
Suara Bu Anisa terdengar jelas dari dalam kamar Velicia. Tangisan yang tadinya sudah berhenti, kini kembali. Air mata Velicia kembali lolos tanpa permisi.
Siapa yang tidak sakit hati jika dikatakan sebagai perempuan yang tidak bisa memiliki anak? Begitupun dengan Velicia, dia sangat sakit hati karena mendengar apa yang dikatakan oleh ibu mertuanya tentang dirinya.
Nyatanya, bukan dirinya yang tidak bisa memiliki anak. Ingin sekali dia mengatakan dengan lantang di hadapan ibu mertuanya jika putranya lah yang tidak mau memiliki anak.
Namun, semuanya hanya bisa dipendam saja oleh Velicia. Dia tidak bisa mengatakan semuanya pada orang lain.
Sayangnya perasaan Velicia sangat sakit, air matanya tidak mau berhenti begitu saja. Bahkan kini tangisnya bersuara.
Hatinya terasa sangat sakit hingga terasa sesak dan sangat berat untuk bernafas. Seperti dihantam oleh batu yang sangat tajam sehingga bagian dadanya terasa sakit dan mengeluarkan air mata.
Ditutupnya mulut Velicia menggunakan tangan kirinya agar tangisnya tidak terdengar oleh siapapun. Hanya dirinya lah yang tahu betapa sakit terlukanya dirinya oleh ucapan ibu mertuanya.
Tangan kanannya mengusap dengan kasar air mata yang masih saja keluar dari pelupuk matanya. Dalam hati dia berkata,
Aku tidak boleh lemah. Aku harus menjadi Velicia yang tegar dan kuat menghadapi semuanya.
Setelah itu dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan sekuat tenaga menghalangi air matanya agar tidak kembali menetes di pipinya.
Namun, ketika matanya menutup, air mata itu seolah tumpah dari wadahnya. Pelupuk mata yang tergenang oleh banyaknya air mata yang tertahankan, kini lolos begitu saja tanpa bisa dikendalikan lagi.
Matanya tertutup rapat seolah terkena lem dari air matanya. Hingga tak terasa dia tertidur dalam kesedihan.
Di meja makan Ferdi dan Ibunya sekarang sedang berdiam-diaman. Mereka meneruskan makannya dengan tidak bersuara. Mereka hanyut dalam pikiran masing-masing, saling menyalahkan orang lain dan membenarkan diri sendiri.
"Biar Ferdi antar Ibu pulang," ucap Ferdi ketika Bu Anisa selesai makan dan beranjak dari duduknya sambil membawa piring dan gelas bekas makannya.
Bu Anisa menatap putranya dengan tatapan tajam dan tersenyum sinis padanya. Kemudian dia berkata,
"Kenapa? Apa kamu mengusir Ibumu ini?"
Ferdi menghela nafasnya dengan berat karena mendengar ibunya kembali mengatakan sesuatu yang bisa memancing keributan dengannya.
__ADS_1
"Tidak Bu, hanya saja Ferdi ingin mengantar Ibu pulang menggunakan mobil baru Ferdi," ucap Ferdi sambil tersenyum agar ibunya tidak marah kembali.
"Kamu beli mobil?" tanya Bu Anisa dengan heran.
"Iya Bu," jawab Ferdi sambil tersenyum bangga.
"Ngapain beli mobil Fer, mendingan perbanyak jalan kaki agar kalian sehat. Toh selama ini kalian sehat-sehat saja selama bertahun-tahun ke mana-mana jalan kaki," sahut Bu Anisa dengan sewotnya.
"Biar gak capek Bu. Ada kalanya kita butuh kendaraan. Contohnya sekarang ini, Ferdi mau mengantarkan Ibu, pasti butuh kendaraan kan Bu?" ucap Ferdi menanggapi perkataan ibunya.
"Gak usah juga gapapa. Ibu udah biasa naik angkutan umum. Lagian Ibu gak minta antar jemput sama kamu kok," ucap Bu Anisa dengan sewotnya.
"Sudahlah Bu, ayo Ferdi antar. Lagian Ferdi ingin membahagiakan Ibu dengan mengantarkan Ibu menggunakan mobil hasil kerja keras Ferdi," tutur Ferdi sambil merangkul pundak Ibunya dan tersenyum manis padanya agar kemarahan ibunya bisa mereda.
"Sebentar, biar Ibu bereskan semuanya," ucap Bu Anisa sambil membereskan bekas piring-piring kotor dan gelas yang ada di meja tersebut.
