
"Aku haus, apa aku harus meminta tolong pada perawat ya? Harusnya aku meminta tolong terlebih dahulu pada Raymond sebelum dia aku suruh pulang tadi. Ah… bodohnya aku…," ucap Velicia lirih sambil menghembuskan nafasnya.
Velicia ragu antara ingin meminta tolong pada perawat atau dia menunggu suaminya saja.
Namun, beberapa saat kemudian datanglah seseorang yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar inap Velicia.
Ceklek!
Pintu ruangan tersebut terbuka, menampakkan sosok seorang laki-laki yang sangat dinantikan oleh Velicia.
"Mas… baru pulang?" sapa Velicia pada orang tersebut.
Terlihat Ferdi yang masuk ke dalam ruangan tersebut dengan membawa tas kerjanya pada tangan kanannya dan tangan kirinya membawa kantong plastik berwarna hitam.
"Aku langsung ke sini setelah pulang dari kantor," jawab Ferdi sambil duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.
Ada rasa kecewa dalam hati Velicia ketika Ferdi tidak mendekatinya terlebih dahulu. Dia kecewa melihat suaminya itu langsung duduk di sofa tanpa mendekatinya untuk melihat dan menanyakan keadaannya.
"Apa itu Mas?" tanya Velicia sambil menunjuk kantong plastik berwarna hitam yang dibawa oleh Ferdi sewaktu masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Makanan. Aku kan belum makan dari tadi. Sekalian saja aku beli sewaktu perjalanan ke sini. Malas rasanya kalau nanti harus keluar lagi untuk beli makanan," ucap Ferdi sambil melepas dasinya dan menggulung lengan tangannya sebatas siku.
"Emmm… Mas Ferdi sudah beli minum?" tanya Velicia dengan hati-hati.
Ferdi mengambil sesuatu dari kantong plastik hitam yang dibawanya tadi. Dia menunjukkan barang tersebut sambil berkata,
"Ada, ini."
Ternyata Ferdi mengeluarkan air mineral kemasan botol enam ratus mililiter.
Velicia menghela nafasnya melihat botol minuman tersebut. Dalam hati dia berkata,
Kenapa kamu gak peka sih Mas? Apa karena kamu gak pernah memikirkan aku? Mana mungkin bawa minuman untuk pasien rawat inap hanya botol sekecil itu Mas? Ah… apa yang bisa ku harapkan dari dia.
"Kenapa? Apa kamu mau?" tanya Ferdi ketika melihat raut kekecewaan dari wajah istrinya.
"Iya Mas, dari tadi aku haus. Mau minta tolong perawat untuk mengambilkan minuman saja aku sungkan," jawab Velicia sambil tersenyum getir.
Ferdi menghela nafasnya, dia sangat kenal dengan istrinya. Memang istrinya itu sangat baik hatinya. Dia tidak akan pernah tega melukai hati orang lain dan selalu sungkan jika meminta bantuan orang lain.
"Berarti kamu belum dapat makanan?" tanya Ferdi kembali menyelidik.
__ADS_1
Velicia menggelengkan kepalanya tanpa menjawab melalui kata-kata.
Ferdi segera mendekat ke arah istrinya dan memberikan botol minuman tersebut sambil berkata,
"Ini, minumlah. Lain kali kamu harus berani meminta tolong pada perawat. Lagian itu juga fasilitas dari Klinik ini. Kamu juga mendapatkan makanan dan minuman jika sedang rawat inap di tempat ini," tutur Ferdi sambil membukakan tutup botol mineral water tersebut.
Velicia tersenyum dan menerima botol minum itu sambil berkata,
"Terima kasih."
"Aku mau makan. Apa kamu mau makan juga?" tanya Ferdi pada Velicia yang sedang minum.
Velicia mengangguk sebagai tanda setuju. Tapi Ferdi terlihat menghela nafasnya..
"Aku hanya membeli satu bungkus saja. Karena aku pikir jika kamu mendapatkan makanan dari tempat ini," ucap Ferdi sambil melihat sekeliling ruangan Velicia.
"Bunda, kenapa kamu meminta kamar yang sangat luas dan mewah? Apa Bunda tidak memikirkan biayanya?" tanya Ferdi sambil menatap secara langsung manik mata istrinya.
Kenapa kamu menanyakan tentang kamar ini Mas? Harusnya kamu menanyakan keadaanku terlebih dahulu, Velicia berkata dalam hatinya.
