
Velicia tidak menyangka jika pagi yang digadang-gadangkan akan menjadi pagi yang menyenangkan untuk memulai hari baru, kini terpaksa harus sirna.
Semua itu hanya menjadi angan-angan saja, karena pagi ini menjadi pagi yang sangat buruk baginya.
"Apa ada orang lain yang duduk di sini kecuali aku dan Ibu?" tanya Velicia menyelidik dan tanpa diketahui Ferdi Velicia menatapnya dengan amarah yang ditahannya.
"Siapa?" Ferdi bertanya balik pada Velicia tanpa menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Velicia padanya.
"Mana aku tau, maka dari itu aku tanya," jawab Velicia dengan sewotnya.
Ferdi mengernyitkan dahinya mendengar ucapan istrinya yang terdengar tidak enak di telinganya.
"Kamu kenapa sih?" tanya Ferdi tanpa menoleh ke arah istrinya.
Velicia tersenyum sinis mendengar pertanyaan dari suaminya. Dalam hatinya berkata,
Apa yang ku harapkan darimu Mas? Sepertinya aku yang terlalu bodoh masih percaya padamu. Mana mungkin Ibu memiliki benda seperti ini? Aku masih berusaha menunggumu untuk mengatakan semuanya Mas.
Mobil Ferdi berhenti tepat di depan sebuah bangunan yang mencerminkan sekolahan TK. Bangunan yang penuh warna dengan banyaknya mainan di halamannya.
"Ve, katakan padaku. Ada apa sebenarnya? Bukankah kesalahpahaman kita sudah berakhir?" tanya Ferdi dengan menatap serius pada Velicia.
Velicia yang sudah memegang handle pintu mobil mengurungkan niatnya untuk membuka pintu mobil tersebut ketika mendengar pertanyaan dari suaminya.
Dia menoleh ke arah Ferdi sambil tersenyum sinis dan berkata,
"Benarkah? Bukannya Mas Ferdi berjanji untuk mau dioperasi? Lalu kapan Mas? Apakah aku harus menunggu puluhan tahun lagi hingga aku benar-benar tidak bisa bereproduksi?"
Seketika Ferdi terhenyak mendengar pertanyaan-pertanyaan dari Velicia. Matanya terbelalak kaget mendengarnya.
"Maaf," ucap Ferdi lemah sambil menundukkan kepalanya, dia tidak sanggup menatap istrinya.
Velicia tersenyum getir, matanya berkaca-kaca mendengar kata maaf yang sudah beberapa kali dikatakan suaminya mulai beberapa hari yang lalu.
Ingin sekali dia mengatakan semua yang ada dalam pikirannya. Hanya saja tenggorokannya seolah tercekat karena banyaknya air mata yang mengumpul di pelupuk matanya sehingga jika dia berkedip sekali saja, air mata itu pasti akan keluar dan menetes dengan sendirinya.
Velicia segera membuka pintu mobilnya dan sebelum dia keluar dari mobil tersebut dia berkata tanpa menoleh ke arah suaminya.
"Nanti kita akan membicarakannya lagi."
Kemudian Velicia turun dan menutup pintu mobil tersebut tanpa menghadap ke arah suaminya agar suaminya itu tidak tahu jika ada air mata yang menetes di pipinya.
__ADS_1
Segera diusapnya dengan kasar air matanya itu setelah mobil Ferdi meninggalkannya.
Velicia tersenyum getir ketika mengusap air mata yang menetes tanpa henti di pipinya. Mungkin karena terlalu banyaknya air mata yang mengumpul di pelupuk matanya. Atau mungkin karena hatinya yang terlalu sakit hingga air mata itu tidak habis-habisnya keluar dari matanya.
"Sial, kenapa air mata ini tidak ada habis-habisnya?" ucap Velicia dengan senyum getir mengusap kasar air mata yang dengan lancangnya menetes tanpa permisi.
Velicia menatap bangunan yang menjadi tempat kerjanya selama beberapa tahun, setelah itu dia berjalan ke arah lain.
"Sepertinya aku tidak bisa bertemu dengan mereka hari ini," ucap Velicia sambil berjalan menyusuri trotoar jalan yang dilaluinya setiap hari.
Tanpa sadar kaki Velicia mengajaknya ke arah taman yang terdapat taman bermain di mana biasanya dia duduk termenung di tempat itu.
Duduklah dia di bangku taman yang biasanya didudukinya. Banyak sekali anak batita dan balita yang tidak bersekolah sedang bermain di sana bersama ibunya atau pengasuhnya.
Air mata Velicia kembali luruh. Dia membayangkan dirinya yang bermain bersama anaknya di sana.
Seketika dia teringat benda yang ditemukannya di dalam mobil suaminya. Diusapnya kembali air matanya itu dan segera diambilnya benda tersebut dari dalam tasnya.
