembari Kita beribadah, Aku ingin salah satu dari Kita menyiapkan Air".
"Dan perapian agar Kita bisa segera menuju Puncak dan berkemah di sana".
"Kita kemah di sini saja".
"Berangkat lagi dini hari".
DEG
Mendengar kembali suara Suna setelah beberapa saat mendaki seperti sunyi tanpa kehadiran dirinya, membuat ketujuh orang itu sedikit kaget.
Namun karena Arif serta yang lain Selalu di depan hal tersebut hanya membuat Seseorang di antara mereka yang begitu meyakini ada hal aneh yang sedan terjadi di Senja kali ini.
"Ok, untuk itu, Aku setuju saja".
"Yang terpenting Kita istirahat".
"Karena melawan kantuk akan lebih penat nantinya".
Singkat Fattah menambahkan sebelum akhirnya ber tayamum untuk menjadi imam Shalat.
"Aku, sepertinya baru menyadari Adanya Akang".
"Kemana saja?".
"...".
"Pak tua, sepertinya ada hal aneh yang sedang terjadi".
"Saya selalu ada di belakang kalian".
DEG
"...".(Salman)
__ADS_1
(Bagaimana mungkin).
"Ayo".
"Semuanya yang sudah bersuci segera Kita dirikan Shalat, lantas beristirahat".
"Saya menyiapkan air dan perapian".(Suna).
"Bismillahirrahmanirrahim".
Setelah mendirikan Shalat Isya berjamaah kini semua orang di buat kesal oleh Suna yang pada akhirnya tidak melakukan apapun, hingga keberadaanya yang menjadi tanda tanya.
"Wah, bisa-bisanya di waktu seperti ini malah bercanda".(Fattah).
"Biar Kami yang urus".(Putri).
"Kalian siapkan tenda".
tambah Lailah yang sudah merapikan peralatan shalat di Pos permanen.
"Uti, Sepertinya disini akan lebih hangat".
"Iya Sof".
"Kamu mau di sini?".
"Uti, Sama Uti laa".(Menggenggam tangan).
"Iya".(Putri tersenyum).
"Eh, ada yang liat Kang Suna?".
"Aku kesulitan mendirikan tenda".(Arif).
"Huft...".
"Nanti, nanti Rif".
"Biar kita kerjakan sama-sama".(Fattah).
"...".(Salman).
"Gak biasanya Itu orang seperti ini".
celetuk Fattah yang sudah sedikit kelelahan, hingga mengalami hal yang membuat dirinya kesal.
"Kemana Pak tua itu".(Salman).
"Entah, mungkin buang air".(Fattah).
"Saya baru merasakan dirinya di akhir pendakian ini".
"Saya juga, hingga akhirnya di buat kesal".
"Bukan Kang, sepertinya ketika kita menyusuri jalur pendakian".
"beliau seperti tidak berada di dekat Kita".
"Ah, jangan ngaco kamu Man".
"Tentu dia berada di dekat kita, bahkan di belakang kan?".
__ADS_1
Singkat Fattah.
"Em".(Salman).