
Mata Velicia terbuka perlahan. Dia merasa jika pinggangnya terasa sangat berat. Dilihatnya ke arah pinggangnya, ada tangan kekar yang diyakininya milik suaminya.
Perlahan tangan itu dilepaskan oleh Velicia. Dengan sangat hati-hati dia bisa bebas dari tangan suaminya yang melingkar di pinggangnya.
Segera dia beranjak dan berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan dirinya dan bersiap-siap untuk berangkat bekerja.
Setelah dia bersiap, dia menyiapkan pakaian suaminya seperti biasanya. Kemudian dia beralih ke dapur untuk menyiapkan sarapan mereka.
Perlahan mata Ferdi terbuka. Setelah beberapa detik, kesadarannya telah kembali. Segera dia beranjak dari tempat tidurnya untuk keluar dari kamar tersebut.
Setelah keluar dari kamar tersebut, tangannya mengusap dadanya, ekspresi lega tampak terlihat di wajahnya setelah melihat Velicia sedang membuat jus di dapur.
Segera dia masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan dirinya. Dia tersenyum lega melihat pakaian yang disiapkan oleh istrinya seperti biasanya.
Sepertinya Ve sudah tidak marah lagi padaku. Aku harus bisa meluluhkan hatinya kembali, Ferdi berkata dalam hatinya sambil memakai pakaiannya.
Bergegas dia keluar dari kamarnya berharap jika istrinya masih belum berangkat bekerja.
Ferdi tersenyum manis pada Velicia ketika sudah berada di depannya. Sedangkan Velicia hanya berwajah datar sambil menuang jus buatannya ke dalam dua gelas.
"Bunda, buatlah janji dengan dokter kita. Katakan padanya aku sudah siap untuk melakukannya," ucap Ferdi sambil menatap Velicia serta tersenyum padanya.
Sontak saja Velicia yang sedang meminum jusnya sambil melihat layar ponselnya mengalihkan pandangannya pada suaminya yang duduk di depannya.
"Aku serius Sayang," ucap Ferdi sambil tersenyum pada Velicia.
Baiklah, mungkin ini yang terbaik. Mungkin Tuhan memberikan jalan ini untuk rumah tangga kami, Velicia berkata dalam hatinya.
Velicia membalas senyum suaminya. Dia menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan dari suaminya.
"Kita berangkat bersama kan?" tanya Ferdi setelah meminum jus buatan Velicia.
"Selesaikan dulu makannya. Dan ini aku buatkan sandwich serta kopi seperti biasanya," ucap Velicia sambil memperlihatkan tas bekal yang sudah disiapkannya untuk suaminya.
Ferdi tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia memakan sandwich buatan Velicia sambil memandang wajah istrinya itu. Dia merasa lega karena kini Velicia terlihat seperti dulu lagi, perhatian dan tidak berkata dengan sinis ataupun bernada tinggi padanya.
Setelah sarapan mereka usai, sesuai janjinya, Ferdi mengantarkan istrinya ke tempat kerjanya.
"Sandwich sama kopinya jangan lupa Mas. Itu sandwich kesukaanmu, jangan lupa dimakan. Kopinya juga jangan sampai lupa diminum," tutur Velicia sebelum keluar dari mobil.
"Iya. Kamu hati-hati ya. Besok aku akan libur. Kita akan ke rumah sakit besok," tukas Ferdi sambil tersenyum pada istrinya.
__ADS_1
Velicia pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Kemudian dia mencium punggung tangan Ferdi sebelum dia menutup pintu mobilnya.
Baiklah, sepertinya aku harus memaafkan Mas Ferdi dan memulai kembali rumah tangga kami, Velicia berkata dalam hatinya disetiap langkahnya menuju tempat kerjanya.
"Bunda Ve…."
"Bunda…."
"Bunda sudah sehat?"
Beberapa murid Velicia menyambut kedatangan Velicia dengan berlari dan berteriak memanggilnya serta bertanya tentang kesehatannya.
Velicia berjongkok dan membuka lebar tangannya sambil tersenyum menyambut beberapa muridnya yang berlari ke arahnya.
"Berkat doa kalian semua Bunda baik-baik saja," ucap Velicia sambil tersenyum memeluk mereka semua yang berdesak-desakan masuk ke dalam pelukan Velicia.
Setelah itu Velicia masuk ke dalam kantor guru dan bertemu dengan semua rekannya. Mereka semua menanyakan kabar Velicia.
Hanya Rani dan Vira yang memandang dengan tatapan penuh tanya pada Velicia. Tatapan mereka berdua seolah menanyakan tentang keadaan Velicia setelah mendengar fakta dari dalam kantor dokter pada saat itu.
