Aku Salah Jatuh Cinta

Aku Salah Jatuh Cinta
Bab 100 Jalan yang tak dapat dihindari


__ADS_3

Setelah kepergian Tania dari hadapannya, dengan tergesa-gesa Ferdi pergi ke ruangannya untuk mengambil kunci mobilnya.


“Aku akan pergi sebentar. Jika ada yang mencari, katakan saja jika aku pergi menemui nasabah untuk mengurus sesuatu,” ucap Ferdi pada semua yang ada di ruangan tersebut.


Mereka hanya melongo melihat Ferdi yang tidak seperti biasanya. Tak terkecuali Lani, dia dibuat bingung oleh sikap Ferdi sekarang ini.


“Tapi Pak-“


Ucapan Lani tidak dapat dilanjutkannya karena Ferdi yang sudah enyah dari hadapannya. Gerakan Ferdi yang secepat kilat itu membuat Lani terperangah hingga tidak bisa meneruskan apa yang akan dikatakannya.


Ferdi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju sekolah tempat Raymond mengajar. Tujuannya saat ini adalah bertemu dengan Raymond yang diketahuinya mengajar di sekolah tersebut.


Tampaknya Ferdi lupa jika saat ini sekolah sedang libur. Dan benarlah, sesampainya di sana, Ferdi melihat gerbang sekolah tertutup rapat. Tapi dia tidak bisa begitu  saja pulang tanpa membawa hasil apa pun.


Dia mencoba membuka pagar gerbang sekolah dengan cara apa pun. Hingga satpam yang berjaga mendatanginya.


“Ada apa ini? Kenapa Bapak mencoba masuk dengan merusaknya?” tanya Satpam tersebut dengan wajah garangnya.


“Saya ingin bertemu dengan Pak Raymond. Saya ada perlu penting dengannya. Tolong, cepat suruh dia kemari,” jawab Ferdi dengan tatapan memohon.


“Tidak bisa Pak. Sekolah sedang libur dan tidak ada guru sama sekali di sekolah,” ucap satpam tersebut dengan tegas.


“Tolong Pak. Saya mohon. Ini sangat mendesak dan sangat penting sekali. Atau Bapak bisa memberikan pada saya nomor Pak Raymond yang bisa dihubungi?” Ferdi kembali mengiba pada satpam tersebut.


“Ada apa?” tanya satpam satunya yang berjalan mendekati mereka.


Satpam tadi membisikkan sesuatu di telinga satpam yang bertanya tadi. Kemudian satpam tersebut berkata,


“Udah, telepon pakai HP kamu saja.”

__ADS_1


Satpam tadi menghela nafasnya. Akhirnya dia menghubungi Raymond menggunakan ponselnya. Setelah terhubung dengan Raymond, dia mengatakan bahwa ada seseorang yang mencarinya dan menyuruhnya agar cepat datang ke sekolah.


Setelah beberapa saat Ferdi menunggu kedatangan Raymond, akhirnya Raymond pun datang. Dengan nafas yang masih ngos-ngosan karena berlari menuju ke sekolah, Raymond kaget melihat Ferdi yang kini berdiri di hadapannya.


“Apa kita bisa bicara sebentar?” tanya Ferdi ketika Raymond sudah berada di hadapannya.


Raymond menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari permintaan Ferdi padanya. Kemudian Raymond mengajaknya ke taman sekolah dan duduk di kursi yang ada di sana.


“Pak, Pak Guru. Saya mohon lepaskan Velicia. Saya berjanji akan lebih baik lagi padanya. Saya janji akan berubah lebih perhatian padanya,” ucap Ferdi mencoba mengiba pada Raymond.


Dengan pandangan mata teduhnya Raymond memandang Ferdi. Kemudian dia menundukkan kepalanya sambil berkata,


“Maaf. Saya sangat mencintainya. Saya rasa saya tidak bisa hidup tanpanya. Maaf.”


Sontak saja darah Ferdi semakin mendidih. Dia tidak menyangka jika akan mendengar kalimat yang sama dengan yang dikatakan oleh Velicia mengenai perasaannya.


“Tolong lepaskan dia. Jangan sampai dia dicap sebagai perempuan perusak rumah tangga dan dicap sebagai tukang selingkuh,” ucap Ferdi yang mencoba mengiba kembali pada Raymond.


Aku rasa keputusanku tadi benar. Aku akan menanggung rasa sakit ini sendiri, Raymond berkata dalam hatinya disertai tetesan air matanya.


Selepas kepergian Ferdi dengan membanting pintu rumahnya, Velicia tersenyum kecut menertawakan dirinya. Dirinya yang kini bukan seperti dirinya sendiri.