"Ehmmm aku tidak tahu. Mungkin orang yang menolongku memesankan tempat ini untukku," jawab Velicia lirih.
"Apa kita perlu pindah di kamar biasa aja?" tanya Ferdi kembali seolah membujuk Velicia.
Punya suami perhitungan sekali meskipun dengan istrinya. Apalagi ini tentang kesehatan istrinya.
"Gak usah Mas. Aku takut orang yang memesankan kamar ini akan tersinggung nantinya jika aku pindah ke kamar yang lain," ucap Velicia sangat hati-hati.
"Kenapa kamu lebih mementingkan perasaan orang lain daripada perasaanmu sendiri," tanya Ferdi yang sudah kesal pada istrinya karena tidak mau menurutinya.
"Biarkan saja Mas. Orangnya baik kok," ucap Velicia untuk menghentikan suaminya.
"Ya sudah, terserah kamu," ucap Ferdi dengan sewotnya.
Velicia menghela nafasnya. Dia hanya tidak ingin Raymond kecewa padanya. Jadi dia tidak mau pindah dari kamar pilihan Raymon.
"Aku mau makan, apa kamu juga ingin makan? Tapi Sayangnya aku hanya membeli satu bungkus saja. Apa kamu mau?" tanya Ferdi sambil memperlihatkan bungkusan nasi yang diambilnya dari kantong plastik hitam yang dia bawa tadi.
"Lebih asik jika kita makan sebungkus berdua Mas," jawab Velicia sambil tersenyum pada Fardi.
"Ya sudah, lebih baik kita makan sekarang. Aku sudah sangat lapar sekali," tutur Ferdi sambil membuka bungkusan tersebut dan mengambil sendoknya.
__ADS_1
"Aneh, masa' iya kamu berada di ruangan seperti ini tidak mendapatkan makanan dan minuman?" tanya Ferdi sambil menyendok makanannya.
Velicia mengernyitkan dahinya, dalam hatinya dia berkata,
Kenapa kamu menyuruhku makan sendiri dengan menggunakan sendokmu Mas? Harusnya kamu sekalian menyuapiku Mas.
Ingin sekali Velicia mengatakan hal seperti itu. Tapi itu semua hanya bisa diucapkannya dalam hatinya saja.
Velicia hanya diam saja menanggapi pertanyaan dan obrolan dari suaminya.
"Kamu kenapa? Kamu gak suka dengan lauknya?" tanya Ferdi dengan melihat nasi mereka dan bergantian melihat Velicia.
"Aku suka Mas. Suka banget malahan. Hanya saja, lebih baik Mas Ferdi yang menyuapiku, karena lebih cepat kalau Mas Ferdi bergantian menyuapiku dan menyuapi Mas sendiri," ucap Velicia dengan senyum malu-malunya.
"Baiklah," ucap Ferdi menyetujui usulannya.
Tujuan Ferdi menyetujui keinginan istrinya bukan hanya karena ingin, hanya saja dia ingin cepat makan. Perutnya sudah sangat lapar sekali sejak dia membeli makanannya tadi.
Baru dua kali suapan, ada petugas yang menyerahkan jatah nasi dan minuman milik Velicia.
Velicia pun beralih memakan makanan yang didapatnya dari klinik tersebut. Mereka berdua memakan makanan mereka masing-masing dengan diam.
Setelah mereka makan bersama Velicia menyuruh Ferdi untuk membeli mineral water yang kemasan botol besar.
"Mas, tolong belikan aku mineral water yang berukuran botol besar," ucap Velicia pada Ferdi.
Sebenarnya Fedi sangat malas sekali pergi keluar, hanya saja dia kasihan melihat istrinya yang belum minum selepas makan tadi.
"Ya sudah, aku keluar dulu ya mau membeli minuman untukmu," ucap Ferdi sambil memeriksa dompet dan ponselnya.
Setelah itu dia keluar dari ruangan Velicia untuk membeli mineral water untuk istrinya.
Drrrt… drrrt…. Drrtttt…
Suara getaran ponsel Raymond membuatnya gugup. Dia takut jika ada apa-apa dengan Velicia.
Matanya memicing dan dahinya mengkerut ketika melihat nama penelepon yang tertera pada ponsel tersebut.
Segera diangkatnya telepon tersebut karena dia merasa terganggu oleh getarannya.
Halo, Pak, tolong aku. Aku kecelakaan ketika akan pergi ke rumah sakit untuk periksa. Apa Bapak bisa ke sini sekarang? Aku takut sekali Pak.
__ADS_1