Aku Memilih Mu

Aku Memilih Mu
Teror


__ADS_3

Gelap mulai menyelimuti Pondok Ihya, sebagian dari Santri masih mencuri-curi waktu untuk tetap terjaga dan melakukan beberapa hal, ada yang hendak menyantap makanan Ringan, atau hanya sekedar untuk bercerita hal-hal receh yang sedang terjadi.


Masih hangat di ingatan tentang salah seorang Ta'mir masjid yang di pindahkan karena tidur di tempat Imam biasa memimpin sholat.


"Aku sih nggak mau pusing mikirin yang begitu".


"Tapi menurutmu yang seperti itu ada?".


"Emmm".(menutup mata)


Sementara di kamar Al'akh Fattah juga masih ada lima orang anak yang di antaranya Luqman sedang bercerita banyak hal, meski jajaran BAKAM sudah memperingati untuk segera tidur.


"Hhh, kalau masalah ghoib".


"Mungkin kalian akan lebih terperangah karena ceritaku".


"Apa kang apa?"(dika)


"Entar takut...".(Ervan)


"Gini, denger, kalian tau padang ilalang belakang?".


"Belakang pondok".(Menebak)


"Yup".


"Ini cerita Aku dengar sendiri dari Al-akh Luthfi".


"Bahwa ketika dirinya mencoba melewati tempat itu, ada banyak hal aneh terjadi".


"Apa kang apa!".


"Syuut...".


"Syifa..?".


"Ana tau itu lu kan".


"Keluar!".


"Man!?(Siapa!?)".


"Allah...".


"Allah hulaa ilaha illa hua..".


"Ketika dirinya berputar-putar mencari sosok yang sempat membisikinya seakan-akan memanggil memakai suara Al-akh Asyifa".


"Al-akh Asyifa?".


"Iya, ketika itu muncul sesosok makhluk dengan mata sebesar piring menyala merah dan berjalan sangat aneh dengan kaki-kaki yang tidak bisa di gambarkan".


"Maksudnya?".


"Iya ketika itu katanya Akang Luthfi seketika duduk karena kakinya tidak kuat menopang tubuh yang bergetar dan katanya kaki-kakinya tidak beraturan".


"Giginya, ".(Luqman)


"Gigi?".(Hafidz)


"Astaghfirullah".


"Naum.. naum".


"Kang Luqman, tidur".(Ikhsanuddin)


"Ya".(Luqman)


Setelah beberapa waktu menunggu akhirnya Ikhsanuddin kembali mengitari komplek Asrama yang kini hanya beberapa Pengurus yang masih bertugas menjaga keamanan di Asrama.


"Astaghfirullah".


"Kang Suna!".


"Kenapa di sini?".


"Kembali ke Kamar Akang".


Ujar Ikhsanuddin setelah mendapati Suna di salah satu Lorong Kamar mandi, namun jauh dari masjid tempat kamarnya berada.


"Kayak nggak ada kamar mandi aja di Masjid".


"Mana gayanya nggak ada takut-takutnya lagih".


ketus Ikhsanuddin setelah mendapati hanya Suna berlalu dengan senyuman.


...


"Rif.., Kali ini Kamu ke Asrama".


"Emm kang, bisa nggak gantiin saja saya dulu ke Asrama".


"Emm iya Ok, By The Way Kamu segeralah masuk Sekolah, Sayang Sama yang Waktu terbuang".

__ADS_1


"Iya kang".


"Terus kemarin katanya Ujian?".


"Nggak, hanya simulasi saja".


"Oo".


"Ya sudah, Saya mau Shalat malam dulu".


"Iya kang".


Sementara itu di Asrama santriwati perkara ghoib hanya beberapa saja yang tertarik membicarakannya, seperti halnya Putri dirinya hanya sedikit penasaran, hanya karena pemuda yang katanya berpindah dari masjid dan seorang Takmir yang berarti sekamar dengan Suna.


"Emmm sebenarnya... Aku sedikit khawatir sih,kok bisa kejadianya seperti itu".


"Emm kalau menurutku Ya Ukhti, bisa saja hal itu terjadi".


"Karena memang kita bukanlah satu-satunya yang di ciptakan oleh Allah, jin juga di ciptakan oleh Allah, dan mereka pun beribadah".


"Ooo".


"Emm lagian sudah di sediakan kamar juga tidurnya di tempat imam".


"Iya".(Putri)


"Masih untung di pindah di Asrama".