Velicia tersenyum pada Rani dan Vira. Kemudian dia berkata,
Seketika Rani dan Vira saling menoleh, mereka berbarengan terkekeh karena mendengar ucapan Velicia. Mereka berdua tidak menyangka jika Velicia mengetahui arti dari tatapan mereka berdua.
Tiba di kantornya, Ferdi berwajah senang. Entah mengapa dia merasa seperti pada saat baru pertama menikah. Sikap Velicia tadi pagi membuatnya mengingat kebahagiaan mereka berdua pada awal pernikahan mereka. Dan itu membuat hati Ferdi kembali senang.
"Senang sekali sepertinya Pak," ucap Lani menyambut kedatangan Ferdi.
Ferdi tersenyum seolah membenarkan apa yang dikatakan Lani padanya.
"Menang lotre ya Pak?" tanya Lani sambil tersenyum menggoda Ferdi.
Ferdi menoleh ke arah Lani sambil terkekeh. Kemudian dia berkata,
"Bukan itu. Saya hanya sedang senang karena istri saya," jawab Ferdi sambil menyalakan layar komputer yang ada di hadapannya.
Seketika wajah Lani menjadi kesal. Dia kecewa karena Ferdi membanggakan istrinya di hadapannya. Dia cemburu karena Velicia terlalu sempurna menjadi seorang wanita dan menjadi seorang istri menurut Lani.
Dengan rasa kesalnya itu Lani duduk kembali ke tempatnya. Kemudian dia mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu di sana.
__ADS_1
Tring!
Notifikasi pesan terdengar dari ponsel Ferdi.
Dengan segera Ferdi melihatnya dan dia melihat ke arah Lani yang tersenyum padanya sambil tangannya memperagakan sedang minum.
Mata Ferdi beralih melihat meja kerjanya. Ternyata terdapat segelas kopi buatan cafe yang masih panas di atas mejanya dan sempat tidak terlihat olehnya.
Kopi tersebut pemberian dari Lani. Dalam pesannya itu Lani mengatakan bahwa kopi kesukaan Ferdi itu pemberian darinya, serta dia menyuruh Ferdi untuk meminumnya.
Kini Ferdi galau hanya karena kopi. Dia memang sudah dibuatkan kopi oleh istrinya dan juga telah diberikan Lani kopi yang sangat menggoda hatinya.
Kopi buatan cafe ternama itu membuat Ferdi tampak tergiur. Dan akhirnya dia lebih memilih kopi pemberian dari Lani daripada meminum kopi yang telah dibuatkan oleh istrinya.
Ferdi tidak lagi mengingat jika istrinya pasti akan kecewa jika kopi buatannya tidak diminumnya karena Velicia sudah tidak marah lagi padanya.
Lani yang melihat Ferdi telah meminum kopi pemberiannya, merasa senang. Dia berkata dalam hatinya,
Setidaknya dia meminum kopi pemberianku. Dan aku akan memberikan kopi itu setiap hari padanya.
Tanpa sadar, Ferdi kembali memberikan harapan pada Lani. Kini wajah Lani tidak kesal dan bersedih lagi. Wajah kesalnya itu sudah berganti dengan wajah cerianya.
Di saat makan siang, Lani kembali mendekati Ferdi. Dia mencoba mengajak Ferdi makan siang bersama seperti waktu itu.
"Pak, kita makan siang bersama ya. Saya ingin makan bersama dengan Bapak," ucap Lani dengan memperlihatkan wajah penuh harapnya disertai dengan puppy eyes nya.
Seketika Ferdi ingat dengan sandwich buatan istrinya. Sebenarnya dia juga ingin sekali makan siang menggunakan nasi karena sarapan tadi dia sudah memakan sandwich.
Tapi dia takut jika istrinya marah padanya. Dia berpikir sejenak hingga dia mendapatkan jalan keluarnya.
"Apa kalian mau sandwich?" tanya Ferdi pada sekelompok karyawan yang masih mengerjakan pekerjaan mereka.
"Wah… kami mau Pak. Apa Pak Ferdi akan membelikan kami sandwich?" tanya salah satu dari mereka.
Ferdi tersenyum pada mereka. Kemudian dia memgambil tas bekalnya dan membuka tutup box makanannya.
"Ini, makanlah," ucap Ferdi pada mereka sambil menyodorkan box bekalnya di depan mereka semua.
"Wah… sepertinya enak Pak. Apa Bapak tidak mau memakannya?" tanya salah satu dari mereka.
"Kalian makan saja semua. Saya ingin makan nasi untuk siang ini," jawab Ferdi sambil berjalan keluar kantornya.
__ADS_1
Tentu saja Lani sangat senang karena Ferdi mau menerima ajakannya.
Yes! Setelah ini aku yakin Pak Ferdi akan melirikku saja, batin Lani sambil tersenyum senang mengikuti Ferdi yang sedang berjalan keluar dari ruangan kerja mereka.