
Pagi pun menjelang. Ferdi bersikap seperti biasanya. Dia sudah memutuskan untuk berpura-pura tidak mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya kemarin malam. Dan dia juga memutuskan untuk tetap mempertahankan rumah tangganya.
Velicia tetap melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Seperti biasanya, dia menyiapkan pakaian kerja suaminya dan menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Hanya saja dia terlihat murung dan menjadi pendiam.
“Sekolah sudah libur kan? Jadi Bunda tidak perlu ke mana-mana. Lebih baik di rumah saja bermain bersama dengan Cinta,” ucap Ferdi setelah menghabiskan sarapannya.
Velicia hanya terdiam, dia tidak tahu akan berkata apa. Bahkan hatinya saat ini sedang bingung. Hatinya menginginkan untuk bertemu dengan Raymond, tapi dirinya merasa bersalah pada suaminya.
“Mana kopi yang akan aku bawa ke kantor Bun?” tanya Ferdi sambil melihat sekeliling meja makan mencari tumbler kopi miliknya.
“Bukannya sudah lama Mas Ferdi tidak membawanya?” tanya Velicia sambil memakan sarapannya.
Ferdi salah tingkah karena dia baru sadar jika karena kopi pemberian dari Lani lah yang membuatnya tidak meminum kopi buatan istrinya.
“Maaf. Ternyata kopi buatan café lama-lama membosankan. Aku lebih suka dengan kopi buatan istriku,” ucap Ferdi sambil tersenyum kaku.
Velicia menghentikan makannya dan meletakkan sendoknya di atas piringnya. Kemudian dia berkata,
“Apa masih ada waktu?”
“Hah?!” celetuk Ferdi menanggapi pertanyaan dari istrinya.
“Jika masih ada waktu sebelum berangkat, akan aku buatkan kopi seperti biasanya,” ucap Velicia sambil beranjak dari duduknya.
Tanpa sadar bibir Ferdi melengkung ke atas dan dia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajukan istrinya padanya.
Velicia pun beralih ke dapur. Dengan cekatannya dia membuatkan kopi untuk suaminya. Dia membuat kopi tersebut tanpa ekspresi atau perasaan apa pun. Dia merasa hanya melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Bahakan kini Velicia mirip seperti seorang robot yang sedang melakukan tugasnya.
“Ini Mas kopinya,” ucap Velicia sambil menyerahkan tumbler yang berisi kopi pada Ferdi.
__ADS_1
Ferdi pun menerimanya dan berusaha tersenyum semanis mungkin agar istrinya merasa nyaman seperti dulu sambil berkata,
“Terima kasih.”
Velicia hanya mengangguk tanpa tersenyum ataupun mengatakan sesuatu. Dia benar-benar seperti robot saat ini. Raganya ada di rumah bersama dengan suaminya, tapi jiwa dan hatinya ada di tempat lain, bersama dengan Raymond.
“Aku berangkat kerja dulu. Bunda di rumah saja ya bersama dengan Cinta,” ucap Ferdi sambil mengulurkan punggung tangannya agar istrinya mencium punggung tangannya seperti biasanya.
Velicia pun menerima uluran tangan suaminya dan mencium punggung tangannya sama seperti biasanya, hanya saja kali ini wajah Velicia datar, tanpa ekspresi apa pun.
Setelah keberangkatan suaminya untuk bekerja, Velicia menghabiskan waktunya untuk membersihkan rumahnya dan membereskan semua ruangan. Dia tersenyum geli pada dirinya sendiri sambil berkata,
“Ve… Ve… aneh sekali kamu ini. Tidak ada Ibu pun kamu dengan suka rela membersihkan dan memebereskan rumah hingga setiap sudutnya.”
Kemudian kegiatannya berhenti karena mendengar suara notifkasi pesan dari ponselnya. Diambilnya ponselnya dari saku celana jogernya. Sejak kejadian suaminya berani mengutak-atik ponselnya, sekarang Velica tidak pernah meletakkan ponselnya sembarangan. Dia selalu membawanya ke mana pun dia pergi. Bahkan ketika dia sedang mandi pun, dia menyembunyikan ponselnya agar suaminya tidak menemukannya. Dan ketika dia sedang tidur, ponselnya itu diletakkan di bawah bantalnya dalam keadaan tidak bersuara.
Bibir Velicia melengkung ke atas ketika melihat nama si pengirim pesan yang tertera di layar ponselnya.
Dengan jantung yang berdebar, Velicia membuka pesan tersebut dan membacanya.