"Kalau di kuburan hi...".


"Emm, tapi dia nggak ngapa-ngapain kan?".


"Siapa?"


"Jinya?".


"Eh, si anak itu".


"Ngapa-ngapain?".(Bingung)


"Emmm dia pindah ke Asrama kita kan?".


"Ooo enggak, kata temen Aku nih Momm, dia di pukulin habis-habisan, dan dari bentuknya bangun dari tidur sudah pasti dia pun nggak tau kalau dirinya akan terbangun di kamar para ciwi-ciwi".


"Ooo".


"Iya.., unung dirinya sigap mengamankan Sarung dan Sajadah".


"...".(Putri)


"E'Hem... Uti, Tidur!".(Ukhti Lailah).


"Na'am Uti..".(Panik)


"Momm tidur".(Tersenyum).


"Hhh, Iya".(Putri)


...


Gleg..


"Dah selesai kang?"(Mata terpejam)


"...".


"Jangan lupa matikan lagi lampunya".


"...".


"Kang, Ternyata mau di taruh di manapun orang baik akan tetap baik meski di tempat lain".


"...".


"Tadi di Asrama kamarnya Kang Fattah semuanya tidur termasuk beliau".


"...".(Fokus membuka-mentutup mushaf Al-Qur'an)


"Eh, malah Kang Luqman sedang Asyik bercerita dengan Anak-anak SMA (Dalam) Pondok".


"Tapi udah tidur semuanya kan?".


"Alhamdulillah sih Kang".


"Tapi tadi Aku sempat bertemu dengan Kang Suna".


"Suna?".


"Iya".


"Lalu?".


"Beliau, sepertinya habis dari Kamar mandi".

__ADS_1


"Oo".(Salman)


"Iya, Mana berdiri diem di kegelapan lagi".


"Bikin Aku nggak jadi pipis".


"Hhhh".


"Aku sebenarnya tidak tertarik mencari tau secara jauh hal ini".


"Tapi, memangnya mereka bisa menyerupai Kita?".


"Bisa".(Salman)


"...".(Meneguk Liur)


"Yang Ku lihat tadi Kang Suna bukan yah".


"Ng?".


"Soalnya nggak biasanya aja kang Suna terlihat begitu aneh".


"Aneh?".


"Iya, dia hanya berlalu tersenyum tanpa berkata Satu patah kata pun".


"...".


"Begitu lah ceritanya Kang".


Lirih Asyifa bercerita panjang lebar kepada Suna yang kala itu telah Mendirikan Shalat malam.


"Emm Aku nggak kemana-mana Setelah Isya, Bahkan nggak ke dapur".


"Karena makan cemilan di kamar".


"Mmmm kan Mulai nih".


"Mulai...".(Asyifa)


"Seriusan Kang?".(Salman)


"Iya".


"Ngapain toh Aku bohong".


"Kalau perlu kita cari bersama dan buktikan".


"Mungkin itu seseorang yang hendak merencanakan hal buruk".


"...".(Asyifa)


"...".(Salman)


"Lah kok diem?".


"Aku juga khawatir, apalagi ini kesekian kalinya aku di serupai".


Setelah beberapa saat bercerita mereka memutuskan untuk menjaga Pondok sampai Pagi menjelang, dan tidak begitu pusing memikirkan sekolah karena Suna maupun Salman sudah tidak lagi mengenyam pendidikan perkuliahan, sedangkan Asyifa Jadwal kuliahnya sedikit Siang.


Dari Asrama ke asrama mereka saling bergantian berpatroli, bahkan Suna yang sangat khawatir karena dirinya di serupai seseorang yang tidak bertanggung jawab kini berjaga di Santiniketan kamar Para BAKAM bahkan masih dengan baju Shalat lengkap dengan Sajadah.


"Duh...".


"Kebelet lagih".(Terbangun)


"Dika?".


"Eh Kang Suna?".


"Tumben".


"...".


"Mau pakai Kamar mandi Kang?".


"...".(Tersenyum).


"Sejak kapan kang Suna kenal Namaku?".


"Bahkan sepertinya Aku tidak pernah sekalipun ber urusan apapun dengannya".


"Hey...!!!".


"..."(Dika)


"Kang Suna?".


Lirih Dika yang berada di jalan gelap antara gedung Asrama.


"Oo Santri".


"Saya kira Orang lain".

__ADS_1


"Kang bukanya..


__ADS_2