Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 10 Sakit hati Velicia


__ADS_3

Blam!


Velicia melampiaskan kekesalannya pada pintu kamarnya. 


Ferdi terlihat sangat kaget mendengar suara pintu kamar yang ditutup dengan sangat keras oleh Velicia.


Dia bersiap-siap mengomel pada istrinya itu untuk menegurnya dan memerintahkannya memasak makan malam untuk mereka.


Velicia bersungut kesal pada suaminya. Apapun yang keluar dari mulutnya membuat Velicia teringat akan kejadian siang tadi saat di tempat makan. Apalagi melihat wajah suaminya, sudah bisa dipastikan jika dia akan marah padanya.


Perutnya sangat lapar sekali setelah hujan-hujanan, apalagi tadi dia sudah memuntahkan semua makan siangnya. Kini dia merasakan perutnya teramat sangat lapar dan kosong.


"Harusnya tadi aku makan dulu sebelum pulang. Aku sangat malas sekali sekarang ini bertemu dengannya. Lebih baik aku langsung tidur saja," ucap Velicia ketika dia sudah memakai pakaiannya di dalam kamar mandi.


Setelah keluar dari dalam kamar mandi, dia segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan memakai selimut tebalnya untuk mengurangi hawa dingin yang sangat menusuk di badannya.


Velicia sangat merasa lapar saat ini, tapi dia tidak ingin bertemu dengan suaminya. Ditahannya rasa laparnya itu hingga lama kelamaan matanya terpejam.


Ceklek!


Pintu kamar itupun terbuka. Ferdi masuk dengan matanya yang mencari sosok istrinya.


"Bunda, kamu tidur? Kamu gak masak? Aku belum makan loh. Kamu sudah makan?" tanya Ferdi sambil menggoyang-goyangkan lengan istrinya yang tampak tertidur.


Mata Velicia terbuka, dia merasa terganggu dengan suara dan badannya yang digerak-gerakkan oleh suaminya. Padahal sedari tadi dia berusaha keras agar matanya bisa terpejam. Dan kini setelah dia berhasil memejamkan matanya, suaminya itu malah membangunkannya.


"Ada apa?" tanya Velicia dengan suara seraknya.


"Cepat masak. Aku lapar," jawab Ferdi layaknya orang yang memerintah.


"Kamu kan tadi siang sudah makan banyak," tukas Velicia dengan menaikkan selimutnya dan memejamkan kembali matanya.


"Itu kan tadi siang. Sekarang aku lapar. Sudah jadi tugas kamu kan memasakkan suamimu makanan," ujar Ferdi dengan nada memerintah.

__ADS_1


Seketika mata Velicia terbuka, dia menatap malas pada suaminya. Tapi dalam hatinya dia memaki suaminya yang berlagak seperti seorang suami yang bertanggung jawab.


"Aku capek. Gak enak badan," jawab Velicia singkat, setelah itu dia kembali memejamkan matanya.


"Kamu kenapa sih? Kamu gak seperti biasanya. Sekarang kamu jadi pembangkang, sering membantah. Mangkanya kalau waktunya pulang, langsung pulang, gak usah mampir-mampir meskipun sama teman. Jadi gini kan, kehujanan, sakit. Sekarang suami yang dicuekin, gak dimasakin," omel Ferdi panjang lebar membuat Velicia terganggu dan bertambah kesal.


Velicia duduk, dia menatap tajam ke arah Ferdi. Kemudian dia berkata,


"Lalu kemarin kamu gimana? Kamu gak merasa salah makan di luar tanpa memikirkan istrimu yang belum makan di rumah karena menunggumu makan malam bersama?"


Ferdi terhenyak. Dia tidak menyangka jika istrinya masih mempermasalahkan tentang itu.


"Jadi kamu mau balas dendam dengan makan di luar sebelum pulang?" tanya Ferdi dengan nada meninggi.


Velicia tersenyum sinis. Dia menatap suaminya dengan tatapan tidak suka.


"Kamu pikir aku sudah makan? Bahkan kamu tidak tau aku memuntahkan semua makan siangku tadi karena perutku sakit. Sekarang kamu menuduhku yang tidak-tidak. Suami yang perhatian sekali," ujar Velicia dengan tersenyum sinis pada Ferdi.