Ve, bagaimana kabarmu hari ini? Apa kamu baik-baik saja?
Tanpa menunggu lama, Velicia segera mengetikkan sesuatu untuk membalas pesan Raymond dan segera mengirimkannya padanya.
Ray, aku sudah memberitahukan pada suamiku bahwa aku mencintai pria lain.
Setelah mengirimkan pesan tersebut, Velicia kembali meneruskan kegiatannya. Kini suasana hatinya lebih baik karena mendapatkan pesan dari kekasih hatinya.
Setelah semuanya selesai, Velicia bermain dengan Cinta. Tiba-tiba dia teringat akan membeli sesuatu yang dia butuhkan sebagai bahan mengajar ketika tahun ajaran baru dimulai.
__ADS_1
“Ah… bukannya hari ini aku akan membeli bahan untuk mengajar?” Velicia bermonolog sambil meletakkan Cinta kembali ke tempat tidurnya.
Dilihatnya jam yang menggantung di dindingnya. Kemudian dia berkata,
“Masih belum terlalu siang. Lebih baik aku berangkat sekarang saja.”
Berangkatlah dia ke toko buku yang paling besar dan terlengkap di kota itu. Bahkan di toko buku tersebut menyediakan café untuk para pengunjungnya, sehingga membuat para pengunjung betah untuk membeli buku dan membacanya di sana.
Ketika dia sedang memilih buku, ternyata ada pasang mata yang melihatnya dari celah rak yang ada di hadapannya. Mata mereka saling beradu pandang dan bibir mereka sama-sama tersenyum melihat orang yang ada di hadapan mereka.
Ternyata takdir kembali mempertemukan mereka. Tanpa memiliki janji pun mereka bisa bertemu di tempat yang sama sekali tidak mereka duga.
Raymond ingat jika dia tadi belum memeriksa ponselnya setelah mengirimkan pesan pada wanita yang kini ada di hadapannya itu. Segera diambilnya ponsel yang ada dalam saku celananya dan dibacanya pesan balasan dari wanita yang dicintainya.
Seketika Raymond beralih memandang ke depan, di mana wanitanya itu masih berdiri di sana sambil memilih buku yang ada di rak depan mereka.
Tadinya Raymond akan memberitahukan bahwa istrinya sudah mengetahui hubungan mereka dan memberitahuka ancaman istrinya itu pada Velicia. Tapi segera diurungkannya setelah membaca pesan dari Velicia.
Raymond tidak mau membebani pikiran kekasihnya itu dengan pikiran yang lainnya. Biarlahdia yang menyelesaikan urusannya dengan istrinya. Karena dia yakin jika saat ini Velicia juga sedang kesulitan untuk menyelesaikan masalahnya dengan suaminya.
Mereka kini sudah membuka kotak pandora yang selama ini mereka sembunyikan. Mundur? Tidak akan mungkin setelah mereka bisa sejauh ini memperjuangkan perasaan mereka yang dengan kuatnya mereka simpan. Tapi, akhirnya perasaan itu mereka utarakan karena mereka tidak bisa mengendalikan perasaan mereka dan rasa ingin selalu bersama serta rasa saling memiliki.
Setelah Raymond mendapatkan bukunya, dia mengirimkan pesan pada Velicia bahwa dia akan menunggunya di café.
Mendengar ada suara notifikasi pesan, Velicia segera mengambil ponselnya dari dalam tasnya dan segera membacanya karena dia tahu jika Raymond lah yang mengirimkan pesan padanya.
Setelah dia membaca pesan tersebut, Velicia melihat ke arah Raymond. Mereka saling melempar senyum dan Raymond menunjuk kearah café yang berada di luar toko buku tersebut. Dan Veliica pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyu,m manis pada pria yang dicintainya.
Selang beberapan menit, Velicia membayar barang-barang yang dibelinya. Kemudian dia memesan kopi di café toko buku tersebut dan membawanya keluar toko buku untuk duduk di tempat duduk café mereka.
__ADS_1
Mata Velicia menyusuri seluruh café tersebut untuk mencari keberadaan Raymond. Sayangnya dia tidak mendapati sosok Raymond di mana pun. Dia duduk di kursi yang masih kosong dan menghela nafasnya, kecewa karena Raymond telah mengingkari janjinya.
Tiba-tiba Velicia dikagetkan oleh sesuatu yang diletakkan oleh seseorang di meja yang berada di depannya. Dia pun menoleh ke arah benda tersebut dan beralih mendongak ke atas untuk melihat orang yang meletakkan benda tersebut di mejanya.