Banyak hal yang membuatnya berubah, tapi dia tidak keberatan jika akan dikatakan sebagai wanita jahat karena perbuatannya sekarang ini memang tidak pantas untuk dimaafkan.


Namun, dia tidak bisa menghentikannya. Dia merasa bahagia dan seolah menjadi gila hanya pada satu orang saja.


Raymond, nama pria yang saat ini ingin diperjuangkannya. Rasa cintanya yang mendorongnya untuk mendapatkan kebahagiaannya sehingga tidak ingin terpisah darinya.


Dia merogoh tasnya. Tak sengaja dia mengambil sesuatu yang hampir dilupakannya. Bibirnya melengkung ke atas ketika melihat benda tersebut adalah gift box pemberian dari kekasih hatinya.

__ADS_1


Dibukanya gift box tersebut dan dia tersenyum ketika melihat benda yang berada di dalamnya. Ternyata Raymond memberinya sebuah pena mahal yang terukir namanya pada pena tersebut.


“Bagaimana aku tidak bertambah cinta padanya jika dia selalu mengerti aku. Dia selalu tau apa yang aku inginkan,” ucap Velicia sambil memegang pena tersebut dan tersenyum ketika melihatnya.


Kemudian  dia meletakkan kembali pena tersebut dalam box nya dan beralih mengambil kartu ucapan yang terselip pada box pena tersebut.


Semoga benda ini bisa menjadi awal untuk mencapai keinginanmu yang selama ini kamu abaikan. Aku membeli ini dengan harapan agar kamu bisa menjadi seorang penulis yang hebat. Aku berharap agar kamu mempercayai dirimu dan mencintai dirimu. Aku akan berdoa agar kamu selalu dipenuhi dengan kebahagiaan dan tidak terluka lagi karena aku. Semua momen kebersamaan kita adalah yang terindah buatku. Dan akan ku simpan itu semua dalam hatiku, selamanya. Selamat tinggal, semoga kita bisa bertemu lagi dengan situasi yang berbeda.


Tanpa sadar air mata Velicia menetes di pipinya. Air mata itu luruh begitu saja ketika membaca pesan perpisahan dari pria yang dicintainya.


“Tidak. Tidak mungkin,” ucap Velicia seraya melipat kembali kartu ucapan tersebut dan memasukkannya ke dalam tasnya bersama dengan kotak pena yang masih berada dalam gift box tersebut.


Dengan segera dia membawa kembali tasnya dan berlari keluar rumah tanpa mengunci pintunya. Dia hanya menutup pintunya dengan tergesa-gesa dan berlari ke arah rumah Raymond.


Namun, ketika Velicia melewati minimarket yang ada di sekitar daerah rumahnya, dia menghentikan langkahnya. Kini, tepat di hadapannya ada sosok orang yang sedang dicarinya.


Raymond keluar dari minimarket dengan membawa kantong plastik belanjaan bertepatan dengan Velicia yang sedang berjalan melewati minimarket tersebut. Mereka sama-sama kaget, tidak mengira jika akan bertemu di tempat itu.


Mata mereka saling beradu pandang. Tatapan mata mereka mengatakan jika mereka tidak ingin terpisah. Lama mereka saling menatap, seolah mengatakan sesuatu dari mata mereka.


Apa kamu ingin berpisah dariku? Aku tau jika ini semua kamu lakukan demi aku. Tidak apa-apa, aku bisa mengatasinya jika bersama denganmu. Aku bisa menanggung semuanya dan aku tidak takut apa pun jika bersamamu. Tolong jangan tinggalkan aku. Jika kamu pergi, maka aku akan mati.


Velicia berkata dalam hatinya, berharap tersampaikan pada Raymond melalui tatapan matanya. Dan harapan satu-satunya dari Velicia adalah Raymond mengerti dan tidak akan meninggalkannya. Tetap bersamanya meski dalam keadaan apa pun. Seperti perkataan Raymond tempo hari, mereka berdua menua bersama.


Setelah mengatakan itu semua, Velicia membalikkan badannya. Dia berniat akan meninggalkan semuanya.


Melihat tatapan sedih dari mata Velicia membuat Raymond mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh wanita yang dicintainya itu. Dan dia segera bergerak untuk menghentikan langkah Velicia ketika kekasih hatinya itu membalikkan badannya untuk meninggalkannya.


Deg!

__ADS_1


Jantung mereka berdua seolah melompat ketika di hadapan mereka kini berdiri seseorang yang menatap dengan tatapan membunuh ke arah mereka berdua.


“Kurang ajar!”


__ADS_2