Ferdi kembali terhenyak, dia mengira jika istrinya selama ini tidak pernah sakit. Bahkan batuk pilek pun dia jarang sekali terkena. Mungkin hanya satu tahun sekali dan pasti cepat sembuhnya. Itulah yang membuat Ferdi tidak pernah kuatir padanya.


Ferdi menghela nafasnya, dia sangat lapar sekali sekarang ini. Dan dia tidak tahu harus makan apa.


Dia kembali ke sofa yang ada di depan televisi dan kembali memangku Lili.


Apa aku harus delivery saja ya? Aku malas kalau harus keluar rumah, Ferdi berpikir dan berkata dalam hatinya.


Matanya tidak berkedip ketika melihat iklan mi instan yang ada di televisi. Ferdi menelan ludahnya sendiri ketika melihat iklan tersebut.


Apa aku juga memasak mi instan aja ya? Kan cepat, gampang pula. Benar, sebaiknya aku masak mi instan aja deh kalau gitu, Ferdi berkata dalam hatinya dan matanya tidak berkedip melihat iklan mi instan yang sedang ditayangkan di televisi.


Ferdi segera beranjak dari duduknya dan dia mulai mencari keberadaan mi instan di dapur.


Di mana mi instan itu berada? Apa sudah habis? Ferdi bertanya-tanya dalam hatinya sambil tangannya sibuk mencari mi instan.

__ADS_1


Ferdi terdiam di depan pintu kamarnya. Dia ragu akan masuk ke dalam kamar atau tidak. Niatnya hanya ingin menanyakan tentang mi instan yang biasanya ada di lemari penyimpanan mereka yang ada di kitchen set.


Krucuk… krucuk… krucuk…


Perut Ferdi kembali bunyi. Dan memang dia sudah merasa sangat lapar sekali saat ini.


Berbekal nekat, dia tidak lagi memperdulikan omelan istrinya yang nantinya akan diterimanya ketika dia kembali mengganggu tidurnya.


"Bunda… Bunda… bangun. Mi instannya di mana?" tanya Ferdi sambil menggoyang-goyangkan badan Velicia.


Velicia bangun dan duduk sambil menatap tajam suaminya. Dengan mendengus kesal Velicia berkata,


"Ada apa lagi sih Mas? Mas Ferdi kan tau aku sedang gak enak badan."


"Aku lapar," ucap Ferdi merajuk.


"Mas Ferdi pikir aku juga gak lapar? Aku lapar Mas, tapi aku gak bisa masak dengan kondisi badanku seperti ini," sahut Velicia dengan emosi.


"Aku gak suruh kamu masak. Aku cuma tanya, di mana mi instannya? Semuanya gak ada. Apa sudah habis kamu makan semua?" tanya Ferdi yang seolah menurut Velicia menuduhnya, sama seperti ibu mertuanya yang selalu menyalahkannya.


"Di buang sama ibu kemarin," jawab Velicia dengan sewot.


Mata Ferdi terbelalak. Ternyata istrinya tidak memakan semua mi instannya, melainkan ibunya yang membuangnya.


"Kenapa dibuang?" tanya Ferdi kembali seolah tidak terima makanan favoritnya dibuang oleh ibunya.


"Tanyakan saja sama ibu. Lagian ya Mas, aku ini lagi sakit. Istri Mas ini lagi sakit, kenapa Mas gak beli makanan di luar aja sih sekalian dimakan barengan sama aku? Atau delivery kan bisa," tutur Velicia berapi-api seperti sedang kesetanan menegaskan bahwa dirinya adalah istri Ferdi.


Ferdi mundur satu langkah. Dia tampak kaget sekaligus takut melihat istrinya berkata seperti itu. Menurutnya Velicia yang sekarang bukanlah Velicia yang dia kenal.


"Kamu kenapa sih? Kok jadi aneh kayak gini? Kamu kesurupan ya?" tanya Ferdi dengan tatapan aneh pada Velicia.


Velicia tidak menjawab, dia malah melihat Ferdi dengan tatapan marah dan terluka. Dia benar-benar sangat sakit hati pada suaminya. Dia lelah menghadapi ibu mertuanya yang selalu menyudutkannya karena belum mendapatkan keturunan dan kini dia sakit hati melihat tingkah suaminya ketika berada di luar rumah.

__ADS_1


 


__ADS_2