Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 9 Tragedi hujan


__ADS_3

Malu, Velicia teramat malu saat ini pada Raymond. Dia tidak mengira jika akan bertemu dengan Raymond dalam keadaan sedang memuntahkan makan siangnya.


"Kamu kenapa Ve? Masuk angin? Atau sedang sakit?" tanya Raymond yang terlihat khawatir padanya.


"Mmm… aku… aku… sepertinya aku  hanya salah makan pada saat makan siang tadi," ucap Velicia lirih yang masih merasakan perutnya terasa begah dan tidak enak.


"Pasti kamu tadi makannya tidak nyaman. Kenapa? Apa kamu terburu-buru tadi? Atau karena terlalu lapar jadi makan terlalu banyak?" tanya Raymond sambil terkekeh.


Aku makan terburu-buru karena tidak nyaman dan terlalu banyak hingga perutku tidak bisa menerimanya, Velicia menjawabnya dalam hati.


"Ve, apa masih sakit?" tanya Raymond ketika melihat Velicia diam, tidak menjawab pertanyaannya.


"Atau kamu tersinggung dengan candaanku?" tanya Raymond kembali dengan menengadahkan wajahnya di depan Velicia.


Mata Velicia terbelalak melihat begitu dekatnya wajah Raymond dengannya. Ada desiran aneh dalam dirinya dan jantungnya kini berdetak dengan sangat cepat.


Velicia salah tingkah, dia memundurkan wajahnya dan melihat ke lain arah agar Raymond tidak menyadari rona merah yang tersirat di wajahnya.


"Kenapa Ve, ada yang salah? Atau masih ada yang sakit?" tanya Raymond kembali.


"Enggak Ray. Aku hanya merasa sedikit mual tadi. Sekarang sudah enggak," jawab Velicia dengan memberikan senyum manisnya.


Raymond pun ikut tersenyum manis pada Velicia. Sejenak mereka hanyut dalam suasana. Setelah beberapa saat, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya.


"Ve, ayo kita berlindung di sana," ucap Raymond sambil menarik tangan Velicia.


Mereka berdua berlari bersama menuju bilik kaca telepon umum yang sudah lama tidak digunakan. Mereka berdua masuk ke dalam bilik kaca yang terdapat telepon umum di dalamnya.


Tidak begitu sempit dan tidak begitu luas dalam bilik kaca tersebut. Tapi masih bisa menampung tubuh mereka berdua di dalamnya.


Tubuh mereka berdekatan, dan mata mereka saling menatap. Entah apa yang ada dalam hati mereka sehingga mereka benar-benar terpanah satu sama lainnya.


Jedaaar!


Suara petir menyadarkan mereka berdua. Mereka berdua terlihat salah tingkah dan melihat ke arah lainnya.


"Ehemmm…," Raymond berdehem untuk mencairkan ketegangan di antara mereka berdua.


Velicia pun menirukan Raymond. Dia ikut  berdehem agar tidak lagi canggung.

__ADS_1


"Sepertinya hujannya akan lama," ucap Raymond ketika memandang hujan dari bilik yang dikelilingi oleh kaca tersebut.


Velicia pun ikut memandang hujan tersebut dari kaca yang mengelilinginya. Dia memandang kagum pada hujan yang mampu membuat semua orang yang melihatnya menjadi tenang.


Velicia membuka sedikit pintu bilik kaca itu dan dia menengadahkan tangannya untuk menadahi hujan yang turun di hadapannya.


"Mau hujan-hujan?" tanya Raymond pada Velicia.


Velicia menoleh ke arah Raymond. Dia hanya tersenyum pada Raymond tanpa menjawab pertanyaan tersebut.


Raymond ikut menengadahkan tangannya pada hujan. Kemudian dia berkata,


"Sepertinya kamu sangat suka hujan. Benar bukan?" 


Velicia tersenyum dan menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Raymond padanya.


"Mau hujan-hujan?" Raymond bertanya sambil terkekeh.


"Aku memang suka sekali hujan-hujanan, karena di bawah hujan tidak akan ada yang tau jika aku sedang menangis. Jika kesepian, air hujan bisa menemaniku untuk meramaikan suasana. Sangat kekanak-kanakan bukan? Tapi aku sangat menyukainya," tutur Velicia sambil tersenyum memandang hujan yang turun dari bilik kaca tersebut.