Dia tersenyum getir ketika melihat cermin kecil yang bertuliskan nama si pemilik pada punggung cermin tersebut.
"Lani," ucap Velicia sambil tersenyum getir membaca tulisan yang ada di punggung cermin tersebut.
Dibukanya tutup lipstik tersebut dan dia terkekeh hingga mengeluarkan air mata ketika melihat lipstik tersebut yang berwarna merah merona.
Dia menertawakan kebodohannya hingga sangat menyakitkan hatinya dan air mata itu kembali menetes bersama kekehannya.
Hatinya sangat sakit sekali membayangkan Lani memakai lipstik dengan warna merah merona itu tersenyum menggoda pada Ferdi.
Tangisnya kembali pecah ketika membayangkan Lani dan suaminya sedang tertawa bersama di dalam mobil baru suaminya.
"Kamu tega Mas," ucap Velicia lirih disela tangisnya.
Raymond yang sedang berjalan melewati taman tersebut berhenti ketika melihat sosok wanita yang sangat dikenalnya.
Langkahnya yang sedang mendekat ke arah Velicia terhenti ketika mendengar suara tangisnya.
"Ve!" ucap Raymond sambil memegang pundak Velicia dari samping.
Velicia menoleh ke arah samping dan segera diusapnya air mata yang membanjiri wajahnya ketika melihat Raymond berdiri di sampingnya.
"Ada apa Ve?" tanya Raymond sambil duduk di sebelah Velicia.
__ADS_1
Velicia berusaha dengan sekuat tenaganya menghalau air matanya agar tidak menetes kembali.
Namun, sialnya air matanya itu tidak menurut. Air mata itu menetes dengan derasnya hingga membuat Velicia tergugu dalam tangisnya.
Melihat Velicia menangis seperti itu membuat hati Raymond menjadi sakit. Tanpa sadar dia menarik tubuh Velicia untuk berada dalam pelukannya.
"Menangislah Ve, agar perasaanmu bisa tenang . Ceritakan semuanya padaku agar perasaanmu bisa lega," ucap Raymond sambil mengusap punggung Velicia.
Tangis Velicia semakin menjadi ketika berada dalam pelukan Raymond dan mendengarkannya berbicara.
Raymond semakin tidak tega mendengar tangisan Velicia yang terdengar pilu dan menyayat hati. Tanpa sadar dirinya memeluk Velicia semakin erat untuk mengatakan bahwa ada dirinya yang bisa melindunginya.
Setelah beberapa saat, tangis Velicia pun reda. Dan hanya ada isakan tangis kecil yang membuatnya harus melepaskan pelukan Raymond.
"Ada apa Ve, katakan padaku. Aku akan membantumu sebisaku," ucap Raymond dengan lembut.
Velicia masih terisak dan dia tidak bisa mengatakan apapun. Kata-kata itu sangat sulit keluar dari mulutnya.
"Ve, kita berteman bukan? Ceritakan padaku agar kamu bisa merasa lega," ucap Raymond sambil menatap lembut penuh perhatian pada Velicia.
Lagi-lagi Velicia tidak menjawab. Dia hanya diam dalam isakan tangisnya.
"Apa ini ada hubungannya dengan yang di rumah sakit pada waktu itu? Maaf aku tidak menjengukmu karena kamu melarangku untuk datang ke-"
"Dia melakukan vasektomi," ucap Velicia menyela ucapan Raymond.
Seketika mata Raymond terbelalak karena terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Velicia.
"A-apa?" tanya Raymond dengan tergagap karena terkejut.
Velicia mengusap kembali air matanya yang menetes. Kemudian dia menghadap ke arah Raymond dan berkata,
"Itu benar, pantas saja selama bertahun-tahun usia pernikahan kami, aku belum juga bisa hamil. Hingga Ibu mertuaku mengira aku mandul," ucap Velicia dengan suara yang bergetar dan sedikit tercekat karena menahan tangisnya.
Raymond memandang iba pada Velicia dan dia memegang kedua tangan Velicia untuk menenangkannya.
Dengan sekuat tenaga Velicia mencoba bercerita pada Raymond. Dia menceritakan tentang semuanya pada Raymond. Tentang tindakan vasektomi suaminya serta tentang Lani dalam rumah tangga mereka. Dan tentu saja air matanya selalu mengiringi setiap perkataannya.
Dengan segera Raymond membawa tubuh Velicia kembali dalam pelukannya. Dia memeluk erat Velicia yang kembali menangis dalam pelukannya sambil mengusap lembut rambut Velicia.
Tanpa sadar air mata Raymond menetes mengiringi tangisan Velicia. Dia hanya berharap agar Velicia tidak kembali bersedih dan terpuruk seperti itu.
__ADS_1