Setelah selesai mencuci semuanya, Bu Anisa berjalan mendekati Ferdi yang sedang menonton televisi sambil memanjakan Lili yang berada di atas pangkuannya.
"Velicia lagi tidur Bu. Biarkan saja dia tidur ya Bu," ucap Ferdi sambil merangkul kedua pundak ibunya dan mengajaknya berjalan keluar dari rumahnya.
Ferdi menekan kunci mobilnya hingga lampu mobilnya berkedip-kedip dan mengeluarkan bunyi.
Beep… beep…
Kemudian Ferdi membukakan pintu mobil untuk ibunya sambil berkata,
"Silahkan masuk Ibuku tersayang."
Bu Anisa tersenyum senang mendapatkan perlakuan seperti itu dari putranya. Kemudian dia masuk ke dalam mobil tersebut dan duduk tenang di kursi sebelah pengemudi.
"Mobil ini bagus Ferdi. Pintar kamu memilihnya," ucap Bu Anisa sambil melihat keseluruhan isi mobil setelah melihat ke arah belakang.
Ferdi tersenyum bangga mendengar perkataan ibunya. Kemudian dia menyalakan mesin mobilnya dan mulai melajukan mobilnya.
__ADS_1
"Harusnya kamu membeli mobil ketika istrimu sudah hamil agar dia tidak malas untuk berolahraga dengan berjalan kaki setiap harinya," ucap Bu Anisa sambil melihat ke arah jalanan yang ada di hadapannya.
Ferdi kembali menghela nafasnya mendengar apa yang dikatakan oleh Ibunya.
"Bu, sudahlah. Ferdi mohon jangan lagi ungkit masalah anak. Ferdi ingin hidup tenang Bu," ucap Ferdi yang seolah memprotes perkataan ibunya.
"Istrimu itu sekarang semakin berulah. Itu karena kamu terlalu memanjakannya," ucap Bu Anisa dengan sinisnya.
Ferdi berniat akan membela istrinya, tapi dia malas untuk berdebat kembali dengan ibunya. Akhirnya dia diam saja agar ibunya itu tidak lagi mengatakan tentang masalah tersebut.
"Boleh kamu manjakan dia, jika dia sudah berhasil memberimu anak," tutur Bu Anisa sambil memandang jalanan yang dilewatinya.
"Bu, tolong hentikan membahas tentang anak. Aku mohon Bu. Biarkan aku dan Velicia hidup dengan tenang," ucap Ferdi sambil mengemudikan mobilnya dan dia mengatakannya dengan nada penuh harap pada ibunya.
"Ibu heran, ibu memberinya obat herbal sejak usia pernikahan kalian menginjak dua tahun, tapi sampai detik ini Velicia tidak juga hamil. Apa benar dia baik-baik saja? Bahkan obat herbal itu dia minum setiap hari, tapi tidak kunjung hamil juga dia," ucap Bu Anisa dengan tatapan heran menoleh pada Ferdi.
Ferdi menelan ludahnya sendiri. Sebenarnya dia tidak ingin membuat ibunya dan Velicia dalam keadaan seperti ini. Hanya saja kondisi dirinya lah yang membuatnya mengambil keputusan tersebut.
Ferdi tidak menanggapi perkataan ibunya dia malah sibuk mengatakan apa yang ada dalam pikirannya dengan berkata dalam hatinya,
Maafkan Ferdi Bu. Bukan karena Ferdi tidak mau membahagiakan Ibu, tapi Ferdi tidak mau bayangan kecil Ferdi kembali dan terjadi pada anak Ferdi.
"Apa dia tidak meminumnya Fer?" tanya Bu Anisa kembali yang merasa heran pada menantunya.
"Bu, Velicia itu-"
"Sudahlah Fer, kamu selalu membela istrimu. Padahal istrimu di rumah sedang enak-enaknya tidur," ucap Bu Anisa kembali mengingat peristiwa tadi. Di meja makan.
Bukan begitu Bu, Velicia sampai masuk klinik gara-gara meminum obat herbal yang Ibu berikan padanya, Ferdi mengatakanya dalam hati sambil mengemudikan mobilnya.
"Kami kok diam saja? Apa jangan-jangan istrimu mandul?"
Pertanyaan yang keluar dari mulut Bu Anisa itu sangat menohok hati Ferdi. Atas kesalahannya, kini istrinya disalahkan oleh ibunya. Istrinya yang tidak berdosa itu menjadi korban keegoisan Ferdi.
__ADS_1