Raymond memperhatikan wajah Velicia dari samping. Dia ikut tersenyum melihat Velicia tersenyum melihat hujan tersebut.


Velicia menoleh ke samping dan mereka kini saling berhadapan. Mata mereka saling bertemu, seolah saling mengunci pandangan mereka, sehingga tatapan mereka beradu dalam beberapa saat.


Entah apa yang ada dalam pikiran mereka hingga mereka enggan memalingkan pandangan mereka.


Ctaarrr!


Suara petir yang sangat mengagetkan membuat mereka tersadar. Seketika mereka memalingkan wajahnya dengan salah tingkah.


Gawat nih kalau lama-lama di sini bersama dia, Raymond berkata dalam hatinya.


"Sepertinya hujannya akan lama. Apa kita berlari menerobos hujan saja?" tanya Raymond pada Velicia yang sedang menghadap ke lain arah untuk menghindari bertatapan mata dengan Raymond.


Lebih baik aku hujan-hujanan saja daripada harus seperti ini bersamanya, Velicia berkata dalam hatinya.


"Emmm boleh juga, aku sudah lama gak hujan-hujanan," jawab Velicia sambil tersenyum kikuk.


Raymond lebih dulu keluar dari bilik kaca tersebut, kemudian dia mengulurkan tangannya untuk membantu Velicia keluar dari bilik kaca tersebut karena di depannya ada kubangan air yang harus dilompati ketika keluar dari bilik kaca tersebut.

__ADS_1


Velicia menyambut uluran tangan Raymond dan melompati kubangan air itu hingga menabrak tubuh Raymond. Tangan Raymond pun menangkap tubuh Velicia agar mereka berdua tidak terjatuh.


Kini mereka seperti orang yang berpelukan. Tangan Raymond berada di pinggang Velicia dan tangan Velicia melingkar di leher Raymond.


Mata mereka kembali bertemu. Untuk beberapa saat mereka diam dan saling menikmati tatapan mata mereka. Hujan turun bertambah deras sehingga mereka tersadar jika kini mereka sedang kehujanan.


"Ayo cepat kita lari," ucap Raymond sambil menarik tangan Velicia dan mengajaknya berlari.


Hujan turun dengan sangat lebat disertai petir yang menggelegar, membuat jalanan yang mereka lewati sangat sepi.


Mereka berdua berlari menembus hujan sambil bergandengan tangan. Tanpa sadar mereka berlari hingga sampai pada jalan yang memisahkan arah rumah mereka. 


Di bawah pohon besar yang berada di pertigaan jalan, kini mereka berteduh.


"Aku akan jalan ke arah sana. Rumahku tepat di alamat yang aku tanyakan tempo hari padamu," ucap Raymond sambil menunjuk ke arah yang akan dia lewati.


"Kalau rumahku ke arah sana. Lebih baik kita berpisah di sini saja," tukas Velicia sambil menunjuk jalan ke arah rumahnya.


"Baiklah. Hati-hati ya Ve. Sampai bertemu kembali," ucap Raymond sambil tersenyum manis pada Velicia.


Velicia pun membalas senyuman Raymond sebelum dia berlari ke arah rumahnya.


Raymond melihat Velicia yang berlari hingga sudah tidak terlihat lagi olehnya. Setelah itu dia segera berlari pulang tanpa mempedulikan hujan yang bertambah deras.


Ceklek!


Velicia membuka pintu rumahnya dengan senyuman yang tak luntur sedari tadi.


"Baru pulang?" tanya Ferdi yang sedang duduk di sofa sambil menonton televisi dan mengusap-usap bulu Lili yang berada di pangkuannya.


Seketika senyuman Velicia memudar. Dia kini ingat akan sakit hatinya. Kesenangannya yang singkat bersama dengan Raymond kini ditutupi oleh kesedihannya karena sakit hatinya pada Ferdi, suaminya.


"Hmmm," jawab Velicia sambil masuk ke dalam kamarnya.


"Apa gak bisa kamu mengurangi kegiatanmu di luar bersama teman-temanmu agar pada saat suamimu pulang kamu sudah berada di rumah untuk menyiapkan makan?" tanya Ferdi dengan berseru dari tempatnya saat ini.


Blam!


  

__ADS_1


__ADS_2